“Kalau Ayah suka Tante ini, kenapa Bunda yang harus menangis?”
Tangan yang hendak kurangkulkan ke bahu Sabrina berhenti di udara.

Sabiru berdiri dengan bibir gemetar. Di dadanya, ia mendekap pesawat mainan yang kubeli di bandara tiga tahun lalu. Salah satu sayapnya sudah direkatkan dengan selotip.
“Sabiru, masuk kamar,” kataku.
“Ini rumah Bunda juga, kan?”
Nada suaranya membuat dadaku terasa sesak, tetapi aku justru meninggikan suara.
“Jangan ikut campur urusan orang dewasa.”
Naima muncul dari lorong dan segera memeluknya.
“Maaf, Mas. Biar aku yang bicara sama Sabiru.”
Anak itu menepis tangan ibunya, lalu meletakkan pesawat mainan di meja, tepat di hadapanku.
“Aku nggak mau jadi pilot lagi.”
Ia pergi bersama Naima tanpa menoleh.
Sabrina berpamitan tak lama kemudian. Aku menawarkan untuk mengantarnya, tetapi ia memesan taksi.
“Kamu bilang mereka sudah tahu dan menerima rencana kita,” katanya di teras.
“Aku akan membereskan ini.”
Sabrina menatap pintu rumah yang tertutup.
“Mereka bukan barang berantakan yang bisa kamu bereskan, Mas.”
Malam itu, untuk pertama kalinya, rumah terasa terlalu sunyi. Biasanya ada bunyi sendok dari dapur atau suara Sabiru mengeja tulisan di bungkus makanan. Kini, bahkan lampu kamar mereka sudah padam sebelum pukul delapan.
Pagi berikutnya, dua koper berdiri di dekat pintu.
Naima sedang membantu Sabiru mengenakan sepatu.
“Kalian mau ke mana?”
“Ke rumah sepupuku di Bogor. Sementara, sampai aku mendapat kontrakan.”
Aku menatap koper itu dengan kesal yang bercampur panik.
“Karena kemarin? Kamu tidak perlu berlebihan.”
Naima berhenti mengikat tali sepatu.
“Lima tahun, Mas. Kemarin cuma membuatku berhenti berharap.”
“Aku sudah menyediakan rumah dan biaya hidup.”
“Iya. Terima kasih. Tapi Sabiru mulai mengira dia harus menjadi anak yang lebih baik supaya kamu mau menyayanginya.”
Sabiru menunduk, sibuk menarik ujung kausnya.
Aku ingin menyanggah, tetapi teringat berapa kali ia menungguku pulang dengan gambar di tangan. Berapa kali aku melewatinya karena lelah, karena kesal, karena merasa semua itu bukan tanggung jawabku.
“Bagaimana sekolahnya?”
“Aku sudah mengurus izin beberapa hari.”
Naima mengangkat koper. Aku tidak membantunya.
Di meja makan, ia meninggalkan amplop berisi kartu belanja rumah, uang yang tersisa, dan daftar tagihan. Tidak ada surat panjang. Hanya satu kalimat.
Aku tidak akan lagi mengajarkan Sabiru menunggu orang yang selalu menyuruhnya pergi.
Siang itu Mama datang. Begitu melihat kamar yang kosong, ia duduk perlahan di tepi ranjang.
“Kamu akhirnya berhasil membuat mereka pergi.”
“Aku tidak mengusir mereka.”
Mama menatapku.
“Memangnya harus selalu dengan kata keluar?”
Aku membuang pandangan. Di lemari kecil Sabiru, ada kotak sepatu berisi puluhan gambar pesawat. Hampir semuanya memiliki tiga jendela dengan wajah kecil di dalamnya.
Ayah. Bunda. Biru.
Di gambar terakhir, wajahku dicoret.
“Mama tahu sesuatu yang tidak kuketahui?” tanyaku mendadak.
Mama terdiam terlalu lama.
“Apa?”
Ia meremas tasnya.
“Telepon Naima. Minta dia pulang untuk bicara. Bukan untuk tinggal.”
Naima baru bersedia datang dua hari kemudian. Ia datang sendiri, membawa map biru yang diletakkannya di meja.
“Aku tadinya ingin menyerahkan ini setelah kita resmi berpisah.”
Di dalamnya ada hasil pemeriksaan kehamilan lama, salinan percakapan, dan sebuah surat tulisan tangan adikku, Arkan.
Baris pertamanya membuat tengkukku dingin.
Mas, aku berbohong waktu bilang bayi Naima anakku.
Aku membacanya dua kali.
“Apa maksudnya ini?”
Naima menatap kedua tangannya.
“Mas ingat malam setelah acara reuni, sebelum berangkat pelatihan ke Surabaya?”
Aku ingat. Kami pernah dekat diam-diam. Aku mendatanginya setelah acara itu. Kami sama-sama dewasa dan sadar ketika melewati batas yang seharusnya kami jaga.
Sesudahnya, aku berjanji akan membicarakan hubungan kami kepada Mama.
Namun, ketika Naima mengabarkan dirinya terlambat datang bulan, aku ketakutan.
Aku menuduhnya mencari jalan untuk masuk ke keluargaku.
“Kamu bilang aku pasti dekat dengan laki-laki lain,” lanjut Naima. “Lalu nomorku kamu blokir.”
Aku menelan ludah.
“Kenapa Arkan mengaku?”
“Karena dia menemukan aku menangis di halte setelah kamu mengusirku dari kantor maskapai.”
Surat di tanganku bergetar.
Arkan menulis bahwa awalnya ia hanya ingin menghentikan Mama yang berencana memberhentikan Naima. Ia mengaku sebagai ayah bayi itu supaya Naima tidak kehilangan tempat tinggal. Kebohongan tersebut kemudian tumbuh terlalu besar, sementara ia terus berharap aku mau mengakui apa yang terjadi.
Ia berencana menjelaskan semuanya setelah pemeriksaan kehamilan berikutnya.
Kecelakaan itu datang lebih dulu.
“Kenapa kamu diam selama lima tahun?” Suaraku nyaris tak terdengar.
“Aku pernah mencoba.”
Naima membuka percakapan lama yang dicetak. Pesannya panjang. Jawabanku hanya satu kalimat.
Jangan bawa-bawa masa lalu untuk membenarkan kelakuanmu dengan Arkan.
Aku menutup wajah.
Mama menangis pelan di sebelahku.
“Mama baru tahu ketika membereskan barang Arkan bulan lalu. Mama minta Naima bicara, tapi dia ingin menunggu setelah ujian Sabiru selesai.”
Aku memandang Naima.
“Biru anakku?”
“Kita bisa melakukan tes kalau Mas perlu kepastian.”
Ia tidak mengatakannya dengan marah. Justru ketenangannya membuatku tidak sanggup menatapnya.
Pemeriksaan itu kami lakukan dengan persetujuan bersama. Ketika hasilnya keluar, tak ada lagi tempat untuk bersembunyi.
Sabiru adalah anak kandungku.
Aku datang ke Bogor sore itu membawa pesawat mainannya yang sudah kuperbaiki. Dari pagar kontrakan, kulihat Naima sedang memotong kain di depan mesin jahit. Sabiru duduk di lantai, menggambar.
Ia tidak berlari ketika melihatku.
Aku berjongkok di depannya.
“Ayah minta maaf.”
Sabiru memandang pesawat di tanganku.
“Sekarang Ayah mau sama aku karena kata dokter?”
Pertanyaan itu menghentikan semua kalimat yang sudah kusiapkan.
Seharusnya aku menyayanginya bahkan sebelum mengetahui hasil pemeriksaan itu. Ia seorang anak yang tumbuh di rumahku, memanggilku ayah, dan tidak pernah melakukan kesalahan apa pun kepadaku.
“Ayah terlambat belajar,” jawabku akhirnya. “Tapi itu bukan salah Biru.”
Aku tidak meminta Naima pulang. Aku mulai datang pada waktu yang disepakati, membayar kebutuhan Sabiru, dan belajar mendengarkan tanpa membela diri.
Beberapa bulan kemudian, saat aku menjemputnya sekolah, Sabiru berjalan mendekat sambil membawa gambar baru.
Ada pesawat dengan dua orang di dalamnya.
“Ini aku sama Bunda,” katanya.
Aku mengangguk, menahan perih.
Lalu ia membalik kertas itu. Di sisi belakang, seorang laki-laki berdiri di depan rumah.
“Ayah di sini dulu,” katanya. “Kalau sudah janji datang, jangan pergi lagi.”
Kuterima gambar itu dengan kedua tangan.
Untuk pertama kalinya, aku mengerti bahwa tempat di dalam sebuah keluarga harus kujaga, bahkan setelah pintunya dibukakan.
