
Suara Mas Ali yang menyuruhku keluar dari rumah masih terngiang di kepala ketika aku membuka laptop malam itu. Di layar, sebuah dokumen berisi catatan keuangan keluarga kami terpampang jelas. Angka pada baris terakhir membuat dadaku sesak.
Rp742.850.000.
Itulah jumlah pengeluaran yang selama lima tahun terakhir kutanggung untuk kebutuhan rumah tangga, pendidikan Rio, tagihan bulanan, dan berbagai keperluan keluarga. Sebagian merupakan kontribusiku sendiri sebagai istri, tetapi ada pula pembayaran yang sejak awal dijanjikan Mas Ali akan diganti.
Aku menatap angka itu lama sekali.
Selama ini aku tidak pernah mempermasalahkan siapa yang membayar lebih banyak. Namun, setelah suamiku mengusirku dari rumah yang selama bertahun-tahun turut kujaga, aku mulai menyadari betapa tidak sehatnya keadaan kami.
Pintu kamar tiba-tiba terbuka.
Mas Ali berdiri di ambang pintu dengan wajah masam.
“Kamu masih saja menghitung uang?”
Aku segera menutup laptop.
“Aku sedang menyelesaikan pekerjaan.”
“Jangan bohong. Aku tahu kamu sedang menghitung semua pengeluaran untuk menyerangku nanti.”
Aku menatapnya tenang.
“Kalau Mas merasa tidak melakukan kesalahan, kenapa takut melihat catatan keuangan?”
Wajahnya memerah.
“Dena, jangan mulai lagi!”
“Aku tidak sedang mencari pertengkaran.”
Mas Ali mendengus sebelum berjalan menuju lemari.
“Besok aku mau transfer uang ke Ibu. Adikku butuh tambahan modal usaha.”
Aku terdiam.
“Berapa?”
“Lima puluh juta.”
Aku hampir tidak percaya.
“Mas, minggu lalu kita baru membicarakan biaya pendidikan Rio. Mas bilang pengeluaran anak terlalu besar. Sekarang Mas mau memberikan lima puluh juta kepada adikmu?”
“Itu uangku!”
“Aku tahu. Tapi kita masih punya kewajiban bersama.”
Mas Ali membanting pintu lemari.
“Makanya jangan berhenti bekerja kalau nggak mau kekurangan!”
Aku tersenyum pahit.
“Aku tidak pernah berhenti bekerja, Mas. Aku hanya berhenti membayar semuanya sendirian.”
Ia tidak menjawab. Beberapa saat kemudian, dia keluar kamar sambil membanting pintu.
Malam itu aku tidak menangis.
Aku justru menghubungi Rika, sahabatku yang bekerja sebagai konsultan keuangan.
“Rik, aku butuh bantuan memeriksa dokumen.”
“Kamu kenapa, Den?”
“Aku sedang mempertimbangkan perpisahan. Tapi ada urusan keuangan yang harus kuselesaikan dengan benar.”
Rika terdiam sesaat.
“Besok kita ketemu. Bawa semua bukti transaksi, dokumen kredit, dan perjanjian yang kamu punya. Jangan memindahkan uang atau mengambil tindakan sebelum tahu status kepemilikannya.”
Aku menyetujui sarannya.
Keesokan harinya, setelah mengantar Rio ke sekolah, aku menemui Rika di sebuah kafe.
Selama hampir dua jam, kami memeriksa catatan yang telah kususun.
Rika berkali-kali menggeleng.
“Den, kamu benar-benar menanggung sebanyak ini?”
Aku mengangguk.
“Sebagian pengeluaran memang sudah kuikhlaskan sebagai kontribusi keluarga. Tapi ada beberapa transaksi yang jelas-jelas merupakan pinjaman kepada Mas Ali.”
“Contohnya?”
Aku menunjukkan bukti transfer sebesar seratus delapan puluh juta rupiah.
“Dua tahun lalu, Mas Ali hampir gagal membayar uang muka tambahan untuk rumah. Dia meminjam uang tabunganku dan berjanji mengembalikannya setelah bonus tahunan cair.”
“Ada bukti janjinya?”
Aku membuka percakapan WhatsApp lama.
Di sana tertulis pesan Mas Ali.
Den, pinjam dulu 180 juta, ya. Nanti setelah bonus cair, Mas kembalikan semuanya.
Rika mengangguk.
“Nah, ini penting. Simpan salinannya.”
Aku lalu menunjukkan transaksi lain.
Sebesar tujuh puluh lima juta rupiah yang kupinjamkan untuk membantu adik Mas Ali membuka usaha.
Dalam percakapan yang sama, Mas Ali pernah menulis bahwa uang tersebut akan dikembalikan dalam enam bulan.
Namun, sampai sekarang aku belum menerima satu rupiah pun.
Rika menatapku serius.
“Jadi masalahmu bukan sekadar pembagian biaya rumah tangga. Ada pinjaman yang belum diselesaikan.”
“Iya.”
“Kalau begitu, sebaiknya kamu konsultasi dengan pengacara keluarga. Status harta perkawinan dan utang harus diperiksa berdasarkan dokumen, bukan sekadar nama yang tercantum di rekening.”
Aku mengangguk.
Sore harinya, aku membuat janji dengan seorang pengacara bernama Bu Maya.
Beliau menjelaskan bahwa pengeluaran rumah tangga selama perkawinan tidak otomatis menjadi utang suami kepada istri. Namun, pinjaman yang memiliki bukti serta kepemilikan harta yang diperoleh selama perkawinan dapat diperiksa lebih lanjut menurut ketentuan hukum yang berlaku.
Penjelasan itu membuat pikiranku lebih jernih.
Aku tidak ingin mengambil sesuatu yang bukan hakku.
Aku hanya ingin memastikan bahwa Mas Ali tidak bisa begitu saja menganggap seluruh hasil usaha kami sebagai miliknya seorang diri.
Tiga hari kemudian, sesuatu yang tidak kuduga terjadi.
Saat sedang bekerja, ponselku berdering.
Nama Mas Ali muncul di layar.
“Den, kamu di mana?”
“Di kantor. Kenapa?”
“Transfer dua puluh juta sekarang.”
Aku mengernyit.
“Untuk apa?”
“Adikku butuh tambahan modal. Ada pembayaran yang harus diselesaikan hari ini.”
Aku menarik napas.
“Maaf, Mas. Aku tidak bisa.”
“Apa maksudmu tidak bisa?”
“Aku masih punya kebutuhan Rio yang harus disiapkan.”
Suara Mas Ali langsung meninggi.
“Kamu benar-benar berubah! Dulu kamu nggak pernah pelit begini!”
Aku menutup mata sesaat.
“Mas, aku pernah meminjamkan tujuh puluh lima juta untuk usaha adikmu. Sampai sekarang belum dikembalikan.”
“Itu kan untuk membantu keluarga!”
“Kalau memang bantuan, kenapa waktu itu Mas bilang pinjam?”
Mas Ali terdiam.
“Aku nggak mau berdebat. Pokoknya transfer!”
“Maaf. Tidak.”
Aku mengakhiri panggilan.
Untuk pertama kalinya, aku berhasil menolak permintaan yang selama ini selalu kupenuhi karena takut dianggap istri tidak pengertian.
Namun, rupanya penolakanku membuat Mas Ali semakin marah.
Malamnya, dia pulang bersama ibu dan adiknya, Nisa.
Begitu masuk rumah, Ibu langsung menatapku tajam.
“Dena, kamu sekarang melarang Ali membantu keluarganya?”
Aku meletakkan gelas yang sedang kupegang.
“Tidak, Bu. Mas Ali boleh membantu siapa pun menggunakan uang yang memang bisa dia alokasikan setelah memenuhi kewajibannya.”
Nisa mendengus.
“Mbak sekarang pelit banget, ya. Padahal dulu baik.”
Aku menatap adik iparku.
“Nisa, boleh Mbak bertanya sesuatu?”
“Apa?”
“Uang tujuh puluh lima juta yang dulu kamu pinjam melalui Mas Ali, kapan rencananya dikembalikan?”
Nisa langsung pucat.
“Uang apa?”
Aku membuka ponsel dan menunjukkan bukti transfer.
“Ini. Ada juga pesan Mas Ali yang mengatakan uang itu pinjaman untuk modal usahamu.”
Nisa menoleh kepada kakaknya.
“Mas, katanya uang itu dari Mas sendiri!”
Ruangan mendadak sunyi.
Aku menatap Mas Ali.
“Jadi selama ini kamu bilang kepada Nisa bahwa uang itu milikmu?”
Mas Ali mengalihkan pandangan.
“Itu nggak penting.”
“Menurutku penting, Mas. Karena kamu menggunakan uangku untuk terlihat royal kepada keluargamu.”
Ibu terdiam.
Nisa tampak kebingungan.
“Mas Ali, berarti selama ini uang modal yang Mas kasih sebenarnya pinjam dari Mbak Dena?”
Mas Ali mengusap wajahnya dengan kasar.
“Sudahlah! Jangan membesar-besarkan masalah!”
Namun, kali ini Nisa tidak diam.
“Mas, aku memang belum bisa mengembalikan uang itu karena usahaku sedang sulit. Tapi kenapa Mas nggak bilang kalau uangnya punya Mbak Dena?”
Aku mulai memahami sesuatu.
Mungkin selama ini keluarganya benar-benar tidak mengetahui keadaan keuangan kami.
Di hadapan mereka, Mas Ali selalu tampil sebagai laki-laki sukses yang mampu memberikan apa saja.
Sementara aku hanya dianggap istri yang beruntung mendapatkan suami mapan.
Ibu akhirnya duduk dengan wajah lelah.
“Ali, sebenarnya berapa banyak uang Dena yang kamu gunakan?”
Mas Ali tidak menjawab.
Aku mengambil sebuah map dari lemari.
“Bu, saya tidak akan memperdebatkan seluruh pengeluaran rumah tangga. Tapi ada dua pinjaman besar yang sampai sekarang belum diselesaikan.”
Aku menunjukkan dokumen satu per satu.
Wajah Ibu berubah ketika melihat bukti transfer dan percakapan Mas Ali.
“Ali, kamu bilang rumah itu dibayar dari uangmu sendiri.”
Mas Ali menunduk.
“Memang aku yang membayar cicilannya.”
“Tapi uang muka tambahannya kamu pinjam dari Dena?”
“Iya, Bu.”
“Dan belum dikembalikan?”
Mas Ali diam.
Ibu menghela napas panjang.
“Ya Allah, Ali…”
Aku pikir setelah malam itu Mas Ali akan mulai menyadari kesalahannya.
Ternyata aku keliru.
Seminggu kemudian, saat sedang menghadiri rapat penting di kantor, ponsel Mas Ali menerima serangkaian notifikasi transaksi.
Aku baru mengetahui kejadian tersebut ketika dia meneleponku dengan suara bergetar.
“DENA! KAMU APAKAN UANGKU?”
Aku terkejut.
“Uang apa?”
“Tabunganku! Lebih dari tujuh ratus juta hilang!”
Aku langsung berdiri dari kursi.
“Mas, tenang dulu. Maksudnya hilang bagaimana?”
“Saldo rekening bersama kita tinggal sedikit! Ada transfer ke rekening lain! Kamu pasti pelakunya!”
Aku terdiam beberapa detik.
Lalu aku memahami apa yang sedang terjadi.
Rekening yang dimaksud Mas Ali adalah rekening bersama yang kami gunakan sejak awal pernikahan untuk menampung sebagian hasil penjualan aset lama serta bonus pekerjaan.
Beberapa minggu sebelumnya, ketika kami mulai membahas perpisahan, aku menemukan adanya transaksi besar yang tidak kuketahui.
Aku langsung meminta penjelasan kepada pihak bank dan mengajukan pemeriksaan mutasi.
Namun, sebelum hasil pemeriksaan selesai, Mas Ali ternyata sudah melihat perubahan saldo tersebut.
“Mas, dengarkan aku. Aku tidak memindahkan uang itu.”
“Jangan bohong!”
“Silakan datang ke bank. Kita periksa bersama.”
“Kalau ternyata kamu yang ambil, aku laporkan ke polisi!”
“Kalau memang ada transaksi tanpa izin yang melanggar hukum, kita harus melaporkannya. Aku juga ingin tahu ke mana uang itu pergi.”
Mas Ali langsung memutus sambungan.
Satu jam kemudian, kami bertemu di kantor cabang bank.
Wajah suamiku pucat. Keringat membasahi pelipisnya.
Petugas bank memeriksa mutasi rekening setelah melakukan verifikasi identitas dan kewenangan kami.
Beberapa menit kemudian, petugas menunjukkan daftar transaksi.
Sebagian besar uang ternyata dipindahkan melalui beberapa transfer dalam kurun waktu dua hari.
Nama penerimanya membuatku membeku.
Nisa Prameswari.
Adik Mas Ali sendiri.
Aku menoleh kepada suamiku.
“Mas…”
Mas Ali menatap layar dengan mata terbelalak.
“Nggak mungkin…”
Petugas menjelaskan bahwa transaksi tercatat melalui akses yang terotorisasi pada sistem, tetapi persoalan siapa yang menginstruksikan transfer serta apakah terdapat penyalahgunaan akses masih perlu diperiksa lebih lanjut.
Mas Ali segera menelepon Nisa.
Panggilan pertama tidak dijawab.
Panggilan kedua ditolak.
Pada panggilan ketiga, Nisa akhirnya mengangkat.
“Nis! Kamu transfer uang dari rekeningku?”
Suara Nisa terdengar gemetar.
“Mas, aku bisa jelaskan.”
“JELASKAN SEKARANG!”
Aku dapat mendengar tangisan dari seberang telepon.
“Mas, aku nggak punya pilihan…”
Mas Ali memejamkan mata.
“Apa maksudmu?”
“Uang itu aku gunakan untuk menutup utang usaha.”
“Berapa?”
Nisa terisak.
“Hampir semuanya.”
Mas Ali terduduk.
Aku tidak pernah melihat suamiku seterkejut itu.
Namun, ketika Nisa melanjutkan perkataannya, kami berdua semakin terpukul.
“Mas, jangan marah dulu. Bukannya Mas sendiri yang memberikan akses rekening itu waktu memintaku membantu mengurus investasi?”
Aku menoleh cepat.
“Investasi apa, Mas?”
Mas Ali tidak menjawab.
Nisa melanjutkan dengan suara putus-putus.
“Dulu Mas bilang uang itu boleh diputar supaya hasilnya lebih besar. Aku sudah bilang usahanya berisiko, tapi Mas tetap menyuruhku.”
Dadaku terasa dingin.
Aku menatap suamiku.
“Jadi kamu tahu uang itu dipakai Nisa?”
Mas Ali langsung membentak ke arah ponsel.
“Diam, Nis!”
Namun, semuanya sudah terlambat.
Nisa terus menangis.
“Mas, aku cuma mengikuti rencana kita. Aku nggak pernah berniat menghabiskan uang itu. Aku pikir modalnya bisa kembali sebelum Mbak Dena tahu.”
Aku mundur selangkah.
Selama ini Mas Ali menuduhku mengincar tabungannya.
Padahal, tanpa sepengetahuanku, dia justru telah memberikan akses pengelolaan dana bersama kepada adiknya untuk menjalankan investasi berisiko.
Aku merasakan tangan dan kakiku dingin.
“Mas Ali,” panggilku pelan.
Dia menatapku dengan wajah kacau.
“Berapa lama kamu menyembunyikan ini?”
“Dena, aku bisa jelaskan.”
“Sejak kapan?”
Mas Ali menunduk.
“Enam bulan.”
Aku tertawa kecil, tetapi air mataku justru mengalir.
“Enam bulan?”
Dia mencoba menggenggam tanganku.
“Den, aku cuma ingin uang kita berkembang lebih cepat.”
Aku menarik tanganku.
“Uang kita?”
Mas Ali terdiam.
“Selama lima tahun kamu selalu bilang itu uangmu. Kamu bilang rumahmu, mobilmu, tabunganmu. Sekarang setelah uangnya hilang, tiba-tiba menjadi uang kita?”
Wajah Mas Ali semakin pucat.
Aku tidak berteriak.
Aku bahkan tidak punya tenaga untuk marah.
Aku hanya merasa sangat lelah.
Setelah meminta salinan dokumen yang berhak kami peroleh untuk pemeriksaan lebih lanjut, aku meninggalkan bank.
Mas Ali menyusulku hingga ke parkiran.
“Den, tunggu!”
Aku berhenti.
“Kita bisa selesaikan ini.”
“Aku tahu.”
“Berarti kamu mau memaafkan aku?”
Aku memandangnya lama.
“Mas, menyelesaikan persoalan keuangan dan memaafkan seseorang adalah dua hal yang berbeda.”
Dia terdiam.
“Aku akan memastikan transaksi itu diperiksa. Kalau ada penyalahgunaan dana, harus ada pertanggungjawaban. Dan soal pernikahan kita, aku perlu memikirkan masa depanku serta Rio.”
Mas Ali mulai menangis.
“Dena, aku nggak mau kehilangan kalian.”
Aku menatap laki-laki yang telah mendampingiku selama bertahun-tahun.
Dulu, melihatnya menangis mungkin sudah cukup membuatku mengalah.
Namun, hari itu aku baru memahami bahwa rasa kasihan tidak boleh menggantikan kejujuran dan tanggung jawab.
Malamnya, aku mengajak Rio makan di sebuah restoran sederhana dekat rumah.
Anakku terlihat lebih pendiam daripada biasanya.
“Bunda, Ayah sama Bunda mau cerai?”
Pertanyaan itu membuatku terdiam.
“Kenapa Rio bertanya begitu?”
“Aku dengar Ayah marah-marah. Terus Ayah bilang Bunda mau pergi.”
Aku menggenggam tangan kecilnya.
“Rio, apa pun yang terjadi antara Ayah dan Bunda, itu bukan salah Rio.”
Matanya berkaca-kaca.
“Kalau kalian pisah, Rio tinggal sama siapa?”
Aku memeluknya.
“Bunda dan Ayah akan memikirkan yang terbaik buat Rio. Yang pasti, Bunda tetap sayang Rio.”
Anakku menangis di bahuku.
Saat itulah aku menyadari betapa mahal harga dari pertengkaran yang selama ini terus kami biarkan.
Beberapa hari berikutnya, Mas Ali berusaha menghubungiku berkali-kali. Ia mengaku telah meminta Nisa menyusun rencana pengembalian dana dan bersedia menyerahkan seluruh dokumen investasinya untuk diperiksa.
Aku tidak langsung menolak.
Namun, kali ini aku menetapkan batas yang jelas.
Semua persoalan keuangan harus dibuka secara transparan. Kami juga harus menyelesaikan pembagian kewajiban rumah tangga dan mendapatkan pendampingan hukum sebelum mengambil keputusan mengenai aset bersama.
Tidak ada lagi uang yang dipindahkan diam-diam.
Tidak ada lagi keputusan sepihak.
Dan tidak ada lagi ancaman mengusir pasangan setiap kali terjadi pertengkaran.
Suatu malam, Mas Ali datang menemuiku setelah Rio tidur.
Ia meletakkan sebuah map di atas meja.
“Den, ini semua dokumen yang kamu minta.”
Aku membuka map tersebut.
Di dalamnya terdapat catatan investasi, bukti transaksi, dan daftar kewajiban Nisa.
Namun, di halaman paling belakang, ada sebuah surat yang ditulis tangan oleh Mas Ali.
Aku membacanya perlahan.
Dena, selama ini aku selalu merasa bangga karena berhasil menabung banyak uang. Aku mengira itu bukti bahwa aku suami yang sukses. Padahal aku bisa menabung karena kamu membayar hampir semua kebutuhan rumah tangga. Aku menikmati pengorbananmu tanpa pernah menghargainya.
Air mataku menetes.
Aku melanjutkan.
Aku juga salah karena lebih mementingkan citraku di depan Ibu dan Nisa daripada kejujuran kepada istriku sendiri. Aku tidak meminta kamu langsung memaafkan aku. Aku hanya ingin berhenti berbohong dan mulai bertanggung jawab atas akibat perbuatanku.
Aku menutup surat itu.
Mas Ali duduk di hadapanku dengan kepala tertunduk.
“Den, aku baru sadar sesuatu.”
“Apa?”
“Selama ini aku takut kehilangan uang. Tapi ternyata yang hampir kuhancurkan justru keluargaku sendiri.”
Aku memandangnya lama.
Untuk pertama kalinya, dia tidak menyalahkanku.
Tidak menuntutku mengalah.
Tidak menggunakan statusnya sebagai suami untuk membenarkan kesalahan.
Namun, aku juga tahu satu surat penyesalan tidak cukup untuk memperbaiki luka selama bertahun-tahun.
“Mas, aku menghargai pengakuanmu. Tapi kepercayaan tidak bisa kembali hanya karena kamu meminta maaf.”
Mas Ali mengangguk.
“Aku tahu.”
“Kalau kamu sungguh ingin berubah, buktikan dengan tindakan.”
“Iya, Den.”
Aku menarik napas panjang.
“Dan apa pun keputusan kita nanti, Rio tidak boleh lagi menjadi korban pertengkaran.”
Mas Ali mengusap air matanya.
“Aku janji.”
Beberapa bulan kemudian, penyelesaian urusan keuangan kami masih berjalan. Sebagian dana dapat ditelusuri penggunaannya, sedangkan sisanya menjadi kewajiban yang harus diselesaikan melalui kesepakatan tertulis dan proses hukum bila diperlukan.
Mas Ali mulai membayar kebutuhan Rio secara teratur. Ia juga berhenti menyerahkan uang kepada keluarganya tanpa mempertimbangkan kewajiban rumah tangga.
Sementara itu, aku tetap bekerja dan mengelola keuanganku sendiri dengan lebih hati-hati.
Kami belum memutuskan apakah pernikahan ini akan dipertahankan.
Namun, ada satu hal yang sudah pasti berubah.
Aku tidak lagi merasa bersalah ketika menuntut pembagian tanggung jawab yang adil.
Dan Mas Ali akhirnya memahami bahwa menjadi suami yang baik bukan diukur dari seberapa banyak uang yang berhasil disimpan di rekening, melainkan dari seberapa besar tanggung jawab, kejujuran, dan rasa hormat yang diberikan kepada keluarganya.
Pada suatu sore, Rio menunjukkan gambar yang dibuatnya di sekolah.
Dalam gambar itu ada tiga orang berdiri di depan sebuah rumah.
Aku tersenyum.
“Ini siapa saja, Sayang?”
“Rio, Bunda, sama Ayah.”
Aku mengusap kepalanya.
“Bagus sekali.”
Rio menatapku dengan serius.
“Bunda, rumah yang bahagia itu harus besar, ya?”
Aku menggeleng.
“Nggak, Sayang.”
“Harus punya uang banyak?”
“Nggak juga.”
“Lalu harus bagaimana?”
Aku memeluknya erat.
“Orang-orang di dalamnya harus saling menjaga, saling menghargai, dan mau bertanggung jawab.”
Rio tersenyum.
“Kalau begitu, nanti kalau Rio sudah besar, Rio mau punya rumah yang bahagia.”
Aku mencium keningnya.
“Bunda juga ingin begitu, Nak.”
Malam itu, ketika melihat kembali catatan keuanganku, angka ratusan juta rupiah yang dulu membuatku merasa begitu dirugikan tidak lagi menjadi satu-satunya hal yang kupikirkan.
Aku masih akan memperjuangkan hak-hakku dan memastikan semua kewajiban diselesaikan.
Namun, aku tidak lagi ingin menghabiskan hidup hanya untuk membuktikan siapa yang lebih banyak menghasilkan uang.
Karena pada akhirnya, kehilangan yang paling menyakitkan bukan selalu tentang tabungan yang habis.
Melainkan tentang kepercayaan yang perlahan terkikis ketika seseorang menganggap pengorbanan pasangannya sebagai sesuatu yang memang sudah sepantasnya diberikan.
Dan aku telah berjanji kepada diriku sendiri, apa pun yang terjadi setelah ini, aku tidak akan pernah lagi membiarkan cinta dijadikan alasan untuk mengabaikan harga diriku.
