Tangisan di Jam Dua Belas

Pada malam ketujuh setelah pemakaman Jumi, Rina kembali terbangun tepat pukul dua belas.

Tidak ada tangisan. Hanya tiga ketukan pelan dari jendela kamar.

Bima masih tertidur di sampingnya. Rina menahan napas, menatap tirai yang bergerak meskipun jendela tertutup rapat.

Di balik kain tipis itu, berdiri bayangan seorang perempuan.

Kali ini wajahnya tidak lagi menunduk. Bibirnya bergerak, mengucapkan sesuatu yang hampir tenggelam dalam suara hujan.

“Jangan biarkan dia masuk.”

Rina menjerit.

Bima langsung bangun dan menyalakan lampu. Bayangan itu lenyap, tetapi di luar terdengar suara sepeda motor berhenti.

Seseorang mengetuk pintu depan.

“Bima! Ini Pak Darno. Ada kebocoran di belakang rumahmu!”

Bima hendak keluar, tetapi Rina mencengkeram tangannya.

“Jangan buka.”

“Pak Darno yang jual rumah ini kepada kita, Rin.”

“Aku tahu. Tolong dengarkan aku sekali ini saja.”

Ketukan berubah keras.

Bima mengambil ponsel dan membuka kamera kecil di teras, yang dipasangnya setelah rumah mereka ramai didatangi orang. Pada layar terlihat Darno berdiri dengan jas hujan. Tangan kanannya tersembunyi di belakang tubuh.

Bima memperbesar gambar.

Sebuah jeriken.

Ia merasakan perutnya mengeras.

“Pak, kami sudah tidur. Besok saja!” serunya.

Darno tidak menjawab. Beberapa detik kemudian, langkahnya menjauh. Bima segera menelepon polisi yang menangani penemuan kerangka Jumi.

Pagi berikutnya, seorang penyidik bernama Arif datang. Ia memeriksa rekaman dan menemukan bekas cairan berbau bahan bakar di dekat dinding samping.

“Kalian sementara tinggal di tempat keluarga dulu,” katanya.

“Pak Darno mau membakar rumah kami?” tanya Bima.

“Kami masih harus menyelidikinya. Tapi jangan temui beliau sendirian.”

Rina memandangi rumah yang selama tiga tahun dianggapnya tempat paling aman. Di dalamnya masih tersimpan pakaian bayi yang baru dicuci, ranjang kecil, dan tas persalinan yang belum selesai disiapkan.

Bima menggenggam tangannya.

“Kita ambil barang seperlunya.”

Di rumah kakaknya, Rina berusaha mengingat mimpi-mimpinya. Ada sesuatu yang selama ini tertutup oleh rasa takut: perempuan itu sering memegang leher, seperti mencari sebuah kalung.

Sore harinya, Rina mengunjungi ibu Jumi, Bu Lastri.

“Dulu Jumi punya kalung, Bu?”

Lastri terdiam, lalu mengambil album dari lemari.

Dalam sebuah foto, Jumi berdiri di depan sekolah dengan kalung berliontin bunga kecil.

“Itu hadiah ulang tahunnya yang ketujuh belas.”

Rina menunjuk foto tersebut.

“Ini yang saya lihat.”

Lastri menatapnya lama. Sejak penemuan jasad putrinya, ia belum pernah bertanya bagaimana Rina bisa mengetahui tempat Jumi dikuburkan.

“Kalung itu tidak ditemukan bersama tulangnya,” bisiknya.

Mereka menyampaikan hal tersebut kepada Arif. Penyidik itu tidak menanyakan mimpi Rina lebih jauh, tetapi mencatat ciri liontin dan meminta salinan fotonya.

Dua hari kemudian, polisi memanggil Bima.

Darno telah dimintai keterangan. Ia mengaku mendatangi rumah karena melihat atap bocor, sedangkan jeriken itu disebutnya berisi bensin untuk sepeda motor.

Namun, ada hal lain yang mulai terungkap.

Delapan belas tahun sebelumnya, Darno bekerja sebagai pengurus gudang bantuan desa. Jumi, yang baru lulus sekolah, membantu ayahnya merapikan pembukuan.

Tak lama sebelum menghilang, Jumi sempat mengatakan ada jumlah bantuan yang tidak sesuai.

“Ayahnya ingat sekarang,” ujar Arif. “Dulu beliau mengira itu kesalahan pencatatan biasa.”

Bima memandang Rina. Rumah yang mereka beli dahulu ternyata bekas gudang kecil milik keluarga Darno, yang kemudian direnovasi menjadi hunian.

Malamnya, Rina bermimpi berada di kamar yang sama, tetapi belum ada ranjang, cat, maupun papan lantai yang rapi.

Jumi berdiri dekat dinding sambil memeluk buku bersampul biru.

Lalu terdengar suara seorang lelaki.

“Serahkan bukunya. Bapakmu tidak perlu tahu.”

Rina terbangun sambil menyebut satu kata.

“Ventilasi.”

Bima tidak membantah. Ia menghubungi Arif dan menceritakan bahwa sebelum membeli rumah, dirinya pernah melihat lubang ventilasi lama yang ditutup saat renovasi.

Pemeriksaan dilakukan keesokan harinya. Dari rongga dinding dekat bekas gudang, petugas mengeluarkan kantong plastik kusam.

Di dalamnya terdapat buku catatan yang rusak sebagian dan liontin bunga dengan rantai putus.

Lastri mengenalinya saat diperlihatkan foto barang tersebut.

“Itu punya anak saya.”

Catatan Jumi berisi tanggal, jumlah barang, serta selisih bantuan yang tidak pernah diterima warga. Nama Darno muncul berulang kali.

Polisi kemudian menemukan seorang bekas sopir pengangkut barang. Selama bertahun-tahun ia menyimpan ingatan tentang pertengkaran di gudang pada malam Jumi menghilang.

Ia dahulu hanya berani mengatakan Jumi pergi bersama seseorang. Darno mengancam akan menyeretnya sebagai pelaku pencurian jika ia bicara.

Kini, setelah mengetahui jasad Jumi ditemukan, lelaki itu bersedia memberikan keterangan.

Darno ditangkap beberapa hari kemudian.

Dalam pemeriksaan, ia akhirnya mengakui telah mendorong Jumi saat berebut buku. Kepala gadis itu membentur sudut bangunan. Alih-alih mencari pertolongan, ia menunggu sampai keadaan sepi, lalu menyembunyikan jasadnya di bawah lantai gudang.

Ia tidak menemukan buku tersebut.

Ketika mendengar kamar Bima dibongkar, ketakutannya kembali. Ia mendatangi rumah malam itu karena mengira masih ada bukti yang bisa dimusnahkan.

Rina menangis ketika Bima menyampaikan kabar tersebut. Yang terbayang olehnya justru Lastri, yang selama delapan belas tahun mungkin berkali-kali berpapasan dengan orang yang menyembunyikan putrinya.

Seminggu kemudian, Lastri datang membawa bubur kacang hijau.

“Dulu Jumi suka membuat ini kalau saya sakit,” katanya.

Ia duduk menemani Rina melipat pakaian bayi. Lama mereka tidak berbicara, sampai pandangan Lastri tertahan pada sepasang kaus kaki kuning.

“Usia kandunganmu berapa?”

“Tujuh bulan, Bu.”

Lastri mengangguk. Tangannya berhenti bergerak.

“Jumi dulu juga sedang mengandung.”

Rina menatapnya.

“Dia baru cerita kepada saya malam sebelum hilang. Mau menikah dengan pemuda tempatnya bekerja di kota. Saya suruh dia bilang kepada bapaknya setelah urusan pembukuan selesai.”

Suara Lastri pecah.

“Mungkin dia tahu kamu akan mendengarkan.”

Malam itu Rina bermimpi lagi.

Jumi berdiri di halaman bersama seorang anak kecil yang menggenggam tangannya. Tidak ada luka, tidak ada tangisan. Perempuan itu tersenyum sebentar, lalu berjalan menjauh.

Rina terbangun dengan pipi basah.

Jam di meja menunjukkan pukul dua belas. Untuk pertama kalinya, ia tidak buru-buru membangunkan Bima.

Ia mengusap perutnya, mendengarkan hujan yang turun lembut di atap.

Beberapa bulan kemudian, saat Lastri pertama kali menggendong putri Rina, perempuan tua itu menangis.

Rina membiarkannya memeluk bayi itu sedikit lebih lama.

Di luar, lonceng penjual bakso berbunyi. Bima memanggil dari teras, menanyakan siapa yang ingin makan. Kehidupan berjalan lagi, pelan-pelan, bersama kehilangan yang akhirnya memiliki jawaban.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang