
Aku memotret setiap halaman sebelum Arga sempat meraih amplop itu.
“Nisa, berikan dulu. Itu cuma salinan.”
“Bagus. Berarti kamu tidak keberatan aku menyimpannya.”
Kukirim foto-foto itu kepada Ayah, disertai satu kalimat.
Tolong jemput aku di apartemen. Jangan menelepon Arga dulu.
Setelah itu, aku meminta petugas keamanan menemani sampai ke lift. Arga mencoba mengikuti, tetapi aku mengangkat tangan.
“Besok kita bicara di depan keluarga.”
Pintu lift menutup sebelum ia bisa membujukku lagi.
Di dalam apartemen, aku langsung menuju lemari. Laci tempat kotak Ibu kusimpan terbuka sedikit. Di bawah tumpukan syal, map berisi kontrak gedung sudah tidak ada.
Aku duduk di lantai sambil memeluk tas.
Barulah tubuhku gemetar.
Bukan hanya karena Arga memilih perempuan lain. Ia telah masuk ke rumahku, mengambil peninggalan Ibu, lalu memakai namaku untuk menyingkirkanku dari pernikahanku sendiri.
Ayah tiba empat puluh menit kemudian.
Beliau tidak langsung bertanya. Begitu melihat kotak kayu di pangkuanku, ia berlutut dan membuka kedua tangannya.
Aku menangis seperti anak kecil.
Paginya, kami menemui pengelola gedung bersama kakakku, Dimas. Bu Ratih, koordinator acara, tampak kebingungan saat melihatku.
“Pak Arga mengatakan Mbak sedang dirawat dan meminta perubahan diurus olehnya.”
“Dirawat di mana?”
“Beliau tidak menjelaskan. Katanya keluarga sudah sepakat dan Mbak tidak ingin dihubungi dulu.”
Ia menunjukkan surel persetujuan.
Alamat pengirimnya memakai namaku, tetapi ada satu huruf tambahan.
Lalu ia memperlihatkan formulir bertanda tangan palsu yang sama dengan salinan dari Maya.
Aku menatap Bu Ratih.
“Tidak ada seorang pun yang menelepon nomor saya di kontrak?”
Wajahnya memerah.
“Seharusnya kami melakukan verifikasi langsung. Saya minta maaf.”
Ayah meletakkan kontrak asli yang tersimpan di berkasnya.
“Untuk sekarang, tolong hentikan semua perubahan. Tidak ada tindakan lanjutan tanpa konfirmasi langsung dari Nisa.”
Bu Ratih segera memanggil manajernya.
Ternyata bukan hanya nama pengantin yang diganti. Alamat penagihan juga dialihkan kepada Arga. Sisa pembayaran diminta dikirim ulang ke rekeningnya dengan alasan ia akan melunasi langsung kepada vendor.
“Kami belum mengirim apa pun,” kata manajer gedung. “Permintaan itu masih diperiksa bagian keuangan.”
Dimas mengembuskan napas panjang.
Aku memejamkan mata. Seminggu lagi aku hampir menikahi seseorang yang menjadikan uang keluargaku sebagai modal untuk kehidupan lain.
Pertemuan keluarga yang semula dijadwalkan untuk finalisasi acara akhirnya berlangsung di ruang pertemuan gedung.
Arga datang bersama ibunya. Maya datang terpisah, ditemani kakaknya.
Ibu Arga langsung menggenggam tanganku.
“Masih bisa dibicarakan, Nak. Undangan sudah tersebar.”
“Karena itu saya ingin semuanya jelas hari ini, Bu.”
Arga duduk tanpa menatapku.
Aku meletakkan foto formulir, surel, dan daftar perubahan di tengah meja.
“Siapa yang membuat alamat surel ini?”
Arga mengusap wajah.
“Aku.”
“Siapa yang menandatangani atas namaku?”
Ia diam.
“Arga.”
“Aku yang mengurus.”
Ayah menegakkan tubuh, tetapi aku menyentuh lengannya.
“Aku ingin mendengar alasannya.”
Arga menatapku dengan mata merah.
“Aku tidak tahu cara membatalkan semuanya. Maya sudah menekan untuk kepastian. Aku pikir kalau acaranya tetap berjalan, tidak terlalu banyak uang terbuang.”
“Uang siapa?”
Ia menunduk.
Maya mendadak berdiri.
“Kamu bilang Nisa sudah setuju!”
Arga menoleh tajam.
“Kamu tahu dia belum tahu.”
“Aku tahu dia belum menerima keputusanmu. Itu berbeda dari memalsukan persetujuannya!”
Kakak Maya menarik kursinya agar ia duduk kembali.
Aku memandang perempuan itu.
“Kenapa cincin Ibu ada di jarimu?”
Wajahnya memerah.
“Arga bilang itu cincin keluarga miliknya. Katanya ibunya ingin aku mencoba ukurannya.”
Ibu Arga tersentak.
“Saya tidak pernah mengatakan itu.”
Tak ada lagi tempat bagi Arga untuk bersembunyi.
Ia mengaku hubungannya dengan Maya dimulai delapan bulan lalu. Dua bulan terakhir, ia menjanjikan pernikahan. Kepadaku, ia terus berbicara tentang rumah yang akan kami tempati, sementara kepada Maya ia mengatakan hubungan kami tinggal menunggu pembatalan resmi.
Malam sebelumnya, Maya memaksanya mempertemukan kami.
Kotak perhiasan itu dibawanya karena Arga sudah menjanjikan isinya sebagai aksesori akad.
Aku teringat alasan ia menjemputku tengah malam.
Ia tidak sedang memberi kejutan.
Ia ingin memberitahuku ketika persiapannya sudah telanjur diambil alih, berharap rasa malu akan membuatku menerima.
“Pernikahan kita batal,” kataku.
Ibu Arga mulai menangis.
Arga menggeleng cepat.
“Aku salah. Tapi kita sudah empat tahun, Nis.”
“Iya. Dan kamu memakai semua yang kamu ketahui tentangku untuk memastikan aku tidak banyak bertanya.”
Kuserahkan cincin pertunangan kepadanya. Kali ini, aku meletakkannya di meja.
Setelah itu, pembicaraan ditangani keluarga dan pendamping hukum. Dokumen palsu diamankan. Pengelola gedung mengoreksi data acara dan memberikan seluruh riwayat komunikasi. Kami mengurus pembatalan vendor satu per satu, termasuk kerugian yang perlu dipertanggungjawabkan Arga.
Tidak semuanya selesai hari itu.
Ada uang muka yang tidak bisa kembali. Ada kerabat yang bertanya dengan nada menyalahkan. Ada malam ketika aku merindukan Arga yang dahulu kukenal, lalu harus mengingatkan diri bahwa orang itu juga yang membuat surel palsu atas namaku.
Maya mengirim pesan seminggu kemudian.
Ia membatalkan rencana pernikahannya dengan Arga.
Aku tidak merasa menang.
Aku hanya berharap ia tidak kembali percaya pada penjelasan yang mengharuskannya mengabaikan bukti.
Tanggal yang seharusnya menjadi hari akad datang juga.
Sebagian makanan sudah terlanjur dipesan. Setelah berbicara dengan pihak katering, Ayah mengatur agar makanan itu dikirim ke rumah singgah tempat Ibu dahulu menjadi relawan.
Aku ikut mengantar.
Di sana, seorang pengurus tua mengenali kotak kayu yang kubawa.
“Itu kotak Bu Ratna, ya?”
Aku mengangguk.
“Saya mau memakai kalung Ibu hari ini.”
Beliau tersenyum, lalu membantu mengaitkannya di belakang leherku.
Saat aku mengangkat wadah kalung, lapisan beludru di dasar kotak ikut terlepas. Di bawahnya ada secarik kertas terlipat dengan namaku tertulis di depan.
Tulisan Ibu.
Ayah terdiam ketika melihatnya.
“Ibumu menyelipkan itu sebelum operasi. Ayah tidak tahu disimpan di situ.”
Kubuka perlahan.
Nisa, perhiasan ini boleh kamu pakai saat menikah. Boleh juga kamu jual kalau suatu hari perlu memulai lagi. Jangan merasa wajib mempertahankan sesuatu hanya karena Ibu meninggalkannya untukmu.
Mataku kabur.
Di bawahnya ada satu kalimat lagi.
Termasuk rencana yang ternyata tidak membuatmu bahagia.
Aku menekan surat itu ke dada.
Hari itu, cincin Ibu tetap kuikatkan pada buket kecil.
Buket itu kemudian kuletakkan di makamnya, sebelum pulang bersama Ayah.
