“Kalau dia ayah saya, apa dia juga tahu siapa yang membuat Ibu hamil sebelum meninggal?”
Pertanyaan itu keluar sebelum sempat kutahan. Pak Gantara menoleh. Angin laut mengangkat ujung kertas di tanganku.
“Kita belum tahu,” jawabnya. “Transfer itu alasan untuk menyelidiki, bukan bukti hubungan darah.”
Aku menatapnya.
“Tadi Bapak bilang semua temuan mengarah ke sana.”
“Dan saya terlalu cepat menyimpulkan. Maaf.”
Kejujurannya justru membuat dadaku semakin sesak. Selama beberapa menit, aku sudah membayangkan seluruh hidupku dibangun di atas kebohongan.
Pak Gantara adalah adik teman kuliah Ibu, seorang pengacara yang datang setelah mendengar kematiannya dan kebakaran rumah kami. Salinan rekening itu diperolehnya dari berkas yang kutitipkan kepadanya sesudah pemakaman. Aku sendiri belum sanggup membukanya.
“Sekarang kita pisahkan dua hal,” katanya. “Kematian ibumu dan kebakaran. Bisa berhubungan, bisa juga tidak.”

Ponselku bergetar.
Pesan dari Ardi.
Jangan pulang ke rumah Pak Kades. Aku perlu bicara. Sendirian.
Aku menunjukkan layar itu kepada Pak Gantara.
“Jangan temui dia tanpa pendamping,” katanya.
Namun, sebelum kami beranjak, Ardi menelepon.
Suaranya nyaris tidak terdengar.
“Aku nggak tahu rumahmu yang mau dibakar.”
Tubuhku menegang.
“Apa?”
“Aku disuruh antar jeriken ke gudang belakang rumah Pak RT. Katanya buat mesin pompa. Baru malamnya aku tahu.”
“Kenapa baru sekarang cerita?”
“Ada yang mengancam adikku.”
Di belakang suaranya terdengar bunyi pintu dipukul.
“Ardi?”
Panggilan terputus.
Pak Gantara langsung berdiri. Ia menghubungi seorang penyidik yang sudah menangani laporanku tentang kebakaran, lalu mengajakku kembali ke kota kecamatan.
Malam itu aku tidak pulang ke desa.
Di ruang tunggu kantor polisi, aku menggenggam gelas teh yang sudah dingin ketika seorang perempuan masuk bersama petugas.
Bu Ratih, bidan yang memeriksa Ibu.
Ia berhenti saat melihatku.
“Maafkan Ibu,” katanya.
Aku berdiri begitu cepat sampai kursiku bergeser.
“Apa yang sebenarnya terjadi?”
Bu Ratih menangis.
“Ibumu datang dengan perdarahan berat. Ibu memberi pertolongan awal, lalu merujuknya. Dia meninggal sebelum sempat sampai rumah sakit.”
“Kenapa Ibu bilang keguguran?”
Perempuan itu menunduk.
“Ibu menduganya. Tapi belum ada pemeriksaan yang memastikan. Seharusnya Ibu tidak menyampaikan dugaan itu sebagai kepastian.”
Dengung memenuhi telingaku.
Satu kalimat yang diucapkannya telah membuatku mencurigai perempuan yang bahkan sudah tidak bisa membela dirinya.
“Lalu kenapa tidak dikoreksi?”
“Pak RT datang. Katanya keluarga sudah menerima. Ibu diminta jangan memperpanjang urusan.”
Aku menatapnya, marah dan lelah sekaligus.
“Yang menerima itu siapa? Saya anaknya. Saya tidak pernah ditanya.”
Bu Ratih tidak menjawab.
Menjelang tengah malam, Ardi ditemukan bersembunyi di rumah pamannya. Ia datang bersama polisi, bibirnya pecah dan bajunya kotor.
“Aku pengecut,” katanya ketika duduk di hadapanku.
Aku ingin membentaknya. Namun, saat ia meletakkan ponsel di meja, suaraku tertahan.
Ada pesan dari Pak RT yang memerintahkannya mengantar minyak. Ada pula ancaman yang dikirim setelah kebakaran.
Ardi mengaku sempat melihat dua orang keluar dari halaman rumahku malam itu. Ia mengenali salah satunya sebagai penjaga gudang milik Pak RT.
“Kenapa rumah kami?” tanyaku.
“Aku dengar mereka mencari buku merah.”
Aku teringat sesuatu.
Ibu selalu menyimpan buku bersampul merah di bawah mesin jahit. Katanya, catatan utang orang-orang yang membeli dagangannya.
Mesin jahit itu habis terbakar.
Namun, tiga hari sebelum meninggal, Ibu menitipkan sebuah tas kain kepada Bu Marni, pemilik warung tempatnya menjual kue.
Esok paginya, polisi mendatangi Bu Marni.
Buku itu masih ada.
Isinya bukan catatan penjualan kue, melainkan pembayaran angsuran rumah warga dan pembelian tanah. Nama Ibu tercatat sebagai bendahara kelompok simpan pinjam desa.
Beberapa halaman memuat selisih besar antara uang yang diserahkan warga dan jumlah yang masuk ke rekening kelompok. Di belakangnya terselip fotokopi kuitansi dengan tanda tangan Pak RT.
Ada nama Gunawan Suseno juga.
Ketika kepala desa dipanggil, aku menunggu di lorong kantor polisi. Ia datang tanpa pakaian dinas, tampak jauh lebih tua daripada saat menerima tamu di balai desa.
“Bapak ayah saya?”
Langkahnya terhenti.
“Bukan.”
Jawaban itu pendek, tetapi matanya berkaca-kaca.
“Lalu uang sepuluh juta setiap bulan?”
Ia duduk di kursi seberangku.
“Itu pengembalian uang keluargamu.”
Aku menggeleng, tidak mengerti.
“Ayahmu pernah menjual kebun untuk menyelamatkan usaha saya. Saya berjanji mengembalikannya. Setelah beliau meninggal, saya baru sanggup mencicil.”
“Kenapa Ibu tidak cerita?”
“Ibumu meminta saya menyelesaikan utang itu tanpa melibatkanmu. Dia tidak mau kamu merasa kuliahmu menjadi beban siapa pun.”
Aku menutup wajah.
Ayah yang kukenang tetap ayahku. Ibu tidak menyembunyikan seorang kekasih. Namun, rasa lega itu datang bersama malu yang menyakitkan.
“Bapak tahu soal buku merah?”
Gunawan mengangguk.
“Ibumu menyerahkannya untuk saya periksa seminggu sebelum meninggal. Saya menyuruhnya menunggu sampai rapat desa.”
Suaranya pecah.
“Saya kira masih ada waktu.”
Penyelidikan berlangsung berminggu-minggu. Rekaman kamera toko di jalan utama, keterangan Ardi, serta pesan dari ponsel orang suruhan Pak RT menghubungkan mereka dengan kebakaran.
Keterangan lain mengungkap bahwa Pak RT sempat mendatangi Ibu pada hari ia mengalami perdarahan. Tetangga mendengar pertengkaran dan menemukan Ibu jatuh di dekat meja. Penyebab pasti kematiannya tetap harus diperiksa lebih lanjut. Untuk pertama kalinya, aku belajar menerima bahwa kebenaran tidak selalu datang sekaligus.
Pak RT ditahan bersama orang yang membakar rumah kami. Ardi tetap diperiksa atas perannya, meskipun keterangannya membantu membongkar semuanya.
Sebulan kemudian, Bu Marni menyerahkan bagian terakhir titipan Ibu. Sebuah amplop terselip di dasar tas kain, ditujukan kepadaku.
Di dalamnya ada kuitansi pelunasan utang Gunawan dan selembar surat.
Nak, kalau uang terakhir sudah masuk, pakailah untuk melanjutkan hidup. Jangan habiskan masa mudamu merasa harus membalas semua pengorbanan Ibu.
Aku membaca kalimat berikutnya sambil menangis.
Kamu tidak berutang apa pun karena sudah menjadi anak Ibu.
Di antara reruntuhan rumah, aku akhirnya berhenti mencari alasan untuk mencurigainya.
Aku mulai mencari cara agar namanya dipulihkan.
