Pukul lima pagi, sebelum taksi datang, kukirim satu pesan ke grup keluarga.
“Aku membatalkan pernikahan dengan Arga. Aku sudah melihat foto formulir atas nama Arga dan Laras. Jangan melanjutkan persiapan. Untuk urusan pembatalan vendor, hubungi aku lewat surel.”
Sesudah itu, ponselku berdering tanpa henti.
Aku membiarkannya sampai nama Ayah muncul.

“Naya, kamu di mana?”
“Masih di apartemen.”
“Jangan mengambil keputusan sebelum mendengar penjelasan.”
“Semalam aku masih bisa diberi penjelasan, Yah. Minggu lalu juga.”
“Itu bukan seperti yang kamu pikirkan.”
Aku menatap koper di dekat pintu.
“Kalau begitu, kirim dokumennya. Semua halaman. Aku tidak mau mendengar potongan cerita lagi.”
Ayah terdiam.
Di belakangnya terdengar suara Ibu menangis.
Aku menutup telepon ketika sopir mengabarkan sudah tiba. Sebelum berangkat ke bandara, aku menitipkan kunci apartemen kepada Bibi Ratih. Kepadanya saja kuberitahukan bahwa aku mendapat penempatan medis selama setahun.
Bibi tidak bertanya apakah aku yakin.
Ia hanya memelukku.
“Kalau nanti kamu sedih, telepon. Tidak perlu menunggu sampai kuat.”
Kalimat itu membuat pertahananku runtuh. Untuk pertama kalinya sejak malam di gang, aku menangis.
Di bandara, sebuah surel dari Laras masuk.
Lampirannya berupa permohonan pengangkatan anak.
Nama anak itu Rafi.
Aku duduk perlahan di kursi tunggu. Formulir yang kulihat dalam foto ternyata bukan dokumen pernikahan. Namun, kelegaan yang sempat muncul segera hilang ketika kubaca pesan Laras.
“Arga ingin menjadi ayah bagi Rafi. Kami sudah membicarakannya sejak tahun lalu. Aku tahu kami salah menyembunyikannya.”
Sejak tahun lalu.
Selama aku memilih undangan, menabung biaya resepsi, dan membicarakan rumah bersama Arga, mereka telah merencanakan sesuatu yang tak pernah melibatkanku.
Aku menelepon Laras.
“Kalian punya hubungan?”
Ia menangis sebelum menjawab.
“Iya.”
Satu kata itu terasa lebih menyakitkan daripada seluruh prasangkaku.
“Sejak kapan?”
“Awalnya cuma sering bertemu karena Rafi. Setelah perceraianku, Arga banyak membantu.”
“Sejak kapan, Kak?”
“Hampir setahun.”
Pengumuman penerbangan terdengar dari pengeras suara. Orang-orang bangkit di sekelilingku, menarik koper, merapikan tas.
Aku tetap duduk.
“Kenapa membiarkanku menyiapkan pernikahan?”
“Arga bilang dia akan bicara. Tapi setiap kali mendekati waktunya, Ibu bilang menunggu sampai Ayah lebih tenang. Lalu undangan sudah dicetak…”
“Jadi kalian menunggu sampai aku terlanjur menikah?”
“Tidak begitu.”
“Lalu bagaimana?”
Laras tidak menjawab.
Kututup telepon dan berjalan menuju pemeriksaan paspor. Kakiku terasa ringan dan asing, seolah tubuhku belum memahami apa yang baru saja kudengar.
Pesawat membawaku menuju pusat koordinasi misi di Kuala Lumpur sebelum penempatan berikutnya. Keberangkatanku sudah melalui rumah sakit, pemeriksaan kesehatan, dan persetujuan organisasi. Tetapi di dalam kabin, semua persiapan itu terasa lebih sederhana daripada menjawab satu pertanyaan: mengapa keluargaku memilih menjaga perasaan semua orang kecuali aku?
Arga mengirim surel panjang saat aku tiba.
Ia mengaku mencintai Laras, tetapi takut mengakhiri hubungan denganku karena keluarganya telanjur dekat dengan keluargaku. Ia berharap perasaannya kepada Laras akan hilang setelah kami menikah.
Aku membaca kalimat itu dua kali.
Kemudian kubalas.
“Aku tidak akan menikah dengan seseorang yang berharap menjadikanku obat untuk perasaannya kepada orang lain. Tolong selesaikan pembatalan dengan keluargamu. Barang-barangmu akan diserahkan Bibi Ratih.”
Aku tidak membalas pesan berikutnya.
Minggu-minggu pertama penugasan berjalan berat. Aku mempelajari prosedur klinik, bekerja bersama tenaga medis setempat, dan mengikuti jadwal yang sering berubah. Malam hari, ketika kesibukan mereda, aku masih terbangun dengan tangan mencari ponsel.
Kadang aku ingin menelepon Ibu hanya untuk menceritakan makan malamku.
Lalu aku teringat sup hangat yang dibawanya dan nasihat agar aku tidak terlalu menuntut suami.
Aku akhirnya mencari pendampingan psikologis melalui program staf. Dalam sesi pertama, aku lebih banyak diam.
“Aku malu,” kataku akhirnya. “Semua orang tahu sebelum aku.”
Psikolog itu menungguku melanjutkan.
“Aku juga merasa bersalah karena pergi.”
“Siapa yang harus kamu lindungi dengan tetap tinggal?”
Aku menangis sebelum menemukan jawaban.
Sebulan kemudian, Bibi mengirim laporan pembatalan. Sebagian uang muka hangus. Sebagian dikembalikan. Aku membayar bagian yang menjadi tanggunganku dan meminta bukti tertulis untuk setiap transaksi.
Gaun pengantin disimpan di rumah Bibi.
Cincin sudah dikembalikan.
Namun, ada satu kiriman yang tidak kuduga.
Sebuah rekaman suara Rafi.
“Tante Naya, Ibu bilang Tante kerja jauh. Aku boleh kirim gambar lagi?”
Aku mendengarkannya sambil menutup mulut.
Malam itu aku membalas melalui Bibi, mengatakan bahwa aku senang menerima gambarnya. Aku tidak bertanya tentang Arga. Aku juga tidak menitipkan pesan kepada Laras.
Rafi tidak perlu menjadi penghubung di antara orang dewasa yang sedang saling melukai.
Empat bulan setelah keberangkatanku, Ayah mengirim surat melalui Bibi.
Bukan permintaan agar aku pulang.
Ia menulis bahwa makan malam rahasia itu sebenarnya direncanakan untuk memaksa Arga menentukan pilihan sebelum pernikahan. Tetapi ketika Arga meminta waktu, Ayah kembali mengalah.
“Kami menyebutnya menjaga keluarga,” tulisnya. “Padahal kami sedang menghindari pertengkaran dan membiarkanmu menanggung akibatnya.”
Untuk pertama kalinya, aku membaca penjelasan yang tidak memintaku memahami mereka lebih dahulu.
Aku membalas singkat.
“Aku belum siap pulang. Tetapi aku membaca surat Ayah.”
Setahun kemudian, aku kembali ke Indonesia untuk bekerja di unit layanan kesehatan bergerak. Aku menyewa tempat tinggal sendiri. Pertemuan pertama dengan orang tuaku berlangsung di sebuah kedai, didampingi Bibi.
Ibu menangis. Ayah tidak menyuruhku memaafkan.
Laras tidak datang karena aku belum menginginkannya.
Arga dan Laras akhirnya menikah beberapa bulan setelah kepergianku. Mengetahuinya masih membuat dadaku nyeri, tetapi tidak lagi membuatku ingin kembali menjadi perempuan yang menunggu di balik pagar.
Sore itu, sebelum kami berpisah, Bibi menyerahkan map gambar Rafi.
Di halaman terakhir, ia menggambar rumah dengan empat orang di depan pintu. Aku mengenali dirinya, Laras, Arga, dan satu sosok kecil di tepi kertas.
Di bawah sosok itu tertulis namaku.
Ada panah menuju pintu bertuliskan, “Tante boleh masuk kalau mau.”
Aku mengusap tulisan tersebut.
Selama setahun, orang-orang dewasa memintaku pulang demi keluarga.
Seorang anak justru memahami bahwa pintu seharusnya menjadi undangan, bukan kewajiban.
Gambar itu kubawa ke rumah baruku.
Aku belum siap masuk ke rumah mereka.
Tetapi malam itu, aku menelepon Rafi dan memintanya bercerita tentang sekolah.
