“Aku bukan barang yang bisa Ayah tukar lagi.”
Kalimat itu keluar sebelum aku sempat memikirkan akibatnya. Di seberang telepon, Ayah terdiam. Di depanku, Bagas sudah hampir mencapai gerbang politeknik.
“Jaga mulutmu, Kirana. Ayah melakukan semua ini untuk keluarga.”
“Kalau begitu, kenapa yang selalu dikorbankan hanya aku?”

“Kamu sudah lupa siapa yang membesarkanmu?”
Aku memejamkan mata. Selama ini, pertanyaan itu selalu berhasil membuatku menyerah. Namun pagi itu, aku menggenggam amplop dari seorang laki-laki yang bahkan tidak menuntut balasan atas pengorbanannya.
“Utang Dimas bukan tanggung jawabku. Aku tidak akan pulang.”
Kututup telepon sebelum keberanianku habis.
“Bagas!”
Dia berbalik. Aku berlari menghampirinya, menahan lengannya agar dia tidak melangkah lagi.
“Aku mau daftar ulang,” kataku terengah. “Tapi setelah itu, aku ikut mengantarmu.”
Dia melihat wajahku.
“Kamu menangis?”
“Nanti kuceritakan. Sekarang temani aku masuk.”
Kami berlari melewati halaman. Di meja pelayanan, petugas memeriksa berkasku satu per satu. Ketika dia menyerahkan formulir terakhir, tanganku masih gemetar.
Pada kolom kontak darurat, aku berhenti.
Lalu kutulis nama Bagas.
Dia berdiri di sampingku, diam-diam menggeser botol air yang baru dibelinya ke dekat tanganku.
Selesai mendaftar, kami mengambil tas di warung lalu naik taksi daring menuju tempat tinggalku. Sebuah kamar sederhana di rumah indekos khusus mahasiswi, dengan jendela menghadap pohon mangga.
Bagas meletakkan koperku dekat lemari.
“Bu kos sudah tahu kamu mahasiswa baru. Kalau butuh apa-apa—”
“Ayah menelepon,” potongku.
Kuceritakan semuanya.
Wajahnya mengeras saat mendengar nama Pak Harun.
“Maaf,” katanya.
“Kenapa kamu yang minta maaf?”
“Aku pikir setelah kita menikah, mereka akan berhenti.”
Aku duduk di tepi ranjang.
“Aku juga mengira begitu.”
Bagas berjongkok di depan tasnya, mengeluarkan salinan buku nikah dan menyerahkannya kepadaku.
“Simpan dokumenmu sendiri. Kalau mereka datang dan memaksa, hubungi aku, Bu Ratna, atau ibu kos. Jangan hadapi sendirian.”
“Kamu masih harus berangkat?”
Dia menatap jam.
“Iya.”
Pertanyaan berikutnya terasa berat keluar dari mulutku.
“Empat tahun itu benar-benar tidak boleh pulang?”
Bagas menggeleng.
“Ada cuti sesuai jadwal proyek. Kontraknya empat tahun, bukan berarti aku terus berada di kapal. Kadang penempatannya di galangan.”
Aku mengembuskan napas yang sejak tadi tertahan.
“Lain kali jelaskan sampai selesai.”
Untuk pertama kalinya pagi itu, dia tertawa kecil.
Di pelabuhan, seorang pria berseragam perusahaan memanggil namanya. Bagas mengangkat tangan, lalu menoleh kepadaku.
“Belajar yang benar. Jangan merasa harus cepat membalas apa pun.”
Aku meraih tangannya.
“Aku belum tahu bagaimana menjadi istrimu.”
“Aku juga masih belajar.”
“Kalau begitu, jangan memutuskan hal besar sendirian lagi.”
Dia mengangguk.
Sebelum pergi, dia menyodorkan ponselnya.
“Nomormu belum kusimpan.”
Aku tertawa sambil menangis. Kami sudah menikah, tetapi bahkan hal sesederhana itu belum sempat kami lakukan.
Malam pertama di indekos, teleponku dipenuhi pesan. Ayah marah. Dimas menuduhku meninggalkan keluarga setelah mendapat suami. Ibu hanya menulis, Jangan bikin Ayah tambah pusing.
Aku hampir menyerah ketika sebuah pesan dari Bu Ratna masuk.
Bagas sudah berangkat?
Aku membalas singkat, lalu meneleponnya. Dengan suara terbata-bata, kuceritakan uang kuliah, peralatan yang dijual, dan ancaman Ayah.
Bu Ratna tidak langsung menjawab.
Kemudian terdengar isaknya.
“Saya pikir dia jual alat untuk modal pindah,” katanya. “Anak itu cuma bilang kamu masih ingin sekolah.”
“Saya tidak pernah meminta, Bu.”
“Ibu tahu.”
Aku memberanikan diri bertanya tentang delapan belas juta itu.
Bu Ratna menarik napas panjang.
“Ayahmu bilang itu utang biaya pengobatan ibumu. Katanya, kalau tidak segera dibayar, rumah kalian akan disita. Ibu membantu karena mengira kalian sedang kesusahan.”
Aku menatap dinding kamar.
Ibu tidak pernah menjalani pengobatan besar. Rumah kami pun milik kakek.
Keesokan harinya, Bu Ratna mengirim foto kuitansi. Pada keterangannya tertulis pinjaman, bukan pemberian untuk pernikahan.
Ada tanda tangan Ayah.
Siangnya, Ayah kembali menelepon.
“Keluarga suamimu menagih uang. Kamu mengadu apa?”
“Aku mengatakan yang sebenarnya.”
“Kamu mau melihat kakakmu batal menikah?”
Aku menelan ludah.
“Ayah bisa bicara dengan Dimas. Jangan meminta aku membayarnya.”
Ayah memutus sambungan.
Aku menangis setelahnya. Menolak ternyata tidak langsung membuatku merasa bebas. Ada rasa bersalah yang terus mengikuti sampai ke ruang kelas, kantin, bahkan saat aku mencoba tidur.
Bagas menelepon setiap kali sinyal memungkinkan. Kadang hanya lima menit.
Dia tidak menyuruhku melupakan keluarga.
“Kalau sedih, sedih saja,” katanya. “Tapi jangan mengambil keputusan waktu kamu sedang ketakutan.”
Dua minggu kemudian, hasil beasiswa diumumkan.
Aku mendapatkannya.
Biaya pendidikan ditanggung, disertai bantuan hidup bulanan. Aku membaca namaku berkali-kali sebelum menelepon Bagas.
Dia tertawa keras sampai rekan kerjanya bertanya ada apa.
“Jadi uangmu bisa dikembalikan,” kataku.
“Syukurlah. Kita bisa beli alat servis lagi pelan-pelan.”
Kita.
Satu kata itu membuat kamar sempitku terasa lebih hangat.
Namun kejutan terbesar datang sebulan kemudian, ketika Dimas muncul di depan indekos bersama tunangannya, Sinta.
Aku hampir menutup pintu.
“Aku tidak datang meminta uang,” katanya cepat.
Di ruang tamu, Sinta meletakkan map berisi rincian pembayaran.
Pernikahan besar itu ternyata bukan permintaan keluarganya. Dimas yang menginginkannya, berharap terlihat berhasil di depan teman-temannya. Sebagian utangnya pun berasal dari pinjaman daring untuk menutup cicilan lama.
“Aku baru tahu setelah Bu Ratna datang,” ujar Sinta.
Dimas menunduk.
“Aku bilang ke Ayah keluarganya menuntut pesta. Aku bohong.”
Tanganku mengepal di pangkuan.
“Kamu tahu aku disuruh berhenti mengurus beasiswa?”
Dia mengangguk.
Keheningan di antara kami terasa panjang.
“Aku belum bisa memaafkanmu,” kataku akhirnya.
“Aku tahu.”
Dia menyerahkan bukti pembayaran cicilan pertama kepada Bu Ratna. Mereka membatalkan gedung pesta dan menjual motor Dimas. Untuk pertama kalinya, kakakku mulai membereskan akibat perbuatannya sendiri.
Empat bulan kemudian, Bagas pulang untuk cuti pertamanya.
Aku menunggunya di terminal dengan sebuah amplop cokelat.
Dia membukanya dengan wajah bingung. Di dalamnya ada bukti pembelian beberapa alat servis bekas yang kondisinya masih bagus, serta surat penerimaan beasiswaku.
“Uangmu belum kupakai selain yang sudah dibayarkan,” kataku. “Kebutuhanku cukup dari beasiswa dan kerja administrasi beberapa jam seminggu.”
Bagas menatapku.
“Kamu tidak perlu membuktikan apa-apa.”
“Aku tahu. Aku cuma ingin kita punya rencana bersama.”
Dia tersenyum, lalu mengangkat tasku dari bangku.
“Pulang?”
Aku meraih tangannya.
Untuk pertama kalinya, aku tidak perlu bertanya rumah yang mana.
