KELUARGAKU DIAM-DIAM MEMBIARKAN KAKAKKU MENDEKATI CALON SUAMIKU—

Pesan balasan masuk ketika Ibu sedang membahas warna bunga di meja akad.

Keberangkatan dikonfirmasi. Mohon hadir di kantor program pukul delapan pagi untuk pengarahan akhir.

Aku mematikan layar.

“Nadira, kamu dengar?” tanya Ibu.

“Dengar, Bu.”

“Jangan semuanya diserahkan kepada orang lain. Ini pernikahanmu.”

Aku menatapnya, lalu mengangguk pelan.

“Karena itu, besok aku akan mengurus bagianku sendiri.”

Malam itu, aku tidak mengemasi seluruh hidupku. Hanya pakaian secukupnya, dokumen, dan barang yang sudah tercantum dalam daftar perlengkapan misi. Paspor serta berkas profesiku sejak awal tersimpan di rumahku sendiri, bukan di apartemen Arga tempat aku sesekali singgah selama persiapan pernikahan.

Aku pulang dengan alasan mengambil sepatu.

Di rumah, aku menelepon sahabatku, dr. Sekar.

“Aku butuh kamu menemaniku besok.”

“Ke kantor program?”

“Dan mengirimkan beberapa surat setelah aku berangkat.”

Sekar tidak langsung menjawab.

“Pernikahannya?”

“Batal.”

Kata itu akhirnya kuucapkan. Setelahnya, aku duduk di lantai kamar dan menangis sampai Sekar datang.

Pukul delapan pagi, aku mengikuti pengarahan. Jadwal keberangkatan memang dipercepat karena seorang dokter batal bergabung. Vaksinasi, pemeriksaan kesehatan, pelatihan keamanan, dan dokumen perjalananku sudah diselesaikan selama proses seleksi sebelumnya. Koordinator tetap memeriksa semuanya satu per satu.

“Keputusan ini tidak boleh hanya menjadi cara melarikan diri,” katanya ketika kami berbicara berdua.

Aku mengangguk.

“Saya tahu. Saya sudah menginginkan pekerjaan ini sebelum masalah keluarga saya terjadi.”

Ia menatapku beberapa saat, lalu menyerahkan jadwal perjalanan.

“Kalau begitu, pastikan Anda menyelesaikan urusan pribadi sejauh yang diperlukan. Di lapangan, tim membutuhkan perhatian penuh Anda.”

Siangnya, bersama Sekar, aku mendatangi penyelenggara pernikahan.

Tidak ada rencana mempermalukan siapa pun di depan tamu. Aku meminta acara dibatalkan, menghitung kewajiban yang masih harus dibayar, dan menyiapkan pemberitahuan singkat kepada undangan.

Beberapa uang muka tidak dapat dikembalikan. Untuk makanan yang bahannya sudah dibeli, kami menyepakati pengolahan dan penyaluran melalui dapur sosial yang biasa bekerja sama dengan rumah sakit.

Kerugian itu menyakitkan. Namun, aku tidak akan menikah hanya agar pembayaran gedung terasa tidak sia-sia.

Sore harinya, Arga menjemputku di rumah.

Aku sudah menunggunya di teras. Koper berada di dalam, tidak terlihat dari pintu.

“Kamu kelihatan lelah,” katanya.

“Aku memang lelah.”

Ia duduk di sebelahku.

“Aku sudah meminta Maya mengurangi komunikasi.”

“Kenapa harus dikurangi?”

Arga mengernyit.

“Bukannya itu yang kamu inginkan?”

Aku membuka foto dua tiket pesawat di ponsel.

Wajahnya berubah.

“Jelaskan.”

Ia terdiam cukup lama.

“Rafi akan menjalani pemeriksaan di Bali. Maya butuh ditemani.”

“Mana tiket Rafi?”

Arga menatap layar.

“Dibeli terpisah.”

“Pemeriksaan di mana?”

“Nadira, jangan seperti sedang menginterogasi.”

“Aku dokter. Kalau seorang anak memerlukan pemeriksaan sampai ke Bali, aku ingin tahu kenapa keluargaku merahasiakannya.”

Arga mengusap tengkuk.

Akhirnya ia berkata, “Tidak ada pemeriksaan.”

Aku memalingkan wajah. Mendengar pengakuannya ternyata tetap menyakitkan, meskipun aku sudah menduga.

“Maya sedang tertekan. Aku ingin memberinya waktu beristirahat.”

“Dua hari setelah menikah denganku.”

“Aku akan menjelaskannya setelah acara selesai.”

“Kenapa setelahnya?”

Ia membuka mulut, lalu menutupnya lagi.

Aku mengeluarkan cincin dari kotak kecil di samping kursi.

“Karena sebelum acara, aku masih bisa memilih pergi?”

Arga tidak mengambil cincin itu.

“Kami belum melakukan apa-apa.”

“Yang kamu rahasiakan sudah terjadi. Yang kamu rencanakan juga sudah nyata.”

“Nadira, sembilan tahun bukan waktu sebentar.”

“Justru karena sembilan tahun, aku memberimu kesempatan menjawab dengan jujur.”

Aku meletakkan kotak cincin di telapak tangannya.

“Pernikahan kita batal.”

Arga berdiri.

“Kita bicarakan dengan orang tuamu.”

“Keputusan ini tidak memerlukan pemungutan suara.”

Untuk pertama kalinya, pangkat dan kebiasaannya memberi perintah tidak membuatku mundur. Ia pergi setelah beberapa kali meminta agar aku menunggu.

Satu jam kemudian, Ibu menelepon.

“Kamu menghancurkan semuanya!”

Aku memegang ponsel dengan kedua tangan.

“Aku membatalkan pernikahan, Bu. Bukan menghancurkan hidup siapa pun.”

“Maya sedang rapuh. Kamu harusnya bisa memahami.”

“Aku mendengar percakapan Ibu dan Ayah malam itu.”

Di seberang, suara Ibu berhenti.

“Aku dengar Ibu bilang mengalah sedikit tidak akan menghancurkan hidupku.”

“Nadira…”

“Aku juga anak Ibu.”

Kalimat itu keluar sebagai bisikan.

Aku mengakhiri telepon sebelum keberanianku habis.

Di bandara, Sekar memelukku lama. Pemberitahuan pembatalan baru dikirim setelah aku melewati pemeriksaan keberangkatan, sesuai kesepakatan dengan penyelenggara. Isinya hanya menyebut keputusan pribadi dan permohonan maaf atas perubahan rencana.

Tidak ada foto tiket. Tidak ada tuduhan yang disebarkan.

Namun, kepada keluargaku, aku mengirim surat yang berbeda.

Aku menjelaskan apa yang kulihat dan kudengar. Aku meminta mereka tidak menghubungi tempat tugasku untuk urusan pribadi. Untuk sementara, komunikasi hanya melalui pesan.

Pesawat tinggal menunggu keberangkatan ketika pesan Ayah masuk.

Ayah salah. Bukan karena diam saja. Ayah ikut menyuruhmu menerima sesuatu yang Ayah sendiri tidak akan sanggup menerimanya.

Aku membaca pesan itu berkali-kali.

Kemudian kusimpan ponsel tanpa membalas.

Di tempat tugas, hari-hariku dipenuhi pengarahan, pemeriksaan alat, dan pekerjaan bersama tim setempat. Aku tidak mendadak sembuh karena berada jauh. Kadang aku menangis setelah sif berakhir. Kadang aku hampir menghubungi Arga ketika melihat sesuatu yang dahulu pasti ingin kuceritakan kepadanya.

Tetapi perlahan, aku mulai mengenali diriku di luar hubungan itu.

Enam minggu kemudian, Maya mengirim pesan.

Arga membatalkan perjalanan kami. Dia juga tidak mau menemuiku lagi.

Aku menatap kalimat itu lama sebelum menjawab.

Itu urusan kalian. Aku tidak pergi supaya dia memilih Kakak.

Balasannya datang malam hari.

Aku tahu. Aku cuma baru sadar selama ini menganggap kebahagiaanmu sesuatu yang bisa dipinjam karena hidupku sedang berantakan.

Aku belum memaafkannya. Tetapi untuk pertama kalinya, ia tidak menyebut Rafi sebagai alasan.

Tiga bulan setelah keberangkatan, Sekar mengirim foto sebuah kotak yang dititipkan Ayah. Di dalamnya ada kebaya pernikahanku yang belum pernah kupakai, sudah dilipat rapi.

Terselip catatan kecil.

Ayah tidak tahu apakah kamu masih menginginkannya. Ayah simpan sampai kamu memutuskan sendiri.

Aku menangis membacanya.

Bukan karena ingin mengenakan kebaya itu bersama Arga.

Melainkan karena akhirnya, seseorang di keluargaku mengerti bahwa hidupku bukan milik bersama yang boleh mereka atur.

Dan kali ini, mereka menunggu keputusanku.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang