RUMAH MBAH KASNI 4

Tawa kami berhenti ketika terdengar suara timba jatuh dari arah belakang.

Lek Jum langsung mencengkeram lengan Ibu.

“Itu, Mbak. Suaranya persis begitu.”

Bapak mengambil senter, meskipun hari belum benar-benar gelap. Aku mengikutinya sampai pintu dapur. Di dekat sumur, tali timba masih bergoyang pelan.

“Barangkali tikus,” katanya.

Namun, pandangannya tertahan pada lantai semen yang basah.

Ada jejak kaki menuju lorong rumah Mbah Kasni.

Jejak itu berhenti tepat di depan pagar seng yang memisahkan halaman kami.

Malamnya, kami tidur berdesakan di ruang tengah. Ayu yang biasanya banyak bicara memilih merapat kepada Ibu. Lek Jum duduk memeluk bantal, menolak berbaring.

Menjelang tengah malam, terdengar tiga ketukan dari pintu depan.

Tidak keras. Justru begitu sopan hingga membuat bulu kudukku berdiri.

“Jum.”

Suara perempuan tua.

Lek Jum menutup telinganya.

“Jum, bukakan. Aku belum pulang.”

Bapak segera berdiri, tetapi Ibu menahan lengannya.

“Lihat dari jendela dulu.”

Aku menyibak sedikit gorden.

Teras kosong.

Di seberang halaman, pintu rumah Mbah Kasni terbuka selebar telapak tangan. Padahal, sore tadi aku melihat sendiri Pak Yadi menguncinya.

Esok paginya, Bapak meminta Pak Yadi datang bersama Pak RT. Kami berkumpul di depan rumah Mbah Kasni sebelum menyiapkan tahlilan.

Gembok pintu masih terpasang.

“Semalam terbuka, Pak. Saya melihatnya,” kataku.

Pak Yadi tidak membantah. Ia hanya membuka gembok dengan tangan yang tampak kurang mantap.

Bau pengap menyambut kami. Di ruang depan terdapat kursi kayu, lemari tua, dan tumpukan kain perca untuk membuat keset.

Lek Jum berhenti di ambang pintu.

“Mesin jahitnya masih di belakang?”

“Masih,” jawab Pak Yadi.

“Kasni pernah bilang ada titipan buat saya. Saya kira cuma kain.”

Kami menemukan sebuah kaleng biskuit di bawah meja mesin jahit. Pada tutupnya terselip kertas bertuliskan nama Lek Jum.

Di dalamnya ada uang, buku kecil, dan amplop cokelat.

Lek Jum memandangi uang itu dengan bingung.

“Ini uang saya.”

Ibu menoleh.

“Uang apa?”

“Dulu saya menitipkan hasil jual keset. Sedikit-sedikit. Kasni yang menyimpan karena saya takut habis dipinjam orang.”

Suaranya melemah.

“Terakhir saya minta, dia bilang belum bisa diambil. Saya marah. Saya tuduh dipakai sendiri.”

Buku kecil itu mencatat setiap setoran Lek Jum. Jumlahnya cocok dengan uang dalam kaleng.

Pada halaman terakhir, tulisan Mbah Kasni tampak lebih gemetar.

Sudah lengkap. Jum jangan marah lagi. Uangnya tidak pernah kupakai.

Lek Jum menangis tanpa suara.

Pak RT membuka amplop cokelat dengan izin semua orang. Isinya kuitansi perbaikan warung, beberapa foto, serta surat dari seorang perempuan bernama Sri.

Alamat pengirimnya di Gunung Tugel.

“Ini kerabat yang saya hubungi,” ujar Pak Yadi.

Ibu mengambil salah satu foto.

Mbah Kasni berdiri di samping perempuan muda yang menggendong anak. Di belakang mereka terlihat pagar halaman kami sebelum ditutup seng.

“Anaknya Kasni?” tanya Bapak.

Pak Yadi mengangguk ragu.

“Katanya begitu. Tetapi waktu saya telepon, dia langsung menutup sambungan setelah tahu siapa yang meninggal.”

Sore itu, Ibu menelepon nomor tersebut.

Aku duduk di sampingnya ketika suara perempuan terdengar.

“Saya sudah bilang, saya tidak mau mengurus.”

“Maaf, ini Hadi, tetangga ibumu.”

Lama tidak ada jawaban.

“Beliau masih menyimpan fotomu, Sri.”

Terdengar napas berat.

“Foto tidak mengubah apa yang dia lakukan.”

Ibu tidak mendesak. Ia hanya mengatakan bahwa kami menemukan surat-surat yang mungkin perlu Sri baca.

Perempuan itu akhirnya datang menjelang magrib.

Usianya sekitar empat puluh tahun. Wajahnya keras, tetapi matanya langsung basah ketika melihat sandal Mbah Kasni di dekat pintu.

“Ayah saya meninggal di rumah ini,” katanya.

Kami terdiam.

“Waktu sakit, dia ingin dibawa ke rumah sakit. Ibu menolak karena takut uangnya habis. Sejak itu saya pergi.”

Ibu mempersilakannya duduk, lalu menyerahkan amplop.

Sri membaca surat pertama. Dahinya berkerut.

Kemudian ia membaca kuitansi yang lain, satu per satu.

“Apa ini?”

Pak Yadi mendekat.

Ada kuitansi kendaraan, pembayaran rumah sakit, dan salinan surat penolakan rawat inap yang ditandatangani ayah Sri sendiri.

Di antara kertas itu terdapat surat Mbah Kasni yang tak pernah dikirim.

Bapakmu memaksa pulang. Katanya tidak mau meninggalkan utang. Ibu sudah menjual gelang, tetapi dia tetap menolak. Ibu tidak sanggup menjelaskan ketika kamu marah. Setelah itu, setiap menelepon, kamu tidak pernah mau mendengar.

Sri menutup wajahnya.

“Kenapa baru sekarang?”

Tidak seorang pun menjawab.

Tahlilan malam itu tetap berlangsung. Sri duduk bersama para perempuan di rumah kami, menangis ketika doa dibacakan.

Aku berharap semuanya selesai setelah itu.

Namun, menjelang subuh, suara memasak kembali terdengar dari warung.

Mbak Seh datang dengan wajah pucat.

“Ada yang mengetuk pintu belakang. Lalu bilang nasinya jangan dibuang.”

Sri yang belum tidur langsung berdiri.

Ia meminta kami menemaninya membuka warung.

Di dapur, panci-panci berdebu tersusun rapi. Tidak ada api, tidak ada orang. Tetapi di balik pintu tergantung papan kecil yang selama ini tertutup celemek.

Sri membaliknya.

Nama beberapa warga tertulis di sana, diikuti jumlah bungkus nasi. Sebagian besar nama itu milik orang tua yang hidup sendiri.

Ibu menyentuh tulisan paling bawah.

“Mbah Lik juga dikirimi makan?”

Sri membuka laci meja. Di dalamnya ada buku belanja dan catatan pengiriman.

Selama bertahun-tahun, Mbah Kasni menyisihkan nasi untuk mereka sebelum warung dibuka. Setelah beliau meninggal, tak ada yang melanjutkannya.

Sri duduk perlahan.

“Saya pikir Ibu cuma memikirkan uang.”

Pagi itu, ia memasak bersama Ibu dan Mbak Seh. Aku mengantarkan enam bungkus nasi sesuai catatan terakhir.

Di rumah paling ujung, seorang nenek menerima bungkusan dariku sambil tersenyum.

“Kasni sudah sehat?”

Aku tidak sanggup segera menjawab.

Malam berikutnya, rumah kami sunyi. Tidak ada ketukan, suara timba, ataupun langkah di lorong.

Lek Budi akhirnya mengganti lampu rumah Mbah Kasni. Ketiganya menyala.

Seminggu kemudian, Sri membuka kembali warung. Pagar seng di halaman dibongkar setelah keluarga membicarakan jalan lewat bersama Pak RT.

Saat membantu membersihkan teras, aku menemukan tulisan kecil di balik daun pintu.

Kalau aku lupa pulang, tolong panggilkan Sri.

Aku menunjukkan tulisan itu kepadanya.

Sri mengusapnya dengan ujung jari, lalu membuka pintu warung lebar-lebar.

“Sudah, Bu,” bisiknya. “Sekarang Sri yang jaga.”

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang