“Om sudah menunggu kamu di ruang tengah.”
Kalimat Tante Sari terus terngiang di telingaku. Aku berdiri membeku di dekat meja makan, sementara suara musik keroncong dari ruangan sebelah terdengar semakin jelas.
“Tante… Om siapa?” tanyaku dengan suara hampir tidak terdengar.

Tante Sari menoleh sambil tersenyum.
“Om Ardi, siapa lagi?”
Aku merasa darahku berhenti mengalir.
“Tapi… bukannya Om Ardi sudah meninggal?”
Senyum Tante Sari perlahan menghilang. Dia meletakkan sendok sayur, kemudian menatapku dengan ekspresi yang sulit kuterjemahkan.
“Memang sudah meninggal, Mika. Tapi bukan berarti dia benar-benar pergi dari rumah ini.”
Aku mundur selangkah.
“Tante bercanda, kan?”
Tante Sari tidak menjawab. Dia justru berjalan menuju ruang tengah dan menyalakan lampu.
Kursi goyang tua itu sudah berhenti bergerak.
“Ardi, Mika sudah pulang,” ucap Tante Sari sambil memandang kursi kosong tersebut.
Aku menahan napas.
Tidak ada jawaban.
Namun, beberapa detik kemudian, terdengar suara laki-laki yang sangat pelan.
“Sudah kubilang, jangan bawa orang asing ke rumah ini.”
Aku langsung mengenali suara itu.
Suara yang kudengar melalui telepon ketika berbicara dengan Ibu siang tadi.
“Astaghfirullah!”
Aku berlari menuju kamar, mengunci pintu, lalu bersandar di belakangnya sambil gemetar.
Dari luar terdengar suara Tante Sari memanggilku.
“Mika, jangan takut. Om Ardi tidak akan mengganggumu.”
Aku menutup kedua telinga.
Bagaimana mungkin Tante Sari bisa bersikap begitu tenang?
Apakah selama ini dia tinggal bersama arwah suaminya?
Malam itu aku tidak keluar kamar, bahkan ketika Tante Sari mengetuk pintu untuk mengantarkan makanan.
Sekitar pukul sebelas, suara musik keroncong kembali terdengar.
Kemudian muncul suara langkah kaki.
Berat.
Perlahan.
Berhenti tepat di depan pintu kamarku.
Tok.
Tok.
Tok.
“Mika.”
Suara laki-laki itu terdengar jelas.
“Jangan percaya semua yang dikatakan Sari.”
Aku memeluk lutut di atas kasur.
“Tolong pergi!” seruku sambil menangis.
Tidak ada jawaban.
Beberapa saat kemudian, langkah kaki itu menjauh.
Pagi harinya, aku langsung menghubungi Ibu.
“Bu, Mika mau pulang.”
“Lho, kenapa? Kamu baru dua hari bekerja.”
Aku menceritakan semuanya, mulai dari suara misterius saat menelepon, pengemudi ojek yang melihat laki-laki di teras, hingga kejadian semalam.
Ibu terdiam cukup lama.
“Mik, Tante Sari memang berubah sejak suaminya meninggal. Tapi Ibu tidak pernah mendengar cerita seperti itu.”
“Aku takut, Bu.”
“Kalau memang tidak nyaman, cari kos lain. Ibu lebih tenang kalau kamu tinggal di tempat yang aman.”
Aku merasa sedikit lega.
Namun, ketika membuka aplikasi perbankan untuk memeriksa tabungan, aku kembali putus asa. Gajiku baru akan diterima akhir bulan. Uang yang tersisa bahkan tidak cukup untuk membayar uang muka kos.
Aku memutuskan bertahan beberapa hari sambil mencari tempat tinggal lain.
Sepulang bekerja sore itu, aku sengaja berhenti di warung dekat gerbang kompleks.
Pemiliknya, seorang perempuan bernama Bu Rini, menyambutku ramah.
“Kamu keponakannya Bu Sari, ya?”
Aku mengangguk.
