Sepuluh menit sebelum perayaan ulang tahun ayahnya dimulai, suamiku menyodorkan kesepakatan perpisahan.
“Aku ingin bersama Selma,” katanya. “Aku harap kamu tidak membuat keributan malam ini.”
Dari balik pintu ruang kerja hotel, terdengar musik keroncong dan tawa para tamu. Aku memandangi saputangan di saku jasnya, yang kupilihkan pagi tadi.
“Sudah berapa lama dokumen ini disiapkan?”
“Tiga minggu.”
Tiga minggu lalu, Arga masih menggenggam tanganku sambil membicarakan liburan akhir tahun.
Kubaca enam halaman itu perlahan. Apartemen, mobil, dan sejumlah uang ditawarkan sebagai penyelesaian aset. Kutandai bagian yang masih perlu diperiksa pengacaraku, lalu menandatangani pernyataan bahwa aku bersedia menjalani proses perpisahan.
Tanda tangan itu belum mengakhiri perkawinan kami. Namun, aku tidak berniat menahannya.

“Terima kasih sudah dewasa,” katanya, terdengar lega.
Aku meletakkan pulpen.
“Jangan samakan diamku dengan persetujuan atas caramu memperlakukanku.”
Di luar ruangan, Selma menunggu dengan kebaya hijau tua. Tatapannya langsung menuju map di tangan Arga.
Aku melewatinya tanpa menyapa.
Di ruang istirahat yang kosong, barulah tanganku gemetar. Aku duduk, mengambil napas, lalu membuka pesan Dimas, direktur keuangan Mahardika Investama.
Evaluasi risiko Grup Pradana masih menunggu persetujuanku.
Perusahaan keluarga Arga itu telah menerima pendanaan dari Mahardika selama hampir tiga tahun. Aku pemegang saham pengendali Mahardika, tetapi menyerahkan pengelolaan harian kepada tim profesional.
Arga tahu aku memiliki usaha investasi. Ia tidak pernah tertarik bertanya lebih jauh. Ketika Mahardika masuk sebagai mitra, seluruh pembicaraan dilakukan melalui Dimas dan direksi lain.
Aku membiarkannya merasa berhasil. Diam-diam, aku juga terus meminta tim memberi perusahaannya kesempatan tambahan.
Malam itu, aku menelepon Dimas.
“Rekomendasi komite risiko masih sama?”
“Ya, Bu. Tunda fasilitas baru sampai laporan penggunaan dana dan arus kas lengkap. Jaminan yang jatuh tempo juga perlu dievaluasi ulang.”
“Jalankan. Semua kewajiban kontrak aktif tetap dipenuhi.”
Aku berhenti sebentar.
“Setelah ini saya ingin mengundurkan diri dari pembahasan khusus Grup Pradana karena konflik kepentingan. Tolong siapkan mekanismenya.”
“Baik, Bu.”
Aku mengirim persetujuan tertulis berdasarkan rekomendasi komite, lalu kembali ke aula.
Belum lama aku duduk, ponsel Arga bergetar. Ia membaca layar, menelepon seseorang, kemudian menghampiriku.
“Kamu kenal Dimas Prakoso?”
Sebelum aku menjawab, ayahnya datang membawa pemberitahuan dari Mahardika. Ia membaca bagian persetujuan dan terdiam.
“Nama pemegang saham pengendalinya… Nadira?”
Arga merebut kertas itu.
Aku mengangguk.
“Tadi kamu ingin memastikan aku tidak dirugikan. Sekarang aku harus memastikan perusahaanku juga terlindungi.”
Wajahnya memucat.
“Jadi kamu membalas dendam?”
“Evaluasinya sudah dibahas sebelum malam ini. Selama ini justru aku yang menunda keputusan karena percaya penjelasanmu.”
Ayah mertua menatap kami bergantian.
“Ada apa sebenarnya?”
“Arga meminta berpisah,” jawabku. “Karena Selma.”
Tangan ayah mertua mencengkeram sandaran kursi. Aku segera meminta staf mengantarnya duduk di ruangan yang lebih tenang.
Aku tidak ingin ulang tahunnya menjadi tontonan.
Namun, Arga mengikuti langkahku menuju lorong.
“Telepon Dimas. Bilang keputusan itu ditinjau ulang.”
“Besok timmu bisa menyerahkan dokumen yang diminta.”
“Kamu tahu berapa banyak karyawan bergantung pada proyek ini?”
“Aku juga memikirkan mereka. Karena itu penggunaan dananya harus jelas.”
Ia meraih lenganku. Aku melepaskannya.
“Jangan sentuh aku.”
Untuk pertama kalinya malam itu, ia mundur.
Pagi berikutnya, aku datang ke kantor pengacaraku. Kesepakatan aset diperiksa, dokumen keuanganku ditata, dan proses perpisahan mulai disiapkan.
Sementara itu, tim independen meninjau proyek Grup Pradana.
Tiga hari kemudian, Dimas meminta pertemuan khusus.
“Ada selisih antara laporan proyek dan pembayaran kepada pemasok.”
Aku menutup buku catatan.
“Berapa?”
“Masih diverifikasi. Namun, beberapa pembayaran masuk ke perusahaan konsultan yang terkait dengan Selma.”
Aku meminta laporan itu diteruskan kepada pihak berwenang di perusahaan dan penasihat hukum. Aku tidak ikut menentukan kesimpulannya.
Seminggu kemudian, ayah mertua meminta menemuiku.
Ia datang tanpa Arga, membawa map dan wajah yang tampak lebih tua daripada saat pesta.
“Bapak tidak tahu,” katanya.
Aku mempersilakannya duduk.
“Arga mengatakan biaya komunikasi proyek meningkat karena perluasan pasar. Ternyata ada kontrak yang tidak pernah dibahas di rapat direksi.”
Ia mengusap mata.
“Bapak terlalu percaya karena dia anak sendiri.”
Aku mengenali penyesalan itu. Aku pernah menyebutnya cinta.
Pemeriksaan berikutnya menemukan pembayaran untuk pekerjaan yang tidak dapat dibuktikan. Sebagian dana juga dipakai membiayai perjalanan pribadi Arga dan Selma.
Namun, temuan yang paling mengejutkanku justru datang dari pengacara.
Arga menawarkan apartemen sebagai penyelesaian, padahal unit itu sudah dibebani pinjaman tambahan beberapa bulan sebelumnya.
Aku menatap salinan dokumennya.
“Dia bilang apartemen itu akan menjadi milikku.”
“Karena itu kita tidak boleh menyetujui pembagian sebelum memeriksa kewajibannya,” jawab pengacaraku.
Aku teringat kalimatnya tentang memastikan aku tidak dirugikan. Rupanya ia hendak meninggalkanku dengan sesuatu yang tampak berharga, sambil menyembunyikan beban di belakangnya.
Ketika kami bertemu lagi, kutanyakan pinjaman itu.
Arga menunduk.
“Aku akan menyelesaikannya.”
“Seperti laporan penggunaan dana yang terus kamu janjikan?”
Ia tidak menjawab.
Lalu, dengan suara hampir berbisik, ia berkata, “Selma pergi.”
Aku menatapnya.
“Setelah pemeriksaan dimulai, dia mengajukan pengunduran diri. Sekarang semua komunikasi lewat pengacaranya.”
Aku tidak merasakan kemenangan.
Hanya lelah.
“Itu urusan kalian, Ga.”
“Aku membuat kesalahan besar.”
“Ya.”
“Kita masih bisa memperbaikinya?”
Aku menggeser dokumen apartemen ke arahnya.
“Kamu menyiapkan perpisahan tiga minggu sambil membiarkanku mengurus hadiah ayahmu. Kamu menawarkan aset tanpa menjelaskan utangnya. Aku tidak tahu lagi bagian mana dari kehidupan kita yang sungguh kamu jalani bersamaku.”
Air matanya jatuh, tetapi jawabanku tidak berubah.
Beberapa bulan kemudian, perceraian kami selesai. Persoalan aset dituntaskan melalui kesepakatan yang telah diperiksa kedua pihak. Temuan penggunaan dana ditangani terpisah.
Grup Pradana tetap berjalan dengan pengawasan baru. Pendanaan terbatas diberikan setelah persyaratan dipenuhi, berdasarkan keputusan komite tanpa keterlibatanku. Arga tidak lagi memimpin proyek tersebut.
Pada hari aku pindah ke apartemen kecil pilihanku sendiri, ayah mantan suamiku mengirim sebuah amplop.
Di dalamnya ada foto ulang tahunnya yang ke-65, diambil sebelum Arga mengajakku ke ruang kerja.
Aku berdiri di sampingnya, tersenyum tanpa mengetahui apa yang menunggu.
Di balik foto itu, ia menulis, Bapak menyesal baru mengenalmu dengan sungguh-sungguh setelah kamu pergi.
Aku menyimpan foto tersebut di laci, lalu kembali membuka kardus.
Menjelang malam, Dimas menelepon.
“Bu, ada proposal baru yang perlu ditinjau.”
“Kirim besok pagi,” jawabku. “Malam ini saya sedang menata rumah.”
Aku meletakkan ponsel dan memasang cangkir kesukaanku di rak.
Dulu, aku menggunakan pengaruhku agar kehidupan Arga terus berjalan. Kini, aku mulai memberi waktu yang sama untuk kehidupanku sendiri.
