Suamiku Memberikan Kunci Mobil Dinasku kepada Adiknya dan Menyebutku Istri yang

“Kamu cuma numpang hidup di rumah ini, Rania. Jangan sok berkuasa hanya karena dipinjami mobil kantor.”

Arga mengatakannya di depan orang tua dan adiknya. Tak seorang pun menegur. Ibu mertua malah mengangguk, sementara Nisa menyilangkan tangan seolah baru saja memenangkan pertengkaran.

Padahal, pagi itu aku hanya meminta mobil dinasku dikembalikan.

Arga mengambil kuncinya tanpa izin dan memberikannya kepada Nisa untuk wawancara kerja. Ketika staf operasional menghubungiku, kendaraan itu justru terpantau berada di pusat perbelanjaan.

Aku terpaksa naik taksi menuju gudang di Bekasi, membawa dokumen pemeriksaan yang seharusnya sudah kutinjau sebelum pukul delapan.

“Perusahaanmu tidak akan bangkrut karena mobilnya dipakai sehari,” kata Arga saat kutelepon.

“Ini soal tanggung jawab, Ga.”

“Ini soal kamu yang tidak pernah menganggap adikku keluarga.”

Malamnya, mobil kembali. Namun, ruang tamu berubah menjadi tempat pengadilan, dan akulah terdakwanya.

Setelah ucapan tentang numpang hidup itu, aku mengambil kunci dari meja.

“Jadi, selama ini kamu menganggapku beban?”

Arga membuang muka.

“Jangan membesar-besarkan perkataan orang yang sedang kesal.”

Aku masuk kamar. Tanganku gemetar ketika membuka laptop, tetapi bukan karena ingin membalas penghinaan mereka.

Ada persoalan yang jauh lebih serius.

Perusahaan tempatku menjabat sebagai direktur operasional sedang menyelesaikan akuisisi perusahaan tempat Arga bekerja. Aku juga memiliki saham warisan ayah, sesuatu yang tak pernah menarik perhatian Arga. Setiap kali aku bercerita tentang pekerjaan, jawabannya hampir selalu sama.

“Nanti saja. Aku capek.”

Kini, nama Arga muncul dalam laporan penelaahan keuangan. Sejumlah biaya promosi tidak didukung bukti memadai.

Aku membaca laporan itu dua kali, lalu mengirim surel kepada komisaris. Kuungkapkan hubungan pernikahan kami dan meminta seluruh pemeriksaan atas divisinya ditangani tim independen.

Aku tidak ingin kemarahanku menentukan nasib siapa pun.

Keesokan siangnya, keluarga Arga datang lagi. Nisa membawa dua kerabat, dan lelucon tentang mobil kembali terdengar saat makan.

“Mbak Rania takut jabatan pentingnya hilang,” katanya sambil tertawa.

Bel berbunyi sebelum aku sempat menjawab.

Kurir mengantarkan salinan dokumen transaksi yang harus kutandatangani. Saat kupindahkan berkas ke meja kerja dekat ruang makan, selembar halaman pengesahan terjatuh.

Ayah mertua mengambilnya.

“Arga, ini bukankah perusahaanmu?”

Arga mendekat. Matanya bergerak dari logo perusahaan menuju namaku.

“Kamu direktur di perusahaan yang membeli kantor kami?”

“Ya.”

Ruangan mendadak hening.

Ketika ia hendak membuka lampiran lain, kutahan map itu. Namun, namanya pada halaman evaluasi sudah telanjur terlihat.

“Kenapa aku diperiksa?”

“Ada pengeluaran yang perlu dijelaskan. Tim independen yang menanganinya.”

Ponselnya berdering. Direktur utamanya menelepon.

Arga menjawab di teras. Dari balik kaca, kulihat bahunya menegang. Ketika kembali, wajahnya pucat.

“Aku diminta datang Senin pagi.”

Tak ada lagi yang melanjutkan makan.

Malam itu, Arga duduk di tepi ranjang saat aku memasukkan beberapa pakaian ke koper.

“Kamu mau ke mana?”

“Apartemenku.”

“Kamu punya apartemen juga?”

Aku berhenti melipat baju.

“Aku pernah mengajakmu melihatnya setelah penyewa terakhir pindah. Kamu bilang akhir pekanmu terlalu berharga untuk mengurus propertiku.”

Ia menunduk.

Beberapa saat kemudian, suaranya mengecil.

“Kalau kamu bilang ini hanya salah administrasi, mungkin pemeriksaannya bisa cepat selesai.”

Aku menutup koper.

“Kamu bahkan belum menjelaskan kepadaku apa yang terjadi.”

“Tidak semua uang itu kupakai sendiri.”

Kalimat itu membuat tanganku terdiam.

“Lalu dipakai siapa?”

Arga mengusap wajah, tetapi tidak menjawab.

Aku pergi malam itu.

Selama dua minggu berikutnya, aku menerima ringkasan perkembangan transaksi tanpa ikut membahas pemeriksaan Arga. Tim independen memeriksa tagihan, meminta konfirmasi vendor, dan mencocokkan hasil kegiatan dengan pembayaran.

Kemudian Arga meminta bertemu.

Kami duduk di sebuah kedai kopi di Cilandak. Ia tampak kurang tidur.

“Ada vendor yang kukenalkan,” katanya. “Usahanya milik teman Nisa.”

Aku menunggu.

“Sebagian acaranya memang dilaksanakan. Tapi nilai tagihannya dinaikkan. Selisihnya masuk ke rekening Nisa, lalu sebagian ditransfer kepadaku.”

Suara mesin kopi mendadak terdengar sangat keras.

“Untuk apa?”

“Membayar cicilan usaha. Menutup kartu kredit. Awalnya mau kukembalikan.”

Aku teringat uang yang kuberikan tahun lalu ketika ia mengaku membutuhkan modal tambahan.

“Uang dariku juga?”

Ia mengangguk kecil.

Dadaku sesak. Bukan hanya karena jumlahnya, melainkan karena selama ini aku ikut menenangkan seseorang yang sedang menyembunyikan kebohongan dariku.

“Aku bilang numpang hidup karena malu,” bisiknya. “Kamu selalu bisa menyelesaikan masalahmu sendiri. Aku merasa tidak dibutuhkan.”

“Aku membutuhkan pasangan, Ga. Aku tidak pernah meminta kamu membiayai seluruh hidupku.”

Ia menangis ketika meminta kesempatan.

Aku memberinya nomor seorang konselor, tetapi tidak menjanjikan akan pulang.

Beberapa hari kemudian, ibu mertua datang ke apartemen bersama Nisa.

“Kamu punya pengaruh,” katanya begitu duduk. “Tolong selamatkan pekerjaan suamimu.”

“Arga harus menjelaskan perbuatannya kepada perusahaan.”

“Kalau semuanya dibawa ke urusan kantor, keluarga ini bisa hancur.”

Aku memandang Nisa.

“Kamu tahu uang yang masuk ke rekeningmu berasal dari mana?”

Bibirnya bergetar. Kali ini ia tidak berani menatapku.

“Mas Arga bilang cuma meminjam jalur pembayaran.”

“Lalu kenapa kamu menerima bagiannya?”

Ia mulai menangis.

Ibu mertua meraih tangannya, tetapi untuk pertama kalinya tidak menemukan kalimat pembelaan.

Sebulan kemudian, pemeriksaan selesai. Arga diberhentikan. Perusahaan melanjutkan penanganan melalui bagian hukum dan meminta pengembalian kerugian berdasarkan temuan yang telah diverifikasi.

Aku mengajukan perceraian setelah Arga mengakui bahwa kebohongan keuangan itu sudah berlangsung hampir setahun.

Saat mengambil sisa barangku, kutemukan ayah mertua menunggu di ruang tamu. Ia menyerahkan amplop berisi foto pernikahan kami.

“Maaf,” katanya. “Waktu itu Bapak diam.”

Aku menerima amplop tersebut.

“Saya menunggu seseorang mengatakan bahwa ucapan Arga salah, Pak.”

Ia mengangguk, matanya basah.

Di dekat pintu, Arga bertanya pelan, “Kalau waktu itu aku tahu jabatanmu, mungkin semuanya berbeda.”

Aku menatapnya untuk terakhir kali.

“Aku berharap kamu tetap menghormatiku sekalipun penghasilanku kecil.”

Tiga bulan kemudian, bagian operasional menyerahkan formulir kendaraan pengganti. Mobil lama dialihkan untuk tim lapangan.

Di kolom kontak darurat, aku sempat berhenti.

Dulu, nama Arga selalu kutulis tanpa berpikir.

Kini kutuliskan nama kakakku, lalu menyerahkan formulir itu dengan tangan yang tenang.

Dokumen yang jatuh di ruang makan memang membuat keluarga Arga terdiam. Namun, yang akhirnya mengubah hidupku bukanlah jabatan yang tercetak di sana.

Melainkan keberanianku untuk berhenti tinggal di tempat yang membuatku merasa harus meminta izin untuk dihargai.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang