RUMAH MBAH KASNI

Pagi itu, aku terbangun karena suara ketukan dari jendela kamar. Tiga kali, pelan tetapi teratur. Ketika kubuka mata, jam dinding baru menunjukkan pukul empat lewat dua puluh menit. Di luar masih gelap, sementara azan Subuh belum terdengar.

Tok… tok… tok…

Aku menarik selimut hingga menutupi dada. Jendela kamarku menghadap langsung ke rumah Mbah Kasni. Letaknya cukup tinggi dari tanah sehingga seseorang harus berdiri di atas kursi untuk bisa mengetuk kacanya.

“Siapa?” tanyaku dengan suara hampir tidak terdengar.

Ketukan itu berhenti.

Aku memberanikan diri bangun dan mengintip melalui celah gorden. Tidak ada siapa-siapa. Hanya halaman rumah yang basah oleh embun dan bangunan tua di seberang jalan yang tampak seperti bayangan hitam.

Namun, ada sesuatu yang membuat napasku tertahan.

Jendela ruang tengah rumah Mbah Kasni terbuka sedikit.

Padahal aku melihat sendiri Pak Yadi menutup semua jendela sebelum meninggalkan rumah itu kemarin.

Aku segera menjauh dari jendela dan bergegas ke kamar Ibu.

“Bu, bangun sebentar.”

Ibu menggeliat, lalu membuka mata.

“Ada apa, Nduk?”

“Jendela rumah Mbah Kasni terbuka.”

Ibu langsung duduk.

“Kamu yakin?”

Aku mengangguk.

Ibu membangunkan Bapak. Setelah mendengar ceritaku, Bapak mengambil senter dan berjalan ke teras. Aku mengikutinya dari belakang.

“Memang terbuka sedikit,” gumam Bapak.

“Mungkin kemarin kurang rapat, Pak,” kata Ibu.

Bapak tidak menjawab. Beliau hanya memandangi rumah itu beberapa saat sebelum menyuruh kami kembali masuk.

Pagi harinya, Pak Yadi datang bersama dua warga untuk memeriksa rumah Mbah Kasni. Ternyata semua pintu masih terkunci, tetapi salah satu pengait jendela bagian dalam sudah terlepas. Mereka menganggapnya akibat kondisi rumah yang memang sudah tua.

Aku berusaha menerima penjelasan itu.

Namun, kejadian aneh berikutnya membuatku semakin sulit menenangkan diri.

Menjelang siang, ketika sedang menjemur pakaian, aku mendengar suara kerekan sumur dari arah rumah Mbah Kasni.

Krieeet… krieeet…

Suara itu sangat khas. Sejak kecil aku sering mendengarnya setiap pagi ketika Mbah Kasni menimba air.

Aku berhenti menggantungkan pakaian.

Krieeet…

Suara itu terdengar lagi.

Aku berdiri di ujung halaman dan mengintip melalui celah pagar bambu. Sumur Mbah Kasni berada di belakang rumah, tidak jauh dari dapur kami.

Tali timbanya bergerak.

Ember tua yang tergantung di ujung tali berayun pelan.

Aku langsung berlari masuk.

“Bu! Ada orang menimba air di rumah Mbah Kasni!”

Ibu keluar dengan tangan masih basah.

“Siapa?”

“Nggak tahu. Aku cuma dengar suara kerekan sumurnya.”

Kami berdua mendekati pagar. Namun, ketika sampai di sana, suara itu sudah berhenti.

Embernya diam.

Ibu memegang lenganku.

“Sudah, jangan terlalu dipikirkan. Mungkin angin.”

“Tapi tadi jelas sekali, Bu.”

Ibu tidak membantah. Beliau hanya mengajakku masuk dan meminta agar aku tidak mendekati rumah tersebut sendirian.

Malam berikutnya, kejadian yang lebih mengganggu terjadi pada Ayu.

Adikku sedang belajar di ruang tengah ketika tiba-tiba mendengar seseorang memanggil namanya dari arah pintu belakang.

“Yu… Ayu…”

Awalnya dia mengira Ibu yang memanggil.

“Iya, Bu?”

Tidak ada jawaban.

Beberapa detik kemudian suara itu terdengar lagi.

“Ayu… tolong bukakan…”

Ayu berdiri dan berjalan menuju dapur. Namun, sebelum sempat menyentuh pintu belakang, Ibu muncul dari kamar.

“Mau ke mana, Yu?”

“Lho, Ibu tadi manggil aku, kan?”

Ibu menggeleng.

“Nggak. Ibu dari tadi di kamar.”

Wajah Ayu langsung pucat.

Malam itu dia tidur bersamaku. Adikku yang biasanya paling berani mengejek orang penakut justru tidak mau mematikan lampu kamar.

“Mbak, kamu percaya nggak kalau orang meninggal masih bisa pulang ke rumahnya?” tanyanya.

Aku menatap langit-langit.

“Jangan ngomong begitu. Kita nggak tahu apa yang sebenarnya terjadi.”

“Tapi aku dengar suara perempuan tua, Mbak. Jelas sekali.”

Aku tidak menjawab.

Sejujurnya, aku juga mulai ketakutan.

Tiga hari setelah pemakaman, bau busuk dari rumah Mbah Kasni memang mulai berkurang. Pak Yadi meminta beberapa warga membantu membersihkan lantai dan membuka ventilasi. Rumah tersebut rencananya akan ditutup sementara sampai diketahui siapa pihak keluarga yang berhak mengurusnya.

Namun, ketika warga mulai membersihkan kamar belakang, mereka menemukan sesuatu yang mencurigakan.

Di bawah tempat tidur Mbah Kasni terdapat sebuah koper besi kecil yang terkunci.

Koper itu sudah berkarat, tetapi bagian pegangannya terlihat lebih bersih dibandingkan permukaan lainnya, seolah belum lama disentuh.

Pak Yadi tidak berani membukanya sembarangan.

Beliau menghubungi polisi yang sebelumnya menangani penemuan jenazah.

Aku mengetahui semua itu dari Lek Budi yang ikut membantu membersihkan rumah.

“Memangnya isinya apa, Lek?” tanyaku.

“Belum tahu. Tapi ada yang aneh.”

“Apa?”

Lek Budi mendekat dan merendahkan suaranya.

“Di samping koper itu ada sandal laki-laki. Ukurannya besar, dan kelihatannya masih baru.”

Aku terdiam.

“Mungkin punya kerabat Mbah Kasni.”

“Itulah masalahnya. Setahu warga, Mbah Kasni hampir nggak pernah menerima tamu.”

Keesokan harinya, polisi kembali datang.

Setelah koper dibuka dalam pemeriksaan, mereka menemukan beberapa surat tanah, buku tabungan lama, serta selembar foto keluarga yang sudah menguning.

Dalam foto itu, Mbah Kasni berdiri bersama seorang laki-laki dan anak perempuan berusia sekitar delapan tahun.

Di belakang foto tertulis nama Sulastri dan tahun 1989.

Ketika Pak Yadi memperlihatkan salinan foto itu kepada Ibu untuk membantu mengenali orang-orang di dalamnya, wajah Ibu mendadak berubah.

“Ini Lastri,” bisiknya.

“Siapa, Bu?” tanyaku.

Ibu duduk perlahan.

“Dulu Mbah Kasni punya anak perempuan. Namanya Sulastri.”

Aku terkejut.

“Katanya Mbah Kasni nggak punya keluarga.”

“Bukan nggak punya. Anaknya pergi dari kampung waktu masih remaja. Setelah itu nggak pernah pulang.”

“Kenapa?”

Ibu terlihat ragu.

“Orang-orang dulu bilang mereka bertengkar hebat. Tapi Ibu nggak tahu penyebabnya.”

Malam itu, untuk pertama kalinya Ibu menceritakan masa lalu Mbah Kasni.

Menurutnya, Mbah Kasni dahulu bekerja sebagai penjual jamu keliling. Suaminya meninggal ketika Sulastri masih kecil. Demi membesarkan anak semata wayangnya, beliau bekerja dari pagi hingga malam.

Namun, ketika Sulastri berusia sekitar tujuh belas tahun, terjadi pertengkaran besar di rumah mereka.

Sulastri pergi membawa beberapa pakaian dan tidak pernah kembali.

Sejak itulah Mbah Kasni hidup sendirian.

“Beliau pernah bilang kepada Mbah Putri kalau suatu hari Lastri pasti pulang,” ujar Ibu.

“Terus kenapa nggak dicari?”

“Zaman dulu mencari orang nggak semudah sekarang, Nduk. Mbah Kasni katanya pernah pergi ke beberapa kota, tetapi nggak berhasil menemukannya.”

Aku memandang foto yang tergeletak di meja.

Untuk pertama kalinya, rumah tua itu tidak lagi terasa sekadar menyeramkan.

Di balik dinding kusamnya ternyata tersimpan penantian seorang ibu selama puluhan tahun.

Dua hari kemudian, seorang perempuan berusia sekitar lima puluh tahun datang ke rumah Pak Yadi.

Dia mengaku bernama Sulastri.

Aku melihatnya ketika sedang membeli gula di warung. Perempuan itu mengenakan kerudung abu-abu dan membawa tas perjalanan kecil. Matanya sembap, seperti seseorang yang baru menangis sepanjang perjalanan.

Ternyata polisi berhasil menghubunginya melalui informasi dalam dokumen lama Mbah Kasni.

Ketika diberi tahu bahwa ibunya sudah meninggal, Sulastri langsung berangkat dari Semarang.

Namun, kedatangannya justru mengungkap sebuah kejanggalan.

“Ada yang pernah masuk ke rumah Ibu sebelum jenazah ditemukan,” katanya kepada Pak Yadi.

Aku yang kebetulan mengantarkan teh untuk para tamu terdiam di dekat pintu.

“Kenapa Ibu bisa mengatakan begitu?” tanya Pak Yadi.

Sulastri mengeluarkan ponselnya.

“Lima hari sebelum ditemukan meninggal, Ibu menelepon saya.”

Semua orang terkejut.

“Katanya ada laki-laki datang meminta surat tanah. Laki-laki itu mengaku kerabat jauh dan ingin membantu menjual rumah.”

Pak Yadi mengerutkan kening.

“Apakah Ibu tahu namanya?”

Sulastri mengangguk.

“Rohman.”

Nama itu langsung membuat Pak Yadi berdiri.

Rohman adalah seorang lelaki yang beberapa bulan terakhir sering menawarkan jasa jual beli tanah di kampung kami. Dia pernah datang bersama calon pembeli untuk melihat rumah Mbah Kasni.

Polisi kemudian meminta keterangan Sulastri lebih lanjut.

Penyelidikan mulai berkembang setelah ditemukan jejak transaksi keuangan dan pesan-pesan dalam ponsel lama Mbah Kasni.

Dari situlah terungkap bahwa Rohman beberapa kali mendesak Mbah Kasni menjual rumahnya dengan harga murah. Ketika beliau menolak, Rohman tetap berusaha memperoleh dokumen kepemilikan tanah.

Namun, polisi belum menemukan bukti bahwa kematian Mbah Kasni disebabkan tindak kekerasan.

Hasil pemeriksaan medis sebelumnya menunjukkan bahwa beliau kemungkinan meninggal akibat kondisi kesehatan yang memburuk. Tidak ditemukan bukti yang cukup untuk menyimpulkan adanya pembunuhan.

Meski begitu, polisi tetap menyelidiki dugaan percobaan penguasaan dokumen tanah.

Aku sempat merasa lega.

Setidaknya, tidak ada bukti bahwa Mbah Kasni dibunuh.

Tetapi misteri suara-suara aneh di sekitar rumah itu masih belum terjawab.

Suatu sore, Sulastri datang ke rumah kami untuk menemui Ibu.

Aku sedang membuat teh ketika mendengar mereka berbicara di ruang tamu.

“Sebenarnya saya sudah berniat pulang sejak beberapa bulan lalu, Bu,” kata Sulastri sambil menangis.

“Lalu kenapa tidak pulang, Lastri?”

“Saya malu. Terlalu lama meninggalkan Ibu. Saya takut beliau nggak mau menerima saya.”

Ibu menggenggam tangannya.

“Orang tua bisa marah, Lastri. Tapi rasa sayang seorang ibu tidak mudah hilang.”

Sulastri menangis semakin keras.

“Terakhir menelepon, Ibu cuma bilang ingin bertemu saya sekali saja sebelum meninggal.”

Aku berhenti mengaduk teh.

Ada sesuatu yang terasa begitu menyakitkan mendengar kalimat itu.

Sulastri melanjutkan dengan suara terputus-putus.

“Ibu bilang sudah menyiapkan kamar untuk saya. Katanya selimutnya sudah dicuci. Padahal saya belum janji akan datang.”

Air mataku ikut menetes.

Sore itu, Sulastri meminta ditemani masuk ke rumah Mbah Kasni untuk mengambil beberapa barang kenangan.

Ibu mengizinkan aku ikut, sementara Pak Yadi membuka rumah dengan kunci yang disimpan setelah pemeriksaan selesai.

Bagian dalam rumah masih berbau lembap. Lantai sudah dibersihkan, tetapi beberapa noda lama tetap terlihat pada ubin.

Sulastri berjalan perlahan menuju kamar belakang.

Ketika pintu dibuka, kami melihat sebuah tempat tidur kayu dengan seprai bersih. Di atasnya terlipat selimut bermotif bunga, sedangkan di meja kecil terdapat sisir dan cermin tua.

Sulastri langsung menangis.

“Ini kamar saya dulu.”

Dia mengelus selimut itu.

“Ibu benar-benar menunggu saya pulang.”

Aku berdiri di ambang pintu, menahan sesak di dada.

Tiba-tiba Sulastri membuka laci meja dan menemukan sebuah buku tulis bersampul cokelat.

Di halaman pertama tertulis namanya.

Buku itu ternyata berisi catatan Mbah Kasni selama bertahun-tahun.

Sebagian besar hanya berupa kalimat pendek.

Hari ini membeli kain untuk Lastri.

Kalau Lastri pulang, harus dibuatkan sayur lodeh kesukaannya.

Semoga anakku sehat di mana pun berada.

Sulastri membacanya sambil terisak.

Kemudian dia berhenti pada halaman terakhir.

Tulisan di sana terlihat lebih gemetar.

Lastri bilang mungkin pulang hari Minggu. Aku harus membersihkan rumah. Aku ingin menunggunya di depan pintu.

Aku melihat Sulastri menutup wajah dengan kedua tangan.

Hari Minggu yang dimaksud ternyata adalah hari ketika warga memperkirakan Mbah Kasni mulai tidak terlihat.

Barulah aku memahami sesuatu.

Pada hari-hari terakhir hidupnya, Mbah Kasni sedang menunggu kedatangan anak yang telah lama dirindukannya.

Namun, pertemuan itu tidak pernah terjadi.

Ketika kami hendak meninggalkan kamar, tiba-tiba terdengar suara kerekan sumur dari belakang rumah.

Krieeet… krieeet…

Aku dan Ibu langsung saling berpandangan.

Sulastri mengangkat kepala.

“Suara apa itu?”

“Sumur belakang,” jawabku pelan.

Sulastri justru tersenyum di tengah tangisnya.

“Dulu setiap sore Ibu selalu menimba air untuk mandi saya. Kerekan itu memang suka berbunyi.”

Pak Yadi segera memeriksa halaman belakang.

Beberapa saat kemudian beliau memanggil kami.

“Ternyata tali embernya tersangkut pada dahan pohon jambu. Kalau tertiup angin, kerekan ikut bergerak.”

Aku menghela napas lega.

Setidaknya satu misteri akhirnya terjawab.

Namun, sebelum pulang, Sulastri meminta izin duduk sebentar sendirian di kamar lamanya.

Kami menunggu di teras.

Sekitar sepuluh menit kemudian, dia keluar sambil membawa buku catatan ibunya.

Wajahnya masih basah oleh air mata, tetapi terlihat jauh lebih tenang.

“Saya mau memperbaiki rumah ini,” katanya kepada Pak Yadi.

“Untuk ditempati?”

Sulastri menggeleng.

“Saya ingin menjadikannya tempat singgah bagi lansia yang hidup sendirian. Setidaknya supaya ada orang yang rutin datang memeriksa keadaan mereka.”

Ibu langsung memeluknya.

Beberapa bulan kemudian, rumah Mbah Kasni benar-benar berubah.

Dindingnya dicat ulang, halaman dibersihkan, dan ruang tengah dijadikan tempat berkumpul para lansia setiap pekan. Sulastri bekerja sama dengan kader posyandu dan warga untuk mengadakan pemeriksaan kesehatan sederhana.

Aku dan Ayu ikut membantu membagikan makanan.

Rumah yang dahulu membuat kami takut kini justru menjadi tempat paling ramai di kampung.

Tetapi ada satu kejadian yang masih kusimpan sendiri.

Suatu malam setelah kegiatan pertama selesai, aku mendapat tugas mengunci jendela belakang.

Ketika melewati kamar lama Sulastri, aku melihat seorang perempuan tua duduk membelakangi pintu, mengenakan kebaya cokelat dan kain jarik.

Aku berhenti.

“Mbah?”

Perempuan itu tidak menoleh.

Aku mengedipkan mata.

Kursi tersebut sudah kosong.

Aku segera memeriksa seluruh ruangan. Tidak ada siapa-siapa.

Malam itu aku pulang dengan jantung berdebar, tetapi aku tidak menceritakannya kepada siapa pun.

Keesokan harinya, Sulastri datang membawa sebuah bingkai foto besar untuk dipasang di ruang tengah.

Foto itu memperlihatkan Mbah Kasni ketika masih sehat.

Beliau duduk di kursi kayu, mengenakan kebaya cokelat dan kain jarik bermotif bunga.

Aku langsung mengenali pakaiannya.

Persis seperti yang kulihat malam sebelumnya.

Sulastri memperhatikan wajahku yang berubah pucat.

“Ada apa, Nduk?”

Aku menggeleng.

“Nggak apa-apa, Bu.”

Dia tersenyum sambil membersihkan kaca bingkai.

“Ibu paling suka duduk di kamar sambil menunggu saya pulang. Katanya, kalau suatu hari kami bertemu lagi, beliau ingin memeluk saya lama sekali.”

Aku menatap foto itu.

Untuk sesaat, aku seperti mendengar suara perempuan tua berbisik dari arah kamar.

“Sudah pulang, Nduk?”

Aku menoleh cepat.

Tidak ada siapa-siapa.

Namun, kali ini aku tidak merasa takut.

Aku hanya memandang Sulastri yang sedang menggantung foto ibunya, lalu membantu merapikan meja di bawahnya.

Sejak hari itu, aku tidak pernah lagi mendengar ketukan di jendela kamar atau suara seseorang memanggil dari dapur.

Entah semua kejadian sebelumnya hanyalah pengaruh ketakutan kami, suara-suara dari rumah tua, atau sesuatu yang memang tidak mampu dijelaskan dengan akal.

Aku tidak pernah menemukan jawabannya.

Tetapi setiap kali melewati rumah Mbah Kasni dan melihat para lansia duduk bersama sambil tertawa, aku selalu teringat perkataan Ibu.

Jangan sampai kita tinggal bersebelahan selama puluhan tahun, tetapi tidak pernah benar-benar mengenal orang yang hidup di dekat kita.

Sebab kadang, tragedi terbesar bukanlah kematian seseorang di dalam rumah yang sunyi.

Melainkan kenyataan bahwa selama berhari-hari, tidak ada seorang pun yang menyadari kepergiannya.

Dan mungkin, yang selama ini membuat rumah Mbah Kasni terasa begitu menyeramkan bukanlah sesuatu yang tinggal di dalamnya.

Melainkan kesepian yang telah terlalu lama memenuhi setiap sudut rumah itu.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang