“Kalau kamu ingin saya cepat mapan supaya bisa mengejar Citra, bilang saja.”
Ucapan Wira membuat Jelita membeku.
“Aku menawarkan bantuan, bukan membeli masa lalumu.”
Wira terdiam. Jelita masuk kamar dan menutup pintu. Di baliknya, ia duduk di tepi kasur, menahan air mata yang membuatnya semakin kesal.
Pernikahan itu memang gagasannya. Ketika ayahnya mengancam akan menjodohkannya dengan rekan bisnis, Jelita meminta Wira menikahinya. Ia berjanji mereka bisa berpisah setelah keadaan tenang.
Namun, ayahnya justru memecat Wira dari pekerjaan satpam karena mengira lelaki itu sengaja mendekati putrinya.
Sejak itu, setiap kebaikan Jelita selalu diterima seperti tambahan penghinaan.
Sore harinya, Murni pulang membawa undangan pernikahan Damar dan Citra.
“Kalian ikut, ya. Bu Sukma juga minta Ibu membantu di dapur besok.”
Jelita mengambil undangan itu.
“Bukannya Ibu sedang sakit pinggang?”
“Tidak apa-apa. Saudara sendiri.”
Dari ruang tengah, Wira mendengar semuanya, tetapi tidak berkata apa-apa.
Keesokan paginya, Jelita menyusul Murni ke rumah Bu Sukma. Ia membawa minyak gosok yang tertinggal di meja makan.
Di belakang rumah, Murni berdiri membungkuk di depan baskom besar, mencuci piring. Ujung lengan bajunya basah.
“Bu, duduk dulu,” kata Jelita.
Belum sempat Murni menjawab, Bu Sukma datang membawa tumpukan nampan.
“Sekalian ini, Mbak. Tamu sebentar lagi datang.”
“Pinggang Ibu sakit, Bu. Bisa bergantian dengan yang lain?”
Bu Sukma melirik Jelita.
“Namanya membantu hajatan, ya harus kerja. Jangan cuma datang waktu makan.”
Beberapa perempuan di dapur berhenti mengiris bawang.
Murni buru-buru tersenyum.

“Sudah, Neng. Ibu masih kuat.”
Jelita melihat tangan mertuanya gemetar saat menerima nampan.
“Kalau meminta bantuan, tetap boleh menjaga ucapan.”
Wajah Bu Sukma menegang.
“Kamu baru masuk keluarga ini, sudah mengajari orang tua?”
Jelita mengambil nampan dari tangan Murni, meletakkannya di meja, lalu membantu perempuan itu duduk.
Saat itulah Damar muncul dengan kemeja rapi.
“Wah, menantu orang kaya ternyata gampang tersinggung. Pantas Wira sekarang betah menganggur.”
Jelita berdiri.
“Wira sedang mencari pekerjaan.”
“Dulu satpam, sekarang suami putri bos. Lumayan naik jabatan.”
Tawa pendek terdengar dari sudut dapur.
“Mas Damar tahu kenapa dia kehilangan pekerjaan?”
“Ya karena menikahimu, kan?”
“Karena ayahku salah menilai dia. Dan aku sedang berusaha memperbaikinya.”
“Dengan membiayai hidupnya?”
“Cukup, Mar.”
Wira berdiri di pintu belakang. Wajahnya pucat, tetapi suaranya tegas.
Ia mendekati ibunya, mengambil tas Murni, lalu menoleh kepada Bu Sukma.
“Ibu saya pulang dulu.”
“Lho, pekerjaannya belum selesai.”
“Bisa dibantu yang lain. Beliau perlu istirahat.”
Di perjalanan pulang, Jelita berjalan di samping Murni. Wira membawa tas dan kantong sandal di belakang mereka.
Sesampainya di rumah, Murni masuk kamar. Jelita hendak menyusul ketika Wira memanggil.
“Terima kasih.”
Ia berhenti.
“Tapi besok tidak perlu bertengkar lagi.”
Jelita berbalik.
“Aku tidak bisa diam waktu Ibu dihina.”
“Saya tahu. Saya cuma takut kamu terluka karena urusan keluarga saya.”
Nada itu berbeda. Jelita menatapnya lebih lama.
Sebelum ia menjawab, ponsel Wira berbunyi. Sebuah pesan dari Citra masuk, terlihat di layar yang menyala.
Mas, aku perlu bicara sebelum besok.
Wira segera membalik ponselnya.
Jelita menarik napas.
“Temui saja. Tapi setelah itu, aku ingin kita bicara jujur.”
Malamnya, Wira pulang membawa amplop cokelat. Jelita sedang melipat pakaian di ruang tengah.
“Citra memberikan ini.”
Di dalam amplop ada beberapa lembar surat lama.
“Suratmu?”
Wira mengangguk.
“Dulu saya menitipkannya lewat Damar. Tidak pernah sampai.”
Jelita berhenti melipat.
“Damar bilang saya sudah punya perempuan lain di kota. Kepada saya, dia bilang Citra tidak mau lagi berhubungan dengan anak tukang cuci.”
“Citra baru tahu?”
“Dia menemukan surat-surat itu di laci Damar ketika membantu merapikan berkas.”
Ada kesedihan yang nyata di wajah Wira. Jelita menahan pertanyaan yang paling ingin diucapkannya.
“Lalu sekarang?”
“Dia menunda pernikahannya. Bukan untuk saya. Dia ingin memastikan siapa orang yang akan dinikahinya.”
Jelita mengangguk perlahan.
“Kamu masih mencintainya?”
Wira memandang surat di tangannya.
“Saya masih sedih memikirkan apa yang dulu hilang. Tapi saya sudah menikah denganmu. Saya tidak mau menjadikan kesedihan itu alasan untuk menyakitimu.”
Untuk pertama kalinya, Jelita merasa Wira sedang berbicara kepadanya, bukan sekadar menjawab.
Ia mengambil selembar kertas dari bawah buku.
“Kalau begitu, aku juga harus jujur.”
Itu salinan kesepakatan mereka sebelum menikah.
“Waktu membuat ini, aku cuma memikirkan caraku lepas dari Papa. Aku tidak menghitung pekerjaanmu, perasaan Ibu, atau hidupmu setelahnya.”
Wira membaca kertas itu.
“Aku ingin membantumu membuka usaha karena merasa bersalah,” lanjut Jelita. “Tapi sekarang aku juga ingin tahu apa yang sebenarnya ingin kamu kerjakan.”
Lama Wira diam.
“Bengkel motor kecil. Saya pernah ikut pelatihan. Tabungannya belum cukup.”
“Kalau kita susun perhitungannya bersama?”
“Pinjaman. Dicatat. Kamu boleh menolak kalau rencananya tidak masuk akal.”
Jelita tersenyum tipis.
“Setuju.”
Mereka menghabiskan malam dengan menghitung sewa tempat, peralatan, dan kebutuhan sehari-hari. Beberapa kali pendapat mereka berbeda. Kali ini, tidak seorang pun pergi meninggalkan meja.
Sebulan kemudian, bengkel itu dibuka di kios kecil dekat pasar. Jelita mengurus pencatatan, Wira mengerjakan servis, dan Murni mengantar makan siang.
Pada hari pertama, Pak Dayendra datang.
Jelita langsung berdiri tegang, tetapi ayahnya menyerahkan sebuah amplop kepada Wira.
“Gaji terakhir dan hakmu yang belum dibayarkan. Saya salah sudah mencampurkan urusan pribadi dengan pekerjaan.”
Wira menerima amplop itu setelah membukanya dan memeriksa rinciannya.
“Terima kasih, Pak.”
Malamnya, Jelita menemukan kertas kesepakatan mereka di meja. Ia menatap Wira dengan dada berdebar.
“Kamu mau mengakhirinya?”
Wira menggeleng.
“Saya ingin membuat kesepakatan baru. Kalau marah, kita bicara. Kalau ada masalah, jangan memutuskan sendirian.”
“Batas waktunya?”
“Tidak perlu ditentukan sekarang.”
Jelita mengambil pena.
Dari dapur, Murni memanggil mereka makan. Wira mengulurkan tangan, menunggu.
Kali ini Jelita menggenggamnya tanpa perlu melihat siapa yang sedang memperhatikan.
