KUKIRA EMAK CUMA JANDA MISKIN PENERIMA BANSOS – BAGIAN 2

Tanganku gemetar ketika membaca kalimat pertama dalam surat peninggalan Emak.

Rahayu, Nduk, kalau kamu menemukan surat ini, berarti Emak sudah tidak bisa lagi menunggumu pulang. Maafkan Emak karena harus meninggalkan begitu banyak pertanyaan. Ada sesuatu yang selama ini Emak sembunyikan, bukan karena tidak percaya kepadamu, melainkan karena Emak takut seseorang akan mengambilnya sebelum sampai ke tanganmu.

Aku berhenti membaca.

Seseorang?

Siapa yang dimaksud Emak?

Aku melanjutkan dengan jantung berdebar.

Pada tanggal 10 April, seorang perempuan bernama Niluh Maharani akan datang. Percayalah kepadanya. Sebelum itu, geser meja pawon dan gali tanah di bawahnya. Ambil kendi yang Emak kubur di sana. Jangan beri tahu Imran. Apa pun yang dikatakannya, jangan serahkan kendi itu kepadanya.

Aku langsung membeku.

Mas Imran?

Mengapa Emak menyebut nama suamiku?

Aku membaca ulang kalimat terakhir beberapa kali. Selama ini Mas Imran selalu mengatakan bahwa Emak tidak menyukainya. Dia bahkan pernah melarangku pulang dengan alasan keluargaku hanya akan mengganggu kehidupan rumah tangga kami.

Namun, bagaimana jika semuanya memang sengaja direncanakan?

Malam itu, aku mengambil cangkul kecil dari belakang rumah. Dengan tangan gemetar, kugeser meja pawon dan mulai menggali tanah.

Tidak sampai lima belas menit, ujung cangkul menyentuh benda keras.

Sebuah kendi tanah liat.

Ketika kubuka penutupnya, cahaya lampu dapur memantul pada puluhan keping logam berwarna kuning.

Aku ternganga.

“Ya Allah… emas?”

Kuhitung satu per satu.

Empat puluh tujuh keping.

Sebagian memiliki tulisan dinar, sedangkan beberapa lainnya berbentuk koin tebal dengan ukiran berbeda.

Aku duduk di lantai dapur, memandangi peninggalan itu dengan perasaan campur aduk.

Emak yang selalu mengenakan sandal usang dan menerima bantuan sosial ternyata menyimpan emas sebanyak ini.

Mengapa beliau tidak pernah menggunakannya?

Mengapa selama ini kami hidup seolah tidak memiliki apa-apa?

Tiba-tiba ponselku berdering.

Nama Mas Imran muncul di layar.

Aku langsung menutup kendi dengan kain.

“Halo, Mas.”

“Hayu, kamu sudah sampai kampung?”

“Iya.”

“Pemakaman Emak sudah selesai?”

Aku menelan ludah.

“Sudah.”

“Ya sudah. Besok pulang saja. Anak-anak juga harus sekolah.”

Aku memejamkan mata.

“Mas, Emak baru dimakamkan hari ini.”

“Terus mau apa lagi di sana? Rumahnya juga sudah tua. Nggak ada yang bisa diurus.”

Aku menggenggam ponsel semakin erat.

Lalu memberanikan diri bertanya.

“Mas, kenapa nomor keluarga di ponselku berubah semua?”

Sambungan mendadak sunyi.

“Nomor apa?”

“Nomor Mbak Ambar, Mbak Rini, dan beberapa tetangga. Semuanya salah.”

Imran tertawa pendek.

“Mungkin ponselmu rusak.”

“Terus kenapa ada pesan kasar dari nomorku ke mereka?”

Kali ini Imran tidak langsung menjawab.

“Kamu jangan gampang percaya omongan orang kampung, Hayu.”

“Mas pernah memakai ponselku tanpa izin?”

“Sudahlah! Aku capek. Besok kita bicara.”

Telepon langsung terputus.

Aku menatap layar dengan dada berdebar.

Untuk pertama kalinya, aku benar-benar takut kepada laki-laki yang sudah tujuh tahun menjadi suamiku.

Keesokan paginya, aku mendatangi Mbak Rini.

Setelah memastikan Raka dan Yuna sedang bermain di halaman, kuceritakan isi surat Emak kepadanya.

Wajah Mbak Rini berubah pucat ketika mendengar nama Imran.

“Hayu, sebenarnya ada sesuatu yang belum sempat kuceritakan.”

Aku menegakkan tubuh.

“Apa, Mbak?”

“Sebulan sebelum meninggal, Emakmu pernah datang ke rumahku sambil menangis.”

“Kenapa?”

“Katanya Imran datang diam-diam dan meminta tanda tangan untuk menjual rumah.”

Darahku seolah berhenti mengalir.

“Apa?”

Mbak Rini mengangguk.

“Dia bilang kamu sudah setuju. Tapi Emakmu menolak karena rumah itu satu-satunya tempat yang bisa kamu datangi kalau suatu hari mengalami kesulitan.”

Aku menutup mulut.

Mbak Rini melanjutkan dengan suara pelan.

“Setelah ditolak, Imran marah. Dia mengancam tidak akan membiarkan Emak bertemu cucu-cucunya lagi.”

Air mataku langsung jatuh.

Jadi selama ini Emak bukan tidak ingin menghubungiku.

Beliau sengaja dijauhkan dari kehidupanku.

Siang itu, Mas Toni membantu membawa salah satu keping emas ke toko emas terpercaya. Pemilik toko memeriksanya dengan peralatan khusus.

“Ini emas asli, Bu. Beratnya cukup besar. Tapi setiap keping perlu diperiksa karena kadar dan jenisnya belum tentu sama.”

“Berapa nilainya, Pak?”

“Kalau keping yang ini saja, nilai logamnya bisa mencapai puluhan juta rupiah, mengikuti harga hari ini. Untuk semuanya, kita harus buat pemeriksaan tertulis.”

Aku mengangguk.

Namun, sebelum meninggalkan toko, sebuah pesan masuk dari nomor tidak dikenal.

Jangan jual emas peninggalan Sari. Imran sedang mencarinya.

Aku membeku.

Bagaimana orang itu mengetahui tentang kendi?

Belum sempat membalas, pesan kedua muncul.

Aku Niluh Maharani. Temui aku di rumah Emakmu tanggal 10 April. Simpan semua suratnya.

Aku langsung menelepon nomor tersebut.

Seorang perempuan menjawab dengan suara tenang.

“Rahayu?”

“Ibu siapa sebenarnya?”

Perempuan itu terdiam sebentar.

“Aku sahabat lama ibumu. Ada urusan yang belum selesai antara kami.”

“Urusan apa?”

“Warisan yang pernah dipercayakan kepada Sari. Tapi hati-hati, Nak. Suamimu sudah pernah mencariku.”

Jantungku berdegup semakin kencang.

Malam berikutnya, Imran tiba-tiba datang ke rumah Emak.

Aku sedang menyuapi Yuna ketika pintu depan diketuk keras.

“Hayu! Buka!”

Aku terkejut mendengar suaranya.

Begitu pintu kubuka, Imran langsung masuk tanpa melepas sepatu.

“Mana barang peninggalan Emakmu?”

Aku berpura-pura bingung.

“Barang apa?”

“Jangan bohong! Aku tahu Emakmu menyimpan emas!”

Wajahnya merah padam.

Aku mundur selangkah.

“Dari mana Mas tahu?”

Imran terdiam.

Kesalahannya langsung kusadari.

Dia baru saja mengungkapkan sesuatu yang tidak pernah kuberitahukan kepadanya.

“Jadi benar, Mas selama ini mencari emas Emak?”

Imran mengusap wajah dengan kasar.

“Aku butuh uang, Hayu.”

“Untuk apa?”

Dia tidak menjawab.

Aku kembali mendesak.

“Mas, jawab!”

Akhirnya Imran mengaku telah menggunakan uang perusahaan tempatnya bekerja untuk menutup kerugian investasi berisiko. Kekurangannya mencapai ratusan juta rupiah.

“Aku pikir emas itu bisa menyelamatkan kita.”

Aku menatapnya tidak percaya.

“Jadi Mas sengaja memutus hubunganku dengan Emak supaya bisa mengambil hartanya?”

“Aku cuma ingin melindungi keluarga!”

“Melindungi keluarga dengan membiarkan istrinya tidak tahu kalau ibunya sedang sekarat?”

Imran terdiam.

Air mataku mengalir.

“Emak meneleponku berkali-kali. Mas yang menghalanginya, kan?”

Dia menunduk.

“Aku nggak menyangka kondisinya separah itu.”

Aku merasa seluruh tubuhku lemas.

“Keluar, Mas.”

“Hayu…”

“Keluar dari rumah Emak sekarang!”

Imran masih berusaha mendekat, tetapi Mas Toni dan Mbak Rini yang mendengar keributan segera datang.

Melihat mereka, Imran akhirnya pergi.

Malam itu, aku memutuskan tidak kembali bersamanya. Aku menyimpan surat dan dokumen yang kutemukan, mengganti akses keamanan ponsel serta rekeningku, dan meminta pendampingan hukum untuk mengurus masalah rumah tangga kami.

Ketika tanggal 10 April tiba, Niluh Maharani benar-benar datang.

Perempuan berusia sekitar enam puluh tahun itu menangis begitu melihat wajahku.

“Ya Allah, Rahayu. Kamu mirip sekali dengan ibumu waktu muda.”

Beliau membawa sebuah map berisi catatan transaksi emas dan foto-foto lama.

Dari situlah aku mengetahui bahwa Emak dahulu membantu usaha perdagangan perhiasan milik Niluh. Setelah usaha itu ditutup, Emak menyimpan bagian keuntungan yang diterimanya dalam bentuk emas.

“Emakmu tidak pernah ingin hidup mewah,” kata Niluh. “Sebagian emas itu dia simpan untuk masa tuanya. Sebagian lagi sengaja dia sisihkan untukmu.”

Aku menunduk.

“Tapi kenapa Emak masih menerima bantuan sosial?”

Niluh menghela napas.

“Aku baru tahu soal itu belakangan. Sari takut menjual emas tanpa dokumen yang lengkap dan belum memahami kewajibannya. Aku sudah menyiapkan catatan agar kepemilikan serta kondisi ekonominya bisa diperiksa dengan benar.”

Aku memandangi map tersebut.

Niluh lalu mengeluarkan sebuah amplop lain.

“Ini yang paling penting.”

Di dalamnya terdapat tulisan tangan Emak.

Rahayu, Emak mungkin tidak bisa memberimu kehidupan yang sempurna. Tetapi Emak ingin kamu punya pilihan. Kalau suatu hari seseorang membuatmu merasa tidak punya tempat untuk pergi, ingatlah bahwa rumah ini selalu milikmu untuk pulang.

Aku menangis tersedu-sedu.

Selama ini aku menganggap Emak terlalu miskin untuk membantuku.

Ternyata beliau telah menyiapkan jalan keluar ketika aku sendiri belum menyadari betapa buruk keadaan rumah tanggaku.

Dengan bantuan Niluh, kepemilikan emas diperiksa dan dokumen yang diperlukan diurus. Aku tidak buru-buru menjual semuanya. Aku menggunakan sebagian peninggalan itu untuk memenuhi kebutuhan anak-anak dan memulai usaha kecil setelah urusan hukumnya jelas.

Beberapa bulan kemudian, aku resmi berpisah dari Imran.

Keputusan itu tidak mudah.

Namun, setiap kali keraguan muncul, aku mengingat suara Yuna ketika aku pingsan di pemakaman.

“Bu, jangan ikut meninggal.”

Aku tidak ingin anak-anakku tumbuh dengan melihat ibunya terus hidup dalam ketakutan.

Suatu sore, setelah Raka dan Yuna pulang sekolah, kami duduk bersama di dapur rumah Emak.

Aku sedang menggoreng tempe ketika Raka bertanya.

“Bu, kalau Mbah Uti masih ada, pasti senang lihat kita tinggal di sini, ya?”

Aku tersenyum sambil menahan air mata.

“Pasti, Nak.”

Yuna kemudian menunjuk meja pawon.

“Bu, dulu Mbah pernah bilang ada harta paling berharga disimpan di rumah ini.”

Tanganku terhenti.

“Yuna tahu dari mana?”

“Mbah bilang waktu telepon. Katanya kalau Ibu pulang, Ibu harus cari.”

Aku memandangi putriku dengan jantung berdebar.

“Terus Mbah bilang apa?”

Yuna berpikir sebentar.

“Katanya hartanya bukan emas.”

Aku terdiam.

“Bukan emas?”

Yuna mengangguk polos.

“Katanya harta paling berharganya itu Ibu. Soalnya Ibu anak yang selalu Mbah tunggu pulang.”

Aku langsung menutup wajah.

Tangisku pecah di depan kedua anakku.

Bertahun-tahun aku merasa bersalah karena tidak mampu memberikan uang dan perhatian sebanyak yang kuinginkan kepada Emak.

Namun, ternyata beliau tidak pernah menilai kasih sayangku dari semua itu.

Aku memeluk Raka dan Yuna erat-erat.

Di luar, angin sore menggerakkan daun pisang di belakang rumah. Cahaya matahari masuk melalui jendela dapur, menyinari meja pawon yang kini kembali berada di tempat semula.

Di bawah meja itulah aku menemukan emas yang nilainya mungkin mencapai miliaran rupiah.

Namun, setelah kehilangan Emak, aku akhirnya mengerti bahwa ada sesuatu yang jauh lebih berharga daripada peninggalan tersebut.

Kesempatan untuk pulang kepada orang yang mencintai kita tanpa syarat.

Dan kesempatan itu, seberapa banyak pun emas yang kumiliki sekarang, tidak akan pernah bisa kubeli kembali

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang