Aku menelepon nomor asing itu tiga kali. Pada panggilan keempat, seorang laki-laki menjawab.
“Siapa kamu?” tanyaku.
“Dimas. Orang yang namanya baru kamu lihat.”
Aku mencengkeram ponsel.
“Apa hubunganmu dengan Melati?”
“Besok pagi kita bicara. Jangan di depan Raka.”
“Aku mau jawaban sekarang.”
“Dan aku sudah empat tahun menunggu kesempatan bertemu anakku.”
Sambungan terputus.
Aku hendak keluar ketika Kirana berdiri menghalangi pintu.
“Jangan datang ke sana dalam keadaan seperti ini.”
“Kalau Raka bukan anakku—”
“Dia tetap anak kecil yang mengenalmu sebagai ayah. Jangan membuatnya ketakutan karena kamu sedang marah.”
Aku terdiam. Bahkan sekarang, Kirana masih memikirkan seseorang yang tidak pernah dipikirkannya ketika aku membangun kebohongan itu.
Malam itu aku tidur di kamar tamu. Menjelang subuh, kudengar roda koper melewati lorong.
Kirana sedang bersiap pergi.
“Kamu mau ke mana?”
“Ke rumah kakakku.”

“Tunggu sampai semuanya jelas.”
Dia menegakkan kopernya.
“Bagiku sudah jelas, Arga. Kamu meninggalkanku sendirian dalam pernikahan ini jauh sebelum aku tahu tentang Melati.”
Aku ingin memintanya tinggal, tetapi yang keluar justru pertanyaan paling memalukan.
“Lalu aset yang diberikan Ibu?”
Kirana memandangku beberapa detik.
“Aku sedang membawa dua belas tahun hidupku keluar dari rumah ini. Itu yang ingin kamu tanyakan?”
Dia pergi sebelum aku sempat menjawab.
Pukul sembilan, aku menemui Dimas di sebuah kedai kopi. Ia datang membawa map tipis dan wajah kelelahan.
“Aku dan Melati pernah menikah,” katanya. “Kami berpisah ketika Raka masih bayi. Setelah itu dia pindah dan semakin sulit dihubungi.”
Ia memperlihatkan foto pernikahan, dokumen perceraian, serta percakapan tentang uang kebutuhan Raka.
“Aku tetap mengirim uang. Tapi setiap meminta bertemu, selalu ada alasan.”
“Kenapa baru sekarang mencariku?”
“Aku baru tahu tentangmu minggu lalu. Kakaknya akhirnya memberitahuku setelah Melati meminta dia berbohong soal riwayat keluarga Raka.”
Aku menatap foto di meja. Di sana, Dimas menggendong bayi dengan selimut kuning yang masih disimpan Melati di lemari.
“Foto di klinik itu?”
“Kami bertemu karena aku mengancam akan mencari bantuan untuk mengurus pertemuan dengan Raka. Melati meminta waktu.”
“Lalu kamu mengirim pesan anonim?”
“Aku takut kamu langsung membawanya pindah. Katanya kalian akan tinggal di rumah keluargamu.”
Aku teringat pertanyaan Melati tentang rumah utama. Untuk pertama kalinya, aku mendengar janji-janjiku sendiri dari sisi orang lain.
Siang itu aku mendatangi Melati. Raka sedang bermain di rumah tetangga.
Ketika kusebut nama Dimas, wajahnya berubah.
“Dia menghubungimu?”
“Jawab pertanyaanku. Sejak awal kamu tahu siapa ayah Raka?”
Melati duduk perlahan.
“Mas, aku takut kehilangan kamu.”
“Jadi kamu membiarkanku percaya?”
“Kamu sendiri yang bilang dia mirip denganmu. Waktu itu kamu senang sekali. Aku tidak sanggup merusaknya.”
Aku tertawa pendek, lalu berhenti karena dadaku terasa sakit.
“Kamu membiarkanku mengaku kepada ibuku bahwa aku punya anak.”
“Aku mencintaimu.”
“Kenapa kamu tidak memberitahuku?”
Matanya mulai basah.
“Karena kamu selalu bilang ingin punya anak. Aku pikir kalau kamu tahu, kamu akan kembali kepada Kirana.”
Nama istriku membuat ruangan mendadak sunyi.
Aku datang untuk menuntut kejujuran, padahal selama bertahun-tahun aku pulang kepada Kirana dengan kebohongan yang sama sengajanya.
Kami sepakat melakukan pemeriksaan hubungan biologis melalui prosedur yang dijelaskan tenaga profesional. Aku juga menjalani pemeriksaan ulang dan konsultasi untuk memahami kondisi kesehatanku sendiri.
Dokter berbicara panjang. Kali ini aku mendengarkan.
Hasil lamaku bukan alasan untuk menuduh siapa pun, tetapi jelas merupakan sesuatu yang seharusnya kutindaklanjuti bertahun-tahun lalu.
“Apakah istri Bapak dulu ikut konsultasi?” tanyanya.
Aku menggeleng.
Aku ingat Kirana menunggu di mobil saat aku mengambil amplop pemeriksaan itu. Kepadanya, aku hanya berkata, “Tidak ada masalah berarti.”
Kebohongan itu bahkan sudah kulupakan.
Hasil pemeriksaan berikutnya memastikan bahwa aku bukan ayah biologis Raka.
Aku duduk lama di parkiran laboratorium. Di ponsel, ada pesan suara darinya.
“Papa, mobil merahku ketinggalan di mobil Papa.”
Anak itu hanya menginginkan mainannya kembali.
Sementara orang-orang dewasa di sekelilingnya telah membuat hidupnya begitu rumit.
Aku mengembalikan mobil-mobilan itu beberapa hari kemudian. Aku tidak membentak Melati, tidak merobek foto, dan tidak mengatakan sesuatu yang belum mungkin dipahami Raka.
Urusan hubungan kami akan diselesaikan dengan pendampingan. Dimas mulai bertemu Raka secara bertahap. Aku meminta agar perubahan itu tidak dilakukan dengan menghilangkan diriku mendadak dari kesehariannya.
Namun, ketika aku menemui Kirana, ternyata aku masih membawa harapan yang salah.
“Melati berbohong,” kataku. “Raka bukan anakku.”
Kirana meletakkan cangkirnya.
“Aku turut prihatin.”
“Kita bisa mulai lagi.”
Dia menggeleng pelan.
“Kalau Raka anakmu, apakah kamu akan datang memintaku kembali?”
Aku membuka mulut, lalu menutupnya.
“Jangan menjadikan aku tempat pulang hanya karena hidup yang kamu pilih ternyata tidak berjalan sesuai harapan.”
Aku menunduk. Untuk pertama kalinya, aku meminta maaf tanpa menyebut Melati, Raka, atau keadaan.
Kirana menangis. Tetapi dia tetap melanjutkan perpisahan kami.
Beberapa bulan kemudian, Ibu memanggilku ke rumah. Di meja ada sebuah amplop berisi salinan dokumen pengalihan aset yang telah diselesaikannya.
Dua properti yang dulu hendak diberikan kepadaku kini diberikan kepada Kirana.
“Ini harta Mama yang Mama putuskan untuk berikan semasa hidup,” katanya. “Kamu selalu menyebutnya warisanmu, seolah Mama hanya sedang menyimpannya untukmu.”
Aku membaca dokumen itu tanpa membantah.
“Mama juga meminta pemeriksaan keuangan,” lanjutnya. “Ada pengeluaran pribadimu yang memakai rekening usaha. Kamu harus mengembalikannya.”
Dulu aku pasti menyalahkan Kirana.
Hari itu aku hanya bertanya berapa jumlahnya.
Setahun setelah perceraian, aku melewati salah satu bangunan yang dulu kuincar. Papan kecil terpasang di depannya. Kirana membuka dapur katering di sana bersama beberapa perempuan dari lingkungan sekitar.
Dari jendela, kulihat ia sedang tertawa sambil mencatat pesanan.
Aku hampir masuk, lalu mengurungkan langkah.
Malamnya, kutransfer cicilan pengembalian uang perusahaan dari penghasilanku sendiri.
Di kolom keterangan, aku menulis namaku lengkap.
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, tidak ada nama orang lain yang kupakai untuk menutupi sesuatu.
