Ayah tidak langsung menyerahkan dokumen itu kepadaku. Tangannya menahan sudut kertas, seolah ada sesuatu di sana yang lebih menyakitkan daripada hasil tes DNA.
“Ayah pernah membacanya?” tanyaku.

“Bagian depannya. Dulu petugas bilang ada kesalahan administrasi yang sudah diperbaiki. Lembar ini terlipat di belakang salinan tagihan.”
Aku menunduk. Di bawah tanda tangan Arga Prameswari terdapat kalimat yang membuat tenggorokanku tercekat.
Keluarga telah diberi penjelasan mengenai ketidaksesuaian identitas dan diminta menunggu verifikasi sebelum membawa bayi pulang.
“Berarti mereka sudah tahu ada masalah?”
“Ada dugaan,” jawab Ayah perlahan. “Kita belum tahu apa yang dijelaskan kepada mereka.”
Bahkan saat hatinya terluka, Ayah masih berusaha adil.
Ratih dan Arga datang ke rumah kami keesokan sore. Seorang gadis turun dari mobil bersama mereka. Rambutnya sebahu, jemarinya terus meremas tali tas. Aku langsung mengenalinya meskipun belum pernah melihat fotonya.
Keisha memiliki mata Ayah.
Ratih memandangku dengan mata berkaca-kaca, lalu maju hendak memeluk. Tubuhku menegang. Ia berhenti sebelum menyentuh bahuku.
“Kamu tumbuh cantik sekali.”
Aku tidak tahu harus menjawab apa. Di belakangnya, Keisha menunduk semakin dalam.
Ayah menarik kursi untuk mereka semua, kemudian meletakkan dokumen itu di meja.
Arga membacanya. Rahangnya mengeras.
“Saya sudah menjelaskan ini kepada rumah sakit waktu mereka menghubungi kami lagi.”
“Kapan?” tanya Ayah.
“Beberapa hari setelah kepulangan.”
Ruang tamu mendadak sunyi.
Ayah menatapnya. “Saya tidak pernah dihubungi.”
“Itu urusan rumah sakit.”
“Tapi tanda tangan ini milik Mas.”
Arga bersandar, lalu melirik Ratih. Perempuan itu justru menatap lantai.
“Ayah saya baru meninggal saat itu,” katanya akhirnya. “Mama mengalami persalinan sulit. Ketika perawat mempermasalahkan gelang, saya pikir mereka hanya salah memasang.”
“Lalu beberapa hari kemudian?”
Arga tidak menjawab.
Keisha mengangkat wajah. “Mas?”
Ratih meraih gelas, tetapi tangannya gemetar begitu keras hingga air tumpah ke tatakan.
“Kami menerima telepon,” bisiknya. “Mereka meminta kami kembali.”
“Kenapa tidak datang?” tanyaku.
Ratih menangis sebelum sempat menjawab.
Arga berdiri. “Mama belum siap. Kami juga belum yakin mereka benar. Bayi sudah dibawa pulang, keluarga sudah datang, semuanya—”
“Sudah telanjur?” Suara Ayah pelan. “Itu maksud Mas?”
Tidak ada yang menjawab.
Mereka pulang tanpa membicarakan kepindahanku lagi. Sebelum masuk mobil, Keisha menyelipkan secarik kertas ke tanganku.
Nomor teleponnya.
Malam itu pesannya datang.
Aku tidak tahu apa-apa. Tolong percaya.
Aku membalas setelah lama memandangi layar.
Aku tahu.
Dua hari kemudian, kami bertemu di kedai dekat sekolah. Keisha membawa album kecil berisi foto masa kanak-kanaknya. Ada ulang tahun di hotel, liburan ke Jepang, kelas balet.
Namun, ia berhenti paling lama pada foto dirinya bersama seorang perempuan tua yang mengenakan celemek.
“Bu Sumi. Yang menungguiku kalau sakit.”
Aku teringat Ayah, duduk di tepi ranjang sambil meniup bubur.
“Ratih jarang di rumah?”
Keisha mengaduk minumannya.
“Mama menyayangiku. Tapi kadang aku merasa harus selalu berhasil supaya dia tetap senang.”
Ia mengeluarkan selembar foto lain.
“Ini kutemukan di laci Mama setelah tes DNA.”
Seorang perempuan berseragam perawat berdiri di depan rumah sakit. Di belakang foto tertulis nama dan nomor telepon.
Lestari.
Kami menghubunginya bersama Ayah. Perawat yang sudah pensiun itu bersedia menemui kami, tetapi suaranya berubah ketika mendengar nama Arga.
Di rumahnya di Depok, Bu Lestari mendengarkan tanpa menyela. Setelah melihat gelang yang kubawa, ia menutup mata.
“Saya yang memasangnya kembali sebelum kamu diserahkan kepada Pak Bima.”
“Kenapa nama ibu kandung saya masih ada di sana?”
“Karena saya belum yakin pencatatannya benar. Saya melapor kepada kepala ruangan. Waktu itu pergantian sif kacau, lalu ada petugas yang menganggap masalahnya sudah selesai.”
Ia memandang Ayah.
“Saat pemeriksaan internal menemukan dua nomor rekam medis tertukar, saya diminta menghubungi keluarga Prameswari lebih dahulu. Saya pikir pihak administrasi menghubungi Bapak.”
Ayah merapatkan kedua tangannya.
“Mereka tidak pernah menelepon.”
Bu Lestari bangkit mengambil map lama.
“Saya menyimpan salinan laporan karena setelah itu saya diminta menandatangani pernyataan bahwa tidak ada keberatan dari kedua keluarga. Saya menolak.”
Di antara berkas itu ada catatan percakapan telepon. Arga meminta pemeriksaan ditunda. Seminggu kemudian, surat dari kuasa hukum keluarganya datang, meminta rumah sakit menghentikan kontak langsung dengan Ratih.
Ayah membaca semuanya tanpa bicara.
Aku justru merasa dingin.
Selama ini aku membayangkan pertukaran itu sebagai kesalahan beberapa menit. Ternyata ada hari-hari setelahnya ketika seseorang masih bisa membuka pintu dan memperbaikinya.
Mereka memilih menutup pintu itu.
Pertemuan berikutnya berlangsung di rumah kami, didampingi seorang pengacara yang membantu Ayah meminta penjelasan resmi dari rumah sakit.
Kali ini Arga tidak membantah.
“Saya takut Mama kehilangan pegangan lagi,” katanya. “Dia sudah terikat dengan Keisha.”
“Dan Maya?” Ayah bertanya.
Arga menatapnya bingung.
“Istri saya meninggal. Saya bahkan tidak tahu bahwa anak yang dilahirkannya berada di rumah orang lain.”
Keisha menangis tanpa suara.
Ratih berlutut di depan kursiku. Aku segera berdiri karena tidak sanggup melihatnya begitu.
“Ibu salah,” katanya. “Waktu Arga mengaku rumah sakit menelepon, Ibu seharusnya datang. Ibu malah meminta dia mengurus semuanya.”
“Jadi Ibu memilih tidak mencari tahu?”
Ia mengangguk.
Jawaban itu lebih menyakitkan daripada semua pembelaan yang telah kudengar.
“Aku bisa mengenal Ibu,” kataku akhirnya. “Tapi aku tidak akan pindah hanya karena hasil laboratorium.”
Ratih memandang Ayah, mungkin berharap ia akan membujukku.
Ayah menggeleng.
“Nadira boleh punya keluarga lebih banyak. Keputusannya tetap milik dia.”
Keisha lalu mengeluarkan sesuatu dari tasnya. Sebuah buku bayi bersampul biru.
“Ada ini di albumku, Pak.”
Ia menyodorkannya kepada Ayah. Di halaman pertama tertempel foto Maya yang sedang hamil. Rupanya buku itu ikut tertukar bersama tas perlengkapan saat kami dipulangkan.
Di bawah foto, ada tulisan tangan yang kukenal dari surat-surat di rumah.
Bima, kalau aku panik dan merasa tidak bisa jadi ibu, ingatkan aku bahwa kita boleh belajar pelan-pelan.
Ayah menutup mulutnya. Tujuh belas tahun ia kehilangan istrinya, dan sore itu sepotong kecil kehidupan mereka kembali melalui tangan putrinya.
“Boleh saya memanggil Bapak Ayah?” tanya Keisha.
Ayah mengangguk sambil menangis.
Beberapa bulan kemudian, proses pengaduan masih berjalan. Ratih mulai datang setiap Minggu, kadang hanya untuk membantu memotong sayuran. Aku belum bisa memanggilnya Ibu. Ia belajar tidak mendesak.
Keisha lebih sering menginap. Suatu malam, Ayah menemukan kami membaca surat Maya di lantai kamar.
Ia membawa topi rajut krem dari lemari.
“Sayangnya cuma ada satu.”
Keisha mengambilnya, mengamati telinga kelinci yang tidak sama panjang, lalu tersenyum.
“Tidak apa-apa, Yah. Kita pakai bergantian.”
Ayah tertawa. Aku bergeser memberi tempat untuknya.
Untuk pertama kalinya, saat kami membuka surat berikutnya, tidak ada seorang pun yang harus membacanya sendirian.
