KAKAKKU MENOLAK LAMARAN PRIA SEDERHANA, LALU AKU MENIKAH DENGANNYA—

Map cokelat itu jatuh di atas meja dengan bunyi berat. Maya menatap Fajar, lalu Dimas, seolah sedang menghitung pintu mana yang paling dekat.

“Jangan membuat keributan,” bisiknya.

Fajar menarik kursi, tetapi tidak duduk.

“Aku cuma ingin tahu uangnya dipakai untuk apa.”

Dimas memberi isyarat kepada pelayan agar kami dipindahkan ke sudut yang lebih sepi. Aku duduk di samping suamiku. Tanganku dingin, sementara kalimat Maya tentang rumah kami masih berputar di kepala.

“Siapa yang mengajakmu datang?” tanya Maya kepada Fajar.

“Aku,” jawabku.

Tiga pasang mata beralih kepadaku.

Sebelum berangkat, aku memang mengirim pesan kepada Fajar. Bukan untuk mempermalukan kakakku. Aku ingin memastikan apakah mereka benar sedang mengurus perpisahan seperti yang belakangan Maya ceritakan kepada Ibu.

Jawaban Fajar membuatku gelisah. Mereka belum pernah membicarakan proses itu secara serius.

“Aku tidak tahu kamu akan membawa berkas,” lanjutku.

Fajar membuka map. Ada salinan transaksi, percakapan, dan sebuah surat penawaran investasi.

“Seratus delapan puluh juta,” katanya. “Dipindahkan sedikit-sedikit selama tiga bulan. Katamu untuk uang sekolah anak dan biaya kantor.”

Maya menggeleng.

“Itu uangku juga.”

“Sebagian berasal dari tabungan bersama. Sebagian lagi uang operasional usaha yang kamu pegang.”

Aku menatap nama penerima transfer.

Bukan nama Dimas.

Bukan pula nama perusahaannya.

“Surya Pranata siapa?” tanyaku.

Wajah Maya memucat.

Dimas mengambil lembar penawaran yang didorong Fajar.

“Ini memakai logo perusahaanku.”

Aku ikut membaca. Di bagian bawah tercantum rencana pembukaan cabang dan janji pembagian keuntungan tetap setiap bulan.

Dimas mengeluarkan ponsel, memeriksa sesuatu, lalu mengangkat wajah.

“Kami tidak pernah menawarkan investasi ini.”

“Jangan bohong,” kata Maya cepat. “Surya menunjukkan foto kalian.”

“Dia pernah menjadi tenaga pemasaran lepas. Kerja samanya sudah berakhir tahun lalu.”

Maya membuka tas dengan tangan gemetar. Ia mencari ponsel, menekan sebuah nomor, lalu menempelkannya ke telinga.

Tidak tersambung.

Ia mencoba lagi.

Aku mulai memahami bahwa ada sesuatu yang lebih besar daripada percakapan memalukan yang baru saja kudengar. Namun, itu tidak membuat luka di dadaku berkurang.

“Kak,” kataku, “kenapa datang ke rumah dan melihat map Dimas?”

Maya tidak menjawab.

“Apa yang Kakak cari?”

Ia menatap meja.

“Tanda tangan.”

Dimas meletakkan berkasnya.

“Untuk apa?”

“Surya bilang administrasinya kurang lengkap. Dia minta contoh tanda tangan dan nomor kontrak proyek supaya berkas penyertaanku bisa diproses.”

Aku teringat tangan Maya yang menjauh dari meja kerja suamiku.

Gaun yang dipinjamnya ternyata hanya alasan untuk masuk kamar.

Fajar duduk perlahan. Kemarahannya berubah menjadi kelelahan.

“Kenapa kamu tidak bertanya langsung kepada Dimas?”

Air mata Maya mulai jatuh.

“Karena dia bilang ini penawaran terbatas. Dimas belum mau keluarga tahu.”

Dimas menggeleng.

“Kak Maya, kalau seseorang memakai namaku, kamu bisa meneleponku.”

“Aku malu.”

“Malu karena apa?”

Maya memandangku sekilas.

“Karena aku mau membuktikan bahwa aku juga bisa berhasil.”

Aku menahan napas.

Selama bertahun-tahun, ia selalu menjadi orang yang paling dikagumi dalam keluarga. Pernikahannya mewah, rumahnya besar, liburannya jauh. Ketika usaha Fajar menurun, semua itu berubah.

Namun, alih-alih meminta bantuan, ia mempertaruhkan uang yang tidak seluruhnya boleh dipakainya.

“Lalu kenapa mengajak Dimas kembali?” tanyaku.

Maya menangis lebih keras.

Aku tidak mengalihkan pandangan.

“Investasi palsu tidak membuat kalimat Kakak tadi keluar dengan sendirinya.”

Lama sekali ia diam.

“Aku pikir kalau Dimas masih punya perasaan kepadaku, dia akan menolong.”

Dimas bersandar, wajahnya mengeras.

“Dengan meninggalkan istriku?”

“Aku panik.”

“Dan yang Kakak pilih untuk dikorbankan aku,” kataku.

Maya mengangkat kepala.

“Rani, aku tidak bermaksud—”

“Kakak bilang rumah itu seharusnya milik Kakak. Aku mendengarnya sendiri.”

Tidak ada jawaban.

Kotak kecil di meja akhirnya kubuka. Di dalamnya tergeletak jam tangan lama dengan tali kulit retak.

Maya masih menyimpannya setelah bertahun-tahun.

Bukan karena jam itu berharga. Malam ini ia membawanya sebagai bukti bahwa pernah ada tempat untuknya dalam hidup Dimas.

Suamiku menutup kotak itu.

“Aku pernah ingin menikah denganmu,” katanya tenang. “Kamu menolak. Setelah itu hidup kita berjalan. Aku menikahi Rani karena mencintainya, bukan karena dia tersedia setelah kamu pergi.”

Aku menunduk. Baru saat itulah air mataku jatuh.

Pertemuan berakhir tanpa pelukan atau janji bahwa semuanya akan kembali baik-baik saja. Dimas meminta salinan dokumen yang memakai nama perusahaannya. Fajar membawa Maya pulang setelah mereka sepakat menyimpan seluruh bukti dan mencari pendampingan.

Di mobil, Dimas tidak langsung menyalakan mesin.

“Maaf membuatmu menunggu di meja lain.”

“Aku setuju tadi.”

“Tapi kamu seharusnya tidak perlu mendengar ucapan itu sendirian.”

Aku mengusap pipi.

“Yang menyakitkan bukan karena kamu pernah mencintainya, Mas. Aku tahu itu sejak awal.”

Dimas menunggu.

“Aku cuma lelah dianggap mendapat sisa hidup Kak Maya.”

Ia menggenggam tanganku.

“Kita membangun hidup ini berdua. Tidak ada bagian darinya yang merupakan sisa.”

Beberapa hari kemudian, pemeriksaan dokumen mengungkap bahwa Surya menawarkan investasi serupa kepada orang lain. Dimas melaporkan penggunaan identitas perusahaannya. Maya dan Fajar memberikan bukti transfer serta percakapan mereka.

Uangnya tidak langsung kembali. Pernikahan mereka juga tidak mendadak pulih. Fajar meminta pengelolaan keuangan dipisahkan sementara dan seluruh kewajiban dibicarakan terbuka.

Aku berhenti meminjamkan uang kepada Maya. Untuk keponakanku, bantuan kuberikan langsung sesuai kebutuhan.

Sebulan kemudian, kakakku datang mengembalikan gaun.

Ia berdiri di teras, tidak meminta masuk.

“Gaunnya sudah kucuci.”

“Terima kasih.”

Maya menyerahkan tas, lalu mengeluarkan sebuah amplop tipis.

“Ada satu hal lagi.”

Di dalamnya ada kuitansi pegadaian bertanggal enam tahun lalu.

Nama Dimas tercantum sebagai penerima.

Aku mengerutkan kening.

“Dulu dia menjual cincin yang kubalikan,” kata Maya. “Aku baru menemukan salinan ini bersama kotak jam.”

Aku memandang angka pada kuitansi itu. Jumlahnya sama dengan modal awal yang pernah Dimas ceritakan untuk membeli alat servis pertamanya.

Maya mengusap matanya.

“Aku selama ini merasa kamu mengambil masa depan yang seharusnya jadi milikku.”

Ia menarik napas.

“Padahal masa depan itu bahkan belum ada waktu aku pergi. Kalian yang membuatnya.”

Aku menerima permintaan maafnya tanpa mengatakan bahwa aku sudah memaafkan.

Setelah ia pulang, kutemukan Dimas di dapur, kembali membungkuk di bawah wastafel.

“Kerannya bocor lagi?” tanyaku.

“Sedikit.”

Aku duduk di lantai dan menyodorkan kunci pas yang dimintanya.

Rumah kami belum sempurna. Ada yang selalu perlu diperbaiki.

Tetapi di rumah ini, aku tahu siapa yang akan tetap tinggal untuk mengerjakannya bersamaku.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang