“Turun di depan puskesmas, Win.”
Suara Hartinah terdengar tepat di telinganya, meski bibir perempuan itu tidak bergerak.
Windu merasakan tengkuknya dingin.
“Har, mereka tidak bisa melihatmu?”

Hartinah menunduk. Di pangkuannya, kedua tangannya saling menggenggam.
“Jangan takut kepadaku. Takutlah kepada orang yang membawamu tadi.”
Angkot berhenti mendadak di bawah lampu jalan. Papan puskesmas terlihat beberapa meter di depan.
Windu turun dengan lutut lemas. Ketika merogoh uang, sopir angkot hanya menggeleng.
“Sudah, Mbak. Duduk dulu di tempat terang. Kalau sakit, minta bantuan petugas.”
Ia ingin membantah, tetapi Hartinah sudah berjalan menuju pagar.
Di bawah lampu halaman, Windu baru melihat noda gelap di ujung celana temannya. Ada luka di pelipis yang tadi tidak tampak di pasar malam.
“Siang tadi kamu masih ke rumah,” bisik Windu.
“Aku memang ke sana.”
“Sekarang kamu kenapa?”
Hartinah mengangkat wajah. Matanya penuh kesedihan.
“Telepon Zaki. Jangan telepon Pak Diman.”
Ponsel Windu bergetar sebelum ia sempat membuka kontak. Nama Pak Diman muncul.
Windu memandang Hartinah, lalu menolak panggilan itu.
Ia menelepon Zaki.
“Mas, jemput aku di Puskesmas Karangrejo.”
“Kenapa? Bukannya kamu pergi sama Bapak?”
“Tolong jangan bilang beliau. Aku takut.”
Nada Zaki langsung berubah.
“Mas berangkat sekarang. Tunggu di dalam, jangan pergi lagi.”
Ketika Windu mengangkat kepala, Hartinah sudah berdiri di seberang pagar.
“Har!”
Perempuan itu menunjuk kantong kecil di pinggang Windu.
“Pesan kakakmu belum selesai.”
Sebuah truk melintas. Sesudahnya, trotoar di seberang kosong.
Windu berlari masuk ke puskesmas.
Ia duduk dekat meja petugas, berusaha mengatur napas. Di dalam kantongnya ada ponsel, uang, dan dompet kain peninggalan Wulan, kakaknya. Dompet itu diberikan Hartinah siang tadi.
Katanya, ditemukan saat membersihkan kamar lama.
Windu membuka ritsletingnya. Di balik lapisan kain yang sobek, ada secarik kertas terlipat dan sebuah kartu memori.
Tulisan tangan Wulan langsung dikenali.
Kalau sesuatu terjadi kepadaku, jangan percaya alasan Bapak. Aku sudah bilang tidak.
Jari Windu gemetar.
Sebulan lalu, ia ikut mengantar jenazah Wulan dari kota. Pak Diman mengatakan kakaknya meninggal setelah jatuh di kamar mandi. Keluarga diminta segera memakamkannya karena tubuhnya sudah ditangani rumah sakit.
Sepanjang perjalanan, Windu mendengar ketukan dari belakang mobil. Ia menganggapnya bunyi peti yang bergeser. Zaki bahkan berhenti dua kali untuk memeriksa pengikatnya.
Kini kalimat dalam surat itu membuat kenangan tersebut terasa berbeda.
Zaki tiba dengan wajah pucat. Sebelum Windu bercerita, ia menunjukkan sebuah pesan dari teman kerjanya.
Hartinah meninggal sore tadi. Kecelakaan sepulang kerja.
Windu menutupi mulut.
“Dia yang membawaku ke sini, Mas.”
Zaki diam, lalu duduk di sebelahnya.
Windu menceritakan semuanya. Tentang pakaian ketat, percakapan Pak Diman, dan Hartinah yang tidak terlihat oleh penumpang lain.
Zaki membaca surat Wulan berkali-kali.
“Kita ke kantor polisi,” katanya akhirnya.
“Mas percaya kepadaku?”
“Aku belum mengerti semuanya. Tapi aku percaya kamu sedang ketakutan. Kita cari tahu dari bukti ini.”
Ponsel Windu kembali berdering. Kali ini pesan Pak Diman masuk bertubi-tubi.
Kamu di mana?
Jangan mempermalukan Bapak.
Orangnya sudah menunggu.
Zaki memotret pesan itu dengan ponselnya.
Di kantor polisi, kartu memori tersebut diperiksa. Isinya foto percakapan dan rekaman suara Wulan. Ia pernah diminta menemani Pak Diman bertemu seorang lelaki yang menjanjikan pekerjaan.
Namun, pekerjaan itu ternyata disertai kewajiban melayani tamu di tempat hiburan. Pak Diman sudah menerima uang muka.
Wulan menolak dan mengancam akan melapor.
Dalam rekaman terakhir, suaranya terdengar gemetar.
“Kalau Bapak butuh uang, saya bisa kerja. Tapi jangan jual hidup saya.”
Zaki menunduk sampai dahinya hampir menyentuh meja.
“Kenapa dia tidak cerita kepadaku?”
Windu memegang lengannya.
“Mungkin dia belum sempat.”
Pak Diman ditemukan di parkiran pasar malam bersama lelaki yang hendak ditemuinya. Dalam ponselnya ada foto Windu dan percakapan mengenai uang.
Ketika dibawa untuk dimintai keterangan, ia langsung menyalahkan Windu.
“Bapak cuma mau mencarikan pekerjaan. Anak ini pikirannya macam-macam!”
“Kenapa saya harus memakai baju itu?” tanya Windu.
Pak Diman terdiam.
“Kenapa saya tidak boleh kembali ke majikan? Kenapa Bapak bilang soal itu gampang, yang penting cocok dulu?”
Zaki berdiri di samping Windu.
“Sekarang jawab kepada penyidik, Pak.”
Malam itu tidak ada pengakuan besar yang langsung menuntaskan semuanya. Penyidik mengumpulkan percakapan, memeriksa aliran uang, dan memanggil orang-orang yang mengenal Wulan.
Keterangan tentang kematiannya juga diperiksa ulang.
Beberapa minggu kemudian, seorang pengemudi yang pernah mengantar Wulan memberikan kesaksian. Wulan bukan jatuh di kamar mandi. Ia terluka ketika berusaha melarikan diri dari tempat pertemuan tersebut. Pertolongan terlambat dipanggil karena orang-orang di sana takut perbuatannya terbongkar.
Pak Diman mengetahui keadaan itu, tetapi membantu menutupi kejadian sebenarnya.
Hartinah rupanya menemukan dompet Wulan beberapa hari sebelum meninggal. Ia sempat mengirim pesan kepada seorang teman bahwa ia ingin menemui Windu dan menjelaskan sesuatu.
Pertemuan siang itu menjadi kesempatan terakhirnya.
Setelah pemeriksaan selesai, Windu pindah ke tempat kerja lamanya. Zaki membantu membawa barang-barangnya. Di depan pagar, ia berdiri canggung.
“Maaf untuk ucapan temanku pagi itu. Seharusnya aku langsung menghentikannya.”
Windu mengangguk.
“Lain kali, jangan diam, Mas.”
“Aku tidak akan diam lagi.”
Sebulan kemudian, mereka berziarah ke makam Wulan dan Hartinah. Windu membawa bunga dalam kantong kertas.
Di makam Hartinah, ia meletakkan sebuah jepit rambut kecil yang dibelinya di pasar malam.
“Waktu itu aku belum sempat membayar,” katanya lirih. “Kemarin aku kembali ke lapaknya.”
Angin menggerakkan daun kamboja. Untuk sesaat, tercium aroma sabun yang biasa dipakai Hartinah.
Windu menangis, tetapi tidak mundur.
Dulu, ia mengira perjalanan mengantar jenazah adalah bagian paling menakutkan dalam hidupnya.
Ternyata, orang yang sudah meninggal justru mengantarnya pulang dengan selamat.
