Setelah Kehilangan Anak Kami, Aku Berhenti Mengejar Suamiku. Tiga Bulan Kemudian, Dia

Di lorong rumah sakit, suamiku mengatakan seseorang sengaja menghalangi teleponku pada malam anak kami meninggal. Di tangannya ada hasil pemeriksaan yang menunjukkan tumor di ovariumku, serta surat yang kutulis karena takut tidak sempat pulang.

“Siapa?” tanyaku.

Arga membuka mulut, tetapi perawat lebih dahulu mendekat.

“Bu Nadira, dokter menunggu.”

Aku menatap suamiku sekali lagi.

“Tiga bulan aku menunggu penjelasanmu. Sekarang kamu yang menunggu.”

Aku masuk tanpa menoleh.

Sambil menunggu persiapan operasi, ingatanku kembali pada malam ketika usia kandunganku hampir lima bulan. Sakit di perutku semakin tajam. Aku menelepon Arga berkali-kali, lalu mengirim pesan memintanya pulang. Pesan itu terbaca. Jawabannya tidak pernah datang.

Bu Ratih, tetangga kami, yang membawaku ke rumah sakit.

Arga tiba menjelang tengah malam, ketika dokter sudah menyampaikan bahwa anak kami tidak tertolong.

Setelah itu, aku berhenti menunggu suara mobilnya. Berhenti menyiapkan makan malam untuk dua orang. Berhenti bertanya mengapa Keisha, rekan kantornya, selalu bisa mendapat jawaban sementara aku harus menelepon berulang kali.

Ketika pemeriksaan lanjutan menemukan massa di ovariumku, aku menjalaninya sendiri. Dokter menjelaskan bahwa hasil pemeriksaan mengharuskan tindakan segera, meskipun sifat tumornya baru dapat dipastikan setelah jaringan diperiksa.

Aku ingin memberi tahu Arga. Namun, setiap membuka percakapan kami, yang terlihat justru pesanku yang terakhir.

Arga, aku takut. Tolong pulang.

Aku tidak sanggup mengetik kalimat itu lagi.

“Sudah ada yang mendampingi, Bu?” tanya perawat di dekat ranjang.

Aku terdiam, lalu meminta ponselku.

Kutelepon Bu Ratih.

“Boleh temani saya setelah operasi?”

“Tentu, Nak. Ibu berangkat sekarang.”

Untuk pertama kalinya, meminta pertolongan tidak terasa seperti memohon agar dipilih.

Ketika sadar, tenggorokanku kering dan perutku nyeri. Bu Ratih duduk di samping ranjang. Di dekat jendela, Arga berdiri dengan wajah kusut.

“Operasinya sudah selesai,” kata Bu Ratih sambil mengusap lenganku. “Dokter nanti datang menjelaskan.”

Arga bergerak mendekat, lalu berhenti.

“Boleh aku duduk?”

Aku mengangguk.

Dia meletakkan ponselnya di meja, layarnya menghadap ke bawah.

“Sekarang ceritakan,” kataku.

Arga menggosok kedua telapak tangannya.

“Malam itu aku sedang rapat dengan calon klien. Ponselku dipakai Dimas untuk menerima kode verifikasi akun presentasi. Setelah rapat, dia bilang tidak ada yang penting.”

“Dimas membaca pesanku?”

Arga mengangguk.

“Dia mengaku kemarin. Waktu kami membicarakan… tentang kamu yang makin menjauh.”

Aku menatapnya.

“Kenapa baru sekarang?”

Arga tidak segera menjawab.

Di luar kamar, roda troli berderit melewati pintu.

“Karena aku malu,” katanya akhirnya. “Dia bilang dia mengira kamu cuma ingin aku pulang seperti biasanya. Dia membisukan ponselku karena takut aku meninggalkan rapat.”

Dadaku sesak.

“Dia tahu aku hamil.”

“Iya.”

“Dan kamu menyimpan ini sejak kemarin?”

“Aku mau bicara di rumah.”

Aku memejamkan mata. Penjelasan itu tidak membuat malam tersebut lebih ringan. Justru muncul luka lain, tentang orang-orang yang merasa berhak menentukan kapan ketakutanku cukup penting untuk didengar.

“Keisha bagaimana?” tanyaku.

Arga menunduk.

“Aku sering cerita kepadanya. Tentang pekerjaan. Tentang kita.”

“Tentang istrimu yang terlalu sering menelepon?”

Dia mengangguk pelan.

“Jadi Dimas tidak membuat kesimpulan itu sendirian.”

Arga menutup wajahnya.

Aku menunggu sampai dia menurunkan tangannya.

“Setelah rapat, kamu ke mana?”

“Makan bersama tim.”

“Ponselnya sudah kembali?”

“Sudah.”

Keheningan di antara kami terasa panjang.

“Aku tidak memeriksanya,” katanya. “Aku melihat panggilanmu waktu hendak pulang.”

Jadi ada seseorang yang membisukan teleponku. Namun, setelah itu, suamiku tetap memiliki waktu untuk membuka layar, melihat namaku, dan memilih menelepon balik.

“Jangan ceritakan ini seolah-olah semuanya selesai karena sekarang ada nama lain yang bisa disalahkan,” kataku.

“Aku tahu.”

“Aku tidak tahu apakah kedatanganmu akan mengubah hasil malam itu. Dokter pun tidak pernah mengatakan begitu. Tapi aku seharusnya tidak menghadapi ketakutan itu sendirian.”

Arga menangis tanpa berusaha menyembunyikannya.

“Aku tahu,” ulangnya, lebih lirih.

Dokter datang tak lama kemudian. Tumor berhasil diangkat, dan hasil pemeriksaan jaringan masih perlu ditunggu. Aku mendengarkan setiap penjelasan, mengajukan pertanyaan, lalu meminta jadwal kontrol dicatat untukku.

Arga duduk diam sepanjang percakapan.

Sesudah dokter pergi, dia mengambil amplop dari tasnya.

“Aku belum membacanya.”

Aku mengenali tulisan tanganku.

“Surat itu bukan hasil pemeriksaan,” kataku. “Aku menulisnya sebelum tahu tanggal operasi.”

“Boleh kubaca sekarang?”

Aku mengangguk.

Di dalamnya ada tiga halaman. Tentang anak kami. Tentang bagaimana aku masih terbangun dengan tangan mencari perutku. Tentang kamar kecil yang pintunya selalu kututup karena aku belum sanggup melihat baju-baju mungil di sana.

Pada halaman terakhir, aku menulis bahwa setelah pulih, aku ingin tinggal terpisah.

Arga berhenti membaca.

“Kamu sudah memutuskan?”

“Aku ingin punya tempat untuk sembuh tanpa terus bertanya apakah hari ini aku cukup penting bagimu.”

Dia menatap surat itu lama sekali.

Lalu dia mengangguk.

Aku pulang bersama ayah yang datang dari Semarang. Arga membantu membawa tas sampai mobil, tetapi tidak memintaku mengubah keputusan.

Beberapa minggu kemudian, hasil pemeriksaan jaringan menunjukkan tumor itu jinak. Aku menangis di ruang konsultasi. Ayah menggenggam tanganku, sementara Arga, yang menunggu di luar atas izinku, menerima kabar itu setelahnya.

Kami mulai menjalani konseling secara terpisah. Sesekali bersama. Arga berhenti mengirim janji panjang. Dia mengurus dokumen yang kuminta, datang sesuai waktu yang disepakati, dan menerima ketika aku belum ingin bertemu.

Aku tidak tahu apakah pernikahan kami akan bertahan.

Suatu sore, aku kembali ke rumah untuk mengambil buku. Pintu kamar bayi terbuka. Arga berdiri di dalam, memegang kaus kaki biru yang dahulu dibelinya.

“Aku belum memindahkan apa pun,” katanya. “Aku menunggumu memutuskan.”

Aku duduk di lantai. Untuk pertama kalinya, kami membuka lemari itu bersama.

Di bawah tumpukan pakaian, kutemukan amplop lain. Amplop yang benar-benar kusiapkan untuk ulang tahun pernikahan kami, sebelum malam kehilangan itu.

Di dalamnya ada foto USG dan secarik kertas.

Ayah, jangan terlalu sibuk. Nanti aku ingin mengenalmu.

Arga membacanya, lalu menunduk sampai dahinya menyentuh kedua tangannya.

Aku ikut menangis. Kali ini, aku tidak bangkit untuk menenangkannya.

Aku meraih foto anak kami dan membiarkannya belajar duduk bersama kesedihannya sendiri, sementara untuk pertama kalinya, kesedihanku juga mendapat tempat.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang