Tujuh Hari Sebelum Pernikahan, Tunanganku Menjemputku Tengah Malam. Namun, Saat

Tujuh hari sebelum pernikahanku, aku menemukan cincin mendiang ibu di jari perempuan lain. Sepuluh menit kemudian, aku mengetahui bahwa bukan hanya cincin itu yang hendak diambil dariku.

Malam itu hampir tengah malam ketika Arga menyuruhku turun dari apartemen. Aku mengira tunanganku datang membawa kejutan setelah berminggu-minggu membiarkanku mengurus persiapan pernikahan sendirian.

Namun, di kursi depan mobilnya duduk Maya, rekan sekantornya. Di pangkuannya ada kotak perhiasan ibuku.

Ketika kuminta kotak itu dibuka, satu benda tidak berada di tempatnya. Cincin pernikahan ibu justru melingkar di jari manis Maya.

“Cincinku belum selesai,” katanya tanpa sengaja.

Setelah itu, kebohongan Arga runtuh satu per satu. Pesan dari pembuat cincin muncul di layar ponselnya. Maya menangis, mengatakan bahwa dia mengira pernikahan kami sudah dibatalkan.

Lalu perempuan itu menyerahkan salinan formulir dari gedung pernikahan kami.

Tanggal, jam, dan nama pengantin prianya tetap sama. Hanya namaku yang diganti menjadi Maya.

Di bagian bawah dokumen itu ada tanda tanganku.

Tanda tangan yang tidak pernah kububuhkan.

“Jangan telepon pengelola gedung dulu,” kata Arga.

Aku menatapnya. “Kenapa?”

“Kita bisa menyelesaikannya baik-baik.”

Aku memotret setiap halaman sebelum memasukkan dokumen itu ke tas, bersama perhiasan ibu yang sudah lengkap kembali.

“Kunci apartemenku.”

Arga mengulurkan tangan. “Nisa, dengarkan dulu.”

“Kuncinya.”

Dia akhirnya mengeluarkan kunci dari dompet. Aku menerimanya, lalu berjalan menuju lobi. Ketika dia mencoba mengikuti, aku meminta petugas keamanan menahannya di luar.

Di lift, lututku mulai gemetar. Aku bersandar pada dinding sampai pintunya terbuka.

Orang pertama yang kutelepon adalah ayah.

“Ayah, aku batal menikah.”

Tidak ada pertanyaan tentang undangan atau biaya.

“Kamu di mana? Aman?”

Tangisku pecah mendengar pertanyaan itu.

Ayah tiba empat puluh menit kemudian. Dia duduk di sampingku sampai aku sanggup menunjukkan dokumen tersebut.

Lama sekali dia memandangi tanda tangan palsu itu.

“Besok kita urus,” katanya. “Sekarang kamu minum dulu.”

Pagi berikutnya, kami menemui pengelola gedung. Manajernya, Bu Ratih, terlihat pucat ketika aku meletakkan formulir di mejanya.

“Pak Arga datang hari Kamis. Katanya ada perubahan keluarga yang sensitif dan Ibu tidak ingin dihubungi langsung.”

“Lalu Ibu menyetujui tanpa menelepon saya?”

Bu Ratih menunduk. “Itu kelalaian kami.”

Dia membuka berkas pemesanan. Selain pergantian nama pengantin, ada permintaan pengalihan sisa pengembalian deposit ke rekening Arga.

Ayah maju di kursinya.

“Padahal seluruh pembayaran gedung dari rekening anak saya.”

Aku menatap angka dalam formulir. Mendadak aku teringat percakapan tiga minggu sebelumnya. Arga mengatakan vendor meminta pelunasan lebih awal. Aku mentransfer tabungan terakhirku kepadanya.

“Boleh saya lihat riwayat pembayarannya?”

Bu Ratih mencetak laporan.

Pelunasan itu tidak pernah masuk.

Aku menelepon katering dari ruangan yang sama. Jawabannya serupa. Mereka bahkan sudah mengirim beberapa pengingat kepada Arga.

Pengacara yang direkomendasikan ayah meminta kami menyimpan seluruh bukti transfer, percakapan, dan dokumen asli. Atas permintaanku, pengelola menghentikan semua perubahan pemesanan.

Menjelang siang, Maya menghubungiku.

“Aku boleh ketemu? Tanpa Arga.”

Kami bertemu di kedai kopi dekat kantor pengacara. Maya datang dengan mata sembap dan sebuah map.

“Aku tahu kamu mungkin tidak percaya apa pun yang kukatakan,” ujarnya. “Tapi aku perlu menyerahkan ini.”

Di dalam map ada percakapan mereka selama enam bulan.

Arga mengatakan kami sudah putus, tetapi aku menolak mengumumkannya karena ayah sedang sakit. Dia mengaku gedung itu miliknya dan pembayaran berasal dari tabungannya.

“Kenapa kamu percaya soal perhiasan ibuku?”

Maya menunduk.

“Dia bilang kamu sudah mengambil bagianmu. Sisanya akan dikembalikan ke keluarganya.”

Aku menutup map.

“Semalam kamu tahu kotak itu milik ibuku. Kamu tetap bilang hanya meminjam untuk acara keluarga.”

Air matanya jatuh.

“Aku panik. Aku takut kehilangan dia.”

“Jadi kamu membiarkan aku dibohongi.”

“Iya.”

Untuk pertama kalinya, dia menjawab tanpa alasan tambahan.

Aku bertanya mengapa mereka menjemputku malam itu.

Maya mengusap pipinya.

“Arga bilang kamu mau pulang ke rumah orang tuanya untuk menandatangani pembatalan. Waktu melihatmu kaget karena aku ada di mobil, aku mulai sadar ceritanya tidak cocok.”

Jadi itulah rencananya. Membawaku ke tempat keluarganya, lalu meminta tanda tangan sungguhan setelah lebih dahulu menggunakan yang palsu.

“Ada lagi,” kata Maya.

Dia menunjukkan bukti transfer. Arga meminjam enam puluh juta darinya untuk sesuatu yang disebutnya biaya pengembalian uang pernikahanku.

Aku membaca tanggalnya. Dua hari setelah aku mentransfer pelunasan vendor.

Siang itu juga, Maya ikut memberikan keterangannya kepada pengacaraku.

Pertemuan keluarga tetap berlangsung sore harinya, sesuai jadwal. Namun, tidak ada pembicaraan tentang susunan akad.

Arga datang bersama orang tuanya. Ibunya langsung memegang tanganku.

“Laki-laki kadang bingung sebelum menikah. Jangan mengambil keputusan saat emosi.”

Ayah meletakkan dokumen di meja.

“Kami ingin tahu siapa yang meniru tanda tangan Nisa.”

Arga menatapku dengan marah.

“Kamu sampai membawa pengacara?”

Aku mengembalikan cincin pertunangan dalam kotaknya.

“Aku juga membawa bukti pembayaran.”

Setelah laporan vendor dan bukti transfer dibuka, Arga akhirnya mengaku. Uang kami dipakainya menutup utang dari usaha yang gagal. Dia berharap bisa memperoleh dana baru dari keluarga Maya.

“Kalau pernikahan tetap jalan, aku bisa membereskan semuanya,” katanya.

“Pernikahan dengan siapa?” tanyaku.

Dia tidak menjawab.

Ibunya menangis. Ayahnya meminta waktu untuk membantu mengembalikan uang. Semua kesepakatan kemudian dibuat tertulis melalui pengacara. Aku tetap membuat laporan tentang dugaan pemalsuan itu.

Prosesnya tidak selesai dalam sehari. Ada telepon yang tak kujawab, pemeriksaan, dan malam-malam ketika aku terbangun karena teringat betapa mudahnya dia masuk ke rumahku.

Namun, pada tanggal yang semula tercetak di undangan, aku tetap datang ke gedung itu.

Sebagian pesanan makanan tidak bisa dibatalkan. Dengan bantuan ayah, makanan itu kami bagikan melalui komunitas dapur sosial tempat ibu dahulu menjadi relawan.

Aku mengenakan kebaya sederhana dan kalung mutiara ibu.

Seorang relawan tua mengenaliku.

“Kamu putrinya Bu Laras?”

Aku mengangguk.

Dia memelukku, lalu berkata, “Ibumu dulu sering menyisihkan makanan untuk dibawa pulang. Katanya, siapa tahu di jalan ada yang belum makan.”

Di belakangnya, ayah diam-diam mengusap mata.

Malamnya, saat membereskan kotak perhiasan, aku menemukan lipatan kertas terselip di bawah bantalan cincin. Tulisan ibu sudah sedikit memudar.

Untuk Nisa, kalau suatu hari menikah. Pakailah jika kamu mau. Kalau tidak, simpan saja. Ibu paling ingin kamu bahagia.

Aku membacanya dua kali, lalu meletakkan cincin itu kembali.

Untuk pertama kalinya sejak malam di depan apartemen, aku menangis tanpa merasa kehilangan masa depanku.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang