Tiga Minggu Sebelum Pernikahanku, Aku Menemukan Nama Tunanganku di Kartu

Tanda tangan palsu itu tampak lebih rapi daripada tanda tanganku sendiri.

Aku mengangkat formulir tersebut, lalu memandang Raka.

“Siapa yang membuat ini?”

“Nad, kita bicara di luar.”

“Jawab di sini.”

Citra berdiri kaku di depan cermin. Gaun itu terlalu panjang untuknya. Bagian bawahnya menumpuk di lantai, sementara liontin Ibu berkilat di dadanya.

“Aku yang tanda tangan,” kata Raka akhirnya. “Cuma supaya prosesnya tidak tertunda.”

Pemilik butik, Bu Lestari, segera mendekat.

“Mas Raka bilang Mbak Nadira sedang mendampingi ibunya kontrol dan sudah menyetujui semuanya.”

“Ibu saya sedang pemulihan,” jawabku. “Beliau tidak tahu apa-apa tentang ini.”

Wajah Bu Lestari berubah. Ia meminta staf mencatat percakapan kami dan menghentikan seluruh perubahan pesanan.

Aku mengulurkan tangan kepada Citra.

“Liontinnya.”

Citra menyentuh kalung itu dengan jari gemetar.

“Raka bilang ini hadiah untukku.”

“Dari kotak perhiasanku?”

Ia menatap Raka. Lelaki itu justru memalingkan wajah.

Perlahan, Citra melepas kalung tersebut. Ketika liontin itu kembali ke telapak tanganku, sesuatu dalam dadaku akhirnya pecah.

Aku masih sanggup menahan tangis ketika menemukan kartu keluarga mereka. Namun, melihat benda terakhir pemberian Ibu diperlakukan seperti barang yang bisa dipindahkan begitu saja membuat napasku tersendat.

Bu Lestari membawaku ke ruang kerjanya dan menyodorkan air.

“Gaun itu atas nama Mbak. Tidak akan keluar tanpa persetujuan langsung dari Mbak,” katanya.

Aku mengangguk, lalu meminta salinan formulir dan riwayat perubahan pesanan.

Di luar ruangan, suara Citra meninggi.

“Kamu bilang dia sudah tahu!”

Aku berhenti minum.

Raka menjawab pelan, tetapi ruangan itu terlalu sunyi untuk menyembunyikan suaranya.

“Aku akan memberitahunya.”

“Kapan? Setelah semua tamunya datang?”

Kutaruh gelas di meja dan membuka pintu.

“Tamu siapa?”

Citra menatapku dengan mata basah.

“Raka bilang kalian sepakat membatalkan hubungan, tapi acara tetap berjalan karena keluarganya tidak mau malu. Katanya aku akan dikenalkan sebagai istrinya.”

Aku merasakan lantai seperti bergeser.

Jadi, ketika ia menyuruhku tetap mengenakan gaun pengantin, bukan pernikahan yang sedang ia perjuangkan. Ia hanya membutuhkan aku untuk menenangkan keluargaku, menghentikan pembatalan, dan menjaga semua pembayaran tetap utuh.

“Apa sebenarnya rencanamu?” tanyaku.

Raka mengusap wajah.

“Aku belum memutuskan.”

“Kamu sudah menikah. Kamu sudah mengganti nama pemakai gaun. Apa yang belum kamu putuskan?”

Ia tidak menjawab.

Citra meraih map dari tasnya. Di dalamnya ada susunan acara dengan nama mereka berdua. Gedungnya sama. Tanggalnya sama. Bahkan nomor kontak katering masih nomor yang kusimpan sejak enam bulan lalu.

Tanganku mendadak dingin.

“Kamu mau memakai pesta yang sebagian besar dibayar keluargaku?”

“Aku akan menggantinya,” kata Raka cepat.

“Dengan apa?”

Pertanyaan itu membuat Citra menoleh kepadanya.

Raka menatap kami bergantian, seperti baru menyadari dua cerita berbeda yang ia susun akhirnya bertemu di ruangan yang sama.

Aku memotret susunan acara itu, mengembalikan map kepada Citra, lalu menelepon kakakku.

“Tolong jemput aku. Aku tidak ingin menyetir.”

Malam itu, aku menceritakan semuanya kepada Ibu.

Beliau duduk di tepi ranjang dengan bantal menyangga punggung. Aku sudah menyiapkan banyak kalimat agar ceritaku tidak membuat kondisinya memburuk. Namun, baru menyebut nama Raka, aku langsung menangis.

Ibu menarikku ke pelukannya.

“Maaf, Bu. Uangnya banyak sekali yang hilang.”

Beliau mengusap rambutku.

“Uang bisa kita hitung nanti. Sekarang biarkan Ibu memastikan kamu baik-baik saja.”

Keesokan harinya, kakakku menemaniku menemui pendamping hukum. Kami membawa bukti pembayaran, formulir butik, dan dokumen rumah yang belum kutandatangani.

Pemeriksaan berkas menunjukkan hal lain. Raka telah meminta pengembalian uang muka rumah ke rekeningnya dengan alasan kami mengganti rencana pembelian. Permintaan itu belum diproses karena pembayaran awal berasal dari rekeningku dan petugas membutuhkan konfirmasi langsung.

Itulah sebabnya ia begitu gelisah ketika aku pulang tanpa menandatangani apa pun.

Aku segera menyampaikan secara tertulis bahwa aku tidak menyetujui perubahan maupun pengembalian dana kepada pihak lain. Setelah itu, seluruh komunikasi dengan vendor kulakukan sendiri bersama kakakku.

Raka menelepon puluhan kali.

Pada panggilan terakhir, ia tidak lagi membicarakan cinta.

“Kalau kamu hentikan semua sekarang, aku tidak bisa menutup kekurangan pembayaran.”

“Pembayaran apa?”

Ia terdiam, lalu mengaku bahwa sebagian uang yang kutransfer untuk persiapan pesta dipakainya menutup utang usaha Citra.

Aku memejamkan mata.

“Citra tahu uang itu dariku?”

“Dia pikir uangku.”

“Seperti dia mengira aku sudah tahu tentang kalian.”

“Nadira, aku benar-benar terdesak.”

“Lalu kamu membuatku menanggung keputusanmu tanpa memberiku kesempatan menolak.”

Setelah panggilan itu, aku berhenti menjawabnya.

Citra datang seminggu kemudian, ditemani kakaknya. Ia tidak meminta pembelaan dariku. Ia menyerahkan percakapan yang menunjukkan kebohongan Raka tentang pembatalan pertunangan kami dan asal dana yang ia pakai.

“Aku salah karena menerima penjelasannya tanpa memastikan,” katanya. “Aku akan mengembalikan uang yang masuk ke usahaku. Kakakku membantu menyusun pembayarannya.”

Aku menerima dokumen tersebut, bukan permintaan agar kami saling memaafkan saat itu juga.

Urusan pengembalian dana dan penggunaan tanda tanganku berjalan terpisah. Ada uang yang kembali, ada biaya yang hangus, dan ada proses panjang yang belum selesai ketika tanggal pernikahan tiba.

Pagi pada tanggal itu, Bu Lestari mengantarkan gaunku.

Aku sempat hendak menolak, tetapi beliau membuka bungkusnya. Gaun tersebut sudah dibersihkan, dikembalikan ke ukuran semula, dan disimpan bersama catatan perubahan tulisan tangan Ibu.

“Aku tidak tahu harus diapakan,” bisikku.

“Tidak harus diputuskan hari ini,” jawab Ibu.

Kami menyimpannya di lemari.

Enam bulan kemudian, Ibu dinyatakan cukup sehat untuk menghadiri peluncuran usaha kecil yang kubangun bersama kakakku. Kami menyewakan pakaian resmi dengan layanan penyesuaian ukuran.

Seorang calon pengantin datang membawa anggaran terbatas. Ia terpaku melihat gaun putih yang belum pernah kupajang.

“Boleh saya mencobanya?”

Aku memandang Ibu. Beliau tersenyum.

Ketika perempuan itu keluar dari ruang pas, gaunnya jatuh sempurna. Ia menangis sambil memanggil ibunya untuk melihat.

Aku ikut tersenyum.

Pada akhirnya, gaun itu tetap menjadi bagian dari hari pernikahan seseorang. Hanya saja, kali ini, semua orang yang mengenakannya tahu persis milik siapa pilihan hidup mereka.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang