Sehari Sebelum Lamaran, Calon Tunanganku Memercayai Tuduhan Sahabat Masa Kecilnya

“Itu pembayaran uang muka,” jawab Keisya akhirnya. “Pekerjaannya belum dimulai karena izin lokasi tertunda.”

Aku membuka dokumen berikutnya.

“Kalau begitu, mengapa lampirannya menyatakan pekerjaan selesai seratus persen?”

Dimas menarik lembar tersebut. Matanya bergerak mengikuti baris-baris laporan, lalu berhenti pada bagian tanda tangan.

“Itu tanda tanganku.”

“Apakah Bapak pernah memeriksa lokasi sebelum menandatanganinya?”

Ia tidak langsung menjawab.

Keisya meraih gelas, tetapi hanya memutarnya di atas meja.

“Dimas menandatangani banyak dokumen setiap hari. Tim administrasi mungkin salah melampirkan.”

“Karena itu kami meminta dokumen asli, catatan pengiriman, dan akses lapangan,” kataku. “Tanpa

semuanya, kami tidak bisa menerima penugasan.”

Dimas menutup map.

“Kami akan menyediakan.”

“Dimas,” potong Keisya, “kamu tidak perlu menyerahkan seluruh data perusahaan kepada orang luar.”

Ia menoleh.

“Kita datang meminta bantuan.”

Aku mengakhiri rapat dengan daftar kebutuhan pemeriksaan dan surat penawaran yang menjelaskan batas tanggung jawab timku. Dimas menahanku ketika Keisya keluar lebih dahulu.

“Alya, boleh bicara sebentar?”

“Kalau mengenai proyek, silakan kirim melalui sekretaris.”

“Bukan proyek.”

Aku merapikan pena.

“Kalau begitu, hari ini tidak.”

Malamnya, aku duduk bersama Raka di kantor. Ia membaca dokumen awal sambil mengerutkan dahi.

“Kamu yakin sanggup menangani ini?”

“Aku sanggup memeriksa bangunannya. Yang belum kutahu, apakah mereka sanggup menerima hasilnya.”

Raka mengangguk.

Kami membagi pekerjaan. Aku memimpin pemeriksaan teknis, sedangkan pemeriksaan transaksi dilakukan akuntan independen yang ditunjuk pemberi dana proyek. Semua temuan harus memiliki bukti. Aku tidak ingin kemarahanku menjadi celah untuk meragukan hasil kerja tim.

Pada hari ketiga, kami menemukan masalah yang jauh lebih mendesak daripada pembayaran.

Drainase di sisi kawasan belum terhubung ke saluran utama. Beberapa penyangga sementara juga sudah dilepas, padahal pekerjaan di atasnya belum dinyatakan aman.

Mandor lapangan menunjukkan pesan perintah.

“Katanya harus terlihat rapi sebelum kunjungan investor.”

Pengirimnya Keisya.

Aku meminta area tersebut ditutup sementara dan menyampaikan temuan kepada pemilik proyek. Sore itu, rapat darurat diadakan.

Keisya datang membawa pengacara perusahaan.

“Bu Alya terlalu membesar-besarkan kondisi lapangan,” katanya. “Penghentian pekerjaan bisa menimbulkan kerugian.”

Aku menampilkan foto, hasil pengukuran, dan urutan pekerjaan yang seharusnya dipenuhi.

“Tim kami tidak akan mengubah kesimpulan untuk mengejar jadwal kunjungan.”

Dimas membaca laporan tanpa menyela.

Ketika Keisya kembali mendesaknya, ia mengangkat tangan.

“Aku sedang membaca.”

Tiga kata sederhana itu membuat tenggorokanku tercekat. Empat tahun lalu, hanya itulah yang kuminta darinya.

Namun, kali ini aku tidak merasa menang.

Aku hanya teringat betapa mudahnya semua ini seharusnya dilakukan sejak dahulu.

Pemeriksaan keuangan kemudian menemukan bahwa dana pemasok telah dialihkan ke beberapa rekening lain. Material yang diklaim dibeli tidak pernah tiba. Sejumlah faktur memakai nomor pengiriman yang sama.

Keisya dinonaktifkan dari proyek selama pemeriksaan berlangsung.

Dimas juga diminta menyerahkan kewenangan persetujuan pembayaran sementara. Tanda tangannya berada pada dokumen-dokumen yang seharusnya ia periksa.

“Aku percaya kepadanya,” katanya dalam rapat.

Akuntan di seberang meja menjawab tenang.

“Kepercayaan tidak menggantikan verifikasi, Pak.”

Dimas menunduk.

Esok paginya, sekretarisku menyerahkan amplop dari seorang mantan pegawai perusahaan Dimas.

Namanya Sari. Dahulu ia bekerja di bagian pengadaan.

Di dalam amplop terdapat salinan surel empat tahun lalu, beserta permintaan agar ia boleh memberikan keterangan.

Aku meneleponnya.

“Saya mengirim laporan ini kepada Bapak Direktur waktu itu,” katanya. “Tapi setelah kejadian di ruang arsip, saya dipindahkan. Saya pikir Mbak Alya sudah tahu.”

Aku membaca surel tersebut sekali lagi.

Seminggu sebelum kecelakaan rak, aku pernah meminta pemeriksaan terhadap pemasok yang diajukan Keisya. Perusahaan itu menggunakan alamat rumah kerabatnya.

Aku sudah melupakan permintaan tersebut. Saat itu aku menganggapnya pekerjaan rutin.

Dalam surel balasan, Keisya meminta Sari menahan dokumen sampai seleksi kepala proyek selesai.

Dadaku terasa dingin.

Kejadian ruang arsip rupanya bukan sekadar persaingan jabatan.

Aku menyerahkan arsip itu kepada pemeriksa melalui jalur resmi. Kemudian, dari rumah, kukeluarkan penyimpanan lama yang tak pernah berani kubuka lagi.

Rekaman CCTV masih ada.

Rak jatuh sebelum aku masuk.

Di layar kecil itu, diriku yang empat tahun lebih muda berlari menghampiri Keisya untuk menolongnya.

Aku menutup laptop dan menangis lama.

Bukan karena masih mencintai Dimas, melainkan karena baru sekarang aku mampu memandang perempuan dalam rekaman itu tanpa ikut menyalahkannya.

Dua minggu kemudian, laporan awal selesai. Pemilik proyek menyetujui perbaikan bertahap dengan pengawasan baru. Pembayaran bermasalah diteruskan untuk pemeriksaan lebih lanjut. Tim kami mendapat penugasan lanjutan dengan kewenangan yang jelas.

Dimas meminta bertemu setelah seluruh dokumen ditandatangani.

Kali ini aku menerima, di ruang rapat, selama tiga puluh menit.

Ia meletakkan sebuah kotak kecil di meja.

“Cincin yang seharusnya kubawa ke rumahmu.”

Aku tidak menyentuhnya.

“Aku sudah melihat rekamannya,” katanya. “Aku juga membaca surel Sari.”

“Lalu?”

“Aku salah. Bukan cuma karena percaya Keisya. Aku sengaja tidak mendengarkanmu karena lebih mudah menyuruhmu mengalah.”

Aku menatapnya. Untuk pertama kalinya, permintaan maafnya tidak menyisakan alasan.

“Aku menghargai kamu mengatakannya.”

“Masih adakah kemungkinan untuk kita?”

“Tidak, Dimas.”

Ia menarik napas panjang.

“Aku mengerti.”

Sebelum pergi, ia menyerahkan surat pencabutan tuduhan yang telah dikirimkan kepada pihak-pihak yang dahulu menerima laporan tentangku.

Itulah satu-satunya benda darinya yang kubawa pulang.

Sebulan kemudian, aku kembali ke Seraya untuk peresmian klinik pekerja. Raka menungguku di dermaga dengan helm proyek di tangan.

“Jakarta sudah selesai?”

“Untuk sekarang.”

Di halaman klinik, para pekerja dan warga berkumpul. Seorang ibu menyerahkan map berisi foto pembangunan sejak awal.

Pada foto pertama, aku berdiri dengan koper di dekat pelabuhan, wajah sembap, sepatu kotor oleh lumpur.

Di belakang foto, ada tulisan mandor lama kami.

Hari pertama Bu Alya datang. Katanya cuma setahun. Semoga betah, karena di sini kami perlu orang yang mau mendengarkan.

Aku tersenyum sambil menyeka mata.

Dulu aku tiba di pulau itu dengan keyakinan bahwa seseorang telah membuangku dari masa depanku.

Kini, sambil memandangi pintu klinik yang terbuka, aku menyadari bahwa di tempat itulah aku mulai membangunnya sendiri.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang