Mika menyimpan tasnya di loker yang tersedia di ruang khusus karyawan swalayan.

“Karena wajahnya ada di selebaran orang hilang yang ditempel di pos satpam,” lanjut Kemal.

Mika melepaskan tangannya dari lengan pemuda itu.

“Orang hilang?”

Kemal membuka ponsel, mencari sebuah foto, lalu menyodorkannya.

Seorang lelaki berambut memutih menatap kamera dengan senyum tipis. Di bawah fotonya tertulis nama Harun Santosa, usia enam puluh dua tahun.

Wajah itu sama persis dengan lelaki dalam foto pernikahan Tante Sari.

Mika merasakan kursi yang didudukinya seolah bergeser.

“Itu Om Ardi.”

“Kamu yakin?”

“Fotonya ada di rumah Tante.”

Kemal membaca kembali selebaran itu.

“Pak Harun meninggalkan rumah empat hari lalu. Keluarganya bilang beliau mengalami gangguan ingatan. Saat saya tanya kemarin, dia hanya mengulang bahwa dirinya bapakmu.”

“Terus beliau ke mana?”

“Saya menghubungi satpam. Tapi waktu petugas datang, beliau sudah pergi.”

Mika segera menelepon ibunya.

“Bu, Om Ardi punya saudara kembar?”

Keheningan di seberang membuat tengkuknya menegang.

“Siapa yang cerita?”

“Jadi benar?”

Ibunya menghela napas.

“Namanya Harun. Sudah lama tidak berhubungan dengan keluarga tante.”

“Kenapa Ibu nggak pernah bilang?”

“Kamu juga tidak pernah bertanya.”

Jawaban itu membuat Mika ingin menangis.

“Ada apa, Mik?”

“Dia mengikutiku ke tempat kerja. Mengaku bapakku.”

Ibunya terdiam lagi.

“Kamu jangan pulang sendirian. Ibu telepon tante dulu.”

Panggilan berakhir sebelum Mika sempat bertanya lebih jauh.

Siang itu, Mika bekerja dengan tangan gemetar. Setiap kali pintu swalayan terbuka, ia menoleh. Menjelang pergantian sif, Kemal menghampirinya bersama seorang satpam.

“Beliau ada di depan.”

Mika melihat lelaki itu berdiri di dekat penitipan barang.

Kemejanya kusut, sandalnya berlumpur. Dalam cahaya terang swalayan, wajahnya tidak menyeramkan. Ia justru tampak sangat lelah.

Begitu melihat Mika, matanya berbinar.

“Laras. Bapak menunggu dari tadi.”

“Nama saya Mika, Pak.”

Lelaki itu mengerutkan dahi.

“Kamu marah karena Bapak terlambat jemput?”

Mika menelan ludah.

Kemal mendekat dengan suara tenang.

“Pak Harun, mari duduk dulu. Kami sudah menghubungi keluarga Bapak.”

Namun, Harun mendadak mencengkeram ujung bajunya sendiri.

“Jangan telepon Darto.”

“Darto siapa, Pak?”

“Dia mau jual rumah. Laras belum pulang.”

Air matanya mengalir.

Mika tidak tahu harus berkata apa. Ia mengambil sebotol air dan menyerahkannya.

Harun menerima botol itu dengan kedua tangan.

“Kamu dulu selalu bawakan Bapak minum.”

Pintu otomatis terbuka. Tante Sari masuk dengan napas tersengal, disusul seorang lelaki bertubuh besar.

“Mas Harun.”

Harun langsung berdiri. Wajahnya berubah ketakutan ketika melihat lelaki di belakang Sari.

“Nggak. Aku nggak mau pulang sama dia.”

Lelaki itu tersenyum kaku kepada satpam.

“Saya Darto, keponakannya. Kalau sedang kambuh memang begini. Merepotkan sekali.”

Ia meraih pergelangan Harun.

“Sudah, Pakde. Ayo.”

Harun menarik tangannya sampai botol air jatuh.

Mika spontan berdiri di antara mereka.

“Beliau takut. Jangan dipaksa dulu.”

Darto menatapnya tajam.

“Kamu nggak tahu apa-apa.”

“Betul,” sahut Tante Sari. “Karena itu kita jelaskan baik-baik.”

Untuk pertama kalinya, Mika mendengar suara tantenya begitu tegas.

Mereka dibawa ke ruang kantor. Kemal meminta satpam tetap mendampingi. Harun duduk di sudut, sementara Darto terus melirik jam.

Di sanalah Tante Sari akhirnya bercerita.

Laras adalah putri tunggal Harun. Bertahun-tahun lalu, ia meninggal dalam kecelakaan saat pulang bekerja dari sebuah swalayan. Sejak ingatannya memburuk, Harun sering merasa putrinya masih hidup.

“Kamu memang mirip Laras waktu muda,” kata Sari kepada Mika.

“Kenapa Tante tidak cerita dari awal?”

“Tante tidak tahu dia sudah datang ke rumah. Darto bilang dia masih dirawat di Bekasi.”

Mika menoleh.

“Jadi suara keroncong itu?”

Harun mengangkat wajah.

“Ardi suka lagu itu. Pemutarnya masih di lemari.”

“Dan kursi goyang?”

“Itu kursi adik saya.”

Mika memejamkan mata. Selama ini ia ketakutan kepada seorang lelaki yang bersembunyi di rumah saudaranya sendiri.

“Tante juga bilang Om Ardi masih ada.”

Mata Sari berkaca-kaca.

“Maksud Tante, rasanya dia masih ada. Tante belum terbiasa hidup tanpa dia.”

Darto bangkit.

“Sudah jelas, kan? Sekarang saya bawa Pakde pulang.”

“Tunggu,” kata Kemal.

Ia menunjuk pergelangan Harun yang tampak memar ketika lengan kemejanya tersingkap.

“Itu kenapa, Pak?”

“Beliau sering jatuh,” jawab Darto cepat.

Harun menggeleng keras.

“Disuruh tanda tangan. Aku nggak mau. Rumah itu buat Laras.”

Ruangan menjadi sunyi.

Darto tertawa pendek.

“Namanya juga orang sakit.”

Sari memandangnya lama.

“Kamu bilang rumah Mas Harun belum diurus sejak dia sakit. Kenapa sekarang ada urusan tanda tangan?”

Darto tidak menjawab. Ia kembali meraih tangan Harun, tetapi satpam maju menghalangi.

Kemal meminta bantuan polisi untuk memastikan identitas dan keselamatan Harun. Darto marah, mengancam akan melaporkan swalayan, lalu mendadak diam ketika Sari meminta ponselnya sendiri untuk menelepon pengacara keluarga.

Malam itu, Harun dibawa ke rumah sakit dengan pendampingan Sari. Dari pemeriksaan dan percakapan lanjutan, keluarga mengetahui bahwa Darto telah membatasi kunjungan serta berusaha mengurus penjualan rumah tanpa penjelasan yang layak kepada Harun.

Masalah itu tidak selesai dalam sehari. Namun, Harun akhirnya berada di tempat yang aman.

Seminggu kemudian, Mika menemani Tante Sari membersihkan ruang kerja Om Ardi. Di bawah meja, ia menemukan kasur lipat, bungkus roti, dan baju milik Harun.

Lelaki itu rupanya masuk lewat pintu samping yang kuncinya tidak pernah diganti. Ia bersembunyi siang hari, lalu keluar ketika rumah sepi.

Di laci terdapat foto Laras.

Mika menatap wajah gadis itu. Kemiripan mereka memang cukup untuk membuatnya merinding.

Sore berikutnya, Harun datang bersama pendampingnya. Ia duduk di kursi goyang, mendengarkan keroncong dengan volume pelan.

Mika mengantarkan teh.

“Terima kasih, Laras,” katanya.

Mika hampir membetulkan namanya, tetapi Harun lebih dahulu menggeleng kecil.

“Maaf. Mika.”

Ia mengangkat wajah, terkejut.

Harun tersenyum sedih.

“Kamu bukan anak saya. Saya kadang lupa.”

Mika meletakkan nampan, lalu duduk di kursi sebelahnya.

“Nggak apa-apa, Pak.”

Dari dapur, terdengar Tante Sari memanggil mereka untuk makan.

Kursi goyang itu masih bergerak ketika Mika berdiri. Bunyi kayunya tetap sama seperti malam pertama ia datang.

Hanya saja, kini Mika tidak ingin menutup pintu kamarnya.

Ia ingin memastikan lelaki tua itu mendengar saat dipanggil pulang ke meja makan.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang