Tunanganku Memakaikan Cincin Pertunangan Kami ke Jari Perempuan Lain Saat Makan

Arga mengulurkan tangan ke arah dokumen itu. Aku menariknya sebelum jemarinya menyentuh kertas.

“Jangan tambah masalahmu.”

“Nadira, kamu tidak memahami seluruh persoalannya.”

“Makanya besok kamu jelaskan kepada auditor.”

Keisha meraih tasnya, tetapi Hendra berdiri.

“Duduk dulu. Tidak ada yang meminta penjelasanmu sejak tadi, dan kamu sudah berkali-kali mengatakan tidak tahu apa-apa.”

“Aku berhak pulang, Pak.”

“Benar,” kataku. “Kamu boleh pulang. Salinan laporan ini sudah tersimpan di kantor.”

Keisha berhenti merapikan tas. Arga menatapnya dengan sorot yang membuatku yakin mereka sedang memikirkan hal yang sama.

Ayah menyentuh lenganku.

“Sudah cukup untuk malam ini.”

Aku mengangguk. Namun sebelum meninggalkan meja, aku melihat cincin itu sekali lagi.

“Keisha, titipkan cincinnya kepada ibu Arga. Itu bukan hadiah yang boleh dia berikan kepadamu.”

Kali ini, Keisha benar-benar melepasnya.

Pagi berikutnya, aku tiba di kantor sebelum pukul tujuh. Tim hukum dan auditor independen sudah mendapatkan salinan dokumen. Akses Arga ke ruang data proyek dibatasi, sementara pembayaran yang belum selesai diperiksa satu per satu.

Aku sendiri diminta tidak ikut menilai bukti.

“Keputusan Ibu tetap diperlukan untuk operasional,” kata Bu Ratna, ketua tim hukum. “Tetapi pemeriksaan harus berjalan tanpa dipengaruhi hubungan pribadi.”

Aku menyetujuinya. Untuk pertama kalinya, menjaga jarak terasa lebih berguna daripada meluapkan kemarahan.

Menjelang siang, sekretarisku menemukan berkas lama yang kuminta.

Proposal awal pusat distribusi.

Setahun lalu, Arga datang membawa gagasan pembangunan gudang dengan sistem pendingin terintegrasi. Dia mengaku mendapatkannya dari tim pengembangan bisnisnya. Aku menyukai konsepnya dan menyetujui kajian awal.

Namun ada catatan tulisan tangan di sudut halaman ketiga.

Catatan milikku.

Aku ingat pernah menyusun konsep itu ketika Ayah masih dirawat. Kutitipkan kepada Arga untuk meminta pendapat Hendra mengenai jalur distribusinya.

Aku membandingkan kedua berkas. Kesalahan penomoran tabelnya sama.

Arga bukan hanya mencoba mengambil aset proyek. Sejak awal, dia telah memperkenalkan pekerjaanku sebagai gagasannya sendiri.

Ponselku bergetar.

Pesan dari Keisha.

Saya mau bicara. Tanpa Arga.

Aku meneruskan pesan itu kepada Bu Ratna. Pertemuan dilakukan sore harinya di kantor, dengan pendamping masing-masing.

Keisha datang tanpa perhiasan. Di hadapannya, dia meletakkan laptop dan beberapa lembar rekening koran.

“Perusahaannya memang atas namaku,” katanya. “Arga yang menyuruh mendirikannya.”

“Untuk jasa apa?” tanya auditor.

Keisha terdiam.

“Tidak ada tim konsultannya,” lanjutnya akhirnya. “Laporannya disiapkan staf Arga. Aku menerima pembayaran, lalu sebagian besar ditransfer lagi sesuai instruksinya.”

“Ke mana?”

Dia menunjukkan daftar rekening.

Salah satunya perusahaan properti yang sedang membangun apartemen.

Aku menatapnya.

“Kalian membeli apartemen?”

Keisha mengangguk, lalu menggeser sebuah surel ke arah Bu Ratna.

Di dalamnya, Arga menjanjikan unit itu sebagai tempat tinggal mereka setelah urusan proyek selesai.

Aku merasa mual. Namun, yang keluar dari mulutku justru pertanyaan sederhana.

“Lalu untuk apa kalian datang memakai cincinku?”

Keisha menunduk.

“Dia bilang kamu selalu mengalah kalau di depan keluarga. Kalau malam itu kamu protes, dia akan bilang kamu terlalu emosional untuk memimpin proyek.”

Aku mengingat cara Arga mengetuk meja, menunggu aku marah.

Jadi, bahkan penghinaan itu memiliki tujuan.

Keisha mulai menangis.

“Aku pikir kalian memang akan berpisah.”

“Tapi kamu tahu aku belum mengetahuinya.”

Dia tidak menjawab.

Bukti dari laptop Keisha memberi arah baru pada pemeriksaan. Tim menemukan dokumen persetujuan yang dibuat dari hasil pindai tanda tanganku pada surat lama. Ada pula instruksi untuk mengalihkan sebagian kepemilikan perusahaan proyek kepada badan usaha lain yang dikendalikan Arga.

Rencana itu belum selesai. Beberapa persetujuan dan verifikasi masih diperlukan.

Makan malam keluarga rupanya hendak dipakai Arga untuk mendesakku menandatangani berkas tambahan setelah pengumuman pertunangan.

Dua hari kemudian, Hendra datang ke kantorku.

Wajahnya terlihat lebih tua daripada saat makan malam.

“Saya sudah menyerahkan arsip perusahaan kami kepada auditor,” katanya. “Termasuk persetujuan yang saya berikan tanpa membaca rinciannya.”

Aku mempersilakannya duduk.

“Bapak tahu soal vendor Keisha sejak kapan?”

“Tiga minggu lalu. Saya menanyakan biayanya, tetapi menerima penjelasan Arga begitu saja.”

“Kenapa baru memperingatkanku malam itu?”

Hendra meremas kedua tangannya.

“Saya ingin dia mengaku sendiri. Sampai melihat dia memperlakukanmu di meja makan, saya masih berharap masalahnya bisa diselesaikan diam-diam.”

Aku menarik napas panjang.

“Harapan Bapak hampir membuat perusahaan kami ikut menanggungnya.”

“Saya tahu.”

Aku tidak memaafkannya saat itu. Namun aku menerima kesediaannya memberikan keterangan tertulis.

Arga akhirnya meminta bertemu. Bu Ratna mendampingiku.

Dia datang membawa kotak cincin.

“Aku bisa mengembalikan dananya,” katanya.

“Itu bagian yang memang harus kamu selesaikan.”

“Aku juga mau memperbaiki hubungan kita.”

Aku memandang kotak di tangannya.

“Ketika kamu merencanakan hidup dengan Keisha, bagian mana dari hubungan kita yang ingin kamu pertahankan?”

Arga terdiam, kemudian berkata, “Aku tertekan. Perusahaan punya utang. Aku takut dianggap gagal.”

“Kamu bisa mengatakan itu sebelum membuat tanda tanganku.”

Dia menggeser kotak cincin mendekat.

Aku membiarkannya tetap di tengah meja.

Pemeriksaan berlangsung berbulan-bulan. Pengalihan yang belum selesai dihentikan. Dana yang dapat ditelusuri diupayakan kembali melalui proses hukum. Temuan pemalsuan dan penyalahgunaan dana diserahkan kepada penyidik. Proyek dilanjutkan dengan mitra baru setelah seluruh risikonya diperiksa.

Pada hari pembukaan pusat distribusi, Ayah berdiri di sampingku.

“Dulu Ayah hampir meminta kamu bersabar demi menjaga hubungan keluarga,” katanya pelan.

Aku menoleh.

“Kenapa tidak jadi?”

“Ayah melihat kamu membawa laporan kerja ke makan malam pertunanganmu. Sementara Arga bahkan tidak menyediakan tempat duduk untukmu.”

Aku tersenyum, meski dadaku menghangat.

Setelah acara, sekretarisku menyerahkan sebuah amplop dari ibu Arga. Di dalamnya ada bukti pengembalian uang cincin dan secarik surat.

Ternyata cincin itu dibeli menggunakan dana proyek, dicatat sebagai biaya hadiah untuk mitra.

Aku membacanya lama, lalu menyerahkannya kepada bagian keuangan untuk dimasukkan ke berkas pemulihan dana.

Selama berminggu-minggu aku mengira Arga telah memberikan sesuatu milikku kepada perempuan lain.

Rupanya, bahkan saat ingin mempermalukanku, dia tetap mengirimkan tagihannya kepadaku.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang