KELUARGAKU HANYA MENGINGINKAN UANGKU. NAMUN, LIHAT APA YANG KULAKUKAN

Petugas itu tidak langsung menjawab. Ia menatap Diana, lalu menunjuk buku catatan yang terbuka di pangkuannya.

“Boleh saya tahu, Mbak ingin mengurus dokumen atau sedang menghadapi masalah di rumah?”

Pertanyaan sederhana itu membuat tenggorokan Diana tercekat.

“Saya ingin bisa mengambil keputusan sendiri, Pak.”

Petugas tersebut mengangguk. Ia menjelaskan bahwa keadaan Diana dan kelengkapan dokumennya perlu diperiksa terlebih dahulu. Beberapa hal dicatatnya di selembar kertas agar Diana dapat menyiapkan berkas yang sesuai.

“Tidak perlu terburu-buru. Pahami dahulu prosesnya.”

Diana mengucapkan terima kasih. Belum ada dokumen yang selesai pagi itu, tetapi langkahnya terasa lebih ringan ketika meninggalkan kantor pelayanan.

Di trotoar, ponselnya bergetar.

Pesan dari Bi Lusi.

Diana, kalau ada waktu, Bibi ingin bertanya soal uang kuliah Rania. Tidak perlu transfer apa pun dulu.

Diana berhenti berjalan.

Kalimat terakhir itu dibacanya dua kali sebelum menelepon.

“Bibi tidak sedang menagih kamu,” kata Lusi begitu sambungan tersambung. “Bibi cuma ingin memastikan. Kakakmu benar masih kuliah?”

“Setahu Diana masih, Bi. Kenapa?”

“Anak teman Bibi satu kampus dengannya. Katanya sudah lama tidak melihat Rania.”

Diana memandang kendaraan yang berlalu di depannya.

“Bukannya uang tiga juta itu untuk bayar kuliah?”

“Itu yang ibumu bilang. Tapi bukti pembayarannya membuat Bibi bingung. Tanggalnya bulan lalu, nomor transaksinya sama persis dengan bukti yang pernah dikirim tahun lalu.”

Dada Diana terasa dingin.

“Bisa kirim gambarnya, Bi?”

Dua foto masuk beberapa detik kemudian. Diana memperbesar keduanya. Nomor transaksi sama. Jumlah sama. Hanya tanggal yang berbeda, dengan bentuk angka yang terlihat sedikit lebih tebal.

“Aku masuk kerja dulu, Bi,” ucapnya akhirnya. “Nanti sore aku telepon lagi.”

Sepanjang pagi, Diana berusaha menyelesaikan laporan persediaan. Namun, angka di layar komputernya terus bercampur dengan angka pada bukti pembayaran itu.

Saat istirahat, ia menghubungi Rania.

“Aku mau lihat tagihan kuliah semester ini, Kak.”

“Buat apa?”

“Biar jelas uangnya untuk apa.”

“Kamu sekarang seperti auditor saja.”

“Kirim dari akun kampus. Jangan foto yang kemarin.”

Tidak ada jawaban.

Beberapa saat kemudian, sambungan terputus.

Diana tidak menelepon lagi. Ia membuka aplikasi bank dan menghentikan transfer terjadwal empat juta rupiah yang selama ini dikirim setiap tanggal gajian. Jarinya sempat menggantung di atas tombol konfirmasi.

Lalu ia menekannya.

Sore itu, ketika pulang bekerja, Diana menemukan Juwita dan Rania menunggu di depan pagar kos.

Juwita langsung berdiri.

“Kamu mengadu apa kepada Lusi?”

Diana menatap wajah ibunya yang berkeringat, kemudian tas belanja mengilap di tangan Rania.

“Kita bicara di kamar, Bu. Jangan di sini.”

Kamarnya sempit. Juwita duduk di tepi ranjang, sementara Rania berdiri dekat pintu. Diana mengambil satu kursi plastik.

“Bukti pembayaran itu asli, Kak?”

Rania menunduk.

“Jawab.”

“Jangan membentak kakakmu,” sela Juwita.

“Aku bertanya, Bu.”

Keheningan memenuhi kamar. Dari luar terdengar bunyi ember diseret seseorang menuju kamar mandi.

“Aku cuti,” kata Rania akhirnya.

Diana mengerutkan kening.

“Sejak kapan?”

“Dua semester.”

Diana menatapnya tanpa berkedip.

Dua semester berarti hampir setahun. Selama itu, ia berjalan kaki agar menghemat ongkos, menambal sepatu yang bocor, dan menolak ajakan makan bersama teman kantor karena mengira kakaknya sedang berjuang menyelesaikan pendidikan.

“Ibu tahu?”

Juwita meremas ujung kerudungnya.

“Rania sedang banyak pikiran.”

“Ibu tahu?” ulang Diana.

“Iya.”

Diana bersandar. Kursi plastik itu berderit pelan.

“Lalu uang yang kukirim?”

“Untuk kebutuhan rumah juga!” jawab Juwita cepat. “Listrik, makan, semuanya mahal!”

“Aku tahu. Aku tidak pernah keberatan membantu makan dan listrik. Tapi kenapa harus berbohong soal kuliah?”

Rania mulai menangis.

“Aku gagal beberapa mata kuliah. Aku malu. Awalnya mau cuti sebentar, cari uang dari jualan. Tapi daganganku rugi.”

“Uang Bi Lusi?”

Rania memandang tas di tangannya, lalu meletakkannya di lantai.

“Aku pakai menutup cicilan.”

Diana memejamkan mata.

Juwita segera menyentuh lengannya.

“Sekarang kamu sudah tahu. Kita cari jalan keluar bersama.”

Diana menarik tangannya perlahan.

“Bersama itu berarti Kak Rania juga bekerja, Bu.”

“Dia belum pernah kerja. Tidak semudah itu.”

“Aku juga belum pernah kerja sebelum pertama kali bekerja.”

Juwita terdiam.

Diana mengambil buku catatannya. Di halaman berikutnya, ia sudah menuliskan biaya kos, makan, transportasi, dan tabungan darurat.

“Mulai bulan depan, aku hanya bisa membantu tujuh ratus lima puluh ribu untuk kebutuhan Ibu. Utang Bibi harus dibicarakan langsung. Aku tidak akan membayarnya.”

“Kamu tega melihat Ibu dipermalukan?”

Mata Diana basah.

“Aku sudah bertahun-tahun takut Ibu malu. Sampai aku malu sendiri setiap harus bilang belum punya uang untuk makan.”

Rania menutup wajahnya. Juwita memalingkan kepala.

Mereka pulang menjelang magrib tanpa meminta diantar.

Malamnya, Diana menelepon Lusi dan menceritakan semuanya. Bibi itu mendengarkan sampai selesai.

“Bibi akan bicara dengan mereka,” katanya. “Kamu jangan menjanjikan apa pun karena kasihan.”

Untuk pertama kalinya hari itu, Diana menangis.

Bulan berikutnya, rumah tidak langsung berubah menjadi tempat yang hangat. Juwita masih mengirim pesan panjang tentang pengorbanan orang tua. Beberapa kerabat menyebut Diana lupa keluarga.

Ia membacanya, menarik napas, lalu tetap membayar kebutuhan hidupnya lebih dahulu.

Rania menjual tas dan beberapa barangnya. Uangnya belum cukup melunasi utang, tetapi Lusi menerima pembayaran bertahap. Setelah beberapa kali ditolak bekerja, Rania mendapat pekerjaan di toko perlengkapan rumah.

Tiga bulan kemudian, sebuah transfer masuk ke rekening Diana.

Dua ratus ribu rupiah.

Pengirimnya Rania.

Diana segera menelepon.

“Ini uang apa, Kak?”

“Belum banyak,” jawab Rania. Di belakangnya terdengar suara mesin kasir. “Aku masih mencicil Bibi. Tapi aku ingat sepatu kamu dulu sampai dilem.”

Diana memandang pantofel hitam di dekat pintu.

“Aku sudah beli sepatu.”

“Kalau begitu buat makan. Beli yang kamu suka.”

Diana diam lama.

“Aku belum bisa langsung percaya lagi, Kak.”

“Aku tahu.”

Rania menarik napas.

“Aku cuma mau mulai mengembalikan.”

Sesudah telepon ditutup, Diana keluar menuju warung makan di ujung gang. Ia memesan ayam bakar, sayur, dan es jeruk tanpa menghitung ulang isi dompetnya tiga kali.

Saat makanan datang, pesan baru muncul dari ibunya.

Sudah makan, Nak?

Diana menunggu. Satu menit. Lima menit.

Tidak ada permintaan uang setelahnya.

Ia memotret piring di hadapannya, lalu mengirimkannya.

Sudah, Bu. Hari ini Diana makan enak.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang