Tanganku gemetar ketika membaca nama yang tercetak pada lembar hasil pemeriksaan DNA itu.
Althaf Pradipta.
Namaku sendiri.

Aku memejamkan mata beberapa detik, berharap tulisan itu berubah ketika kubuka kembali. Namun, angka yang tercantum di bagian kesimpulan tetap sama.
Probabilitas paternitas 99,99 persen.
Aku adalah ayah biologis Sabiru.
“Tidak mungkin…” bisikku.
Aku membaca dokumen itu dari awal hingga akhir. Nama Sabiru tercantum sebagai anak yang diperiksa, sedangkan namaku tertera sebagai ayah yang diduga memiliki hubungan biologis dengannya.
Ingatan tentang sebuah malam enam tahun lalu tiba-tiba menyeruak.
Malam ketika aku menghadiri acara ulang tahun Keanu di sebuah vila kawasan Puncak. Saat itu, aku baru saja putus dengan kekasihku. Keanu mengajakku menginap bersama beberapa teman untuk menghiburku.
Aku ingat minum terlalu banyak malam itu. Aku juga ingat terbangun keesokan paginya dengan kepala pening dan ingatan yang tidak utuh.
Namun, aku sama sekali tidak mengingat pernah bersama Naima.
“Mas Althaf?”
Suara lembut dari belakang membuatku tersentak.
Naima berdiri di ambang pintu ruang kerja. Wajahnya langsung pucat ketika melihat dokumen di tanganku.
“Dari mana kamu mendapatkan ini?” tanyaku.
Dia tidak menjawab.
“Naima, aku bertanya!”
Naima menunduk. Kedua tangannya saling meremas.
“Mas, aku bisa menjelaskan.”
“Jelaskan sekarang! Kenapa namaku ada di hasil tes DNA Sabiru?”
Air mata langsung mengalir di pipinya.
“Aku memang ingin memberitahumu, Mas.”
“Kapan? Setelah lima tahun? Setelah aku menikahimu karena mengira kamu mengandung anak Keanu?”
Naima mengangkat wajahnya.
“Mas, tolong dengarkan aku dulu.”
Aku meletakkan dokumen itu di atas meja. Dadaku terasa sesak, tetapi aku berusaha mengendalikan suara.
“Apakah Sabiru benar-benar anakku?”
Naima mengangguk perlahan.
“Iya, Mas.”
Seketika kakiku terasa kehilangan tenaga.
Aku terduduk di kursi.
Selama lima tahun, aku memperlakukan Sabiru seperti beban yang harus kutanggung demi menebus kesalahan adikku. Aku jarang memeluknya, hampir tidak pernah mengajaknya bermain, bahkan sering menghindar setiap kali dia memanggilku Papa.
Dan ternyata, bocah yang selama ini kuabaikan itu adalah anak kandungku sendiri.
“Kenapa kamu berbohong?” tanyaku lirih.
Naima mengusap air matanya.
“Karena dulu aku tidak tahu bagaimana harus menghadapi semuanya.”
Dia duduk di kursi seberangku, lalu mulai menceritakan kejadian yang selama ini disembunyikannya.
Enam tahun lalu, Naima bekerja membantu mengurus vila milik salah seorang kerabat Keanu. Pada malam ulang tahun itu, dia bertugas menyiapkan makanan dan membersihkan kamar.
Aku memang bertemu dengannya di vila. Kami sempat berbincang cukup lama di teras belakang setelah sebagian tamu pulang.
“Waktu itu kamu bercerita tentang ibumu yang meninggal,” kata Naima. “Kamu bilang rumah terasa sepi meskipun keluargamu punya segalanya.”
Aku mengernyit.
Ada potongan ingatan yang mulai muncul.
Seorang perempuan berbaju biru muda.
Secangkir teh hangat.
Dan percakapan panjang tentang kesepian.
“Aku juga menceritakan kehidupanku,” lanjut Naima. “Tentang ayahku yang sakit dan alasan aku bekerja sejak muda.”
Dia berhenti sejenak.
“Malam itu kita sama-sama terbawa perasaan. Kita masuk ke kamar tamu, dan sesuatu terjadi di antara kita. Aku tahu kamu sedang tidak sepenuhnya sadar karena alkohol, Mas. Aku juga salah karena tidak menghentikan semuanya.”
Aku menatapnya tanpa berkedip.
“Kenapa kamu tidak langsung memberitahuku?”
“Paginya, kamu tidak mengingat kejadian itu. Ketika aku mencoba mengajakmu bicara, kamu mengatakan harus segera kembali ke Jakarta. Kamu bahkan tidak mengenaliku.”
Aku menunduk.
Naima melanjutkan dengan suara bergetar.
“Beberapa minggu kemudian aku mengetahui bahwa aku hamil. Aku mencoba menghubungimu melalui nomor yang diberikan Keanu, tetapi kamu sedang bertugas ke luar negeri.”
“Lalu kenapa Keanu mengaku sebagai ayahnya?”
“Karena dia tahu apa yang terjadi malam itu.”
Aku langsung mengangkat kepala.
“Keanu tahu?”
Naima mengangguk.
“Dia menemukanku menangis setelah hasil pemeriksaan kehamilan keluar. Aku menceritakan semuanya.”
Menurut Naima, Keanu semula ingin membantunya menemui aku. Namun, ketika dia mengetahui bahwa Mama sedang menjalani perawatan karena penyakit jantung, Keanu meminta Naima menunggu sampai kondisi Mama membaik.
Sayangnya, situasi justru semakin rumit.
Naima mulai menjadi bahan pembicaraan karena kehamilannya. Kerabat yang mempekerjakannya mengancam akan memecatnya apabila dia tidak menyebutkan siapa ayah bayinya.
“Keanu akhirnya mengatakan kepada semua orang bahwa anak itu miliknya,” ujar Naima.
Aku menggeleng tidak percaya.
“Kenapa dia melakukan itu?”
“Dia bilang akan menjelaskan semuanya setelah kamu pulang dari penerbangan panjangmu. Tapi sebelum sempat melakukannya, dia mengalami kecelakaan.”
Air mata Naima jatuh semakin deras.
“Setelah Keanu meninggal, aku beberapa kali mencoba mengatakan yang sebenarnya kepada Papa. Namun, setiap kali melihat Mama menangisi Keanu, keberanianku hilang.”
Aku menatap lantai.
“Jadi Papa juga tidak tahu?”
Naima terdiam.
Keheningannya membuatku merasa ada sesuatu yang belum selesai.
“Naima?”
“Papa tahu setelah Sabiru berusia tiga tahun.”
Aku langsung berdiri.
“Apa?”
Naima tersentak.
“Papa mencurigai sesuatu setelah menemukan catatan Keanu. Kemudian beliau meminta izin melakukan pemeriksaan DNA menggunakan sampelmu dan Sabiru.”
Aku menatap dokumen itu sekali lagi.
“Kenapa hasilnya baru ada di ruang kerjaku sekarang?”
“Karena Papa memberikan salinannya kepadaku minggu lalu. Beliau bilang sudah waktunya kamu mengetahui kebenaran.”
Aku mengusap wajah dengan kedua tangan.
Selama lima tahun, Papa membiarkanku hidup dalam pernikahan yang kupandang sebagai pengorbanan.
Selama itu pula, Sabiru tumbuh dengan menganggap ayahnya tidak menyayanginya.
Aku merasa marah, kecewa, sekaligus malu.
“Kenapa kamu tetap bertahan denganku, Naima?”
Dia tersenyum getir.
“Karena aku mencintaimu, Mas. Tapi aku tidak pernah ingin memaksamu mencintaiku.”
“Lalu kenapa kamu tidak menolak ketika aku ingin menikahimu?”
“Sudah kutolak. Kamu mungkin lupa. Waktu itu aku mengatakan bahwa kamu tidak perlu bertanggung jawab. Tapi kamu sendiri yang berkata tidak ingin anak Keanu tumbuh tanpa ayah.”
Aku terdiam.
Aku memang pernah mengucapkan kalimat itu.
Naima kemudian berdiri.
“Kalau sekarang kamu tetap ingin bersama Sabrina, aku tidak akan menghalangi. Aku cuma meminta satu hal.”
“Apa?”
“Jangan membenci Sabiru. Dia tidak pernah meminta dilahirkan dalam keadaan seperti ini.”
Setelah mengatakan itu, Naima meninggalkan ruangan.
Aku tetap berdiri mematung.
Ponselku berdering berkali-kali. Nama kapten penerbangan muncul di layar, mengingatkanku bahwa aku harus segera berangkat ke bandara.
Aku menghubungi bagian operasional dan menjelaskan bahwa aku sedang menghadapi keadaan keluarga mendesak sehingga tidak berada dalam kondisi yang layak untuk bertugas. Aku meminta penggantian kru sesuai prosedur.
Setelah panggilan berakhir, aku berjalan menuju kamar Sabiru.
Pintunya sedikit terbuka.
Bocah itu sedang duduk di lantai sambil memeluk sebuah pesawat mainan.
Aku mengetuk perlahan.
“Sabiru?”
Dia mendongak.
“Papa belum berangkat?”
Aku menggeleng.
“Papa boleh masuk?”
Sabiru tampak heran, tetapi mengangguk.
Aku duduk di lantai di hadapannya.
Untuk pertama kalinya, aku benar-benar memperhatikan wajahnya.
Bentuk alisnya.
Lekuk hidungnya.
Bahkan caranya mengerutkan kening ketika sedang berpikir.
Semuanya mengingatkanku pada foto masa kecilku sendiri.
“Sabiru, kamu marah kepada Papa?”
Dia menunduk.
“Enggak.”
“Kalau tidak marah, kenapa kemarin kamu menghindari Papa?”
Bocah itu memainkan sayap pesawat mainannya.
“Karena Papa mau punya keluarga baru.”
Jantungku terasa diremas.
“Siapa yang bilang begitu?”
“Aku dengar Papa bilang mau menikah sama Tante Sabrina.”
Aku menarik napas panjang.
Sabiru kemudian mengangkat wajahnya.
“Kalau Papa menikah lagi, Mama sama Sabiru harus pergi, ya?”
Aku tidak mampu langsung menjawab.
“Mama bilang Papa orang baik. Tapi kalau Papa baik, kenapa Papa enggak pernah mau peluk Sabiru?”
Air mataku jatuh tanpa bisa kutahan.
Aku meraih tubuh kecilnya dan memeluknya erat.
“Maafkan Papa, Nak.”
Awalnya Sabiru terlihat kaku.
Kemudian kedua lengannya perlahan melingkar di leherku.
“Papa jangan pergi, ya?”
Aku memejamkan mata.
“Papa ada di sini.”
Tangis Sabiru pecah.
Untuk pertama kalinya, aku merasakan betapa lama anak itu menunggu pelukan sederhana dariku.
Malam harinya, aku meminta Papa dan Mama berkumpul di ruang keluarga.
Papa langsung terlihat gelisah ketika melihat dokumen DNA yang kuletakkan di meja.
“Althaf, Papa bisa menjelaskan.”
“Kenapa Papa merahasiakannya selama dua tahun?”
Papa menghela napas panjang.
“Karena Papa takut kamu semakin membenci Naima.”
“Justru karena Papa menyembunyikannya, aku terus menganggap pernikahan ini sebagai hukuman!”
Mama menutup mulutnya.
“Jadi Sabiru benar-benar anak Althaf?”
Papa mengangguk.
Mama langsung menangis.
Papa kemudian mengeluarkan sebuah buku catatan kecil milik Keanu.
“Ini ditemukan di antara barang-barang adikmu setelah kecelakaan. Papa baru membacanya dengan teliti beberapa tahun kemudian.”
Aku membuka halaman yang ditunjukkannya.
Tulisan tangan Keanu memenuhi lembaran tersebut.
Dia menulis tentang Naima yang sedang mengandung dan ketakutannya apabila keluarga kami menolak perempuan itu.
Namun, kalimat terakhir membuat dadaku kembali sesak.
“Aku hanya ingin Mas Althaf mengetahui bahwa bayi ini darah dagingnya. Kalau aku tidak sempat menjelaskan, semoga suatu hari dia mengerti mengapa aku memilih melindungi Naima terlebih dahulu.”
Aku menutup buku tersebut.
Keanu tidak pernah berniat merebut anakku.
Dia justru berusaha menjaga perempuan dan bayi yang pernah kutinggalkan tanpa kusadari.
Keesokan paginya, aku menemui Sabrina di sebuah kafe di Jakarta Selatan.
Dia tersenyum ketika melihatku, tetapi senyumnya segera menghilang setelah mendengar penjelasanku.
“Jadi kamu membatalkan rencana lamaran kita?” tanyanya.
Aku mengangguk.
“Aku harus bertanggung jawab atas kesalahan yang selama ini kubuat.”
Sabrina menatapku lama.
“Karena ternyata Sabiru anak kandungmu?”
“Bukan hanya itu. Aku menyadari bahwa selama ini aku telah memperlakukan Naima dan Sabiru dengan sangat tidak adil.”
Sabrina terdiam.
Kemudian dia mengembuskan napas panjang.
“Althaf, sebenarnya aku sudah menduga kamu belum menyelesaikan urusan hatimu.”
Aku menatapnya.
“Maafkan aku.”
“Aku kecewa, tentu saja. Tapi aku lebih memilih kecewa sekarang daripada menikah dengan laki-laki yang masih menyimpan begitu banyak penyesalan.”
Kami berpisah dengan baik, meskipun aku tahu telah melukainya.
Sore harinya, aku pulang membawa sebuah kotak kecil.
Naima sedang menyiram tanaman di halaman belakang ketika aku menghampirinya.
“Naima, boleh kita bicara?”
Dia mematikan keran.
“Ada apa, Mas?”
Aku menyerahkan kotak itu.
Di dalamnya terdapat cincin pernikahan kami yang selama ini kusimpan di laci.
“Aku ingin mencoba menjadi suami yang seharusnya.”
Naima menatap cincin tersebut, tetapi tidak langsung menerimanya.
“Mas, jangan melakukan ini hanya karena merasa bersalah.”
“Aku memang merasa bersalah. Tapi aku juga ingin mengenalmu kembali. Bukan sebagai perempuan yang terpaksa kunikahi, melainkan sebagai Naima yang selama ini merawat anak kita seorang diri meskipun aku ada di rumah.”
Air mata menggenang di matanya.
“Aku sudah terlalu sering berharap, Mas. Aku takut berharap lagi.”
Aku mengangguk.
“Aku mengerti. Kamu tidak perlu memberikan jawaban hari ini.”
Aku meletakkan kotak itu di meja taman.
“Aku hanya ingin meminta kesempatan membuktikannya lewat tindakan.”
Naima tidak mengatakan apa-apa.
Namun, ketika aku hendak masuk rumah, dia memanggilku.
“Mas Althaf.”
Aku menoleh.
“Besok Sabiru ada kegiatan menggambar bersama orang tua di sekolah. Biasanya aku datang sendiri.”
Aku menatapnya.
“Jam berapa?”
“Setengah sembilan pagi.”
Aku tersenyum kecil.
“Aku akan mengatur jadwalku dan mengantarnya bersamamu.”
Keesokan harinya, untuk pertama kalinya aku duduk di kursi kecil ruang kelas Sabiru, mengenakan celemek plastik dan membantu putraku melukis gambar pesawat.
Sabiru tertawa ketika cat biru mengenai hidungku.
“Papa lucu!”
Aku ikut tertawa.
Di seberang meja, Naima memperhatikan kami dengan mata berkaca-kaca.
Beberapa bulan kemudian, hubungan kami perlahan membaik. Aku mulai menjalani konseling keluarga bersama Naima, belajar berbicara tanpa menyalahkan, dan membangun kedekatan dengan Sabiru melalui hal-hal sederhana.
Aku tidak lagi mengharapkan semuanya pulih dalam semalam.
Suatu malam, ketika aku sedang membacakan dongeng sebelum tidur, Sabiru tiba-tiba bertanya, “Papa, kenapa dulu Papa jarang senyum sama Sabiru?”
Pertanyaan itu membuatku terdiam.
Aku mengusap rambutnya.
“Karena dulu Papa salah memahami banyak hal, Nak. Papa terlalu sibuk memikirkan perasaan Papa sendiri sampai lupa memperhatikan perasaanmu.”
Sabiru berpikir sejenak.
“Sekarang Papa sudah enggak salah paham lagi?”
Aku tersenyum.
“Sekarang Papa sedang belajar jadi lebih baik.”
Dia mengangguk puas, lalu memeluk lenganku.
“Kalau begitu, besok kita main pesawat lagi, ya.”
Aku mengecup keningnya.
“Tentu.”
Setelah Sabiru tertidur, aku menemukan Naima berdiri di ambang pintu.
Di jari manisnya kini melingkar cincin pernikahan kami.
Aku menatapnya dengan mata berkaca-kaca.
Naima tersenyum pelan.
“Aku belum melupakan semua yang terjadi, Mas. Tapi aku mau mencoba lagi, pelan-pelan.”
Aku menggenggam tangannya.
“Terima kasih.”
Malam itu aku menyadari bahwa kebenaran tentang darah daging memang telah mengubah cara pandangku terhadap Sabiru.
Namun, ada pelajaran yang jauh lebih penting.
Seorang anak tidak seharusnya menunggu hasil pemeriksaan DNA untuk mendapatkan kasih sayang dari orang dewasa yang telah berjanji menjadi ayahnya.
Dan seorang perempuan tidak seharusnya harus membuktikan pengorbanannya selama bertahun-tahun hanya untuk diperlakukan dengan hormat.
Aku pernah mengira lima tahun pernikahanku adalah waktu yang terbuang.
Ternyata, waktu itulah yang selama ini kubuang sendiri dengan menutup hati terhadap dua orang yang paling membutuhkan kehadiranku.
Kini aku tidak bisa mengubah masa lalu.
Tetapi setiap pagi, ketika Sabiru berlari menghampiriku sambil berteriak memanggil Papa, aku tahu masih ada masa depan yang bisa kuperbaiki.
Bukan karena aku akhirnya mengetahui bahwa dia anak kandungku.
Melainkan karena aku akhirnya memahami arti sebenarnya menjadi seorang ayah.
