KARMA DARI IBU 2

Aini menatap nomor yang baru disimpannya, lalu menekan tombol panggil sebelum keberaniannya habis.

Ia berjalan ke kamar mandi dan menutup pintu perlahan. Nada sambung terdengar tiga kali.

“Halo, Mas?”

Suara Neny.

Tangan Aini mendadak dingin. Ia menutup mulut, menahan suara napasnya sendiri.

“Mas, kok diam? Mama sudah tidur?”

Panggilan itu diputus Aini.

Selama beberapa detik, ia hanya berdiri di depan cermin. Wajah di hadapannya tampak asing. Ia ingin mendobrak pintu kamar, membangunkan Adam, lalu menuntut jawaban. Namun, sebuah pikiran menahannya.

Ia belum mendengar penjelasan Neny.

Aini memotret pesan yang muncul di ponsel Adam, lalu mengembalikannya ke bawah bantal. Malam itu ia berbaring tanpa memejamkan mata sampai langit mulai terang.

Pagi harinya, Adam mengeluh sakit kepala.

“Aku mungkin pulang agak malam. Ada urusan kantor.”

Aini mengangguk sambil menuangkan teh.

“Mas sering bertemu Neny?”

Sendok Adam berhenti bergerak.

“Kadang. Kalau dia butuh sesuatu.”

“Kenapa nggak pernah cerita?”

“Memangnya semua harus dilaporkan?”

Nada itu membuat Frans yang sedang sarapan menoleh. Aini segera mengusap rambut putranya.

“Nggak. Aku cuma bertanya.”

Setelah Adam pergi, Aini menitipkan Frans kepada pengasuhnya, lalu menelepon Neny dari nomor yang biasa dipakainya.

“Mama mau ketemu. Berdua saja.”

“Ada apa, Ma?”

“Datang ke kedai dekat kampusmu. Jam sepuluh.”

Neny tiba dengan wajah pucat. Ia masih mengenakan sweter longgar meskipun udara Depok mulai panas.

Aini meletakkan ponselnya di atas meja. Foto pesan itu terbuka di layar.

“Ini kamu?”

Neny menatapnya. Bibirnya bergetar.

“Jawab Mama.”

Gadis itu mengangguk.

Suara penggiling kopi di belakang kasir terdengar begitu keras. Aini mencengkeram ujung kursi agar tidak kehilangan kendali.

“Sejak kapan?”

Neny mulai menangis.

“Maaf, Ma.”

“Mama bertanya sejak kapan.”

“Empat bulan.”

Empat bulan. Dalam waktu selama itu, Aini masih memasakkan makanan kesukaan Adam, mengingatkan suaminya minum obat, dan menyuruh Neny menghubungi ayah tirinya kalau membutuhkan uang kuliah.

“Kamu hamil?”

“Neny belum periksa.”

“Lalu kenapa mengirim pesan soal terlambat haid?”

“Karena takut.”

Aini memalingkan wajah. Di jalan, orang-orang berlalu seperti tidak ada sesuatu yang baru saja runtuh.

“Dia bilang Mama sudah tahu,” bisik Neny.

Aini menoleh.

“Tahu apa?”

“Katanya kalian sudah mau berpisah. Tinggal menunggu waktu karena Frans masih kecil.”

“Mama tidak pernah membicarakan perceraian.”

Neny menutup wajahnya.

“Dia juga bilang Mama menikah dengannya karena ingin hidup nyaman.”

Kemarahan Aini melonjak, tetapi kali ini tidak hanya tertuju kepada putrinya.

“Dan kamu percaya?”

“Neny merasa dia mau mendengarkan. Waktu Mama sibuk dengan Frans, dia sering menelepon. Awalnya cuma bertanya soal kuliah.”

Aini terdiam. Ia ingat beberapa panggilan Neny yang dijawabnya tergesa-gesa. Ada rasa bersalah yang menyusup, tetapi ia tahu ketidakhadirannya tidak memberi Adam hak untuk melakukan semua ini.

“Merasa kesepian bukan berarti kamu boleh menyakiti orang lain,” katanya lirih.

“Neny tahu.”

“Dan kebohongan Adam tetap tanggung jawab Adam.”

Tangis Neny semakin keras ketika ia mengeluarkan ponselnya.

Ada pesan dari Adam, dikirim pagi itu.

Kalau mamamu bertanya, bilang kamu punya pacar di kampus. Jangan menghancurkan keluarga ini.

Aini membacanya dua kali.

Suaminya ternyata sudah menyiapkan seseorang untuk menanggung kesalahannya.

Mereka pergi ke klinik siang itu. Aini menunggu di luar ruang pemeriksaan, menatap kedua tangannya yang terlipat kaku. Hasil pemeriksaan awal menunjukkan Neny tidak hamil. Dokter meminta pemeriksaan lanjutan untuk mencari penyebab perubahan siklusnya.

Neny tampak lega, lalu kembali menangis.

“Kalau nggak hamil, berarti semuanya bisa dilupakan, Ma?”

Aini menggeleng pelan.

“Tidak, Nak. Tapi kita bisa berhenti membuatnya semakin buruk.”

Sebelum pulang, Aini mengantar Neny ke rumah kakek neneknya. Di ruang tamu, ia menceritakan semuanya dengan suara tersendat.

Ibunya menangis tanpa bersuara. Ayahnya bangkit hendak mengambil kunci motor.

“Mau ke mana, Pak?”

“Menemui Adam.”

“Tolong jangan sekarang. Aini perlu Bapak menjaga Neny.”

Lelaki tua itu memandang cucunya yang menunduk, lalu perlahan meletakkan kembali kunci tersebut.

Malamnya, Aini menunggu Adam di meja makan. Frans sudah dibawa pengasuhnya menginap di rumah orang tua Aini.

Adam datang sambil tersenyum.

“Sepi sekali. Frans mana?”

“Di rumah Ibu.”

Senyumnya memudar ketika melihat salinan pesan di meja.

“Aku bisa jelaskan.”

“Silakan.”

Adam duduk, mengusap wajahnya.

“Neny yang mulai mendekat. Kamu tahu sendiri, dia masih labil.”

Aini menatap lelaki yang selama lima tahun dipanggil Neny sebagai ayah.

“Dia sembilan belas tahun. Kamu empat puluh dua. Kamu tahu persis posisimu di keluarga ini.”

“Aku cuma terbawa suasana.”

“Selama empat bulan?”

Adam diam.

“Kenapa bilang kita akan bercerai?”

“Aku takut dia membuat keributan.”

“Jadi kamu terus berbohong supaya tetap mendapat yang kamu mau.”

Adam mengulurkan tangan. Aini memindahkan tangannya ke pangkuan.

“Aku sudah meminta pendampingan hukum. Mulai malam ini kita tinggal terpisah.”

“Kamu mau menghancurkan rumah tangga karena satu kesalahan?”

Aini mengangkat wajah.

“Kamu mengulanginya berkali-kali. Aku baru mengetahuinya tadi malam.”

Beberapa bulan berikutnya tidak mudah. Aini menghadiri konsultasi, mengurus perpisahan, dan belajar menjawab pertanyaan Frans tanpa menumpahkan kebenciannya kepada anak itu.

Neny berhenti menghubungi Adam. Ia menjalani konseling dan tetap kuliah, meski beberapa kali nyaris menyerah karena malu. Hubungannya dengan Aini tidak langsung pulih. Ada hari ketika mereka bisa makan bersama, ada pula hari ketika Aini belum sanggup menatap wajah putrinya lama-lama.

Suatu sore, Neny datang membawa sup buatan nenek.

“Mama boleh marah selama yang Mama butuhkan,” katanya di ambang pintu. “Neny cuma mau memastikan Mama makan.”

Aini menerima rantang itu.

Ketika Neny berbalik hendak pergi, sebuah mobil berhenti. Ibu Adam turun dengan wajah keras.

“Ibu sudah memperingatkan dulu. Anak perempuan dewasa memang sebaiknya tidak didekatkan dengan ayah tiri.”

Neny membeku.

Aini meletakkan rantang di meja teras, lalu berdiri di samping putrinya.

“Yang seharusnya Ibu ajari menjaga batas adalah anak Ibu.”

Perempuan itu terdiam.

Setelah mobilnya pergi, Neny berbisik, “Kenapa Mama masih membela Neny?”

Aini memandangnya. Dadanya masih sakit.

“Mama belum bisa memaafkan semuanya,” jawabnya. “Tapi Mama tidak akan membiarkan kamu memikul kesalahan Adam juga.”

Untuk pertama kalinya sejak rahasia itu terbongkar, Aini membuka pintu lebih lebar.

“Masuk. Supnya kita hangatkan dulu.”

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang