Saat jarum jam bergerak menuju pukul setengah sepuluh malam dan ruang tamu tetap kosong, Alya tak lagi mampu menepis keganjilan yang sejak tadi menekan dadanya. Di kampung seperti ini, orang meninggal biasanya membuat rumah tak pernah sepi. Ada yang datang membawa doa, ada yang membantu mencuci piring, ada yang sekadar duduk menemani keluarga yang berduka. Tapi malam itu, rumah Bu Sulastri seperti sengaja dijauhi.
Satya berdiri di teras, memandang jalanan kecil di depan rumah yang gelap dan lengang. Dewi sibuk merapikan piring yang bahkan belum terpakai. Sementara Bu Sulastri duduk kaku dengan tangan saling menggenggam, seolah sedang menahan sesuatu yang berat sekali.
Alya mendekat dan duduk di samping ibu mertuanya.
“Bu,” katanya pelan, “sebenarnya ada apa?”
Bu Sulastri mengangkat wajah, lalu buru-buru menggeleng. “Nggak ada apa-apa, Nak.”
“Kalau memang nggak ada apa-apa, kenapa dari tadi Ibu kelihatan takut?”

Satya menoleh dari pintu. Wajahnya ikut menegang. “Bu, jujur saja.”
Dewi yang sejak tadi diam juga berhenti bergerak. Gadis itu menatap ibunya dengan cemas.
Air mata tiba-tiba menggenang di mata Bu Sulastri. “Ibu malu.”
“Malu kenapa?” tanya Alya lembut.
“Karena sepertinya mereka masih marah sama almarhum bapakmu,” jawab Bu Sulastri sambil menatap Satya.
Satya membeku. “Marah? Memangnya Bapak pernah berbuat apa?”
Bu Sulastri menutup wajahnya dengan kedua tangan. “Bapak kalian… sebelum sakit, sempat pinjam uang ke beberapa tetangga.”
Suasana langsung senyap.
“Pinjam uang?” suara Satya terdengar parau.
“Iya,” jawab Bu Sulastri lirih. “Sedikit-sedikit. Ada yang seratus ribu, ada yang dua ratus, ada juga yang lima ratus. Ibu nggak pernah tahu jumlah pastinya. Bapak bilang itu untuk tambahan biaya berobat, untuk bayar listrik, dan untuk kebutuhan rumah waktu Satya masih kuliah.”
Satya menunduk. Rahangnya mengeras.
“Tapi kenapa Bapak nggak bilang?” bisiknya.
“Karena bapakmu nggak mau kalian kepikiran. Dia selalu bilang, biar saja dia yang menanggung. Yang penting anak-anaknya sekolah dan punya masa depan.”
Dewi mulai menangis. “Jadi mereka nggak datang karena utang itu?”
Bu Sulastri mengangguk lemah. “Mungkin mereka kecewa. Mungkin mereka mengira keluarga kita sengaja menghindar setelah Bapak meninggal.”
Alya terdiam. Dadanya terasa sesak. Ia memandang meja penuh makanan yang disiapkan dengan tulus, lalu menatap wajah-wajah keluarga kecil itu. Tiba-tiba ia mengerti kenapa Bu Sulastri sejak awal begitu khawatir soal biaya. Perempuan itu bukan hanya berduka. Ia juga memikul rasa malu dan beban yang tak sempat diungkapkan.
Alya bangkit perlahan. “Kalau begitu, kita jangan menunggu lagi.”
Satya mengangkat kepala. “Maksud kamu?”
“Kita antar sendiri makanan ini ke rumah-rumah mereka.”
Dewi langsung menatapnya. “Mbak, malam-malam begini?”
“Iya,” jawab Alya mantap. “Kalau memang ada salah paham, kita selesaikan. Kalau memang ada utang, kita dengarkan. Jangan biarkan malam ini berakhir dengan prasangka.”
Satya ragu sejenak, tetapi kemudian ia mengangguk. “Aku ikut.”
Akhirnya mereka membagi hidangan ke beberapa rantang dan piring besar. Alya membawa dua bungkus, Satya membawa tiga, Dewi membawa daftar nama tetangga yang tadi diundang, dan Bu Sulastri ikut berjalan pelan meski semula dilarang.
Rumah pertama yang mereka datangi adalah rumah Pak Harno, tetangga paling dekat. Saat pintu diketuk, yang keluar adalah istrinya, Bu Harno. Ekspresi perempuan itu berubah kaget melihat mereka.
“Lho… Bu Sulastri?”
Alya langsung tersenyum sopan. “Assalamu’alaikum, Bu. Kami mengantar makanan tahlilan.”
Bu Harno terlihat salah tingkah. “Aduh… maaf… saya…”
“Kenapa nggak datang, Bu?” tanya Alya terus terang, tapi nada suaranya tetap lembut.
Bu Harno menggigit bibir. Pandangannya beralih pada Bu Sulastri, lalu menunduk. “Terus terang, tadi sore ada yang bilang kalau keluarga panjenengan tidak ingin didatangi ramai-ramai.”
“Siapa yang bilang?” Satya langsung bertanya.
Bu Harno ragu, tetapi akhirnya menjawab, “Pak Lurah datang ke rumah-rumah. Katanya Bu Sulastri lagi sedih sekali dan tidak sanggup menjamu tamu. Jadi lebih baik cukup kirim doa dari rumah masing-masing.”
Semua orang terdiam.
“Pak Lurah?” ulang Dewi dengan mata membelalak.
“Astaghfirullah…” Bu Sulastri limbung sedikit. “Saya nggak pernah bilang begitu.”
Alya dan Satya saling pandang. Ada sesuatu yang tak beres.
Mereka lalu mendatangi rumah kedua, ketiga, dan keempat. Jawabannya hampir sama. Semua orang mengaku tak datang karena mendapat pesan serupa: keluarga almarhum ingin suasana sepi, tidak sanggup menerima tamu, dan akan membagikan makanan sendiri bila diperlukan.
Alya merasakan amarah merambat pelan di dadanya. Tapi yang lebih mengejutkan adalah ketika mereka tiba di rumah Pak Minto, seorang pria tua yang dulu sering duduk bersama almarhum di pos ronda.
Begitu melihat Bu Sulastri, pria itu langsung menangis.
“Saya bukan marah,” katanya serak. “Saya justru malu. Bapak Suparman pernah pinjam uang ke saya, tapi dua hari sebelum meninggal dia sudah lunasi.”
Satya terkejut. “Dilunasi?”
Pak Minto mengangguk. “Dia datang sore-sore, jalan kaki sambil batuk-batuk. Dia bawa amplop. Bilangnya, ‘Kalau saya nggak ada, jangan bikin anak istri saya menanggung malu.’ Saya kira cuma saya yang diberi begitu.”
Jantung Alya berdegup lebih cepat. “Maksud Bapak?”
Pak Minto masuk sebentar, lalu kembali membawa amplop cokelat kusam. “Dia titip surat. Katanya, kalau nanti ada masalah setelah dia meninggal, surat ini boleh dibuka.”
Tangan Satya gemetar saat menerima amplop itu. Di halaman rumah Pak Minto yang remang-remang, ia membukanya perlahan. Di dalamnya ada secarik kertas dengan tulisan tangan yang mulai goyah.
Untuk siapa pun yang membaca ini, saya mohon maaf jika selama hidup saya pernah menyusahkan. Saya memang meminjam uang ke beberapa tetangga. Tapi saya juga sudah berusaha mengembalikannya sedikit demi sedikit dari hasil menjual kambing dan perahu kecil saya. Kalau ternyata masih ada yang belum lunas, saya mohon datang ke rumah setelah tahlilan. Jangan menagih kepada istri dan anak-anak saya di hari pertama mereka berduka. Biarkan mereka merasa bahwa kampung ini tetap rumah bagi mereka.
Di bagian bawah surat itu ada satu kalimat tambahan yang membuat Satya tak sanggup menahan tangis.
Kalau anak sulung saya pulang membawa istrinya, tolong sambut menantu saya dengan baik. Saya belum sempat menghadiahkan apa-apa selain nama keluarga yang sederhana.
Alya merasakan matanya panas. Ia menatap Satya yang kini menangis tanpa suara.
“Ternyata Bapak…” Dewi tak bisa melanjutkan kalimatnya.
Pak Minto menghela napas. “Almarhum itu orang baik. Memang pernah pinjam uang, tapi bukan untuk foya-foya. Dia menolong banyak orang juga. Dulu waktu anak saya sakit, dia yang antar ke puskesmas. Waktu rumah Pak Harno bocor, dia yang bantu menambal. Tapi belakangan beliau menjauh, mungkin karena sakit dan malu soal pinjaman.”
“Kalau begitu kenapa Pak Lurah bilang seperti itu?” tanya Alya.
Pak Minto menatap ke jalan, lalu berbisik, “Karena beberapa bulan lalu almarhum sempat berselisih dengan Pak Lurah soal tanah belakang mushala. Bapak Suparman menolak menjualnya murah. Setelah itu hubungan mereka dingin.”
Alya merasakan bulu kuduknya meremang. Jadi bukan para tetangga yang tak peduli. Seseoranglah yang sengaja mencegah mereka datang.
Kabar itu menyebar cepat. Satu per satu tetangga mulai keluar rumah. Mereka yang semula hanya berdiri ragu di depan pagar, akhirnya mendekat. Ada yang membawa sajadah, ada yang membawa termos teh, ada yang membawa wajah penuh penyesalan.
Tak sampai setengah jam, rumah Bu Sulastri yang tadi sepi mendadak ramai.
Tikar digelar. Pria-pria duduk di ruang depan, ibu-ibu membantu di dapur, anak-anak mengantarkan gelas dan piring. Suara doa pun akhirnya menggema memenuhi rumah, hangat dan menenangkan.
Bu Sulastri menangis sepanjang pembacaan tahlil. Kali ini bukan karena malu, melainkan karena lega. Satya duduk di samping ibunya sambil sesekali menunduk menahan sesak. Dewi membantu membagikan makanan dengan mata sembap tetapi senyum yang mulai kembali. Sementara Alya berdiri di ambang pintu dapur, memandangi rumah itu yang kini hidup kembali oleh orang-orang yang ternyata selama ini tetap peduli.
Setelah acara selesai, beberapa tetangga mendatangi keluarga itu. Mereka mengaku masih menyimpan uang titipan, bukti pelunasan, bahkan catatan kecil tentang bantuan almarhum di masa lalu. Ada juga yang terang-terangan meminta maaf karena terlalu mudah percaya pada ucapan Pak Lurah.
Menjelang tengah malam, saat tamu mulai pulang, Bu Sulastri memegang tangan Alya erat-erat.
“Nak,” katanya dengan suara bergetar, “kalau tadi kamu nggak memaksa kita mengantar makanan, mungkin sampai besok Ibu tetap mengira semua orang membenci keluarga kita.”
Alya tersenyum sambil mengusap punggung tangan ibu mertuanya. “Kadang yang membuat rumah terasa paling sepi bukan karena tidak ada orang, Bu. Tapi karena ada salah paham yang dibiarkan terlalu lama.”
Bu Sulastri mengangguk sambil menangis lagi. “Kamu benar.”
Saat Alya hendak membereskan meja, Satya tiba-tiba memanggilnya dari ruang tengah. Di tangannya ada amplop lain yang terselip di bawah foto almarhum.
“Alya,” katanya lirih, “ini buat kamu.”
Alya membuka amplop itu pelan-pelan. Di dalamnya ada cincin perak sederhana dan secarik kertas kecil.
Maaf Bapak belum sempat menyambutmu sebagai menantu dengan layak. Kalau kamu membaca ini, berarti kamu sudah datang ke rumah kami dalam keadaan kami sedang berduka. Terima kasih karena tetap mau menjadi bagian dari keluarga sederhana ini. Jaga Satya, jaga ibunya, dan kalau bisa, ajari keluarga ini bahwa menerima kebaikan orang lain bukanlah aib.
Tangan Alya gemetar. Ia menutup mulutnya, menahan tangis yang pecah begitu saja.
Malam itu ia akhirnya mengerti satu hal. Rumah itu memang sempat sunyi, tetapi bukan karena tak ada cinta. Justru karena cinta yang terlalu lama memikul malu sendirian. Dan sering kali, satu orang tulus yang berani mengetuk pintu-pintu sunyi bisa mengembalikan sebuah keluarga kepada harapan.
