MAYAT SIAPA DI LEMARI PUTRIKU 9

Bude Nias.

Wajahnya menempel begitu dekat pada kaca sampai embusan napasnya meninggalkan kabut tipis. Ketika mata kami bertemu, ia tidak terkejut.

“Buka, Re,” katanya. “Bude ketinggalan obat.”

Aku mundur. Tanganku meremas ponsel di balik daster.

“Kenapa lewat jendela?”

“Pintu depan tadi diketuk, kamu nggak dengar.”

Padahal sejak pukul tujuh aku duduk di ruang tamu.

Aku mengirim pesan kepada Hanung, menyebut nama Bude dan memintanya segera datang. Lalu kutekan tombol panggilan tanpa mengangkat ponsel ke telinga.

“Obat Bude apa? Biar Rere ambilkan.”

Bude terdiam. Pandangannya bergeser ke lemari Salia.

“Sudah, buka saja. Masa sama keluarga sendiri takut?”

Kata keluarga itu membuat dadaku nyeri. Bude yang menemaniku mengurus pemakaman. Bude pula yang menyuruhku berhenti mencari jawaban karena, katanya, arwah Salia tidak akan tenang kalau aku terus menangis.

Dari ponsel terdengar suara Hanung, pelan tetapi jelas.

“Jangan buka. Kami sudah dekat.”

Bude mendengarnya.

Wajahnya berubah.

“Kamu menelepon siapa?”

Aku berlari ke ruang tamu dan mengunci pintu kamar dari luar. Hampir bersamaan, terdengar benturan keras pada jendela.

“Rere! Jangan bikin urusan tambah panjang!”

Aku menarik meja untuk mengganjal pintu depan. Baru setelah itu kusadari suara dari kamar Salia telah berhenti.

Sunyi tersebut lebih menakutkan daripada benturan tadi.

Beberapa menit kemudian, Hanung menelepon lagi.

“Kami di depan, bersama Pak RT.”

Aku mengintip sebelum membuka pintu. Hanung masuk, disusul Kinos dan Pak RT yang masih mengenakan sarung.

Di samping rumah, mereka menemukan sandal Bude tersangkut di bawah jendela. Salah satu paku sudah tercabut.

Pak RT segera menghubungi polisi.

Malam itu aku dibawa menginap di rumah Karin. Sebelum pergi, aku memandangi pintu kamar Salia. Lemarinya berdiri di dalam, tempat tubuh putriku ditemukan enam hari sebelumnya.

Tiba-tiba aku teringat sesuatu.

“Boneka kelincinya,” bisikku.

Hanung menoleh.

“Kenapa?”

“Salia selalu membawanya. Tapi sejak pemakaman aku belum pernah melihatnya.”

Esok paginya, dengan seizin petugas yang memeriksa rumah, kami mencari boneka itu. Kinos menemukannya di belakang lemari, terjepit di antara dinding dan papan belakang.

Jahitan pada punggungnya terbuka sedikit.

Di dalamnya ada ponsel kecil.

Aku mengenalinya. Itu bukan ponsel milik Salia yang disita polisi.

Saat dinyalakan, perangkat tersebut meminta kode. Tanganku gemetar ketika memasukkan tanggal lahirnya.

Layar terbuka.

Nama kontak pertama yang terlihat membuatku sesak.

Ayah Angga.

Di bawahnya terdapat pesan terakhir yang belum terkirim.

Ayah, aku sudah tahu siapa yang mengambil uang Ibu. Aku punya rekamannya. Tapi Bude tahu aku sembunyikan di sini.

Aku terduduk di lantai.

Hanung segera mengingatkanku agar tidak membuka-buka lagi. Ponsel itu diserahkan kepada penyidik bersama penjelasan tempat ditemukannya.

Siang harinya, Angga datang ke kantor polisi.

Lelaki yang selama bertahun-tahun hanya hidup dalam kemarahanku itu tampak jauh lebih tua. Ada perban di pelipisnya dan luka pada tangannya.

Aku berdiri begitu melihatnya.

“Kamu ke mana saja?”

Angga tidak mencoba mendekat.

“Aku dirawat di rumah sakit sejak malam Salia meninggal.”

Ia menyerahkan surat perawatan kepada penyidik.

“Aku mendapat pesan untuk bertemu di gudang penggilingan. Katanya Salia menunggu di sana. Waktu datang, aku dipukul. Dompet dan ponselku hilang.”

“Kenapa setelah sadar kamu tidak mencariku?”

“Aku masih bingung setelah benturan. Baru kemarin bisa menghubungi kantor. Lalu aku tahu tentang Salia.”

Aku ingin mempercayainya, tetapi terlalu banyak kebohongan telah mengelilingiku.

“Siapa yang memberimu alamat kami?”

“Bu Lili. Aku datang ke tempat kerjamu. Dia tidak langsung memberi alamat, tetapi menyampaikan pesanku. Salia yang kemudian menghubungiku lewat nomor kantor.”

Angga menunduk.

“Aku tahu aku terlambat, Re. Aku mau minta maaf langsung kepadamu. Salia bilang tunggu sampai dia selesai ujian.”

Air mataku jatuh.

Anakku sedang menyusun pertemuan yang tak akan pernah terjadi.

Penyelidikan bergerak setelah rekaman dalam ponsel diperiksa.

Di sana terdengar percakapan Bude Nias dengan seorang lelaki bernama Darmin, sepupunya yang sering membantuku memperbaiki atap.

Mereka membicarakan kiriman uang dari Bu Lili. Selama hampir setahun, sebagian uang yang kutitipkan melalui rekening Bude tidak pernah dipakai untuk kebutuhan Salia.

Salia menemukan bukti transfer ketika diminta membelikan pulsa lewat ponsel Bude.

Ia mulai mencatat semuanya dalam buku harian.

Halaman tentang Angga dirobek karena di situlah ia menulis rencana menyerahkan bukti kepada ayahnya.

Bude ditangkap di rumah Darmin. Lelaki itu berusaha pergi ke luar kota, tetapi ditemukan sebelum meninggalkan terminal.

Dari keterangan mereka, malam kematian Salia akhirnya tersusun.

Darmin bersembunyi di kamarku ketika Bude mencari ponsel yang memuat rekaman. Suara dengkuran berat yang kudengar beberapa malam kemudian ternyata juga miliknya. Ia kembali untuk membantu mencari benda yang belum mereka temukan.

Pada malam Salia meninggal, pencarian itu berubah menjadi pertengkaran.

Bude berusaha merebut ponsel. Darmin menahan Salia ketika anakku berteriak meminta pertolongan. Mereka membungkamnya terlalu lama.

Sesudahnya, tubuh Salia disembunyikan di lemari.

Ancaman pada cermin dibuat agar aku menghentikan pencarian. Cerita tentang gangguan arwah sengaja dipelihara untuk menutupi suara mereka menggeledah rumah.

Saat penyidik menyampaikan semuanya, aku tidak menangis.

Aku hanya bertanya apakah Salia sempat merasa sakit.

Tidak ada jawaban yang dapat menghiburku.

Beberapa minggu kemudian, polisi mengembalikan salinan pesan suara Salia setelah pemeriksaan selesai.

Aku mendengarkannya bersama Angga di teras.

“Yah, kalau nanti ketemu Ibu, jangan bilang Salia yang cari Ayah duluan. Ibu suka pura-pura kuat. Padahal kalau malam masih sering nangis.”

Angga menutup wajah. Aku menggenggam ujung kursi sampai jariku sakit.

Pesan itu berlanjut.

“Aku nggak minta Ayah tinggal sama kami. Aku cuma mau Ibu tahu, kali ini ada orang yang mau bantu dia.”

Aku mematikan rekaman, lalu menatap halaman yang dahulu menjadi tempat Salia belajar bersepeda.

Selama ini aku mengira sedang mencari siapa yang bersembunyi di balik kematian putriku.

Ternyata, sebelum meninggal pun, anakku sedang berusaha menyelamatkanku.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang