Dokter menarik napas panjang, tatapannya beralih dari berkas di tangannya ke arah Arga yang tampak kaku seperti patung. “Berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium darah lengkap dan tes fungsi organ Kirana yang keluar pagi ini, Kirana memiliki kelainan fungsi pembekuan darah yang sangat langka. Prosedur pembedahan atau pengambilan sumsum tulang belakang berisiko tinggi memicu pendarahan hebat yang sangat sulit dihentikan. Ini bisa membahayakan nyawanya.”
Ruang koridor rumah sakit itu mendadak sepi, seolah seluruh udara telah disedot keluar. Suaraku tercekat di tenggorokan, sementara mataku bertabrakan dengan mata Arga. Wajah suamiku tidak lagi sekadar pucat; ia tampak hancur, dikuasai oleh rasa bersalah yang luar biasa.
“Arga…” suaraku bergetar, hampir berupa bisikan yang menyayat. “Kamu sudah tahu hal ini sejak dua minggu lalu?”
Nadira menutupi mulutnya, terperanjat mendengar pernyataan dokter. Sementara Arga melangkah mundur, gelengan kepalanya terasa sangat lemah. “Aku… aku tidak tahu kalau risikonya seluar biasa ini, Laras. Dokter dua minggu lalu hanya bilang ada sedikit keanehan pada respon darah Kirana dan menyarankan tes lanjutan. Tapi… Rafi makin kritis. Dokter bilang minggu ini adalah batas terakhir Rafi bisa diselamatkan. Aku panik! Aku berpikir… aku bisa menyelamatkan anakku yang satu tanpa menyakiti anakku yang lain…”

“Anakmu yang lain?” potongku, air mata yang sejak tadi kukenang akhirnya tumpah membasahi pipi. “Kamu mempertaruhkan nyawa putri kita yang baru berusia tujuh tahun demi menutupi dosa masa lalumu! Kamu rela mengambil risiko kehilangan Kirana?”
“Tidak! Demi Tuhan, tidak, Laras!” Arga berlutut di hadapanku, mencoba menggapai tanganku namun langsung kutepis dengan jijik. “Aku menyayangi Kirana! Dia putriku, darah dagingku! Tapi Rafi juga darah dagingku yang terabaikan selama sembilan tahun! Aku hanya ingin menjadi ayah yang bertanggung jawab bagi mereka berdua…”
“Bertanggung jawab?” aku tertawa getir di tengah tangisku. “Kamu menyebut tindakan pengecut ini sebagai bentuk tanggung jawab? Kamu membohongiku selama sembilan tahun, menyembunyikan Nadira dan Rafi, lalu menjadikan Kirana tumbal atas kesalahanmu sendiri!”
Nadira tersungkur di kursi tunggu, menangis sesenggukan memeluk Rafi yang kebingungan melihat orang tuanya bersitegang. “Maafkan saya, Bu Laras… Saya tidak pernah meminta Pak Arga membahayakan Kirana. Saya hanya minta bantuan finansial dan pencarian donor umum. Pak Arga yang memaksa untuk memeriksa Kirana karena merasa itu satu-satunya cara cepat…”
Tiba-tiba pintu ruang persiapan terbuka pelan. Kirana berdiri di sana dengan baju rumah sakit yang terlalu besar di tubuh mungilnya. Tangannya yang kecil memegang erat boneka kelinci kesayangannya. Matanya yang bulat menatap kami bertiga dengan kebingungan dan kepolosan yang memukul telak dadaku.
“Mama… Papa… kenapa berantem?” bisik Kirana halus. Lantas matanya menatap Rafi yang sedang menangis di samping ibunya. Kirana melangkah pelan mendekati Rafi, lalu mengulurkan boneka kelincinya. “Kakak jangan menangis… Kata Papa, kalau aku berani, Kakak bisa sembuh. Tapi kalau Mama menangis, aku jadi takut…”
Kata-kata polos Kirana memecah pertahananku. Aku berlutut, merengkuh tubuh mungilnya ke dalam pelukanku erat-erat, menyembunyikan wajahku di bahu kecilnya agar ia tidak melihat hancurnya hatiku. Arga membenturkan dahinya ke lantai, menangis tanpa suara dalam penyesalan yang tak lagi berguna.
Hanya dalam hitungan jam, fondasi pernikahan yang kubangun selama sepuluh tahun runtuh tanpa sisa. Bukan hanya karena pengkhianatan Arga di masa lalu bersama Nadira, melainkan karena kesadaranku bahwa pria yang kucintai tega menaruh putri kandungnya dalam bahaya demi menebus rasa bersalahnya sendiri.
Hari itu juga, aku membatalkan seluruh prosedur dan membawa Kirana pulang. Berkas perceraian langsung kuproses melalui kuasa hukumku dalam kurun waktu kurang dari satu minggu. Aku mengambil hak asuh penuh atas Kirana, menjauhkannya dari Arga yang terus memohon ampun di depan pintu rumah kami setiap malam.
Namun takdir memiliki caranya sendiri untuk menyulam takdir manusia. Dua bulan setelah perceraian kami resmi diputus oleh pengadilan, sebuah panggilan telepon dari Rumah Sakit Harapan Bunda kembali masuk ke ponselku. Suara di seberang sana memberitahukan bahwa Rafi telah mendapatkan donor sumsum tulang belakang yang cocok dari seorang donor anonim di luar pulau. Prosedurnya berjalan sukses, dan Rafi perlahan mulai pulih.
Ketika aku secara tidak sengaja bertemu dengan dokter yang menangani Rafi di sebuah apotek, kebenaran terakhir yang paling menyakitkan akhirnya terungkap.
Donor anonim yang menyelamatkan nyawa Rafi bukanlah orang asing. Donor itu adalah Arga sendiri.
Demi mendapatkan kecocokan parsial yang cukup aman dan memenuhi syarat medis untuk menyelamatkan Rafi tanpa menyentuh Kirana lagi, Arga telah menjalani prosedur eksperimental medis yang sangat berisiko tinggi bagi kesehatannya sendiri. Komplikasi usai prosedur organ itu membuat kondisi fisik Arga menurun drastis hingga ia harus kehilangan pekerjaannya dan menjalani perawatan jangka panjang di kota lain.
Hari ini, di sebuah taman kota di Jakarta, aku duduk di bangku kayu sambil memperhatikan Kirana yang tertawa lepas mengejar kupu-kupu bersama Rafi. Nadira duduk tak jauh dariku, tersenyum tipis penuh rasa terima kasih. Kami belajar berdamai dengan kenyataan, bukan demi menghapus masa lalu, melainkan demi masa depan anak-anak yang tidak pernah memilih untuk dilahirkan dalam kerumitan ini.
Dari kejauhan, di balik rindangnya pohon beringin, aku melihat sebuah mobil tua terparkir. Di dalam mobil itu, Arga duduk diam, menatap kedua anaknya yang sedang bermain melalui kaca jendela yang terbuka sedikit. Ia tidak pernah berani mendekat lagi, memilih menjadi bayangan yang menjaga dari jauh.
Aku menghela napas panjang, menatap langit Jakarta yang mulai teduh. Aku sadar, beberapa luka mungkin tidak akan pernah benar-benar sembuh, dan beberapa kesalahan terlalu mahal untuk diampuni. Namun di balik segala kebohongan dan rasa sakit yang menghancurkan kami, setidaknya dua anak manusia kini memiliki kesempatan untuk tumbuh dan saling menyayangi sebagai saudara.
