SUAMIKU MENGAKU MENGAWASI PROYEK DI BANDUNG, TETAPI MOBILNYA TERPARKIR

“Penjamin utang siapa?”

Suaraku terdengar asing di telingaku sendiri. Dimas meraih map itu, tetapi aku segera mundur.

“Nadira, jangan percaya sebelum aku jelaskan.”

Aku menatap pria tua di depan lift.

“Pak Surya, jawab saya.”

Notaris yang dahulu mengurus pendirian perusahaanku itu mengusap wajahnya.

“Perusahaan Sinta mengajukan pembiayaan untuk pembangunan dapur produksi. Dalam berkas pengajuannya, Ibu tercantum sebagai penjamin pribadi.”

“Sudah cair?”

“Sebagian. Tetapi saya baru mengetahui lampiran jaminan itu pagi ini, ketika kreditur meminta pemeriksaan dokumen tambahan.”

Pak Hendra menyela, “Ini urusan keluarga. Kita bicarakan di atas.”

“Perusahaan saya bukan dompet keluarga, Pak.”

Untuk pertama kalinya sejak mengenal mereka, aku tidak menurunkan suara.

Seorang petugas keamanan mendekat. Aku memintanya menyediakan tempat duduk di lobi karena kami sedang berselisih mengenai dokumen. Setelah itu, aku menelepon pengacaraku, Maya, dan mengirimkan foto seluruh berkas.

Jawabannya datang cepat.

“Jangan tanda tangani apa pun. Simpan dokumen yang kamu terima. Aku ke sana.”

Dimas mengikuti kami ke lobi. Wajahnya berkeringat meskipun pendingin ruangan terasa menusuk.

“Aku cuma mau membangun usaha sendiri,” katanya.

“Dengan sahamku, uangku, dan tanda tanganku?”

Ia terdiam.

Sinta duduk di seberangku, memeluk tas laptopnya.

“Aku dulu bagian administrasi usaha Pak Hendra,” ucapnya akhirnya. “Usaha itu punya banyak utang. Dimas mengajakku mendirikan perusahaan baru untuk mengambil kontrak katering kantor.”

Bu Ratna mendesis, “Kamu juga menikmati uangnya.”

“Iya,” jawab Sinta, matanya memerah. “Saya salah. Tapi Tante bilang Mbak Nadira sudah setuju.”

Aku memandang ibu mertuaku. Perempuan yang selama ini selalu memuji masakanku di depan tamu, tetapi menyebut pekerjaanku sekadar berjualan nasi ketika kami sedang sendiri.

“Jadi apartemen itu kantor kalian?”

Sinta mengangguk.

“Sekaligus tempat tinggal sementara saya. Dimas datang untuk mengurus proposal. Saya tidak punya hubungan pribadi dengannya.”

Aku tidak langsung merasa lega. Suamiku mungkin tidak menyembunyikan kekasih, tetapi ia sedang membangun kehidupan lain dengan merobohkan kehidupanku.

“Kenapa memakai uang perusahaan saya?”

“Dimas bilang itu pinjaman antarperusahaan.”

“Mana perjanjiannya?”

Tidak ada yang menjawab.

Pak Surya membuka kotak arsip. Ia mengeluarkan berkas yang tampak lebih lama daripada dokumen di tanganku.

“Saya harus meluruskan satu hal. Kantor saya menerima permintaan penyusunan perubahan saham, tetapi belum membuat akta perubahan. Ibu belum hadir untuk memberikan persetujuan.”

Aku menunjuk tanda tangan palsu itu.

“Lalu ini?”

“Lampiran yang dikirim melalui surel. Staf saya menemukannya ketika mencocokkan berkas pembiayaan. Karena ada ketidaksesuaian, saya datang mengambil dokumen dan meminta penjelasan.”

“Bapak sudah melaporkannya?”

“Saya sedang menyiapkan keterangan tertulis.”

Maya tiba sebelum aku sempat membalas. Ia membaca dokumen satu per satu, lalu meminta nama kreditur dan nomor kontak petugasnya.

Ketika kami menghubungi perusahaan pembiayaan melalui nomor resminya, petugas mengonfirmasi adanya pencairan kepada perusahaan Sinta. Namun, pencairan berikutnya masih menunggu verifikasi jaminan.

Maya menyampaikan bahwa tanda tanganku disengketakan dan meminta mereka menghentikan proses lanjutan sambil memeriksa berkas.

Dadaku sedikit longgar, tetapi jumlah yang sudah cair membuat tanganku kembali dingin.

Delapan ratus juta rupiah.

“Ke mana uangnya?” tanyaku.

Dimas menatap ayahnya.

Gerakan kecil itu menjawab lebih banyak daripada semua penjelasannya.

Pak Hendra membenarkan duduk.

“Utang usaha Bapak harus dibayar. Kalau tidak, rumah keluarga bisa hilang.”

“Lalu rumah dan usaha saya boleh hilang?”

“Nanti kontrak masuk. Semuanya kembali.”

Sinta menggeleng.

“Kontrak itu belum ada, Mbak. Baru pembicaraan.”

Aku memejamkan mata. Enam tahun bangun sebelum subuh, mengantar pesanan sendiri, menabung untuk membeli oven kedua. Semua itu mereka pertaruhkan demi janji yang bahkan belum menjadi kontrak.

Malam itu aku pulang bersama Maya. Dimas tinggal dengan orang tuanya.

Kami mengganti akses keuangan, memeriksa pembayaran, dan meminta akuntan menelusuri transaksi tiga bulan terakhir. Keesokan paginya aku mendatangi kantor kreditur, lalu membuat laporan dengan pendampingan Maya.

Sinta menyerahkan surel, percakapan, dan berkas asli yang dimilikinya. Ia juga harus menjelaskan perannya. Pengakuannya tidak menghapus keterlibatannya, tetapi membuka jalan untuk menelusuri siapa yang mengirim setiap dokumen.

Dua hari kemudian, akuntanku menemukan sesuatu yang membuatku lama terdiam.

Dimas telah menyalin tanda tanganku dari formulir pembelian oven.

Formulir itu kuingat jelas. Ia pernah membawakan teh ketika aku menandatanganinya, lalu berkata bangga melihat usahaku berkembang.

Aku menangis malam itu, akhirnya. Bukan karena jumlah uangnya, melainkan karena kenangan kecil pun sekarang terasa tercemar.

Seminggu kemudian, Dimas meminta bertemu di dapur produksi setelah staf pulang.

“Aku iri,” katanya tanpa berani menatapku. “Setiap orang menyebutku suaminya Nadira. Bapak bilang aku harus punya sesuatu sendiri.”

Aku duduk di kursi plastik dekat meja persiapan.

“Kamu bisa bicara kepadaku.”

“Aku takut kamu menolak.”

“Jadi kamu memilih membuatku tak punya pilihan.”

Ia menangis. Dahulu, aku pasti sudah mendekat. Malam itu aku tetap duduk.

“Aku mau memperbaiki semuanya.”

“Mulailah dengan berkata benar kepada penyidik dan kreditur.”

Beberapa bulan berikutnya melelahkan. Ada pemeriksaan, pencocokan dokumen, dan perundingan yang selalu didampingi Maya. Kreditur akhirnya membatalkan pencantumanku sebagai penjamin setelah hasil pemeriksaan internal dan bukti pendukung menunjukkan aku tidak pernah memberikan persetujuan.

Utang perusahaan Sinta tetap harus diselesaikan oleh pihak-pihak yang bertanggung jawab. Uang perusahaanku ditagihkan melalui proses terpisah.

Aku mengajukan perceraian.

Bu Ratna datang sekali, membawa kotak makan kesukaanku.

“Kamu benar-benar membuang keluarga karena uang?”

Aku tidak menerima kotak itu.

“Saya sedang menyelamatkan hidup saya, Bu.”

Setengah tahun setelah hari di basement, dapur produksi baruku mulai beroperasi. Lebih kecil daripada rencana semula, tetapi dibangun dari dana yang bisa kupertanggungjawabkan.

Saat merapikan arsip lama, aku menemukan proposal buatan Dimas. Di halaman depan tertulis nama perusahaan barunya, besar dan mengilap.

Di bawahnya ada kalimat yang membuatku tersenyum getir.

Dibangun dari nol.

Aku menutup berkas itu dan menyerahkannya kepada Maya untuk melengkapi arsip perkara.

Lalu ponselku berbunyi. Pelanggan lama memesan seribu kotak makan.

Untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan, tanganku tidak gemetar ketika menjawab.

“Bisa, Bu. Saya kirimkan penawarannya hari ini.”

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang