
Aku berdiri mematung di balik dinding lorong rumah sakit. Jantungku berdegup begitu kencang hingga suara orang-orang yang berlalu-lalang di sekitarku terdengar samar.
Keluarga Mas Jeno sudah mengenalku jauh sebelum kami menikah?
Bagaimana mungkin?
Selama ini aku mengira pertemuan kami di sebuah acara bakti sosial lima tahun lalu adalah sebuah kebetulan. Mas Jeno datang bersama rekan-rekannya dari kesatuan, sedangkan aku masih menjadi dokter muda yang membantu pemeriksaan kesehatan gratis.
Aku masih mengingat bagaimana dia membantuku mengangkat kotak obat ketika hujan turun tiba-tiba. Dari pertemuan sederhana itulah hubungan kami dimulai.
Namun, sekarang aku mendengar sesuatu yang membuat seluruh kenangan itu terasa berbeda.
“Memangnya siapa orang yang membantu Kak Maya dulu?” tanya Tiwi.
Mas Jeno menghela napas.
“Ibuku.”
Aku hampir kehilangan keseimbangan.
Ibu?
Bu Ratna, ibu mertuaku?
Perempuan yang selalu menyambutku dengan pelukan hangat setiap kali aku pulang ke rumahnya?
“Jangan bercanda, Mas,” kata Tiwi.
“Aku tidak sedang bercanda. Ibuku menjadi donatur tetap panti asuhan tempat Maya dibesarkan selama hampir dua puluh tahun.”
Aku spontan menutup mulut.
Air mata langsung memenuhi pelupuk mataku.
Ingatan tentang masa kecilku bermunculan satu per satu.
Ketika berusia sepuluh tahun, aku pernah mendapat bantuan biaya pengobatan karena terserang demam berdarah. Beberapa tahun kemudian, seseorang membayar seluruh biaya sekolahku hingga lulus SMA.
Saat berhasil diterima di fakultas kedokteran melalui jalur beasiswa, ada seorang donatur yang diam-diam menanggung biaya hidup dan buku-buku kuliahku.
Aku tidak pernah mengetahui namanya.
Pengurus panti hanya mengatakan bahwa orang tersebut tidak ingin dikenal.
Apakah selama ini orang itu adalah Bu Ratna?
“Mas Jeno tahu semua itu sejak kapan?” tanya Tiwi lagi.
“Sejak sebelum aku mengenal Maya secara langsung.”
Dadaku mendadak terasa sesak.
Aku tidak sanggup bersembunyi lebih lama.
“Mas…”
Suaraku membuat mereka berdua menoleh.
Wajah Tiwi langsung berubah pucat, sedangkan Mas Jeno tampak terkejut melihat air mata yang mengalir di pipiku.
“Maya?”
Aku berjalan mendekatinya.
“Jadi selama ini Ibu yang membantu biaya sekolahku?”
Mas Jeno terdiam.
“Kenapa Mas nggak pernah cerita?”
Suamiku menggenggam kedua tanganku.
“Karena Ibu yang memintaku merahasiakannya.”
“Tapi kenapa?”
Mas Jeno menatapku dengan lembut.
“Ibu tidak ingin kamu merasa berutang budi kepada keluarga kami. Dia ingin kamu menjalani hidupmu dengan bebas, termasuk ketika memutuskan menikah denganku.”
Aku menggeleng perlahan.
“Tapi Mas sudah tahu siapa aku sebelum kita bertemu?”
“Sebagian. Aku tahu namamu dari cerita Ibu. Tapi saat pertama kali bertemu di acara bakti sosial itu, aku baru menyadari bahwa dokter muda yang sedang membantu pasien adalah Maya yang selama ini sering diceritakan Ibu.”
“Jadi Mas sengaja mendekatiku?”
Mas Jeno tersenyum sedih.
“Aku memang sengaja membantumu mengangkat kotak obat supaya punya alasan mengajakmu berkenalan. Tapi aku jatuh cinta kepadamu karena mengenalmu, bukan karena cerita Ibu.”
Aku tertawa kecil di antara tangis.
Namun, masih ada pertanyaan yang mengganggu pikiranku.
“Kenapa Ibu begitu peduli kepadaku?”
Senyum Mas Jeno perlahan menghilang.
“Itu yang sebaiknya kamu tanyakan langsung kepada Ibu.”
Sore harinya, Bu Ratna datang ke rumah sakit bersama ayah mertua dan adik perempuan Mas Jeno.
Begitu melihatku, beliau langsung memelukku.
“Maya, bagaimana keadaan ayahmu?”
“Sudah lebih stabil, Bu.”
“Syukurlah.”
Aku menggenggam tangannya.
“Bu, Maya sudah tahu semuanya.”
Bu Ratna terdiam.
Aku melihat matanya mulai berkaca-kaca.
“Tentang bantuan Ibu selama aku di panti.”
Beliau menundukkan kepala.
“Jeno yang cerita?”
Aku mengangguk.
“Maaf, Bu. Aku tidak bermaksud memaksa Mas Jeno membuka rahasia. Tapi aku ingin tahu kenapa Ibu melakukan semua itu.”
Bu Ratna menarik napas panjang.
Kemudian beliau mengajakku duduk di bangku taman rumah sakit.
“Karena dulu Ibu pernah mengenal ibumu, Maya.”
Dunia seolah berhenti bergerak.
“Ibu kandungku?”
Bu Ratna mengangguk.
“Namanya Raras.”
Aku membeku.
Selama ini aku hanya mengetahui bahwa ibuku meninggal ketika aku masih kecil. Ayah tidak pernah mau menceritakan banyak hal tentangnya.
“Raras adalah sahabat Ibu sejak kuliah,” lanjut Bu Ratna. “Kami sama-sama belajar di Yogyakarta. Dia perempuan yang cerdas, baik hati, dan selalu ingin menjadi guru.”
Aku mendengarkan dengan napas tertahan.
“Ketika dia menikah dengan ayahmu, awalnya semuanya terlihat baik-baik saja. Tapi beberapa tahun kemudian, rumah tangga mereka mulai bermasalah.”
Bu Ratna berhenti sejenak.
“Raras pernah datang ke rumah Ibu sambil membawa kamu yang masih kecil. Dia menangis karena ayahmu ingin menikah lagi.”
Air mataku kembali jatuh.
“Ibu pernah mengalami itu?”
“Iya, Nak.”
Bu Ratna menggenggam tanganku semakin erat.
“Raras tidak ingin kamu tumbuh dalam pertengkaran. Dia berusaha mempertahankan rumah tangganya, tetapi kesehatannya terus menurun.”
Aku menunduk.
“Kalau begitu, kenapa aku sampai dibawa ke panti asuhan?”
“Setelah ibumu meninggal, ayahmu menikah dengan Gina. Tidak lama kemudian, dia menitipkanmu ke sebuah panti dengan alasan tidak mampu mengurusmu.”
Dadaku terasa nyeri.
“Padahal dia mampu membesarkan Tiwi.”
Bu Ratna mengusap punggung tanganku.
“Ibu tahu. Karena itulah ketika mendengar kamu berada di panti, Ibu mencoba membawamu tinggal bersama keluarga kami.”
Aku langsung menatapnya.
“Apa?”
“Namun, waktu itu ayahmu masih memegang hak pengasuhan. Dia menolak memberikan izin. Pengurus panti juga tidak bisa begitu saja menyerahkanmu kepada kami.”
Aku menangis tanpa suara.
Bu Ratna melanjutkan dengan mata basah.
“Akhirnya Ibu hanya bisa membantu dari jauh. Ibu berjanji kepada Raras ketika dia masih hidup bahwa kalau suatu hari dia tidak bisa menjaga kamu, Ibu akan berusaha memastikan kamu tidak kehilangan kesempatan untuk meraih cita-cita.”
Aku memeluknya erat.
“Kenapa Ibu tidak pernah datang menemuiku?”
“Ibu pernah datang beberapa kali ketika kamu masih kecil. Tapi setelah kamu mulai besar, pengurus panti menyampaikan bahwa kamu ingin mandiri dan tidak mau dikasihani. Ibu menghormati itu.”
Aku teringat seorang perempuan berkerudung krem yang pernah menghadiahiku buku cerita ketika aku berusia sembilan tahun.
Perempuan itu memelukku sambil berkata agar aku belajar sungguh-sungguh.
Ternyata perempuan itu adalah Bu Ratna.
“Terima kasih, Bu.”
Suaraku nyaris tidak terdengar.
“Kalau bukan karena Ibu, mungkin aku tidak akan bisa menjadi dokter.”
Bu Ratna menggeleng.
“Bukan begitu, Maya. Ibu hanya membantu membuka jalan. Yang berjalan melewati semua kesulitan itu adalah kamu sendiri.”
Kami menangis dalam pelukan cukup lama.
Dari kejauhan, Mas Jeno memperhatikan kami sambil tersenyum.
Namun, kebahagiaan itu tidak berlangsung lama.
Ketika kami kembali ke ruang tunggu ICU, Tiwi sedang menangis sambil memegang ponselnya.
Tante Gina duduk di sebelahnya dengan wajah merah padam.
“Ada apa?” tanyaku.
Tiwi mengangkat wajah.
“Kak, Mas Bayu memutuskan hubungan kami.”
Aku terkejut.
“Kenapa?”
Tante Gina langsung menyela.
“Gara-gara Jeno!”
Aku menoleh kepada suamiku.
Mas Jeno tampak sama bingungnya.
“Maksud Tante?”
“Bayu bilang tidak mau lagi berhubungan dengan Tiwi karena merasa keluarganya terus membandingkan dia dengan kamu!”
Tiwi mengusap air mata.
“Mas Bayu mendengar Ibu menyuruhku mencari pacar yang pangkatnya lebih tinggi. Dia datang tadi pagi dan mendengar semuanya dari luar.”
Aku terdiam.
Ternyata ucapan Tante Gina kemarin benar-benar melukai seseorang.
“Bayu bilang dia tidak malu menjadi kopral,” lanjut Tiwi. “Dia hanya tidak mau menikah dengan perempuan yang keluarganya menganggap pangkat lebih penting daripada kepribadian.”
Mas Jeno duduk di hadapan Tiwi.
“Tiwi, kalau kamu benar-benar mencintai Bayu, temui dia. Jelaskan perasaanmu sendiri, bukan keinginan ibumu.”
Tiwi menunduk.
“Tapi aku juga sering membandingkannya dengan laki-laki lain, Mas.”
“Kalau begitu, kamu harus berani meminta maaf.”
Untuk pertama kalinya, Tiwi tidak membantah.
Dia hanya mengangguk sambil menangis.
Beberapa hari kemudian, kondisi Ayah semakin membaik. Beliau sudah dipindahkan dari ICU ke ruang perawatan biasa.
Pada suatu sore, Ayah meminta semua anggota keluarga berkumpul.
Aku datang bersama Mas Jeno. Tiwi duduk di dekat jendela, sedangkan Tante Gina berdiri di samping tempat tidur.
Ayah menatap kami satu per satu.
“Ayah ingin mengatakan sesuatu sebelum pulang dari rumah sakit.”
Semua orang terdiam.
“Ayah sudah mendengar cerita tentang Ratna.”
Aku terkejut.
Rupanya Bu Ratna telah mengunjunginya pagi itu.
Ayah menatapku dengan mata basah.
“Maya, ayahmu ini terlalu pengecut. Dulu Ayah membiarkan orang lain membesarkanmu karena tidak mau bertanggung jawab.”
Aku menggenggam tangan Mas Jeno.
“Ayah tidak berhak meminta kamu melupakan semuanya,” lanjutnya. “Tapi Ayah ingin meminta satu kesempatan untuk mengenalmu lagi.”
Aku menarik napas.
“Aku bersedia mencoba, Yah. Tapi aku ingin hubungan kita dibangun dengan kejujuran. Jangan ada lagi perbandingan antara aku dan Tiwi.”
Ayah mengangguk.
Kemudian beliau menoleh kepada adik tiriku.
“Tiwi, Ayah juga minta maaf kepadamu.”
Tiwi tampak terkejut.
“Kenapa, Yah?”
“Karena Ayah selalu memujimu bukan untuk menghargai usahamu, melainkan untuk membandingkanmu dengan kakakmu. Tanpa sadar, Ayah membuatmu merasa harus selalu menjadi yang terbaik.”
Tiwi mulai menangis.
“Aku capek, Yah. Aku selalu takut mengecewakan Ayah dan Ibu.”
Tante Gina menutup wajahnya.
Malam itu, untuk pertama kalinya, keluarga kami berbicara tanpa saling menyalahkan.
Tidak semua masalah langsung selesai. Namun, setidaknya kami mulai berani mengakui luka yang selama ini disembunyikan.
Sebulan kemudian, Tiwi berhasil memperbaiki hubungannya dengan Bayu. Tante Gina meminta maaf secara langsung kepada pemuda itu, meskipun awalnya Bayu masih membutuhkan waktu untuk kembali percaya.
Sementara itu, aku kembali menjalani pekerjaanku seperti biasa.
Suatu pagi, ketika sedang bersiap berangkat ke rumah sakit, Bu Ratna datang membawa sebuah kotak kayu kecil.
“Ini peninggalan ibumu, Maya.”
Aku membukanya dengan hati-hati.
Di dalamnya terdapat kalung sederhana, beberapa foto lama, dan sebuah surat yang kertasnya sudah menguning.
Tulisan tangan di bagian depan membuat mataku berkaca-kaca.
Untuk Maya, putri kecil Ibu.
Aku membuka surat itu.
Maya sayang, kalau suatu hari kamu membaca surat ini, mungkin Ibu sudah tidak bisa menemanimu lagi. Ibu tidak tahu kehidupan seperti apa yang akan kamu jalani. Tapi Ibu ingin kamu mengingat satu hal. Kamu tidak pernah menjadi anak yang tidak diinginkan. Kamu lahir dari doa dan harapan terbesar Ibu.
Air mataku langsung jatuh.
Aku melanjutkan membaca.
Kalau suatu hari ada orang yang membuatmu merasa tidak berharga, jangan percaya. Nilai dirimu bukan ditentukan oleh bagaimana orang memperlakukanmu. Jadilah perempuan yang baik, tetapi jangan biarkan kebaikanmu digunakan untuk menyakitimu.
Aku memeluk surat itu erat-erat.
Bertahun-tahun aku mengira hidupku dimulai dari penolakan seorang ayah.
Ternyata sebelum penolakan itu, ada seorang ibu yang begitu mencintaiku.
Mas Jeno mendekat dan memeluk bahuku.
“Kamu baik-baik saja, Sayang?”
Aku mengangguk sambil menangis.
“Mas, akhirnya aku tahu Ibu sangat menyayangiku.”
“Dia pasti bangga melihatmu sekarang.”
Aku tersenyum.
Namun, ketika hendak memasukkan kembali foto-foto ke dalam kotak, aku menemukan sebuah amplop kecil yang terselip di bagian bawah.
Di dalamnya terdapat foto Bu Ratna, ibuku, dan seorang bayi laki-laki.
Aku menatap foto itu dengan heran.
“Bu, ini bayi siapa?”
Bu Ratna tersenyum.
“Itu Jeno.”
Aku membelalak.
“Mas Jeno?”
Beliau mengangguk.
“Foto itu diambil ketika Jeno baru berusia enam bulan. Ibumu yang menggendongnya.”
Aku memandang suamiku dengan tak percaya.
Mas Jeno juga tampak terkejut.
Bu Ratna tertawa kecil.
“Raras pernah bercanda bahwa kalau suatu hari dia punya anak perempuan, dia ingin mengenalkannya kepada Jeno.”
Aku terdiam beberapa saat sebelum akhirnya tertawa di tengah tangis.
“Jadi Ibu kami sudah saling mengenal bahkan sebelum aku lahir?”
“Iya, Nak.”
Mas Jeno menggenggam tanganku.
“Tapi aku benar-benar tidak tahu soal foto ini.”
Aku menatapnya sambil tersenyum.
“Aku percaya, Mas.”
Bu Ratna kemudian mengusap rambutku.
“Namun, kalian jangan menganggap pernikahan ini karena janji masa lalu. Tidak ada seorang pun yang pernah merencanakan kalian harus menikah. Kalian memilih satu sama lain dengan hati kalian sendiri.”
Aku mengangguk.
Dan justru itulah yang membuat semuanya terasa indah.
Dulu aku merasa dibuang oleh keluargaku sendiri. Aku mengira tidak ada seorang pun yang benar-benar menginginkanku.
Namun, ternyata sepanjang perjalanan hidupku, ada cinta yang diam-diam menjagaku.
Cinta seorang ibu yang telah tiada.
Kebaikan sahabatnya yang tidak mengharapkan balasan.
Dan kesetiaan seorang lelaki yang memilihku bukan karena asal-usulku, melainkan karena siapa diriku.
Beberapa bulan kemudian, Ayah datang menghadiri acara penghargaan tenaga medis di rumah sakitku.
Ketika namaku dipanggil sebagai salah satu dokter yang menerima penghargaan atas pengabdian dalam pelayanan kesehatan masyarakat, aku melihat Ayah berdiri dari kursinya.
Beliau bertepuk tangan sambil menangis.
Setelah acara selesai, Ayah menghampiriku dan berkata dengan suara bergetar.
“Maya, boleh Ayah memperkenalkanmu kepada teman-teman Ayah?”
Aku tersenyum.
“Tentu, Yah.”
Beliau menggenggam tanganku, lalu membawaku mendekati beberapa orang yang sedang berbincang.
Dengan mata berbinar, Ayah berkata, “Kenalkan, ini Maya. Putri sulung saya.”
Aku menatapnya.
Untuk pertama kalinya, Ayah memperkenalkanku tanpa rasa malu.
Namun, ketika beliau hendak menyebutkan profesiku, aku menyentuh lengannya dengan lembut.
“Yah, cukup bilang aku putri Ayah.”
Ayah terdiam.
Aku tersenyum.
“Karena sebelum menjadi dokter, aku sudah menjadi anak Ayah. Dan sebenarnya, itu saja seharusnya sudah cukup.”
Air mata kembali memenuhi mata Ayah.
Beliau memelukku di hadapan semua orang.
Dalam pelukan itu, aku tidak lagi menjadi anak kecil yang memohon agar diakui.
Aku adalah perempuan dewasa yang telah belajar menerima masa lalunya tanpa membiarkan masa lalu menentukan masa depannya.
Aku memang tidak bisa mengubah tahun-tahun yang telah hilang.
Tetapi aku bisa memilih bagaimana menjalani hari-hari yang masih tersisa.
Dan hari itu, untuk pertama kalinya, aku tidak lagi pulang dengan membawa luka dari rumah ayahku.
Aku pulang membawa kedamaian.
