Aku Menampung Sahabatku yang Kehilangan Tempat Tinggal, lalu Sebuah Gelang Rumah

“Jangan sampai Nadine melihat gelang itu.”

Aku berhenti di depan ruang observasi, membawa bubur ayam yang mulai mendingin. Dari celah pintu, kulihat ibuku berdiri di samping ranjang Kirana. Bagas, suamiku, mengambil gelang pasien dari tangan sahabatku itu.

“Sudah kusimpan, Bu. Nadine nggak akan tahu.”

Dua bulan lalu, aku menampung Kirana setelah perceraian dan kebangkrutan membuatnya kehilangan tempat tinggal. Aku menyiapkan kamar tamu, meminjamkan uang, bahkan membantu mencari pekerjaan.

Sekarang dia menangis di hadapan suamiku.

“Kalau Nadine tahu soal bayi ini, dia pasti membenciku.”

Bagas menggenggam tangannya.

“Dokter bilang kehamilanmu harus dijaga. Jangan memikirkan itu dulu.”

Aku mencengkeram kantong bubur sampai ujung plastiknya melukai jari.

“Lalu pernikahan kalian?” tanya Kirana.

“Tidak pernah tercatat,” jawab Bagas. “Berkasnya belum lengkap sejak enam tahun lalu.”

Ibuku tidak terlihat terkejut.

“Nadine bisa mengurus dirinya sendiri,” katanya. “Dia punya pekerjaan bagus. Kamu sudah nggak punya siapa-siapa.”

Aku mundur sebelum mereka melihatku.

Di dekat lift, aku menelepon atasanku dan menanyakan kembali penugasan ke Melbourne yang kutolak tiga hari sebelumnya karena Bagas tidak ingin berjauhan.

“Posisinya masih ada,” kata Pak Surya. “Tapi keberangkatanmu tetap menunggu visa dan administrasi.”

“Saya siap menjalani prosesnya, Pak.”

Setelah menutup telepon, aku kembali ke kamar.

Bagas menyambutku dengan senyum yang sudah enam tahun kuanggap tempat pulang.

“Kamu sudah lama sampai?”

“Cukup lama.”

Senyumnya menghilang.

Kirana menatapku, lalu menarik napas gemetar.

“Dokumen pernikahan kalian bukan sekadar kurang, Nadine. Ada yang sengaja menahannya.”

Pandangan matanya beralih kepada Ibu.

Aku meletakkan pengisi daya di meja.

“Ibu?”

Ibu meremas tali tasnya.

“Dengarkan dulu penjelasan Ibu.”

“Sejak kapan?”

Tidak ada yang menjawab.

Aku mengeluarkan ponsel.

“Saya akan mencatat pembicaraan ini. Kalau kalian tidak mau menjelaskan sekarang, saya akan mencari tahu sendiri.”

Bagas mendekat.

“Jangan bikin keributan di rumah sakit.”

“Kalau begitu, jawab pelan-pelan.”

Kirana mulai menangis lagi.

“Enam tahun lalu aku pernah dekat dengan Bagas. Ibumu tahu. Waktu aku memilih menikah dengan orang lain, beliau mempertemukan kalian.”

Aku mengenang makan malam pertama kami. Ibu mengatakan Bagas anak temannya yang sopan dan mapan.

“Aku tidak tahu berkasmu ditahan waktu itu,” lanjut Kirana. “Aku baru tahu kemarin, setelah Bagas bilang dia bisa segera menikahiku.”

Aku memandang laki-laki di sebelah ranjang.

“Dan kamu percaya itu cukup untuk membenarkan semuanya?”

Kirana menunduk.

“Nggak.”

Ibu akhirnya berbicara.

“Waktu itu ada masalah usaha keluarga. Bagas setuju membantu melunasi pinjaman. Ibu pikir kalian akan cocok.”

Dadaku terasa kosong.

“Apa hubungannya dengan dokumen?”

“Ibu menyimpan beberapa dokumenmu karena takut kamu membatalkan pernikahan setelah tahu soal utang itu.”

Aku menatapnya lama.

“Setelah pesta selesai, kenapa tidak diberikan?”

Ibu tidak menjawab. Bagas justru berkata, “Aku sudah berkali-kali mau mengurusnya.”

“Enam tahun, Gas.”

Dia terdiam.

Aku pergi malam itu tanpa menunggu permintaan maaf. Di apartemen, aku mengambil dokumen pribadi, menyalin catatan keuangan, lalu menginap di rumah rekan kantor.

Besoknya, aku menemui pengacara bernama Bu Ratri.

Beliau mendengarkan ceritaku, memeriksa dokumen yang kubawa, lalu menutup map.

“Kita verifikasi dulu statusnya. Jangan mengambil kesimpulan dari ucapan suami Anda.”

Untuk pertama kalinya sejak di rumah sakit, aku merasa ada seseorang yang tidak memintaku segera menerima keadaan.

Pemeriksaan berikutnya memastikan pernikahan kami memang belum tercatat. Namun, Bu Ratri menjelaskan bahwa masih ada proses yang perlu ditempuh untuk menyelesaikan status dan hak-hakku. Aku menyerahkan urusan itu kepadanya.

Soal apartemen lebih jelas. Aku membelinya sebelum pernikahan, menggunakan tabunganku dan peninggalan Ayah.

Aku memberi Bagas waktu mengambil barang pribadi dengan pendampingan pengelola gedung. Kirana juga harus pindah. Aku tidak bersedia menjadi tempat tinggal mereka lagi.

Bagas menelepon malamnya.

“Kirana sedang hamil. Kamu tega mengusirnya?”

“Kamu boleh menyewa tempat untuknya.”

“Tabunganku belum cukup.”

Aku membuka laporan rekening rumah tangga di laptop.

Selama ini, hampir seluruh pengeluaran dibayar dariku. Bagas selalu mengatakan penghasilannya diputar untuk usaha.

“Uangmu dipakai untuk apa?”

Dia langsung mengakhiri telepon.

Jawabannya datang dua hari kemudian melalui Kirana.

Dia meminta bertemu di lobi kantor, membawa amplop berisi bukti transfer dan tangkapan layar.

“Bagas bilang apartemen itu miliknya,” katanya. “Dia bilang kamu akan pindah ke luar negeri, lalu kami bisa tinggal di sana.”

Aku menatapnya.

“Sejak kapan dia tahu soal Melbourne?”

“Akhir bulan lalu.”

Padahal aku baru menerima penawaran resmi minggu sebelumnya. Lalu aku ingat pernah membicarakan kemungkinan promosi dengan Bagas sebulan lalu.

Dia melarangku pergi saat itu.

Namun, kepada Kirana, kepergianku sudah dijanjikan.

“Dia juga bilang kalian sedang berpisah,” ujar Kirana.

“Kamu tinggal bersamaku dua bulan. Kamu melihat kami setiap hari.”

Air matanya jatuh.

“Aku tahu. Aku memilih percaya karena ingin percaya.”

Aku tidak menghiburnya.

Di antara bukti transfer itu, kulihat angka yang kukenal. Uang yang pernah kuberikan kepada Ibu untuk memperbaiki atap rumah.

“Kenapa uang ini masuk ke rekening Bagas?”

“Ibumu bilang untuk uang muka kontrakan kami. Bagas yang mengurus.”

Aku meminta Kirana mengirimkan salinannya kepada Bu Ratri, lalu meninggalkannya di lobi.

Malamnya, Ibu datang ke tempatku menginap.

“Ibu cuma ingin semuanya selesai baik-baik.”

“Dengan uangku?”

Beliau mulai menangis.

“Kamu selalu punya jalan keluar, Nadine.”

Aku membuka pintu lebih lebar, tetapi tidak mempersilakannya masuk.

“Punya jalan keluar bukan berarti Ibu boleh terus menaruhku dalam keadaan yang harus kutinggalkan.”

Butuh beberapa bulan untuk menyelesaikan urusan kami. Bagas mencoba membujuk, lalu marah ketika aku hanya bersedia berkomunikasi melalui pengacara. Ibu mengembalikan uang secara bertahap setelah aku menuntut penjelasan tertulis.

Kirana memberikan keterangannya dan meminta maaf. Aku menerima permintaan maaf itu tanpa mengundangnya kembali ke hidupku.

Ketika akhirnya berangkat ke Melbourne, aku tidak merasa menang. Aku masih menangis saat pesawat lepas landas.

Namun, malam pertama di apartemen baruku, aku bisa mengunci pintu dan tidur tanpa menunggu siapa pun pulang.

Enam bulan kemudian, sebuah paket menyusul dari Jakarta. Pengelola apartemen menemukan kotak peninggalan Ayah ketika membantu mengurus penyewaan unitku.

Di dalamnya ada surat lama.

“Nadine, rumah ini Ayah titipkan supaya kamu selalu punya pilihan. Jangan merasa harus bertahan hanya karena takut tidak punya tempat pulang.”

Aku duduk di lantai, membaca tulisan tangannya sampai pandanganku kabur.

Selama berbulan-bulan aku sibuk memikirkan siapa yang menungguku pergi.

Ternyata, bertahun-tahun sebelumnya, Ayah sudah memastikan bahwa jika hari itu tiba, aku mampu membuka pintu sendiri.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang