
Ponselku berdering ketika pesawat baru saja mendarat di Jakarta. Nama Dimas muncul di layar, disusul pesan singkat.
Kamu sudah sampai? Jangan lupa makan. Aku sibuk sampai besok sore.
Aku membaca pesan itu tanpa membalas. Di luar jendela, petugas bandara mengarahkan kendaraan bagasi. Semuanya bergerak menuju tempat masing-masing. Untuk pertama kalinya setelah lima tahun, aku pun tahu ke mana harus pergi.
Ayah menungguku di pintu kedatangan.
Tidak ada pertanyaan tentang Dimas. Ia hanya mengambil koperku, lalu memelukku lama sekali.
“Pulang juga kamu.”
Kalimat sederhana itu membuat pertahananku runtuh. Aku menangis di bahunya, sementara penumpang berlalu-lalang di sekitar kami.
Di mobil, Ayah menyerahkan sebotol air.
“Besok tidak harus langsung masuk kantor.”
“Aku ingin bekerja.”
“Bekerja boleh. Menghukum diri sendiri jangan.”
Aku menatapnya. Ayah tetap memandang jalan.
“Kamu tidak perlu membuktikan bahwa meninggalkan kami dulu bukan kesalahan.”
Tangisku hampir pecah lagi.
Keesokan paginya, aku kembali ke kantor perusahaan keamanan keluarga sebagai direktur manajemen risiko. Jabatan itu bukan hadiah karena aku pulang dengan hati patah. Sebelum pergi, aku sudah enam tahun bekerja di sana. Selama tinggal di Surabaya pun, aku tetap mengikuti pelatihan dan menangani beberapa penugasan dengan izin tempat kerjaku.
Namun, ketika duduk di ruang rapat, tanganku masih dingin.
Di layar terpampang daftar mitra yang kontraknya akan diperbarui bulan berikutnya.
Perusahaan Dimas ada di urutan ketiga.
“Ada hubungan pribadi yang perlu saya ungkapkan,” kataku kepada tim. “Saya pernah menjalin hubungan dengan direktur perusahaan ini. Pemeriksaan dan rekomendasinya harus dilakukan tanpa keterlibatan saya.”
Pak Surya, kepala kepatuhan, mengangguk.
“Pemeriksaannya sudah dimulai dua minggu lalu, Bu. Ada ketidaksesuaian laporan personel.”
Aku mengangkat wajah.
“Ketidaksesuaian apa?”
“Jumlah petugas yang ditagihkan berbeda dengan catatan kehadiran di beberapa lokasi. Kami sedang meminta penjelasan.”
Dadaku mengencang. Dua minggu lalu, Dimas mengatakan masalah keuangan perusahaannya hampir selesai. Ia bahkan menyuruhku bersabar soal pernikahan.
“Lanjutkan sesuai prosedur,” kataku. “Semua keputusan lewat komite.”
Menjelang siang, pengumuman susunan pimpinan terbit di situs perusahaan.
Lima belas menit kemudian, Dimas menelepon.
Aku membiarkannya berdering sampai berhenti.
Lalu masuk sebuah foto dari nomor yang tidak kukenal. Dimas mengenakan pakaian pengantin. Di belakangnya tampak kursi-kursi tamu dan dekorasi bunga putih.
Pesan berikutnya datang cepat.
Ini Keisya. Bisa bicara sebentar?
Aku menatap layar cukup lama sebelum menjawab.
Tentang apa?
Tentang kamu dan Dimas.
Kami akhirnya berbicara melalui telepon. Suaranya tertahan, seperti seseorang yang mencari tempat sepi di tengah keramaian.
“Dia bilang kalian sudah putus tahun lalu.”
Aku memejamkan mata.
“Kapan dia mengatakan itu?”
“Sejak pertama kali mendekatiku. Katanya kamu masih bergantung kepadanya dan belum mau menerima perpisahan.”
Aku teringat senyum tipis Keisya di restoran. Rupanya, kami berdiri di tempat yang sama dengan cerita yang berbeda.
“Pagi kemarin dia masih datang ke apartemenku,” kataku. “Dia yang membelikan tiket kepulanganku.”
“Bisa kamu buktikan?”
Aku tidak langsung menjawab. Lalu kukirim beberapa percakapan terbaru, termasuk pesan tentang hadiah ulang tahun dan rencananya menyusulku. Hanya itu. Aku tidak ingin menyerahkan seluruh hidupku untuk meyakinkan orang asing.
Di ujung telepon terdengar napas terputus.
“Dia sekarang sedang mencari cara menghubungimu,” katanya.
“Aku tahu.”
“Bukan cuma karena hubungan kalian.”
Aku menegakkan punggung.
Keisya terdiam sebentar sebelum melanjutkan.
“Ayahku menerima pengajuan investasi. Dimas mencantumkan kontrak dengan perusahaan keluargamu sebagai pendapatan yang sudah dijamin untuk tiga tahun.”
“Kontrak itu belum diperbarui.”
“Aku baru tahu.”
Aku meminta Keisya mengirimkan dokumen tersebut kepada Pak Surya melalui alamat resmi. Setelah itu, aku menutup telepon dan duduk tanpa bergerak.
Aku kira kebohongan Dimas berhenti pada dua perempuan.
Ternyata ia juga menjual kepastian yang tidak dimilikinya.
Sore harinya, ia menelepon menggunakan nomor lain. Kali ini kuangkat.
“Nad, kenapa kamu tidak pernah bilang?”
Tidak ada permintaan maaf. Itulah kalimat pertamanya.
“Bahwa aku anak pemilik perusahaan?”
“Aku pasti akan memahami keadaanmu kalau kamu jujur.”
Aku tertawa pendek.
“Keadaanku tidak pernah menghalangimu berkata jujur tentang Keisya.”
“Aku bisa jelaskan. Pernikahan ini rumit. Ada urusan keluarga dan pendanaan perusahaan.”
“Lalu hubungan kita apa? Tempat menunggu sampai pendanaanmu selesai?”
Ia terdiam.
Kemudian suaranya merendah.
“Tolong jangan biarkan masalah pribadi memengaruhi kontrak. Banyak karyawan bergantung pada perusahaan ini.”
“Aku sudah mengundurkan diri dari proses penilaiannya.”
“Jadi kamu tidak mau membantu?”
“Aku memastikan kamu diperiksa dengan adil.”
Ia menyebut namaku lagi, kali ini dengan nada yang dahulu selalu membuatku luluh.
Aku menatap foto keluarga di meja.
“Selamat tinggal, Dimas.”
Setelah telepon ditutup, aku menangis. Tidak lama, tetapi cukup sampai napasku terasa sakit. Pulang ke keluarga dan kembali bekerja ternyata tidak langsung membuat kehilangan menjadi ringan.
Tiga minggu kemudian, laporan pemeriksaan selesai. Ditemukan tagihan personel yang tidak sesuai serta penggunaan surat komitmen yang belum disahkan. Perusahaan Dimas diberi kesempatan menjawab, kemudian kontraknya tidak diperpanjang. Peralihan layanan diatur bertahap agar pekerjaan di lapangan tetap berjalan.
Aku menerima hasilnya melalui ringkasan resmi, sama seperti pimpinan lain.
Keisya menghubungiku sekali lagi. Pernikahan mereka hari itu ditunda sebelum akad. Ia tidak meminta kami berteman, dan aku tidak menawarkannya.
“Terima kasih sudah menjawab teleponku,” katanya.
“Semoga setelah ini kamu bisa mengambil keputusan dengan informasi yang lengkap.”
“Aku berharap kamu juga.”
Beberapa bulan kemudian, aku menemukan surel konfirmasi tiket lama saat membereskan kotak masuk. Di bawahnya ada pesan Dimas yang dahulu terlewat.
Tiket sudah kubeli. Senang bisa membuatmu bahagia.
Aku memandang kalimat itu, lalu membuka kalender.
Besok aku akan berangkat ke Surabaya untuk menemui tim lapangan. Kota yang sempat ingin kuhindari kini kembali menjadi sebuah tujuan kerja.
Asistenku mengetuk pintu.
“Bu, tiket pulangnya hari Jumat?”
Aku memeriksa jadwal, kemudian mengangguk.
“Iya. Jumat sore. Saya mau makan malam di rumah.”
Setelah ia pergi, kuhapus surel lama itu.
Dimas pernah membelikanku tiket untuk pergi, yakin aku akan kembali kepadanya.
Ia tidak tahu bahwa untuk pertama kalinya, aku sedang pulang.
