Aku Selalu Memberi Makan Kakek yang Duduk di Depan Warungku. Tiga Hari Setelah

“Mas mengambil tempatku untuk apa?”

Arif menatap pintu, seolah sedang menghitung jarak menuju jalan.

“Rani, jangan percaya orang yang baru kamu kenal.”

“Tapi tanda tangan itu punya Mas.”

Bima menggeser dokumen agar bisa kubaca. Judulnya permohonan bantuan usaha. Nama warungku tercantum di tengah halaman, tetapi rekening penerimanya milik Arif.

Di bagian keterangan tertulis bahwa seluruh biaya operasional warung, termasuk makanan Pak Harun, ditanggung olehnya.

Aku membaca angka yang diminta.

Dua ratus lima puluh juta rupiah.

“Mas bilang warungku cuma menghabiskan tenaga.”

Arif menarik kursi dan duduk.

“Mas mau mengembangkannya. Kamu tidak akan berani mengajukan uang sebanyak itu.”

“Jadi Mas berbohong supaya bisa mengambilnya?”

“Uangnya belum cair!”

Kalimat itu keluar terlalu cepat. Nadia langsung menegakkan tubuh.

“Bagaimana dengan lima belas juta yang Kakek berikan sebelumnya?”

Aku menoleh.

Arif menunduk.

Bima meminta kami pindah ke belakang agar pelanggan tidak mendengar semuanya. Aku menurut, setelah menyuruh rombongan memindahkan mobil yang menghalangi warung sebelah.

Di meja dekat dapur, Bima meletakkan bukti transfer.

“Pak Harun memberi dana awal untuk pembelian lemari pendingin dan pembayaran tunggakan sewa. Beliau kemudian meminta saya memeriksa penggunaannya sebelum menyetujui bantuan berikutnya.”

Lemari pendinginku masih rusak. Pemilik bangunan bahkan baru kemarin menagih sewa.

Aku memandangi kakakku.

“Dipakai untuk apa?”

Ia mengusap wajah.

“Menutup pinjaman.”

“Pinjaman siapa?”

“Mas.”

Suara panci mendidih dari dapur terdengar begitu keras dalam keheningan itu.

Aku teringat setiap piring makan yang dibawanya pulang tanpa membayar, setiap nasihat agar aku lebih pandai mengatur uang. Rupanya, selama ini ia menutupi kesulitannya dengan membuatku merasa paling gagal dalam keluarga.

“Kenapa tidak bilang?”

Arif tertawa getir.

“Bilang kepada siapa? Kamu saja menghitung uang receh.”

“Lalu Mas memakai namaku karena tahu aku tidak punya uang untuk membantah?”

Ia tidak menjawab.

Bima menyimpan kembali bukti transfer.

“Persoalan dana ini akan kami bicarakan tersendiri. Bu Rani tidak berkewajiban menanggungnya.”

Arif hendak menyela, tetapi aku lebih dahulu berdiri.

“Mas pulang dulu. Aku ingin membaca surat Pak Harun.”

“Ran—”

“Sekarang.”

Ia akhirnya pergi. Dari balik jendela kecil, kulihat langkahnya melewati bangku biru tanpa menoleh.

Setelah pintu belakang tertutup, Bima menyerahkan surat itu kepadaku.

Rani, jika kamu marah karena saya tidak berterus terang, saya bisa memahaminya. Saya datang dengan satu tujuan, tetapi akhirnya terus kembali karena sesuatu yang tidak saya perhitungkan.

Aku menarik napas dan melanjutkan membaca.

Dua puluh tujuh tahun lalu, seorang perempuan menyelamatkan usaha kecil saya. Ia memasakkan makanan untuk para pekerja ketika saya tidak mampu membayar upah tepat waktu. Namanya Sulastri.

Tanganku berhenti.

Itu nama Ibu.

Bima mengeluarkan foto lama. Ibu berdiri di depan dapur beratap seng, mengenakan celemek motif bunga yang masih kusimpan di rumah. Di sampingnya ada Pak Harun yang jauh lebih muda.

“Ayah saya pernah bekerja di gudang bahan pangan,” kataku.

Bima mengangguk.

“Gudang milik Pak Harun. Setelah kebakaran, sebagian pekerja bertahan untuk membantu membangunnya kembali. Ibu Anda memasak untuk mereka.”

Aku ingat cerita tentang kebakaran itu. Ayah kehilangan pekerjaan beberapa bulan, dan Ibu berjualan nasi untuk menutup kebutuhan rumah. Mereka tidak pernah menyebut nama pemilik gudang.

“Beliau kehilangan kontak dengan keluarga Anda setelah gudang pindah. Ketika akhirnya menemukan alamat lama, orang tua Anda sudah meninggal.”

“Lalu beliau tahu aku dari mana?”

“Seorang mantan pekerja mengenali nama warung Anda di media sosial. Namanya sama dengan usaha nasi ibu Anda dulu.”

Warung Sulastri.

Nama yang kutulis sendiri pada spanduk murah karena ingin merasa Ibu masih menemaniku.

Aku kembali membaca.

Saya berniat datang sekali, memperkenalkan diri, lalu membayar utang budi. Tetapi kamu memberi saya bubur sebelum saya sempat menjelaskan siapa saya. Setelah itu, saya terus menunda. Saya menyukai perasaan duduk di tempat yang tidak meminta saya menjadi siapa-siapa.

Air mataku jatuh.

“Kenapa keluarganya tidak menemukannya?” tanyaku kepada Nadia.

Ia menunduk.

“Kami tahu beliau masih di kota ini. Sesekali beliau menghubungi sopir lamanya, tetapi menolak pulang dan tidak mau menyebut tempat tinggalnya. Kami terlalu sibuk saling menyalahkan.”

“Beliau sakit.”

“Iya.”

Nadia mengusap pipi dengan punggung tangan.

“Beliau menolak diperiksa. Saya seharusnya tetap mencari, bukan menunggu beliau menyerah dan pulang.”

Untuk pertama kalinya, ia terdengar seperti cucu yang kehilangan kakeknya, bukan seseorang yang sedang menjaga harta keluarga.

Di dalam amplop ada lampiran lain. Bukan surat penyerahan perusahaan atau rumah mewah. Pak Harun meminta yayasannya menawarkan bantuan peralatan dan pelatihan kepada warung-warung kecil yang melayani pekerja berpenghasilan rendah.

Warungku menjadi tempat pertama yang diusulkan.

Aku membaca syaratnya lama.

“Kalau menerima, apa aku harus memasang foto beliau?”

Bima menggeleng.

“Tidak ada kewajiban itu.”

“Lalu untuk apa membawa orang sebanyak tadi?”

Nadia memandang jalan dengan malu.

“Keluarga dan beberapa pengurus yayasan baru selesai dari acara doa. Semua memaksa ikut karena penasaran.”

“Besok cukup satu mobil,” kataku.

Ia mengangguk.

Beberapa minggu kemudian, bantuan itu mulai berjalan setelah dokumen dan kebutuhannya diperiksa. Aku memilih lemari pendingin, perbaikan saluran air, dan pelatihan pencatatan keuangan. Tidak ada uang besar yang masuk ke rekeningku.

Arif membuat kesepakatan pengembalian dana. Aku masih menjawab pesannya, tetapi tidak lagi membiarkannya meminjam namaku untuk urusan apa pun.

Pada hari lemari pendingin tiba, Bima membawa tas kain cokelat Pak Harun.

“Ini diminta keluarga untuk diberikan kepada Anda.”

Aku membuka laci kasir dan mengambil kancing keemasan yang kutemukan. Bentuknya cocok dengan bekas jahitan di penutup tas.

Di dalamnya ada buku kecil berisi harga bahan pokok, hitungan porsi, serta catatan tentang warungku.

Halaman terakhir membuatku duduk.

Rani menambahkan nasi kepada tukang ojek yang bilang belum mendapat penumpang. Katanya sendoknya kebesaran. Jangan percaya. Sendoknya sama sejak Senin.

Aku tertawa sambil menangis.

Di bawahnya ada satu kalimat lagi.

Anak Sulastri. Tidak salah alamat.

Pagi berikutnya, bangku biru itu kukeluarkan kembali. Ketika seorang bapak tua berhenti memandangi daftar harga, aku mempersilakannya duduk.

“Buburnya berapa, Nak?”

Aku menyebut harganya.

Ia merogoh saku, menghitung uang perlahan.

“Kalau kurang, boleh bantu kupas bawang,” kataku.

Lelaki itu mengangkat wajah.

Aku mengambil mangkuk, lalu menyalakan kembali kompor.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang