Malam semakin larut saat Dimas akhirnya terduduk di tepi ranjang yang sebagian besar seprainya sudah terlepas. Amplop cokelat tebal itu tergeletak di atas meja kaca, di antara sisa kardus yang belum sempat dirapatkan. Aku berdiri bergeming di depan pintu kamar, menatap lelaki yang selama tiga tahun ini kubagi hidup dengannya, namun mendadak terasa seperti orang asing yang sangat berbahaya.

“Jelaskan, Mas. Jangan membuatku menebak-nebak lagi,” suaraku terdengar datar, tetapi setiap kata terasa berbeban berat di udara yang terasa kian menyesakkan.
Dimas mengusap wajahnya kasar. Kesombongan dan ketenangan yang biasanya ia pamerkan kini menguap tanpa sisa. “Rani… ini tidak seperti yang kamu bayangkan. Aku melakukan ini untuk masa depan kita, untuk investasi usaha baru yang sedang kubangun bersama Nadira.”
“Masa depan kita?” Aku terkekeh sinis, sebuah tawa pahit yang keluar dari lubuk hati yang paling dalam. “Dengan menghapus namaku dari sertifikat rumah yang kita beli bersama dari uang tabungan kita berdua?”
Langkahku mendekat ke meja. Tanganku yang gemetar meraih isi amplop cokelat tersebut. Lembar demi lembar dokumen resmi agen properti dan akta balik nama kubuka. Di sana, nama Rani Anindita yang dahulu bersanding erat dengan nama Dimas Prasetya telah lenyap, berganti menjadi nama Dimas dan Nadira sebagai pemilik hak atas aset serta jaminan pinjaman modal usaha.
Pertengkaran-pertengkaran kecil kami selama ini—aksi menyembunyikan kunci, menyembunyikan perhiasan, mengunci charger—bukan sekadar bentuk pendewasaan atau cara aneh Dimas membuat kami berdamai. Itu semua adalah taktik pengalihan perhatian. Ia sengaja menguras energiku dengan konflik-konflik emosional yang sepele agar perhatianku terdistraksi sepenuhnya dari urusan finansial dan hukum keluarga kami.
“Uang muka rumah ini berasal dari tabunganku sebelum kita menikah, Mas. Ibu bahkan ikut menyumbang dari uang pensiunannya,” kataku dengan mata yang mulai menggenang, namun aku menolak melepaskan air mata di depannya. “Bagaimana bisa kamu memberikan hak atas rumah ini kepada perempuan lain?”
“Aku tidak memberikannya pada Nadira!” potong Dimas cepat, berdiri berusaha meraih bahuku. “Dia cuma atas nama untuk syarat korporasi dan pinjaman bank! Kamu kan tahu scoring kreditku buruk karena bisnis lama. Nadira punya profil keuangan yang bersih. Aku cuma butuh jaminan rumah ini sebentar, Rani. Setelah proyeknya jalan, semua akan kukembalikan atas namamu!”
“Tapi kamu tidak pernah bertanya padaku,” bisikku pelan, melangkah mundur menghindar dari sentuhannya. “Kamu sengaja membuatku merasa bersalah setiap hari, membuatku merasa menjadi istri yang buruk, hanya agar aku tidak pernah punya keberanian untuk memeriksa laci dokumenku sendiri.”
Para petugas pindahan yang menunggu di luar ketukan pintu dengan canggung. “Bu, kardus-kardus di depan sudah siap diangkut ke truk. Ada lagi yang mau dimasukkan?”
“Tunggu sebentar di luar, Pak,” jawabku tanpa memalingkan pandangan dari Dimas.
Dimas menatap koper-koperku dengan mata panik. “Rani, tolong rasional. Kamu mau pergi ke mana? Ke rumah Ibumu? Mau bilang apa kamu sama Ibu? Bahwa kita bertengkar cuma karena urusan surat rumah yang belum selesai?”
“Aku akan bilang pada Ibu bahwa anak mantunya adalah seorang penipu,” jawabku tajam.
Tepat saat itu, bel rumah berbunyi kembali. Suasana makin menegang. Aku melangkah ke pintu depan, membiarkan Dimas mengekor di belakangku dengan wajah pucat pasi. Ketika pintu dibuka, sosok yang berdiri di sana bukan lagi kurir atau tetangga, melainkan seorang pengacara paruh baya berjas rapi yang didampingi oleh dua orang petugas kepolisian.
Dimas mematung. “Ada apa ini?”
Pengacara itu tersenyum tipis, lalu mengeluarkan sebuah stopmap tebal dari tas kerjanya. “Selamat malam, Pak Dimas. Saya mewakili Ibu Rani Anindita dan keluarga besarnya. Kami ke sini untuk menyerahkan surat somasi resmi atas dugaan pemalsuan tanda tangan, penipuan, dan penggelapan aset bersama.”
Dimas menoleh padaku dengan tatapan tak percaya. “Rani… kamu… kamu melaporkan aku?”
Aku menatapnya lurus tanpa ada rasa ragu sedikit pun. “Tiga bulan lalu, saat kamu menyembunyikan buku resep peninggalan nenekku, aku tidak sengaja menemukan beberapa lembar kertas draf akta notarislis di dalam tas kerjamu. Waktu itu aku berharap dugaanku salah. Tapi aku tidak bodoh, Mas. Aku langsung menghubungi kuasa hukum keluarga dan mulai mengumpulkan semua bukti transaksi bank serta salinan dokumen kita secara diam-diam.”
Dimas terhuyung mundur, menyandarkan punggungnya pada tembok. “Jadi… semua sikap penurutmu selama beberapa minggu terakhir ini…?”
“Aku hanya menunggu momen yang tepat,” potongku tenang. “Setiap kali kamu berpura-pura mengunci atau menyembunyikan barang-barang kecil milikku, kamu sebenarnya sedang menguji seberapa jauh kamu bisa mengendalikanku. Dan hari ini, saat kamu mengambil kunci laciku dan memberikan gantungannya pada Nadira, kamu sendiri yang menyerahkan bukti terakhir yang kami butuhkan.”
Pengacara di sampingku menyerahkan berkas somasi beserta penetapan penyitaan sementara atas aset rumah tersebut. Nadira sendiri rupanya telah diperiksa oleh pihak berwajib satu jam yang lalu setelah terbukti ikut serta memalsukan dokumen persetujuan istri.
Dimas terduduk di lantai ruang tamu, memandangi ruangan yang kini benar-benar kosong. Tidak ada lagi barang-barang milikku di sana. Tidak ada lagi tanaman hias yang kurawat, tidak ada hiasan dinding yang kupilih, dan tidak ada lagi sosok istri yang selalu mengalah setiap kali ia bermain dengan rasa bersalah.
Aku berjalan melangkahi amplop-amplop yang berserakan, lalu mengambil koper terakhirku. Sebelum melangkah keluar pintu, aku menoleh sebentar pada Dimas yang menunduk lesu di lantai dingin.
“Kamu selalu bilang kamu cuma menyimpan barang-barangku, bukan membuangnya,” kataku pelan, menyisakan suara gema di ruang tamu yang hampa. “Tapi kali ini, Mas… aku yang memilih untuk pergi, dan kamu tidak akan pernah bisa mendapatkan aku kembali.”
Truk pindahan menderu di luar rumah, siap membawaku menuju lembaran hidup yang baru, meninggalkan masa lalu yang terkunci rapat di balik pintu rumah yang tak lagi bermakna.
