RUMAH MBAH KASNI 2

Tiga hari berlalu sejak kematian Mbah Kasni terungkap, namun ketakutan yang mencekam justru kian tebal membungkus kampung kami. Setiap malam, suasana berubah menjadi sangat hening dan mencekam. Tak ada lagi gelak tawa warga atau anak-anak yang mengaji di musala. Semua orang mengunci pintu rapat-rapat begitu petang menjelang. Teror yang ditinggalkan Mbah Kasni seolah tak pernah usai, bergentayangan dari satu rumah ke rumah lainnya melalui suara derit pintu, hentakan peralatan dapur, hingga bunyi sreg-sreg dari sapu lidi yang menyapu halaman di tengah malam pekat.

Puncaknya terjadi pada malam ketujuh setelah tahlilan ringkas digelar di musala. Malam itu, hujan deras mengguyur kampung, diiringi angin kencang yang membuat pepohonan bambu di sekitar rumah bersuara menyeramkan. Lampu di seluruh desa mendadak padam total. Suasana gelap gulita membuat dada makin sesak oleh rasa cemas. Aku, Ibu, Ayu, dan Lek Jum meringkuk bersama di ruang tengah, sementara Bapak berdiri di dekat jendela depan sambil memegang senter yang meredup.

Tiba-tiba, dari arah jalanan depan rumah, terdengar suara langkah kaki yang sangat berat merambah genangan air. Langkah itu berhenti tepat di depan pintu teras kami.

“Krieeet…”

Suara pintu pagar depan yang terbuat dari besi tua berderit terbuka, padahal Bapak sudah menggemboknya rapat-rapat sebelum Magrib. Jantungku berdegup kencang hingga tenggorokanku terasa kering. Ibu langsung menggenggam jemariku erat-erat sambil terus merancik doa dalam bisikan yang bergetar.

Tak lama kemudian, terdengar ketukan pelan di pintu depan.

Ketuk… ketuk… ketuk…

Tidak ada suara yang menyahut. Hanya ketukan yang ritmis dan dingin.

“Pak… aja dibuka, Pak…” bisik Ibu dengan air mata yang mulai menetes.

Namun, Bapak yang merasa memiliki tanggung jawab sebagai kepala keluarga dan tidak ingin keluarganya terus-menerus disiksa ketakutan setiap malam, akhirnya memberanikan diri. Beliau berjalan perlahan menuju pintu, memegang gagang kayu yang dingin, lalu mengucap basmalah dengan suara lantang sebelum membuka pintu lebar-lebar.

Ketika pintu terbuka, sorot lampu senter Bapak langsung mengarah ke sosok yang berdiri di atas ubin teras yang basah.

Bukan hantu dengan wajah mengerikan atau rambut terurai yang kami lihat. Di sana berdiri Jaya, anak tunggal Lek Jum yang bekerja di pabrik garmen luar kota. Pakaiannya basah kuyup, wajahnya pucat pasi, dan matanya memerah menahan tangis. Di tangannya, ia memegang sebuah tas kain lusuh yang berlumur lumpur kering.

“Jaya?” teriak Lek Jum kaget setengah mati sambil berlari menghampiri anaknya. “Kenapa kamu pulang tengah malam begini, Nduk? Lewat mana kamu tadi?”

Jaya jatuh terduduk di teras, menangis sesenggukan. Tubuhnya gemetar hebat, bukan hanya karena dinginnya air hujan, melainkan karena rasa bersalah yang teramat sangat.

“Mak… Sepura sing akeh, Mak… (Mak, maafkan aku yang sebesar-besarnya…)” ratap Jaya dengan suara serak.

Bapak membantu Jaya masuk ke ruang tengah dan mendudukkannya di karpet. Ibu bergegas menyuguhkan teh hangat untuk menenangkan anak muda itu. Setelah napasnya mulai teratur, Jaya mengangkat wajahnya dan menatap kami semua satu per satu dengan pandangan penuh penyesalan.

“Sebenarnya… Mbah Kasni meninggal bukan karena sakit biasa atau faktor usia,” ucap Jaya perlahan, membuat kami semua terperanjat diam.

“Maksudmu apa, Jaya?” tanya Bapak dengan nada tegas namun penuh keheranan.

Jaya membuka tas kain lusuh yang dibawanya. Dari dalam tas itu, ia mengeluarkan sebuah kotak kayu kecil berukiran kuno yang sangat kami kenali—kotak perhiasan milik Mbah Kasni yang selalu disimpan di bawah tempat tidurnya. Di dalam kotak itu terdapat beberapa lembar uang kertas tua dan sertifikat tanah rumah Mbah Kasni.

Jaya mengaku bahwa seminggu sebelum Mbah Kasni ditemukan membusuk di dalam rumahnya, ia diam-diam pulang malam-malam tanpa sepengetahuan Lek Jum. Karena terdesak utang pinjaman online yang menumpuk akibat judi, Jaya nekat menyusup ke rumah Mbah Kasni dari pintu belakang untuk mencuri tabungan tua milik sang nenek.

Namun, Mbah Kasni terbangun dan mengenali wajah Jaya. Dalam keadaan panik dan takut dilaporkan ke warga, Jaya secara tidak sengaja mendorong Mbah Kasni hingga kepala wanita tua itu terbentur sudut meja kayu yang keras. Mbah Kasni terkapar tak berdaya. Bukannya menolong atau memanggil bantuan, Jaya yang ketakutan justru mengunci semua pintu rumah dari luar dan melarikan diri kembali ke kota, membiarkan Mbah Kasni mengembuskan napas terakhirnya dalam kesendirian tanpa pertolongan.

Seluruh ruangan mendadak hening seketika. Air mata Lek Jum menetes deras, tak menyangka bahwa penyebab dari segala teror dan kemalangan yang menghantui kampung serta kematian tragis Mbah Kasni adalah ulah dari anak kandungnya sendiri.

Segala suara aneh, derit pintu, gedoran panci, dan bunyi sapu lidi yang terdengar selama seminggu terakhir ternyata bukan sekadar fenomena mistis biasa, melainkan manifestasi dari rasa bersalah yang luar biasa serta jeritan ketidakadilan dari arwah tua yang meninggal secara mengenaskan karena dikhianati oleh tetangganya sendiri.

Malam itu juga, dengan disaksikan oleh Pak RT dan beberapa warga yang dipanggil Bapak, Jaya menyerahkan diri untuk dibawa ke kantor polisi. Sejak rahasia kelam itu terungkap dan keadilan ditegakkan, teror di rumah Mbah Kasni perlahan-lahan sirnah. Namun, rasa penyesalan dan duka mendalam tetap tertinggal di hati warga kampung, menyisakan pelajaran berharga bahwa terkadang hal yang paling menakutkan bukanlah sosok hantu yang bergentayangan, melainkan rasa bersalah dan kejahatan yang disembunyikan oleh manusia itu sendiri.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang