“Mir, kamu yakin tadi cuma berjalan sebentar?”
Pertanyaan Paman Ujang membuat Amir terdiam. Ia duduk di bangku kayu sebuah warung kecil di pinggir jalan, masih menggigil meskipun matahari belum sepenuhnya tenggelam. Di hadapannya, segelas teh manis hangat mengepulkan uap, tetapi tangannya terlalu gemetar untuk mengangkat gelas itu.
“Memangnya berapa lama aku hilang, Mang?”
“Enam jam, Mir. Hampir enam jam!”
Amir menggeleng tidak percaya.
“Nggak mungkin. Rasanya aku cuma berjalan sekitar setengah jam.”

Ujang menatap keponakannya dengan mata merah. Sejak Amir menghilang, lelaki itu telah menyusuri jalur hutan bersama beberapa warga dan petugas setempat. Ia bahkan sempat berpikir harus menghubungi keluarga Amir untuk menyampaikan kabar buruk.
“Kami sudah mencarimu sampai ke sungai. Semua jalan setapak diperiksa. Tapi nggak ada yang melihatmu.”
Amir menunduk.
“Aku melihat jalan besar, Mang. Jalan yang lurus sekali. Padahal tadi waktu kita masuk, jalannya sempit.”
Ujang terdiam.
“Jalan besar?”
“Iya. Terus ada orang-orang pakai jubah putih. Mereka berdiri berpasangan.”
Wajah Ujang berubah.
“Berapa orang?”
“Aku nggak ingat. Mereka seperti berjaga di sepanjang jalan.”
Ujang langsung memandang seorang lelaki tua yang duduk di sudut warung. Lelaki itu bernama Abah Rahmat, warga setempat yang sejak muda sering keluar masuk kawasan hutan.
Abah Rahmat meletakkan cangkir kopinya.
“Kamu melihat wajah mereka, Nak?”
Amir menggeleng.
“Nggak jelas, Bah. Wajahnya seperti tertutup bayangan.”
“Lalu kamu mendengar mereka bicara?”
“Tidak. Tapi rasanya mereka sedang menungguku.”
Abah Rahmat terdiam cukup lama.
“Jangan buru-buru menyimpulkan apa pun. Hutan bisa membuat orang kehilangan arah. Apalagi kalau sedang lelah atau ketakutan.”
Amir mengangguk. Namun, ia yakin ada sesuatu yang belum berhasil dijelaskannya.
Malam itu, Ujang membawa Amir pulang ke rumah keluarga mereka di Garut. Sepanjang perjalanan, Amir hanya memandang jalan raya melalui kaca mobil milik kerabat yang menjemput mereka.
Ketika melewati sebuah tikungan, Amir tiba-tiba menegakkan tubuh.
“Mang, berhenti!”
Ujang terkejut.
“Ada apa?”
“Itu jalannya!”
Amir menunjuk sebuah jalan kecil di sebelah kanan.
“Jalan yang mana?”
“Yang tadi kulihat di hutan!”
Mobil berhenti di bahu jalan. Amir turun tergesa-gesa, tetapi begitu mendekati tempat yang ditunjuknya, ia membeku.
Tidak ada jalan besar.
Hanya sebuah gang tanah menuju perkebunan warga, dengan pagar bambu dan pohon kelapa di kedua sisinya.
“Mir, kamu yakin?” tanya Ujang.
Amir menatap tempat itu dengan bingung.
“Tadi aku melihatnya jelas, Mang.”
Ujang memegang bahunya.
“Kita pulang dulu. Kamu perlu istirahat.”
Namun, malam itu Amir sama sekali tidak bisa tidur.
Setiap kali memejamkan mata, ia kembali melihat dua lelaki berjubah putih berdiri di tengah jalan. Mereka tidak berbicara. Tidak bergerak. Hanya membuka jalan sambil menundukkan kepala.
Menjelang pukul dua dini hari, Amir terbangun karena mendengar suara ketukan.
Tok.
Tok.
Tok.
Ia membuka mata.
Suara itu datang dari jendela kamarnya.
Amir menahan napas.
Jendela tersebut menghadap halaman belakang yang dipenuhi pohon pisang. Tidak mungkin ada tamu datang melalui tempat itu pada tengah malam.
“Siapa?” tanyanya pelan.
Tidak ada jawaban.
Ketukan terdengar lagi.
Amir memberanikan diri membuka tirai.
Di luar, tidak ada siapa-siapa.
Namun, pada kaca jendela terdapat bekas telapak tangan yang tampak basah.
Amir mundur.
Ia segera menyalakan seluruh lampu kamar, lalu duduk di tepi kasur hingga azan subuh berkumandang.
Keesokan paginya, Ujang datang membawa sarapan.
“Kamu pucat sekali, Mir.”
“Aku nggak bisa tidur, Mang.”
Amir menceritakan kejadian di jendela.
Ujang menghela napas.
“Mungkin ada orang lewat, atau bekas air hujan.”
“Tapi tadi malam nggak hujan.”
Ujang tidak menjawab.
Beberapa hari berlalu. Amir mencoba kembali bekerja seperti biasa di sebuah bengkel sepeda motor. Namun, pikirannya selalu kembali pada kejadian di Hutan Sancang.
Suatu siang, ketika sedang memperbaiki karburator, ia mendengar seseorang memanggil dari belakang.
“Amir.”
Ia menoleh.
Seorang lelaki berusia sekitar enam puluh tahun berdiri di depan bengkel. Pakaiannya sederhana, dengan peci hitam dan tas kain di bahu.
“Bapak mencari siapa?”
“Kamu Amir yang hilang di Sancang beberapa hari lalu?”
Amir mengangguk.
Lelaki itu memperkenalkan dirinya sebagai Pak Darsa, seorang pensiunan petugas kehutanan yang mendengar cerita Amir dari kerabatnya.
“Saya ingin bertanya sesuatu. Waktu tersesat, kamu melihat batu besar dengan bekas pembakaran dupa?”
Amir langsung menegakkan tubuh.
“Iya, Pak! Ada beberapa batu. Asapnya banyak sekali.”
Pak Darsa tampak terkejut.
“Kamu ingat bentuk batunya?”
“Salah satunya seperti meja. Di sampingnya ada pohon besar dengan akar menjuntai.”
Pak Darsa menghela napas panjang.
“Saya tahu tempat itu.”
Jantung Amir berdebar.
“Benarkah, Pak?”
“Dulu ada jalur lama yang melewati sana. Sekarang jarang digunakan karena medannya berbahaya. Banyak cabang jalan yang tertutup semak.”
Amir merasa sedikit lega.
“Berarti tempat yang saya lihat memang ada?”
“Kemungkinan ada. Tapi saya belum bisa memastikan sebelum melihat lokasinya.”
“Kalau begitu, saya ingin kembali ke sana.”
Pak Darsa langsung menggeleng.
“Jangan sendirian. Kalau ingin mencari jawabannya, harus bersama orang yang mengenal medan dan mendapat izin dari petugas yang berwenang.”
Tiga hari kemudian, Amir kembali ke kawasan hutan bersama Ujang, Pak Darsa, dan seorang pemandu lokal bernama Rendi.
Kali ini mereka membawa peta, kompas, air minum, dan perlengkapan komunikasi.
Amir berusaha mengikuti jalur yang diingatnya.
Namun, setelah berjalan hampir satu jam, ia mulai kebingungan.
“Seharusnya ada jalan besar di sini.”
Rendi melihat sekeliling.
“Di sini nggak pernah ada jalan kendaraan, Kang. Tanahnya juga terlalu curam.”
Amir memandang pepohonan.
Anehnya, semuanya terlihat berbeda dari ingatannya.
Saat itulah ia melihat sebuah pohon tumbang di kejauhan.
“Tunggu!”
Amir berjalan mendekatinya.
Di dekat batang pohon tersebut, terdapat sepotong kain putih tersangkut pada ranting.
Tangannya gemetar ketika mengambil kain itu.
“Ini…”
Ujang mendekat.
“Apa, Mir?”
“Mirip kain yang dipakai orang-orang yang kulihat.”
Pak Darsa memeriksanya.
“Kain biasa. Bisa jadi tertinggal dari pengunjung.”
Namun, Amir menemukan sesuatu yang lebih mengganggu.
Di bawah pohon terdapat bekas tapak sepatu.
Ukurannya cukup besar, dan jejaknya mengarah ke sebuah celah sempit di antara dua batu.
“Ada orang lewat sini,” ujar Rendi.
Mereka mengikuti jejak tersebut hingga menemukan sebuah tanah lapang kecil.
Di tengahnya berdiri batu besar yang permukaannya menghitam.
Amir membeku.
“Ini tempatnya.”
Pak Darsa memperhatikan batu itu.
“Betul. Ini jalur lama yang saya maksud.”
Amir berjalan perlahan.
Ia menyentuh permukaan batu, lalu menatap pohon besar di belakangnya.
Semuanya persis seperti yang diingatnya.
Namun, ketika berbalik, ia melihat sesuatu yang membuat napasnya tercekat.
Di antara dua batang pohon, berdiri seorang lelaki berjubah putih.
“Pak!” teriak Amir.
Semua orang menoleh.
“Di sana!”
Rendi segera mengarahkan pandangan ke tempat yang ditunjuk Amir.
Tidak ada siapa-siapa.
“Apa yang kamu lihat, Kang?”
“Orang berjubah putih!”
Ujang memegang bahunya.
“Mir, tenang.”
“Tadi dia berdiri di sana!”
Pak Darsa mendekati dua pohon tersebut. Di tanah ditemukan beberapa potongan kain dan bekas alas kaki yang tidak jelas usianya.
“Mungkin memang ada pengunjung lain,” katanya. “Tapi kita jangan mengejar orang yang belum tentu ada. Jalur di belakang pohon ini berbahaya.”
Mereka memutuskan kembali.
Namun, sebelum meninggalkan tanah lapang, Amir mendengar bisikan tepat di dekat telinganya.
“Jangan kembali.”
Ia langsung menoleh.
Tak seorang pun berada cukup dekat untuk berbisik.
Perjalanan pulang berlangsung dalam keheningan.
Malam harinya, Amir kembali membuka foto-foto yang diambil Rendi selama pencarian.
Pada salah satu foto, terlihat Amir sedang berdiri di samping batu besar.
Di belakangnya ada dua batang pohon.
Amir memperbesar gambar tersebut.
Jantungnya berdegup semakin cepat.
Di antara pepohonan tampak sesuatu berwarna putih.
Ia segera mengirim foto itu kepada Ujang.
“Mang, coba lihat belakangku!”
Beberapa menit kemudian, Ujang menelepon.
“Mir, itu kain putih yang tersangkut di ranting, bukan orang.”
Amir kembali memperhatikan foto tersebut.
Setelah dilihat lebih teliti, sosok itu memang menyerupai kain yang bergerak tertiup angin.
Ia menghela napas.
Mungkin pikirannya terlalu dipenuhi ketakutan.
Namun, ada satu hal yang masih mengganggunya.
Mengapa ia merasa telah berjalan begitu lama, padahal waktu yang diingatnya sangat singkat?
Jawaban sementara datang ketika Pak Darsa menghubunginya keesokan hari.
“Saya sudah bicara dengan pemandu yang pernah mengalami kejadian serupa. Orang tersesat kadang terus berjalan tanpa menyadari waktu, terutama ketika kelelahan, kekurangan cairan, atau mengalami kepanikan.”
Amir mendengarkan.
“Jadi saya mungkin hanya tersesat biasa, Pak?”
“Itu salah satu kemungkinan yang masuk akal. Tapi saya tidak bisa memastikan semua yang kamu alami.”
Amir mengangguk meskipun lelaki itu tidak dapat melihatnya.
Ia mulai menerima bahwa mungkin tidak semua pengalaman harus memiliki penjelasan yang langsung tersedia.
Namun, kisahnya belum berakhir.
Dua minggu kemudian, seorang perempuan tua datang ke bengkel tempat Amir bekerja.
Wajahnya keriput, tubuhnya kecil, dan ia membawa sebuah foto hitam putih yang sudah kusam.
“Kamu Amir?”
“Iya, Nek.”
Perempuan itu menyerahkan foto tersebut.
“Tolong lihat. Apa kamu pernah melihat orang ini?”
Amir menerima foto itu.
Dalam gambar tampak dua lelaki muda mengenakan pakaian putih, berdiri di depan sebuah bangunan sederhana.
Amir merasakan tengkuknya meremang.
Pakaian mereka mirip dengan sosok yang dilihatnya di hutan.
“Siapa mereka, Nek?”
“Dulu mereka sering membantu orang yang tersesat di jalur Sancang.”
Amir menatap perempuan itu.
“Mereka masih hidup?”
Nenek tersebut menggeleng perlahan.
“Yang satu meninggal puluhan tahun lalu. Yang satunya lagi tidak pernah pulang setelah pergi mencari seorang anak yang hilang.”
Amir terdiam.
“Kenapa Nenek menunjukkan foto ini kepada saya?”
Perempuan itu tersenyum sedih.
“Karena yang tidak pernah pulang itu suami saya.”
Amir memandang foto tersebut lebih lama.
“Namanya siapa?”
“Rahman.”
“Lalu yang satunya?”
“Hasan, kakaknya.”
Nenek itu kemudian mengeluarkan sebuah buku kecil dari tas kainnya.
“Ini catatan suami saya. Dia sering menulis nama orang-orang yang pernah ditolongnya.”
Amir membuka buku tersebut.
Halaman-halamannya dipenuhi tulisan tangan yang mulai memudar.
Pada salah satu halaman, ia menemukan kalimat yang membuatnya terdiam.
Kalau bertemu orang tersesat, jangan biarkan dia berjalan sendirian. Terkadang orang yang ketakutan tidak sadar sedang menuju jurang.
Amir membaca kalimat itu berulang kali.
Ia teringat dua lelaki berjubah putih yang menyingkir ketika dirinya berjalan melewati mereka.
Selama ini, ia mengira mereka sedang membuka jalan untuk membawanya lebih jauh.
Namun, bagaimana kalau sebenarnya mereka sedang berusaha mengarahkannya menjauh dari tempat berbahaya?
Amir menatap nenek tersebut.
“Nek, suami Nenek hilang di bagian hutan yang mana?”
Perempuan itu menunjuk sebuah lokasi pada peta lama yang terselip di buku.
Amir membeku.
Tempat yang ditunjuknya berada tidak jauh dari batu besar yang ditemukan bersama Pak Darsa.
Dua hari kemudian, Amir menemui Pak Darsa untuk memperlihatkan peta tersebut.
Pak Darsa langsung mengenali lokasi itu.
“Di belakang batu besar memang ada jurang. Dulu pernah terjadi beberapa kecelakaan di sana.”
Amir terdiam.
“Jadi kalau saya terus berjalan melewati batu itu…”
“Kamu bisa sampai di tepi jurang,” jawab Pak Darsa.
Amir merasakan tubuhnya dingin.
Dalam ingatannya, jalan besar yang dilihat saat tersesat memang mengarah lurus melewati batu tersebut.
Ia mulai memahami betapa dekat dirinya dengan bahaya.
Beberapa hari kemudian, Amir kembali menemui nenek pemilik foto.
Kali ini ia membawa sejumlah kebutuhan pokok sebagai tanda terima kasih.
“Nek, saya ingin mengatakan sesuatu.”
“Apa, Nak?”
“Saya tidak tahu apakah orang yang saya lihat benar-benar suami Nenek dan kakaknya. Mungkin cuma orang lain yang berpakaian mirip.”
Perempuan itu mengangguk.
“Tentu, Nak.”
“Tapi cerita Nenek membuat saya sadar bahwa dulu banyak orang mempertaruhkan keselamatan untuk menolong orang yang tersesat.”
Nenek tersebut tersenyum.
“Suami saya selalu bilang, kalau kita tahu jalan pulang, jangan tinggalkan orang yang belum menemukannya.”
Amir menunduk.
Sejak saat itu, ia berhenti memaksakan diri mencari penjelasan gaib atas semua kejadian yang dialaminya.
Ia justru mulai tertarik mempelajari keselamatan perjalanan di kawasan hutan.
Bersama beberapa warga, Amir membantu memasang penanda arah pada jalur yang diizinkan petugas serta mengingatkan pengunjung agar tidak berjalan sendirian.
Ia juga sering menceritakan pengalamannya kepada orang-orang yang hendak berziarah.
Bukan untuk menakut-nakuti, melainkan agar mereka tidak mengulangi kesalahannya.
Namun, sebuah kejadian kecil pada suatu sore membuatnya kembali terdiam.
Saat sedang membersihkan gudang rumah, Amir menemukan jaket yang dikenakannya ketika tersesat.
Di saku bagian dalam terdapat selembar kertas yang terlipat rapi.
Ia yakin sebelumnya tidak pernah melihat kertas tersebut.
Dengan penasaran, Amir membukanya.
Di sana tertulis sebuah kalimat menggunakan tinta biru yang sudah sedikit luntur.
Jangan mengikuti jalan yang terlihat mudah jika kamu tidak tahu ke mana arahnya.
Di bawahnya terdapat dua nama.
Rahman dan Hasan.
Amir terduduk.
Ia mencoba mengingat apakah seseorang pernah menyelipkan kertas itu ketika dirinya ditemukan. Mungkin Ujang, warga yang menolongnya, atau nenek pemilik foto.
Namun, tidak ada satu pun yang mengaku melakukannya ketika Amir bertanya.
Ia akhirnya menyimpan kertas tersebut bersama foto dan catatan pengalamannya.
Bertahun-tahun kemudian, ketika putranya bertanya apakah benar ayahnya pernah bertemu dua penjaga gaib di Hutan Sancang, Amir hanya tersenyum.
“Ayah nggak tahu, Nak.”
“Berarti mereka hantu?”
“Ayah juga nggak bisa memastikan.”
“Terus kenapa Ayah selalu bilang mereka menyelamatkan Ayah?”
Amir memandang pepohonan di kejauhan.
“Karena setelah kejadian itu, Ayah menemukan jalan pulang. Entah siapa mereka sebenarnya, Ayah bersyukur masih diberi kesempatan kembali kepada keluarga.”
Putranya mengangguk, meski tampak belum puas.
“Kalau suatu hari aku pergi ke sana, boleh?”
“Boleh kalau sudah cukup umur, bersama pemandu yang berpengalaman, dan mengikuti aturan kawasan. Jangan pernah masuk hutan sendirian.”
Anak itu tersenyum.
Amir kemudian mengeluarkan kertas tua dari dompetnya.
Di bagian belakang, ternyata ada tulisan lain yang baru disadarinya beberapa waktu sebelumnya.
Tulisan itu sangat kecil, nyaris tak terlihat.
Orang yang tersesat tidak selalu membutuhkan seseorang yang menunjukkan jalan. Kadang dia hanya perlu diingatkan untuk berhenti sebelum melangkah terlalu jauh.
Amir memandang tulisan tersebut lama sekali.
Ia tidak pernah berhasil memastikan dari mana kertas itu berasal.
Namun, setiap kali mengingat enam jam yang hilang dari hidupnya, ia tidak lagi hanya merasakan ketakutan.
Ia justru merasakan syukur.
Sebab di tengah hutan yang begitu luas, ketika ia kehilangan arah dan hampir kehilangan harapan, sesuatu telah membuatnya berhenti sebelum terlambat.
Dan sampai akhir hayatnya kelak, mungkin Amir tidak akan pernah mengetahui siapa sebenarnya dua lelaki berjubah putih yang ditemuinya.
Tetapi baginya, ada satu hal yang jauh lebih penting daripada mengetahui identitas mereka.
Ia masih hidup.
Ia masih bisa pulang.
Dan ia masih memiliki kesempatan untuk menjadi penunjuk jalan bagi orang lain yang suatu hari mungkin mengalami ketakutan yang sama.
