
“Jika surat ini sampai ke tangan Rani, berarti orang yang mencoba mengambil tempatnya sudah menunjukkan dirinya.”
Bima berhenti membaca. Di hadapanku, Mas Arif mencengkeram sandaran kursi.
“Itu bukan seperti yang kalian pikirkan,” katanya.
“Lalu seperti apa, Mas?”
Ia menunduk. Suara sendok beradu dengan mangkuk terdengar dari meja belakang, lalu berhenti. Semua pelanggan sedang memperhatikan kami.
Aku meminta Bima melanjutkan pembicaraan di dapur. Nadia mengikuti, sementara Mas Arif berdiri dekat pintu, seolah masih mempertimbangkan untuk pergi.
Bima meletakkan dokumen itu di meja.
“Ini tanda terima uang tiga puluh juta rupiah. Kakak Anda menyebutnya penggantian biaya makan, tempat tinggal, dan perawatan Pak Harun selama enam bulan.”
Aku membaca setiap barisnya.
Ada namaku di sana.
Rani Prameswari telah menyetujui penerimaan melalui kakak kandungnya.
“Aku tidak pernah menyetujui ini.”
“Aku terdesak, Ran,” bisik Mas Arif.
“Jadi Mas menjual kebaikanku?”
“Aku mau mengembalikannya sebelum kamu tahu.”
“Dengan uang dari mana?”
Ia tidak menjawab.
Bima menarik napas. “Pak Harun meminta saya mencairkan uang itu. Namun, beliau juga meminta seluruh pembicaraan dicatat. Beliau tahu siapa yang menyiapkan sarapannya.”
“Kalau tahu, kenapa tetap diberikan?” tanyaku.
“Karena kakak Anda mengatakan uang itu diperlukan untuk mencegah warung ini disita.”
Aku teringat tunggakan sewa yang belum lunas. Jumlahnya empat juta, bukan tiga puluh juta.
Mas Arif menutup wajah.
“Ada utang pinjaman daring. Awalnya kecil. Lalu aku meminjam lagi untuk menutup yang sebelumnya.”
Aku ingin marah, tetapi tenggorokanku terasa penuh. Kakakku pernah menjual sepeda motornya agar aku bisa menyelesaikan sekolah. Kini, orang yang sama menggunakan namaku untuk mengambil uang dari lelaki tua yang kuanggap keluarga.
“Mas pulang dulu,” kataku.
“Rani—”
“Aku belum sanggup mendengarnya.”
Bima menahannya sebentar untuk meminta alamat dan kesediaan membahas pengembalian uang. Setelah Mas Arif pergi, aku duduk di bangku pendek dekat karung beras.
“Sekarang suratnya, Pak.”
Bima menyerahkan amplop itu kepadaku.
Rani, maafkan saya karena membiarkanmu mengenal saya hanya sebagai lelaki tua yang tidak mampu membeli sarapan.
Saya memang mencari seseorang ketika pertama kali datang ke daerah ini. Namanya Sulastri. Dahulu ia berjualan nasi di dekat gudang pertama perusahaan saya.
Tanganku berhenti.
Sulastri adalah nama ibuku.
Aku mengangkat wajah. “Apa hubungan beliau dengan ibu saya?”
Bima tampak terkejut. “Ibu Anda Sulastri?”
Aku mengambil foto dari rak dekat kulkas. Foto ibu berdiri di depan gerobak nasi, masih mengenakan celemek bermotif bunga.
Bima membuka sebuah berkas lain. Di dalamnya ada fotokopi halaman buku tua dengan alamat gang kami dan nama ibu.
Aku kembali membaca.
Ketika usaha saya hampir bangkrut, Bu Sulastri memberi makan delapan pekerja saya secara berutang selama tiga bulan. Ia juga meminjamkan tabungannya agar saya bisa membayar ongkos pengiriman pertama. Setelah gudang kami pindah, saya kehilangan kabarnya. Alamat yang saya simpan sudah berubah menjadi deretan ruko.
Puluhan tahun saya menunda pencarian itu. Selalu ada pekerjaan yang terasa lebih mendesak.
Ketika akhirnya saya datang, orang-orang mengatakan Bu Sulastri sudah meninggal.
Mataku mulai kabur.
Ibu meninggal delapan tahun lalu. Sampai akhir hidupnya, ia masih suka menyisihkan nasi untuk tukang becak yang lewat.
Di warungmu, saya mengenali sambalnya. Namun, saya baru yakin setelah melihat foto ibumu di dekat kulkas. Saya malu bertanya lebih jauh. Saya datang terlambat untuk mengembalikan uangnya, tetapi putrinya justru kembali memberi saya makan.
“Kenapa beliau tidak bilang?” suaraku pecah.
Bima menunduk. “Beliau beberapa kali berencana. Lalu kesehatannya memburuk.”
Nadia yang sejak tadi diam mendekat.
“Kakek tidak benar-benar hilang selama enam bulan,” katanya lirih. “Awalnya beliau tinggal sendiri di rumah lama dekat sini. Kami masih berkomunikasi. Setelah bertengkar dengan Papa soal kesehatannya, beliau berhenti mengangkat telepon. Kami mencari ke rumah itu, tapi beliau sudah pindah.”
“Beliau tidur di mana?”
“Di kamar kontrakan belakang klinik,” jawab Bima. “Kami baru menemukannya setelah pihak klinik menghubungi keluarga.”
Aku memandangi foto ibu. Dua orang tua itu sama-sama menyimpan kesusahan sampai tidak ada lagi kesempatan untuk bertanya.
Di bagian terakhir surat, Pak Harun menuliskan permintaan sederhana.
Saya sudah menitipkan penyelesaian utang kepada ibumu melalui Bima. Terimalah setelah perhitungannya dijelaskan. Untuk sarapan saya sendiri, tolong kirimkan tagihan. Jangan kamu gratiskan lagi. Saya sudah terlalu banyak merepotkan keluargamu.
Aku tertawa di antara air mata.
“Beliau masih saja bercanda.”
Bima mengeluarkan rincian utang lama beserta penyesuaian nilainya. Jumlahnya cukup untuk membeli tempat warung ini.
“Ini perlu diperiksa bersama ahli waris Bu Sulastri,” katanya. “Tidak harus diputuskan hari ini.”
Aku mengangguk. Untuk pertama kalinya sejak mereka datang, dadaku bisa mengembang dengan tenang.
Dari depan warung terdengar klakson. Aku menoleh ke deretan mobil.
“Kenapa harus datang sebanyak itu?”
Nadia menyeka matanya. “Kami baru selesai dari pemakaman keluarga. Mereka ingin melihat tempat Kakek menghabiskan pagi-paginya. Saya yang mengajak.”
Ia menatapku dengan wajah malu.
“Tadi saya keterlaluan.”
“Iya,” jawabku.
Nadia mengangguk, menerima jawaban itu tanpa membela diri.
Beberapa menit kemudian, ia membantu membawa mangkuk ke meja. Para kerabatnya masuk bergantian, berdesakan di warung kecilku. Mereka memesan soto, dan kali ini tidak ada yang berani mengeluh tentang bangku plastik.
Mas Arif datang malam harinya membawa sisa uang tujuh belas juta rupiah dan daftar utangnya. Aku bersedia menemaninya menemui Bima, tetapi menolak menutupi perbuatannya. Ia harus mengembalikan semuanya, termasuk menjelaskan kebohongannya sendiri kepada keluarga Pak Harun.
Tiga bulan kemudian, warung itu resmi kubeli melalui penyelesaian utang ibu. Aku tetap berjualan sejak subuh. Nadia sesekali datang sebelum berangkat kerja, memesan soto tanpa telur, seperti kakeknya.
Suatu pagi, Bima mengantarkan tas kain cokelat Pak Harun. Di dalamnya ada koran, obat, dan buku catatan kecil.
Halaman terakhir berisi tulisan yang miring dan tidak rata.
Hari ini Rani memberi saya telur utuh. Separuh saya bawa pulang. Besok ingin saya makan bersamanya supaya dia berhenti bilang sudah sarapan padahal belum.
Aku menutup buku itu perlahan.
Di luar, pelanggan pertama memanggil. Aku mengusap pipi, mengambil dua mangkuk, lalu duduk sebentar di samping bangku biru.
Pagi itu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku sarapan sebelum melayani orang lain.
