
Ketukan di pintu toilet membuatku tersentak.
“Bu Hayu? Dokter mencari Ibu.”
Aku segera membasuh wajah, lalu mengikuti perawat menuju ruang perawatan. Nara terbaring dengan selang infus di tangannya. Wajah anakku masih pucat, tetapi bibirnya mulai berwarna.
“Kondisinya membaik,” kata dokter. “Kami masih perlu memantaunya malam ini.”
Aku mengangguk, menggenggam jemari kecil Nara.
Kemarin, aku nyaris menunda membawanya ke rumah sakit karena takut uangku tidak cukup. Sekarang biaya perawatannya sudah tertangani. Namun, setiap mengingat asal uang itu, dadaku terasa sesak.
Tiga keping emas dari kendi Emak telah kujual seharga tiga puluh dua juta rupiah. Masih ada puluhan keping lain, terbungkus kain dan kusimpan di tempat yang hanya kuketahui sendiri.
Aku belum mengerti bagaimana perempuan yang menghitung uang belanja sampai recehan bisa memiliki semuanya.
“Bu.”
Nara membuka mata.
“Ayah marah lagi?”
Aku menelan ludah.
“Kamu dengar?”
Anakku mengangguk pelan.
“Kalau Ayah datang, kita harus pulang?”
Aku mengusap rambutnya.
“Kita tunggu sampai kamu sehat. Setelah itu, kita tinggal di rumah Emak dulu.”
Untuk pertama kalinya sejak masuk rumah sakit, bahunya terlihat rileks.
Menjelang magrib, Bu Sumi datang membawa bubur dan pakaian ganti. Tetangga Emak itu memelukku tanpa banyak bertanya.
“Imran sudah tahu soal emas?” tanyanya lirih.
Aku menoleh cepat.
“Ibu tahu?”
Bu Sumi meletakkan tasnya.
“Emakmu pernah menitip pesan. Kalau kamu menemukan sesuatu di dapur, suruh periksa kaleng biskuit dalam lemari bajunya.”
“Kenapa tidak bilang dari kemarin?”
“Emakmu meminta menunggu sampai kamu sendiri menemukannya.”
Malam itu aku tidak meninggalkan Nara. Kunci rumah kutitipkan kepada Bu Sumi. Satu jam kemudian, ia kembali membawa kaleng berkarat yang tepinya dililit karet.
Di dalamnya ada kuitansi pembelian emas, buku tabungan lama, dan amplop bertuliskan namaku.
Tanganku gemetar saat membukanya.
Hayu, kalau kamu membaca ini, berarti Emak sudah tidak bisa menjelaskan sendiri. Jangan buru-buru menjual semuanya. Periksa catatannya. Kalau bingung, minta bantuan Sumi.
Aku berhenti membaca untuk mengusap mata.
Emas pertama berasal dari penjualan kebun peninggalan bapakmu. Sisanya Emak beli sedikit-sedikit waktu warung masih ramai. Emak menyimpannya karena uang tunai selalu mudah habis dipinjam orang.
Di bawah surat itu terdapat catatan tanggal, berat, dan harga setiap pembelian. Beberapa kuitansi sudah menguning.
Lalu aku menemukan satu kalimat yang membuatku kehilangan napas.
Bantuan dari kelurahan pernah Emak minta dihentikan setelah keadaan membaik. Salinan suratnya ada di bawah. Orang boleh mengira Emak miskin, tetapi Emak tidak mau mengambil jatah orang lain.
Selama ini aku pun mengira Emak hidup dari bantuan. Aku tidak pernah bertanya kapan terakhir ia menerimanya.
Aku hanya datang sesekali, membawa beras dan rasa kasihan, lalu pulang karena Imran terus menelepon.
Di halaman terakhir, tulisan Emak semakin goyah.
Emak tahu kamu takut pulang dengan membawa masalah. Tapi rumah ini juga rumahmu. Kalau suatu hari kamu perlu pergi, jangan menunggu sampai kamu atau Nara terluka lagi.
Aku menutup mulut.
Bu Sumi duduk di sampingku.
“Emak pernah lihat bekas di lenganmu,” katanya. “Kamu bilang kena pintu.”
Tangisku pecah. Bertahun-tahun aku menjaga kebohongan itu, ternyata Emak hanya memilih tidak mempermalukanku dengan memaksaku mengaku.
Ponselku berdering sebelum tengah malam.
Pesan Imran muncul.
Aku sudah di jalan. Besok pagi sampai. Jangan macam-macam.
Aku menunjukkan pesan itu kepada Bu Sumi. Ia menyuruhku memberi tahu perawat. Dengan suara terbata, kuceritakan ancaman Imran dan meminta agar nomor kamarku tidak diberikan kepada orang tanpa persetujuanku.
Pagi berikutnya, ia tetap berhasil mencapai koridor bangsal setelah bertanya kepada pengunjung.
“Hayu!”
Nara langsung terbangun dan menarik selimut sampai ke dagu.
Aku keluar sebelum Imran mendekati pintu.
“Kita bicara di sini.”
Ia menatap pakaian bersihku, lalu kantong makanan di kursi tunggu.
“Katanya tidak punya uang. Ternyata bisa ambil kamar rumah sakit.”
“Nara perlu dirawat.”
“Pakai uang siapa?”
Aku diam.
Imran mengeluarkan ponselnya. Di layar ada foto diriku berdiri di sebuah toko emas.
“Kamu pikir tidak ada yang lihat? Sepupuku kerja di sebelah toko itu.”
Perutku menegang.
“Berapa peninggalan emakmu?”
“Ini bukan waktu membicarakan itu.”
Tangannya meraih lenganku.
Aku refleks mundur.
“Lepaskan.”
“Jangan bikin malu. Aku suamimu.”
Seorang petugas keamanan mendekat bersama perawat. Imran segera mengendurkan genggaman, lalu tersenyum kaku.
“Masalah keluarga, Pak.”
“Saya tidak mau ikut dengannya,” kataku.
Kalimat itu keluar cukup keras hingga beberapa orang menoleh.
Imran menatapku seolah baru melihat wajahku.
“Kamu berani begini karena punya emas?”
Aku merasakan lututku gemetar, tetapi tetap berdiri.
“Aku berani karena Nara tadi bertanya apakah dia harus pulang kalau kamu datang.”
Dari ambang pintu, terdengar suara kecil.
“Ayah jangan pukul Ibu.”
Senyum Imran lenyap.
Petugas memintanya menjauh. Kali ini aku tidak membantu menjelaskan, tidak meminta maaf atas ucapannya, dan tidak menyuruh Nara diam.
Setelah ia pergi, aku duduk di lantai ruang perawatan sambil memeluk anakku.
Beberapa minggu berikutnya berjalan melelahkan. Aku mencari pendampingan hukum, menyimpan pesan ancaman, dan mulai mengurus perpisahan. Emas yang tersisa kudata bersama Bu Sumi sebelum kusimpan dengan aman. Sebagian kecil kupakai memperbaiki atap rumah Emak dan membuka kembali warungnya.
Aku tidak mendadak pandai berdagang. Pernah nasi tersisa banyak, pernah aku salah menghitung kembalian. Namun, setiap malam aku bisa mengunci pintu tanpa takut mendengar langkah Imran.
Suatu sore, saat membersihkan meja jahit Emak untuk tempat belajar Nara, aku menemukan amplop lain terselip di bawah laci.
Isinya uang receh dan selembar catatan.
Tabungan Nara. Katanya mau mengajak ibunya tinggal di sini kalau sudah cukup buat ongkos bus.
Aku memanggil anakku. Ia memandangi amplop itu, lalu menunduk malu.
“Dulu aku nabung sama Emak. Tapi belum cukup.”
Aku berlutut dan menariknya ke pelukan.
Di dapur, kendi kosong Emak sudah kucuci dan kuletakkan di rak. Selama ini aku mengira benda itulah yang menyelamatkan kami.
Sore itu aku mengerti, jauh sebelum menemukan emas, dua orang yang paling menyayangiku sudah diam-diam menyiapkan jalan pulang.