“Iya, Bu.”
“Betah tinggal di rumah itu?”
Pertanyaannya membuatku ragu.
“Lumayan, Bu.”
Bu Rini menatapku beberapa saat.
“Kamu sudah bertemu Pak Ardi?”
Aku hampir menjatuhkan gelas teh.
“Pak Ardi kan sudah meninggal, Bu!”
Perempuan itu mendadak pucat.
“Maaf. Maksud saya, kamu sudah melihat foto almarhum?”
Aku menggeleng perlahan.
Bu Rini terlihat gelisah. Dia segera mengalihkan pembicaraan, tetapi sebelum aku pergi, dia menggenggam lenganku.
“Mika, kalau kamu mendengar seseorang memanggil dari garasi malam-malam, jangan langsung mendekat. Hubungi saya atau petugas keamanan dulu.”
Aku menatapnya bingung.
“Kenapa, Bu?”
Namun, Bu Rini hanya menggeleng.
“Pokoknya hati-hati.”
Malam itu, aku pulang dengan perasaan semakin tidak nyaman.
Tante Sari sedang menonton televisi ketika aku masuk.
“Mika, sudah makan?”
“Sudah, Tante.”
“Bagus. Tante mau minta tolong sedikit.”
Aku berhenti.
“Tolong ambilkan kotak obat di lemari dekat garasi, ya. Lutut Tante sedang sakit.”
Aku mengangguk meskipun enggan.
Garasi terletak di bagian belakang rumah, bersebelahan dengan gudang kecil. Ketika membuka pintunya, aku langsung melihat dua mobil yang pernah membuatku penasaran.
Sebuah sedan putih dan Mitsubishi Pajero hitam.
Aku terdiam.
Pajero.
Mobil yang sama dengan jenis kendaraan yang menurut Ibu digunakan Om Ardi ketika kecelakaan.
Aku mendekat perlahan.
Bagian depan mobil terlihat utuh, tetapi warna cat di sekitar kap mesin sedikit berbeda. Seolah pernah diperbaiki.
Di lantai dekat roda belakang terdapat bekas tetesan cairan yang sudah mengering.
Aku berusaha mengabaikannya dan mencari lemari obat.
Namun, ketika melewati sisi mobil, sesuatu menarik perhatianku.
Di kaca belakang terdapat stiker kecil bertuliskan nama sebuah bengkel di Bogor.
Aku mengeluarkan ponsel dan memotretnya.
Tiba-tiba terdengar suara dari dalam mobil.
“Jangan buka pintunya.”
Aku membeku.
Suara itu lagi.
Aku menoleh perlahan.
Di kursi pengemudi terlihat bayangan seorang laki-laki.
Wajahnya pucat, rambutnya rapi, dan kedua tangannya menggenggam setir.
Aku mundur ketakutan.
Namun, ketika lampu garasi menyala secara otomatis, bayangan tersebut menghilang.
“Mika?”
Tante Sari berdiri di ambang pintu.
“Kamu sedang apa?”
Aku menunjuk mobil dengan tangan gemetar.
“Tante… tadi ada orang di dalam!”
Tante Sari langsung menatap Pajero hitam tersebut.
Wajahnya berubah tegang.
“Kamu membuka pintunya?”
Aku menggeleng cepat.
“Tidak!”
Tante Sari tampak lega.
“Bagus. Jangan pernah membuka mobil itu tanpa izin Tante.”
“Tapi kenapa mobil Om masih disimpan?”
Dia diam cukup lama.
“Karena ada sesuatu di dalamnya yang belum bisa Tante lepaskan.”
Aku semakin takut mendengar jawaban itu.
Keesokan harinya, aku menunjukkan foto stiker bengkel kepada rekan kerjaku bernama Dinda.
Dinda ternyata mengenal bengkel tersebut karena kakaknya pernah bekerja di sana.
“Kalau kamu mau, aku bisa tanya,” katanya.
Aku mengangguk.
Siang itu, Dinda menghubungi kakaknya.
Tidak sampai sepuluh menit kemudian, wajahnya berubah serius.
“Mik, kakakku bilang mobil Pajero milik keluarga Sari pernah diperbaiki di bengkel itu sekitar tiga tahun lalu.”
Aku terkejut.
“Bukannya Om Ardi meninggal empat tahun lalu?”
“Iya. Tapi ada yang aneh.”
“Apa?”
“Menurut kakakku, mobil itu bukan kendaraan yang mengalami kecelakaan fatal. Kerusakannya cuma akibat menabrak pagar.”
Aku membeku.
“Jadi mobil kecelakaannya berbeda?”
Dinda mengangguk.
“Bahkan kakakku bilang mobil yang mengalami kecelakaan waktu itu sudah dijual sebagai besi tua.”
Aku merasakan tengkukku dingin.
Kalau begitu, mengapa Tante Sari begitu melarangku membuka Pajero di garasinya?
Malam harinya, aku memutuskan mencari tahu lebih jauh.
Aku tidak berniat masuk ke garasi diam-diam. Aku hanya ingin menanyakan sesuatu kepada Tante Sari.
Namun, ketika sampai di ruang tengah, aku mendengar suara pertengkaran.
“Kamu tidak bisa terus menyembunyikannya, Sari!”
Itu suara laki-laki yang sama.
Tante Sari menjawab dengan nada menangis.
“Aku sudah melakukan semua yang kamu minta. Apa lagi yang kamu inginkan?”
“Katakan yang sebenarnya kepada anak itu!”
“Tidak! Kalau Mika tahu, dia pasti meninggalkan rumah ini!”
Aku berdiri mematung di balik dinding.
Anak itu?
Apakah mereka sedang membicarakanku?
Tiba-tiba pintu ruang tengah terbuka.
Tante Sari muncul dengan mata sembap.
“Mika?”
Aku mundur.
“Tante sedang bicara dengan siapa?”
Tante Sari tidak menjawab.
Aku memberanikan diri menatap ruang tengah.
Kursi goyang itu bergerak perlahan.
Maju.
Mundur.
Maju.
Mundur.
Namun, kali ini aku melihat sesuatu yang sebelumnya tidak kusadari.
Di bawah kursi terdapat kabel tipis yang menjulur menuju rak buku.
Aku langsung menunjuknya.
“Tante, kabel apa itu?”
Tante Sari membeku.
Aku melangkah mendekat dan mengikuti arah kabel tersebut.
Ujungnya terhubung dengan perangkat kecil yang disembunyikan di balik rak.
Sebuah motor listrik penggerak.
Di sampingnya terdapat pengeras suara nirkabel.
Aku menatap Tante Sari dengan mata membelalak.
“Jadi selama ini kursi itu sengaja dibuat bergerak?”
Tante Sari menangis.
“Mika, Tante bisa menjelaskan.”
Aku mengambil pengeras suara tersebut.
“Dan suara Om Ardi berasal dari alat ini?”
Tante Sari tidak menjawab.
Saat itulah terdengar suara pintu samping dibuka.
Seorang laki-laki masuk ke ruang tengah.
Usianya sekitar lima puluh tahun, mengenakan kemeja abu-abu dan celana panjang hitam.
Aku mengenali wajahnya.
Laki-laki yang kulihat di kursi pengemudi Pajero!
Dia menatapku dengan ekspresi terkejut.
“Mika?”
Aku mundur sampai punggungku menyentuh dinding.
“Tante… siapa dia?”
Tante Sari menutup wajahnya.
“Maafkan Tante.”
Laki-laki itu mendekat perlahan.
“Namaku Ardi.”
Aku hampir kehilangan keseimbangan.
“Tidak mungkin! Om Ardi sudah meninggal!”
Pria itu menggeleng.
“Yang meninggal dalam kecelakaan itu bukan aku.”
Aku menatapnya tanpa berkedip.
Ardi kemudian menceritakan kejadian empat tahun lalu.
Saat itu, dia memiliki usaha penyewaan kendaraan bersama seorang teman bernama Herman. Usaha mereka bangkrut karena Herman menggunakan uang perusahaan untuk berjudi dan menumpuk utang.
Ketika para penagih datang, Herman mengambil salah satu mobil perusahaan tanpa izin. Dia mengalami kecelakaan fatal di jalan menuju Sukabumi.
“Mobil itu terdaftar atas namaku,” ujar Ardi. “Dompet dan beberapa dokumen milikku juga ada di dalamnya karena sebelumnya kupakai.”
Aku menelan ludah.
“Lalu kenapa semua orang mengira Om meninggal?”
“Karena identifikasi awal keliru. Saat aku mengetahui kabar itu, aku sedang bersembunyi akibat ancaman penagih utang yang mencari Herman.”
“Jadi Om sengaja membiarkan keluarga percaya Om meninggal?”
Ardi menunduk.
“Iya. Aku takut kalau muncul, orang-orang itu akan mendatangiku dan menyakiti Sari.”
Aku menatap Tante Sari.
“Tante tahu semuanya?”
Dia mengangguk sambil menangis.
“Beberapa minggu setelah kecelakaan, Ardi menghubungi Tante. Dia meminta Tante merahasiakan keberadaannya.”
Aku merasa marah.
“Lalu kenapa membuatku ketakutan dengan suara-suara aneh?”
Ardi terlihat sangat menyesal.
“Itu salahku. Awalnya aku hanya menggunakan pengeras suara untuk berbicara dengan Sari dari ruangan lain. Kursi goyang itu juga kupasangi alat karena Sari sering duduk di sana mengenang masa lalu.”
Aku menggeleng.
“Tidak masuk akal! Kenapa suara Om muncul saat aku menelepon Ibu?”
Ardi terdiam.
Tante Sari kemudian membuka sebuah tablet dari laci.
“Karena sistem pengeras suara rumah tersambung ke beberapa perangkat, termasuk tablet yang pernah Tante gunakan untuk menelepon ibumu. Waktu kamu berbicara melalui speaker, suara dari perangkat di dekat Tante ikut tertangkap.”
Aku menatapnya dengan bingung.
“Tapi Tante bilang Om sudah menunggu di ruang tengah.”
Tante Sari mengangguk lemah.
“Karena malam itu Ardi memang berada di kamar tersembunyi di belakang rak buku. Tante tidak tahu bagaimana menjelaskan keberadaannya kepadamu.”
Aku duduk lemas di sofa.
Semua kejadian menyeramkan yang kualami ternyata memiliki penjelasan.
Namun, ada satu pertanyaan yang belum terjawab.
“Kenapa kalian masih bersembunyi setelah empat tahun?”
Ardi menunduk.
“Karena aku melakukan kesalahan yang lebih besar daripada sekadar membiarkan orang mengira aku sudah meninggal.”
Aku menatapnya.
“Apa?”
“Aku menggunakan identitas baru untuk bekerja. Aku takut menghadapi akibat perbuatanku sendiri.”
Tante Sari menangis semakin keras.
“Aku sudah berkali-kali memintanya menyelesaikan semuanya secara hukum, tetapi dia selalu menunda.”
Aku mengembuskan napas panjang.
“Kalau begitu, kalian harus berhenti bersembunyi.”
Ardi mengangguk.
“Aku tahu.”
Malam itu aku menghubungi Ibu dan menceritakan kejadian tersebut.
Ibu terkejut bukan main.
Dia bahkan sempat menangis ketika mengetahui bahwa kakak iparnya ternyata masih hidup.
Namun, Ibu segera mengatakan sesuatu yang membuatku berpikir.
“Mika, jangan langsung percaya semua cerita mereka. Kalau memang benar, biarkan pihak berwenang yang memeriksa.”
Aku menyampaikan pesan itu kepada Tante Sari dan Ardi.
Keesokan harinya, mereka mendatangi kantor polisi bersama seorang pengacara untuk menjelaskan kejadian masa lalu dan menyerahkan dokumen yang dimiliki.
Aku memilih tidak ikut campur lebih jauh.
Beberapa minggu kemudian, proses pemeriksaan masih berlangsung. Identitas korban kecelakaan ditelusuri kembali berdasarkan catatan yang tersedia, sementara Ardi harus mempertanggungjawabkan penggunaan identitas lain dan tindakan yang dilakukannya selama bersembunyi.
Tante Sari memutuskan menjual salah satu mobil untuk membantu menyelesaikan persoalan keuangan dan biaya hukum.
Aku sendiri akhirnya pindah ke kamar kos dekat kantor bersama Dinda.
Namun, sebelum pindah, Tante Sari menghampiriku sambil membawa sebuah amplop.
“Ini untukmu, Mika.”
Aku menggeleng.
“Tante tidak perlu memberi uang.”
“Bukan uang.”
Aku membuka amplop tersebut.
Di dalamnya terdapat foto lama ketika aku masih kecil, sedang duduk di pangkuan Tante Sari.
Di belakang foto tertulis sebuah kalimat.
“Mika kecil, anak yang selalu membuat rumah kami ramai.”
Aku terdiam.
Tante Sari tersenyum sedih.
“Dulu Tante sangat ingin punya anak. Tapi setelah bertahun-tahun menikah, kami tidak dikaruniai keturunan. Setiap kali kamu datang bersama ibumu, rumah ini terasa hidup.”
Mataku berkaca-kaca.
“Tante…”
“Waktu Tante mengajakmu tinggal di sini, Tante sebenarnya sangat bahagia. Tapi Tante takut kalau kamu mengetahui Ardi masih hidup dan menyimpan begitu banyak masalah, kamu akan pergi.”
Aku menggenggam tangannya.
“Tante tidak perlu berbohong supaya aku mau tinggal.”
Dia menangis.
“Aku tahu sekarang.”
Aku memeluknya.
Sore itu, sebelum meninggalkan rumah, aku melewati ruang tengah untuk terakhir kalinya.
Kursi goyang tua masih berada di tempat semula.
Namun, kabel dan perangkat penggeraknya sudah dilepas.
Tidak ada musik keroncong.
Tidak ada suara misterius.
Hanya sinar matahari sore yang masuk melalui jendela.
Aku tersenyum kecil.
Selama ini aku mengira rumah tersebut dihuni sesuatu yang menyeramkan.
Ternyata yang membuatnya terasa menakutkan bukanlah arwah orang meninggal.
Melainkan kebohongan orang-orang yang masih hidup.
Aku akhirnya memahami bahwa rahasia yang disimpan terlalu lama dapat berubah menjadi penjara bagi orang yang menyimpannya.
Tante Sari terkurung dalam kesepian.
Ardi terkurung dalam ketakutan.
Dan aku hampir kehilangan kepercayaan kepada keluargaku sendiri.
Namun, kejadian itu juga mengajarkanku sesuatu.
Keberanian bukan berarti tidak pernah merasa takut.
Keberanian adalah kesediaan menghadapi kenyataan, termasuk ketika kebenaran memaksa kita mengakui kesalahan.
Ketika mobil Dinda berhenti di depan pagar untuk menjemputku, aku menoleh sekali lagi ke arah rumah Tante Sari.
Tante berdiri di teras sambil melambaikan tangan.
Di sampingnya, Ardi berdiri dengan wajah lelah tetapi tenang.
Untuk pertama kalinya, aku melihat keduanya berdiri bersama di bawah cahaya matahari tanpa bersembunyi.
Aku membalas lambaian mereka.
Dan ketika mobil mulai bergerak meninggalkan kompleks, aku menyadari bahwa sebuah rumah tidak menjadi angker hanya karena menyimpan kenangan buruk.
Terkadang, yang paling dibutuhkan sebuah rumah agar kembali terasa hangat hanyalah keberanian penghuninya untuk berhenti hidup dalam kebohongan.
