SETELAH DELAPAN TAHUN PERNIKAHAN (3)

Tanganku berhenti di atas layar ketika terdengar sesuatu jatuh di teras, disusul suara Bulek Narti yang mendadak melemah.

“Jangan sentuh tasku, Rita.”

Aku langsung membuka pintu kamar.

Bulek berdiri di dekat kursi dengan berkas berserakan di kakinya. Mbak Rita memegang sebuah map, sementara Ibu menutup pintu pagar.

“Kembalikan mapnya,” kataku.

Ketiganya menoleh. Wajah Mbak Rita berubah.

“Kamu di rumah?”

“Dari tadi.”

Aku memunguti berkas di lantai, lalu berdiri di samping Bulek.

“Berarti kamu menguping?” bentaknya.

“Suaramu terdengar sampai kamar.”

Bulek mengulurkan tangan. Setelah beberapa detik, Mbak Rita melemparkan map itu ke kursi.

“Ambil! Memangnya aku takut?”

Namun, ketika aku mengajak Bulek masuk ke kamarku, ia buru-buru menghadang.

“Ini urusan keluarga kami.”

“Suamiku juga keluarganya,” jawabku. “Dan Bulek boleh duduk dulu. Beliau pucat.”

Di dalam kamar, Bulek menerima air minum dengan tangan gemetar. Kemarahannya rupanya menutupi rasa terpukul yang jauh lebih dalam.

“Aku cuma ingin uang itu kembali,” katanya. “Sebagian hasil kebun untuk biaya hidup. Sebagian lagi untuk membantu orang yang tidak sanggup membayar pemakaman.”

Aku duduk di sebelahnya.

“Bulek punya salinan dokumen tanah?”

Ia membuka map. Ada salinan sertifikat atas namanya, bukti jual beli lama, dan kuitansi pembayaran kepada almarhum bapak mertuaku.

“Sertifikat aslinya kusimpan di lemari. Rita pernah membantu membersihkan rumah setelah Paklik meninggal. Aku tidak menyangka…”

Suaranya patah.

Aku menelepon Malik. Kali ini aku tidak menyamarkan kegelisahanku dengan mengatakan semuanya baik-baik saja.

“Mas, pulanglah. Kita perlu bicara bersama Bulek.”

Malik tiba kurang dari satu jam kemudian. Ia mendengarkan tanpa menyela, lalu menghubungi Pak Darmo menggunakan nomor yang diberikan Bulek.

Sore itu, kami bertemu di rumah Bulek.

Pak Darmo datang membawa kuitansi dan salinan surat yang diberikan Rita. Wajahnya kusut.

“Katanya Bu Narti sedang sakit dan menitipkan penjualan kepada keponakannya. Saya percaya karena masih keluarga.”

Bulek menatap tanda tangan di surat persetujuan itu.

“Ini bukan tanda tanganku.”

Malik memotret dokumen dengan izin mereka.

“Besok kita periksa bersama pihak yang mengurus berkasnya. Jangan ada pembayaran tambahan atau pekerjaan baru di kebun dulu.”

Pak Darmo mengangguk.

Ketika kami hendak pulang, ponselku bergetar. Seorang sepupu Malik mengirim tangkapan layar status Rita.

Di bawahnya ada komentar baru dari Ibu.

Memang menantu sekarang pintar menikmati hasil, tetapi lupa siapa yang membesarkan suaminya.

Aku menyerahkan ponsel itu kepada Malik.

Ia membaca cukup lama.

“Kenapa baru sekarang kamu tunjukkan?”

“Aku sudah delapan tahun berharap kamu melihat sendiri.”

Kalimat itu keluar lebih lirih daripada yang kubayangkan.

Malik menatapku, lalu menunduk.

“Maaf. Aku terlalu sering memintamu mengalah.”

Malamnya, kami mengumpulkan bukti. Foto makan malam yang dipersoalkan Rita ternyata diambil saat peluncuran buku antologi yang memuat ceritaku. Penerbit mengundang para penulis; kami bahkan tidak membayar makanan sendiri.

Ada undangan resmi dan percakapan dengan editorku.

Sementara tanah yang dijual Malik tahun sebelumnya merupakan bagiannya setelah pembagian warisan. Uangnya dipakai melunasi utang keluarga dan memperbaiki rumah Ibu. Bukti transfernya masih tersimpan.

Yang membuatku terdiam justru satu transaksi sebesar tujuh puluh juta rupiah kepada Rita.

“Untuk apa ini, Mas?”

“Katanya pinjaman modal. Dia meminta jangan bilang siapa-siapa karena malu.”

“Sudah dikembalikan?”

Malik menggeleng.

Aku menutup laptop sebentar. Selama ini aku ikut mengencangkan pengeluaran, menunda membeli mesin cuci, dan menerima tuduhan boros, sementara sebagian uang itu berada di tangan orang yang memfitnahku.

“Aku salah menyembunyikannya,” kata Malik sebelum aku sempat bicara.

“Iya,” jawabku. “Dan kita harus menyelesaikan itu juga.”

Keesokan harinya, pemeriksaan awal menunjukkan surat persetujuan yang dibawa Rita belum cukup untuk menyelesaikan peralihan tanah. Pak Darmo baru menyerahkan uang muka, tetapi jumlahnya tetap besar.

Bulek meminta pertemuan dengan pendamping hukum. Rita datang bersama Ibu, masih dengan wajah menantang.

“Tidak usah dibesar-besarkan. Toh uangnya tidak dibawa orang luar.”

Pak Darmo meletakkan kuitansi di meja.

“Uang saya juga bukan untuk dipermainkan, Bu.”

Untuk pertama kalinya, Rita tidak punya orang yang bisa langsung membelanya.

Ia akhirnya mengaku mengambil sertifikat dan meniru tanda tangan Bulek. Pengakuannya dicatat dalam pertemuan itu. Penyelesaian pengembalian uang mulai disusun, sementara Bulek tetap menyimpan haknya untuk menempuh langkah hukum.

Ibu menoleh kepada Malik.

“Bantu kakakmu. Kamu masih punya tabungan.”

Malik menarik napas.

“Tabungan kami bukan jalan keluar untuk setiap perbuatan Mbak.”

“Kamu berubah sejak menikah!”

“Seharusnya sejak menikah aku sudah belajar bertanggung jawab kepada istriku juga, Bu.”

Aku menggenggam tanganku sendiri di bawah meja agar tidak menangis.

Sepulang pertemuan, Malik mengirim penjelasan ke grup keluarga. Ia melampirkan bukti penggunaan uang warisan dan undangan makan malam, tanpa menyebarkan dokumen pribadi Bulek.

Aku menulis singkat di bawahnya.

Tuduhan itu menyakiti saya. Saya meminta status dihapus dan diperbaiki di tempat yang sama agar orang yang membacanya juga mendapat penjelasan.

Rita menelepon berkali-kali.

“Kamu sengaja mempermalukan aku!”

“Aku meminta kebohongan tentangku dihentikan, Mbak.”

Menjelang malam, statusnya hilang. Sebuah klarifikasi muncul setelah Malik menolak membicarakan pinjaman baru sebelum koreksi itu dipublikasikan.

Tidak semua orang meminta maaf. Beberapa hanya menghapus komentarnya. Namun, satu pesan dari teman Rita membuatku terdiam.

Maaf. Kemarin saya ikut bicara tanpa tahu apa-apa.

Kubalas seperlunya, lalu mematikan ponsel.

Dua minggu kemudian, kami pindah ke rumah kontrakan kecil dekat tempat kerja Malik. Bulek datang membawa tanaman cabai dalam pot.

“Biar kalau masak tidak perlu beli,” katanya.

Saat membantu menurunkannya, aku menemukan amplop di sela pot.

Di dalamnya ada uang.

Aku segera menyusulkannya ke pagar.

“Bulek, ini tidak bisa kami terima.”

Ia tersenyum malu.

“Bukan warisan. Bukan bayaran membela Bulek. Itu uang muka pesanan.”

“Pesanan apa?”

“Buku tentang orang-orang yang pernah kutemani pada hari terakhir keluarganya. Namanya disamarkan. Aku ingin cerita mereka tidak ikut hilang.”

Aku memandangnya, lalu kembali melihat amplop itu.

Selama berhari-hari aku sibuk menyiapkan tulisan untuk membalas penghinaan. Ternyata orang yang paling berhak marah justru datang membawa cerita yang ingin ia rawat.

“Boleh,” jawabku. “Tapi kita mulai dari cerita Bulek sendiri.”

Ia terdiam, kemudian mengangguk.

Sore itu, di teras rumah yang belum penuh perabot, aku membuka halaman baru. Malik membawakan tiga cangkir teh, lalu duduk di sampingku ketika Bulek mulai bercerita.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang