Map yang dibawa Siska membuat Pak Arman berhenti tepat di depan pintu.
“Dari mana kamu mendapatkan itu?”
“Salinan arsip pembayaran, Pak.”
Siska, rekan kerja yang hampir setiap hari duduk di seberang mejaku, meletakkan map tersebut dengan tangan gemetar. Aku mengenali gelang tipis di pergelangannya. Bulan lalu, sambil memamerkan gelang itu, ia bertanya mengapa aku masih memakai sepatu yang solnya sudah dilem.
“Jadi uangku masuk ke rekeningmu?” tanyaku.
Ia mengangguk.
Bu Melinda langsung menyela. “Siska, jangan bicara sebelum semuanya diperiksa.”
“Sudah tiga tahun saya diam, Bu.”
Suaranya pecah. Namun, kali ini ia tidak menunduk.
Pak Arman membuka map itu. Di halaman pertama terdapat formulir persetujuan pemisahan pembayaran. Di bawah namaku tercantum alasan pengalihan tunjangan: pembayaran cicilan pinjaman karyawan.
Jumlah pinjamannya seratus lima puluh juta rupiah.

Aku bahkan tidak pernah meminjam uang sebanyak itu.
“Ini apa?”
Bu Melinda menarik kursinya, tetapi tidak jadi duduk.
“Dulu kamu butuh bantuan untuk operasi ibumu.”
“Delapan juta,” jawabku. “Saya pinjam delapan juta. Sudah saya lunasi sebelas bulan kemudian.”
Aku masih menyimpan bukti transfernya. Setiap bulan, setelah menerima gaji, aku mengirim uang ke rekening pribadi Bu Melinda.
Siska mulai menangis.
“Rekening saya dipakai sebagai rekening penampungan. Bu Melinda bilang Mbak Rani tidak ingin potongan pinjamannya diketahui keluarga.”
“Dan kamu percaya?”
“Awalnya.”
“Lalu setelah itu?”
Ia memandangku sebentar, kemudian mengeluarkan ponsel.
“Saya tahu setelah melihat Mbak Rani menjual laptop pribadi untuk membayar kontrakan ibu. Saya bertanya kenapa pinjaman sebesar itu tidak menyisakan apa-apa. Bu Melinda bilang saya tidak perlu ikut campur.”
Kepalaku terasa ringan. Aku meraih sandaran kursi.
Laptop itu kubeli dari tabungan dua tahun. Kepada orang kantor, aku mengaku sedang ingin mengganti perangkat. Hanya Siska yang tahu alasan sebenarnya, karena malam itu aku menangis di toilet dan ia menemukanku.
“Kamu tetap menerima uangnya setelah tahu?”
Siska mengusap pipi.
“Saya mendapat lima ratus ribu setiap bulan. Sisanya saya transfer sesuai instruksi beliau.”
Tidak ada lagi suara di ruangan itu.
Lima ratus ribu rupiah. Rupanya itulah harga diamnya setiap kali aku mengeluh ongkos pulang terlalu mahal untuk lembur sampai malam.
Bu Melinda tiba-tiba berkata, “Kamu juga menikmati uangnya, Siska. Jangan berpura-pura jadi korban.”
“Saya tidak bilang saya korban.”
Siska menyerahkan ponselnya kepada kepala keuangan.
“Semua percakapan masih ada. Termasuk permintaan membuat formulir baru setiap ada kenaikan gaji.”
Pak Arman membalik halaman. Wajahnya menegang ketika melihat paraf persetujuan di sudut bawah.
“Itu paraf saya.”
Bu Melinda segera mendongak. “Bapak yang menyetujui alurnya.”
“Saya menyetujui fasilitas cicilan karyawan. Bukan pinjaman fiktif atas nama Rani.”
“Tapi Bapak tidak pernah memeriksa.”
Kalimat itu membuat Pak Arman terdiam.
Aku menatapnya. Selama beberapa menit terakhir, aku berharap ia menjadi orang yang membereskan semuanya. Namun, tanda tangannya memang ada di sana. Sistem yang seharusnya melindungiku telah membiarkan atasanku mengurus surat, menyampaikan nominal gaji, sekaligus menjadi perantara setiap pertanyaan.
“Pak,” kataku, “siapa yang mengirim slip gaji saya?”
Kepala keuangan menjawab pelan.
“Selama ini dikirim melalui manajer masing-masing.”
“Jadi tidak ada yang memastikan saya menerimanya?”
Ia menggeleng.
Aku duduk. Kemarahanku mendadak terasa sangat berat.
Bu Melinda mendekat.
“Rani, saya akan mengembalikan semuanya. Kita bisa bicarakan baik-baik. Kamu ingat siapa yang membantu waktu ayahmu meninggal?”
Aku menatap wajahnya.
Justru itulah yang paling menyakitkan. Aku ingat ia membelikan tiket pulang. Aku ingat ia menelepon untuk menanyakan kondisi ibu. Selama bertahun-tahun, rasa terima kasih membuatku selalu merasa tidak pantas menuntut apa pun.
“Saya ingat, Bu,” jawabku. “Makanya saya percaya.”
Ia menangis, tetapi aku tidak lagi tahu bagian mana dari dirinya yang sedang kulihat.
Pak Arman meminta kepala keuangan mengamankan dokumen dan melibatkan pemeriksa independen. Bu Melinda serta Siska diminta menyerahkan akses kerja untuk sementara.
Ketika semua orang mulai bergerak, aku menghentikan mereka.
“Saya mau salinan seluruh dokumen yang memakai nama saya. Dan penjelasan tertulis tentang pembayaran saya.”
Pak Arman mengangguk.
“Termasuk kesalahan perusahaan,” tambahku.
Ia menatapku, lalu menjawab, “Termasuk itu.”
Pemeriksaan berlangsung hampir sebulan. Aku tetap bekerja, tetapi meminta dipindahkan ke bawah pimpinan lain. Setiap kali melewati meja kosong Siska, perutku masih terasa melilit.
Hasilnya lebih buruk daripada dugaanku.
Bukan hanya tunjanganku yang dialihkan. Sebagian bonus proyek juga dicatat sebagai pembayaran cicilan. Tanda tanganku disalin dari dokumen evaluasi lama. Total hakku yang belum kuterima mencapai lebih dari seratus enam puluh juta rupiah setelah perhitungan pajak dan koreksi penggajian.
Perusahaan membayarnya terlebih dahulu, tanpa menunggu pengembalian dari Bu Melinda dan Siska. Proses terhadap keduanya berjalan terpisah, termasuk laporan atas penggunaan dokumen palsu.
Pada pertemuan terakhir, Bu Melinda meminta bertemu denganku.
Aku menolak.
Aku sudah membaca penjelasannya. Usaha suaminya gagal, tabungan habis, kemudian ia mengambil pembayaran pertamaku dengan niat menggantinya. Setelah itu, setiap bulan selalu ada alasan baru.
Aku tidak membutuhkan pertemuan untuk mendengar alasan yang sama diucapkan dengan air mata.
Siska mengirimkan satu pesan.
Maaf. Aku seharusnya bicara jauh lebih awal.
Aku membalas singkat.
Iya. Seharusnya begitu.
Malam ketika uang penggantian masuk, aku menelepon ibu. Kukatakan atap rumahnya bisa diperbaiki sebelum musim hujan.
Ibu diam cukup lama.
“Kamu menangis, Ran?”
“Iya, Bu.”
“Uangnya belum cukup?”
Aku tertawa kecil sambil menyeka wajah.
“Cukup. Aku cuma baru tahu ternyata selama ini aku tidak seburuk itu mengatur uang.”
Dua bulan kemudian, Pak Arman menawarkanku jabatan baru beserta surat kompensasinya. Aku membawanya pulang, membaca setiap halaman, lalu menandai beberapa pertanyaan.
Saat kukembalikan keesokan paginya, ia tersenyum canggung.
“Sekarang teliti sekali.”
Aku tidak ikut tersenyum.
“Seharusnya dari dulu saya diberi kesempatan.”
Ia mengangguk, lalu menjawab semua pertanyaanku satu per satu.
Sore itu, seorang pegawai baru mendekati mejaku membawa surat pengangkatan. Ia tampak malu.
“Mbak, boleh bantu baca? Takut pertanyaan saya kedengaran bodoh.”
Aku menggeser kursi untuknya.
“Duduk sini.”
Di luar jendela, lampu gedung mulai menyala. Untuk pertama kalinya, aku membiarkan pekerjaanku menunggu.
Kami membaca surat itu sampai halaman terakhir.
