Setelah Kehilangan Anak Kami, Aku Berhenti Mengejar Suamiku—Tiga Bulan Kemudian, Ia

“Siapa?” tanyaku.

Arga menatap pintu ruang tindakan, lalu kertas yang masih bergetar di tangannya.

“Ibuku.”

Aku mendengar jawabannya dengan jelas, tetapi perlu beberapa detik untuk memahaminya.

Perawat mendekat.

“Bu Nadira, dokter sudah menunggu.”

Aku mengambil hasil pemeriksaan dari tangan Arga.

“Aku harus masuk.”

“Nadira, tolong—”

“Kalau ini penting, kamu bisa menunggu. Hari ini aku tidak akan menunda perawatanku untuk mendengarkan penjelasanmu.”

Arga melepaskan amplop itu perlahan.

Aku masuk tanpa menoleh lagi.

Di ruang konsultasi, dokter menanyakan apakah aku ingin seseorang mendampingi. Aku menggeleng, lalu menjelaskan bahwa suamiku baru mengetahui kondisiku.

Beliau tidak mendesak. Ia kembali menerangkan tindakan yang akan kujalani untuk mengangkat massa di ovariumku. Hasil pemeriksaan memang mencurigakan, tetapi kepastian baru bisa diperoleh setelah jaringan diperiksa.

Aku mengangguk. Kata-kata itu sudah pernah kudengar, tetapi ketakutanku tetap terasa baru.

“Surat itu saya tulis karena takut,” kataku tiba-tiba.

Dokter meletakkan pena.

“Takut itu wajar. Tapi Ibu tidak harus menanggung semuanya sendiri.”

Sebelum dibawa ke ruang tindakan, aku menelepon Bu Ratih. Ia berjanji datang setelah menitipkan anaknya.

Untuk pertama kalinya dalam tiga bulan, aku meminta bantuan sebelum benar-benar kehabisan tenaga.

Ketika terbangun, tenggorokanku kering dan perutku terasa nyeri. Cahaya kamar rawat tampak terlalu terang.

Bu Ratih duduk di samping ranjang.

“Sudah selesai,” katanya sambil menggenggam tanganku.

“Arga?”

“Di luar. Dari tadi menunggu. Saya belum mengizinkan masuk.”

Aku memejamkan mata sebentar, lalu mengangguk.

Arga masuk dengan kemeja yang sama. Tas laptopnya sudah tidak ada. Ia berhenti di kaki ranjang seolah tidak yakin boleh mendekat.

“Tindakannya berjalan baik,” katanya.

“Duduklah.”

Ia menarik kursi.

Aku menunggu sampai Bu Ratih keluar membeli makan sebelum menanyakan hal yang tertahan sejak pagi.

“Apa yang dilakukan ibumu?”

Arga mengeluarkan ponsel, tetapi tidak langsung menunjukkannya.

“Malam itu aku mengantar Ibu ke acara keluarga. Ponselku sedang diisi daya di kamar tempat Ibu beristirahat. Aku membantu di halaman.”

“Pesanku dibaca.”

“Ibu yang membacanya.”

Dadaku mengencang.

“Bagaimana kamu tahu?”

“Setelah kamu pindah kamar, aku mulai mencari tahu kenapa waktu itu pesanku baru muncul belakangan. Aku menanyakan kepada Ibu. Awalnya beliau menyangkal. Minggu lalu beliau mengaku.”

Aku menatapnya.

“Seminggu lalu?”

Arga menunduk.

“Dan kamu baru mau bilang sekarang?”

“Aku tidak tahu caranya.”

Aku menoleh ke jendela. Alasan itu terasa sangat kecil dibandingkan tiga bulan yang kulewati.

Menurut Arga, ibunya menganggap aku hanya ingin menyuruhnya pulang. Beliau kesal karena sehari sebelumnya aku menolak ikut acara keluarga demi beristirahat.

Ia membaca pesanku, membisukan panggilan, lalu mengatakan kepada Arga bahwa aku sudah menelepon dan tidak membutuhkan apa-apa.

“Beliau bilang kamu sedang tidur,” ujar Arga.

Aku mengusap tepi selimut.

“Aku bilang aku takut.”

Suaraku pecah pada kata terakhir.

Arga menangis. Bahunya bergerak, tetapi aku tidak punya tenaga untuk menenangkannya.

“Aku tahu.”

“Tidak. Kamu baru tahu setelah membaca. Aku mengatakannya malam itu, berkali-kali.”

Ia menutup wajah.

Aku teringat sesuatu.

“Parfum di jaketmu?”

“Ibu menumpahkan parfum kecil dari tasnya. Jaketku dipakai untuk mengelap kursi mobil.”

Penjelasan itu mungkin benar. Namun, ada pertanyaan yang tidak hilang.

“Setelah sampai rumah sakit, kenapa kamu tidak bertanya lebih jauh? Kenapa kamu tidak mencari tahu apa yang terjadi?”

Arga menurunkan tangan.

“Karena aku takut mendengar bahwa aku gagal. Jadi aku sibuk mencari cara supaya rumah terlihat normal lagi.”

Aku memandangi pintu. Rumah yang normal baginya berarti kamar bayi dikunci dan aku berhenti menangis terlalu keras.

“Lalu Keisha?”

“Rekan kerja. Aku tidak punya hubungan dengannya.”

Ia berhenti, lalu melanjutkan lebih pelan.

“Tapi aku sering memilih pekerjaan karena di sana aku tahu harus melakukan apa. Di rumah, aku merasa tidak berguna.”

Aku mengangguk tanpa mengatakan bahwa aku mengerti.

Keesokan harinya, ibunya datang membawa buah. Aku meminta Bu Ratih tetap berada di kamar.

Beliau berdiri dekat lemari, tak menyentuh kursi yang ditawarkan.

“Ibu tidak menyangka kondisimu seburuk itu malam itu.”

Aku menatap tangannya yang meremas tali tas.

“Karena Ibu tidak bertanya.”

Air matanya mulai jatuh.

“Ibu pikir kamu cuma ingin diperhatikan.”

“Aku memang ingin diperhatikan. Aku sedang hamil dan kesakitan.”

Beliau terdiam.

Aku tidak mengatakan bahwa tindakannya menyebabkan anak kami meninggal. Dokter sendiri tidak pernah menyimpulkan demikian. Namun, beliau telah membuatku menghadapi ketakutan itu tanpa orang yang kucari.

“Aku belum bisa menerima kunjungan Ibu,” kataku.

Arga yang berdiri di dekat pintu mengangguk.

“Bu, kita pulang dulu.”

Untuk pertama kalinya, ia tidak memintaku mengalah agar ibunya merasa lebih baik.

Hasil pemeriksaan jaringan keluar beberapa hari kemudian. Massa itu jinak. Aku menangis di ruang dokter sampai sulit berbicara.

Di luar ruangan, Arga menunggu kabar.

“Jinak,” kataku.

Ia bersandar ke dinding, menutup mata, lalu mengucapkan syukur berulang kali.

Aku ikut bersyukur. Tetapi kabar baik itu tidak mengembalikan kami ke pernikahan yang dulu.

Setelah pulih, aku tinggal sementara bersama kakakku. Arga mengikuti konseling. Sesekali kami bertemu bersama pendamping untuk membicarakan kehilangan, kebiasaan menghindar, dan batas yang selama ini tidak pernah kami bangun.

Ia hadir tepat waktu. Ia belajar mendengarkan tanpa segera membela diri.

Namun, ketika ia bertanya apakah aku siap pulang, jawabanku tetap tidak.

“Aku melihat usahamu,” kataku. “Tapi aku belum ingin kembali menjadi istrimu.”

Proses perpisahan kami berjalan berbulan-bulan. Tidak ada pertengkaran besar. Justru beberapa percakapan paling jujur terjadi saat kami sudah berhenti mencoba mempertahankan bentuk keluarga yang sama.

Pada hari terakhir mengambil barang, Arga menyerahkan amplop putihku.

“Aku tidak membacanya,” katanya.

Aku membuka surat itu setelah sampai di tempat tinggalku.

Di halaman pertama, aku menulis tentang rekening, dokumen, dan beberapa pesan jika sesuatu terjadi kepadaku.

Lalu kutemukan kalimat di bagian bawah, ditulis dengan tangan gemetar pada malam sebelum tindakan.

Kalau aku pulang, aku ingin punya hidup yang tidak membuatku takut meminta pertolongan.

Aku membaca kalimat itu lama sekali.

Kemudian aku mengambil pena dan mencoret kata kalau.

Aku sudah pulang.

Sekarang aku harus belajar tinggal di dalam hidupku sendiri.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang