Bungkusan kondom itu masih tersegel, tetapi cukup untuk membuat tangan Mutia gemetar. Semalam Damar menolak saat ia meminta uang untuk membeli gas.
“Uang kita tinggal buat makan, Mut. Jangan banyak kebutuhan dulu.”

Kini benda kecil di telapak tangannya terasa lebih menyakitkan daripada pertengkaran mana pun.
Mutia memotretnya, lalu memasukkannya kembali ke saku celana. Ia meletakkan pakaian itu di keranjang, terpisah dari cucian lain.
Dari halaman depan terdengar suara Damar memanggil.
“Mut, habis ini aku mau keluar. Ada calon pelanggan.”
“Jam berapa?”
“Sekitar sembilan.”
Mutia melirik jam dinding. “Aku juga mau keluar. Mengantar pesanan kue.”
Damar hanya mengangguk. Bahkan ia tidak bertanya pesanan apa, padahal sudah dua bulan Mutia berhenti berjualan karena ovennya rusak.
Pukul sembilan kurang sepuluh, Mutia tiba di Kafe Gardenia. Aksara sudah menunggu, tetapi ia tidak sendirian. Seorang perempuan berkemeja putih duduk di sebelahnya.
Mutia langsung mengenali wajah itu.
“Bu Mawar?”
Perempuan tersebut tersenyum tipis. “Kata Aksa, kamu pembaca buku saya.”
Mutia mengangguk, mendadak kehilangan kalimat yang sudah disiapkannya sepanjang perjalanan.
“Duduk dulu,” ujar Mawar. “Kami ingin mendengar ceritamu.”
Mutia mengeluarkan sebuah foto cetak. Andi mengenakan jas krem, berdiri di samping Laras yang memakai kebaya putih. Di belakang mereka tampak dekorasi bunga dan tulisan tanggal pernikahan.
Wajah Aksara menegang.
“Dari mana foto ini?”
“Suami saya yang mencetaknya. Damar menerima pekerjaan desain undangan dan dokumentasi kecil-kecilan. Foto ini tertinggal di antara berkasnya.”
“Perempuan itu siapa?” tanya Mawar.
“Bu Laras. Pemilik rumah yang sekarang kami tempati. Damar bilang kami boleh tinggal sementara karena dia sering membantu mengurus rumah dan taman.”
Mawar mengamati foto tersebut lama sekali.
“Tanggalnya delapan bulan lalu,” katanya pelan. “Waktu saya masih dirawat setelah operasi.”
Aksara meraih tangan ibunya.
Mutia menunduk. Ia semula membayangkan pertemuan ini akan memberinya kepuasan. Ternyata melihat perempuan lain menerima luka serupa hanya membuat dadanya semakin sesak.
“Sekarang sebutkan syaratmu,” ujar Aksara.
“Saya tidak ingin uang.”
“Lalu?”
“Saya butuh salinan bukti pembayaran dari papa Anda kepada Damar. Kalau memang ada. Saya juga ingin ditemani mengambil barang ketika keluar dari rumah itu.”
Aksara tampak bingung.
“Kenapa harus bukti pembayaran?”
“Karena suami saya mengaku tidak punya penghasilan. Motor saya dijual untuk menutup utangnya. Tabungan saya juga sudah habis.”
Mawar mengangkat wajah.
“Damar yang mengurus rumah Laras?”
“Iya.”
“Sebulan lalu suami saya meminta uang tujuh puluh juta dari rekening usaha bersama. Katanya untuk perbaikan atap rumah itu. Penerimanya bernama Damar Prasetyo.”
Mutia terdiam.
Atap rumah tidak pernah diperbaiki.
Aksara membuka ponselnya. Ia meminta staf keuangan mengirimkan bukti transfer, lalu memperlihatkan layar kepada Mutia. Nama dan nomor rekeningnya benar.
Di kolom keterangan tertulis uang renovasi.
Mutia menekan bibirnya rapat-rapat. Selama ini ia menanak nasi dengan lauk telur agar mereka bisa bertahan sampai akhir bulan. Sementara Damar menyimpan uang sebanyak itu.
“Boleh saya minta salinannya?”
“Boleh,” jawab Mawar. “Tapi kamu tidak harus menghadapi mereka hari ini.”
“Saya sudah terlalu lama tinggal di sana tanpa tahu apa-apa, Bu.”
Sebelum mereka meninggalkan kafe, Aksara menelepon ayahnya.
“Pa, Mama ingin bicara. Tolong datang ke rumah Bu Laras.”
Mutia tidak mendengar jawabannya. Ia sedang memesan mobil dan menghubungi kakaknya di Bekasi.
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ia berkata jujur.
“Mbak, aku mau pulang. Boleh tinggal sementara?”
Jawaban kakaknya membuat air matanya jatuh.
“Alamatmu kirim sekarang. Mbak jemput.”
Mereka tiba menjelang pukul sebelas. Mobil Andi sudah terparkir di halaman. Dari balik pintu terdengar suara pertengkaran.
“Kamu bilang istrimu sudah tahu!” suara Laras meninggi.
“Aku bilang akan kuberi tahu!”
Mutia membuka pintu dengan kuncinya.
Andi berdiri di tengah ruang tamu. Laras berada di dekat sofa, sedangkan Damar muncul dari lorong kamar belakang dengan rambut basah.
Untuk beberapa detik, Mutia hanya menatap rambut itu.
Setiap pagi Damar keramas sebelum pulang dari rumah utama. Alasannya selalu sama, berkeringat setelah membersihkan taman. Mutia bahkan sering menyiapkan handuk bersih agar suaminya nyaman.
Sekarang ia tahu kamar mandi mana yang dipakainya.
“Mut?” Damar memandang orang-orang di belakang istrinya. “Ini apa?”
“Saya yang seharusnya bertanya,” ujar Mawar.
Andi langsung mendekat. “War, dengarkan dulu.”
Mawar mengangkat tangan, menghentikannya.
“Saya datang untuk memastikan. Ternyata benar.”
Mutia berjalan menuju kamar kecil di samping dapur, tempat ia dan Damar tinggal. Ia mengeluarkan koper dari bawah ranjang.
Damar mengikuti.
“Kamu salah paham.”
Mutia meletakkan pakaian ke dalam koper tanpa menjawab.
“Laras memang dekat denganku, tapi keadaannya rumit.”
“Yang tidak rumit itu kamu punya istri.”
Damar meraih tangannya. Mutia segera menarik diri.
“Jangan sentuh aku.”
Dari ruang tamu terdengar Andi membentak Laras, menuntut penjelasan tentang Damar. Laras membalas dengan suara gemetar. Kebohongan yang selama ini disimpan rapi mulai saling bertabrakan.
Damar menutup pintu kamar.
“Kita bisa mulai lagi. Aku masih punya uang.”
Mutia berhenti melipat baju.
“Tujuh puluh juta?”
Wajah Damar berubah.
“Uang renovasi itu,” lanjut Mutia. “Atap mana yang kamu perbaiki?”
“Aku bisa jelaskan.”
“Motorku dijual berapa, Mas?”
Damar tidak menjawab.
“Aku menangis waktu menyerahkan kuncinya. Kamu memelukku dan bilang kita akan melewati kesulitan bersama.”
Lelaki itu menunduk.
Mutia menutup koper. Ia mengambil map berisi ijazah, buku nikah, dan dokumen pribadinya. Di bawah map ada amplop cokelat yang tidak dikenalnya.
Namanya tertulis di bagian depan.
Ketika dibuka, isinya kuitansi penjualan motor beserta uang tunai tiga belas juta rupiah.
Mutia menatap Damar.
“Kenapa uang ini masih ada?”
Damar terduduk di tepi ranjang.
“Aku belum sempat memakainya.”
“Utang yang katamu harus dibayar hari itu?”
Hening.
Mutia memasukkan amplop ke tas. Kali ini ia tidak menangis.
Ketika keluar kamar, Mawar berdiri menunggunya. Kakak Mutia baru tiba di halaman, masih mengenakan seragam kantornya.
Mutia meninggalkan rumah itu di antara dua perempuan yang tidak memintanya menjelaskan mengapa ia terlambat menyelamatkan diri.
Enam bulan kemudian, aroma bolu pandan memenuhi dapur kontrakan kecilnya. Uang motor menjadi modal oven baru. Pesanan mulai datang dari tetangga, kantor kakaknya, lalu pelanggan lain.
Proses perpisahannya masih berjalan. Damar beberapa kali mengirim pesan, tetapi Mutia hanya membalas urusan dokumen.
Suatu sore, paket dari Mawar tiba.
Di dalamnya ada novel terbaru Aksara Novela. Pada halaman pertama, tertera tulisan tangan.
Untuk Mutia, yang datang meminta bukti, lalu mengajari saya untuk berani melihat kenyataan.
Mutia tersenyum. Sebelum sempat membaca lebih jauh, ponselnya berdering. Nomor Damar muncul di layar.
Ia membiarkannya sampai berhenti.
Dari dapur, bunyi pengatur waktu oven terdengar nyaring. Mutia meletakkan buku, mengenakan sarung tangan, lalu bergegas mengangkat kuenya sebelum gosong.
