Selama Kuliah, Diam-Diam Aku Membayari Makan Siang Seorang Mahasiswa

“Rani, orang yang membuatmu kehilangan pekerjaan tiga bulan lalu mungkin orang yang sama yang memisahkan kita sebelas tahun lalu.”

Aku menatap Adrian tanpa berkedip. Di hadapanku, lelaki yang dahulu sering kubelikan makan siang diam-diam itu kini duduk sebagai CEO perusahaan besar. Namun, yang membuat tanganku gemetar bukan jabatan atau kekayaannya.

Melainkan nama yang baru saja disebutkannya.

Melisa.

Perempuan yang sebelas tahun lalu membuatku percaya bahwa Adrian merasa terhina karena bantuanku, ternyata masih memiliki hubungan dengan kehancuran hidupku sekarang.

“Nggak mungkin,” bisikku.

Adrian memutar laptopnya ke arahku.

Di layar terpampang nama perusahaan tempatku bekerja selama enam tahun, Cakrawala Media.

Di bawahnya terdapat nama pemegang saham mayoritas yang baru masuk delapan bulan lalu.

Melisa Hartono.

Aku merasa perutku melilit.

“Tapi aku di-PHK karena perusahaan melakukan efisiensi.”

“Itu alasan yang diberikan kepadamu.”

“Ada dua belas karyawan lain yang juga diberhentikan.”

“Benar. Tetapi menurut informasi yang kudapat, posisimu justru dibuka kembali sebulan setelah kamu pergi.”

Aku menatap layar.

Senior Content Strategy Manager.

Deskripsi pekerjaannya hampir sama persis dengan tanggung jawabku dahulu.

Bahkan terdapat beberapa kalimat yang kuketik sendiri ketika membantu HR menyusun uraian jabatan tiga tahun sebelumnya.

“Kenapa Melisa melakukan ini?” tanyaku.

Adrian menggeleng pelan.

“Aku belum tahu pasti. Dan aku nggak mau menuduh seseorang tanpa bukti.”

Aku menunduk.

Selama tiga bulan terakhir, aku menyalahkan diriku sendiri.

Aku mengira pekerjaanku tidak cukup bagus. Aku berulang kali membaca surat PHK, mencari kesalahan dalam laporan kampanye, dan mempertanyakan setiap keputusan profesional yang pernah kubuat.

Padahal, sebelum diberhentikan, aku baru saja memimpin kampanye yang meningkatkan jumlah pelanggan perusahaan.

“Rani,” panggil Adrian lembut. “Aku mengundangmu ke wawancara ini karena pengalamanmu memang sesuai dengan posisi yang kami butuhkan. Tetapi begitu melihat riwayat pekerjaanmu, aku juga meminta tim legal melakukan pemeriksaan awal atas hubungan bisnis yang berkaitan dengan Cakrawala.”

“Jadi kamu sudah tahu aku akan datang?”

“Aku tahu namamu masuk daftar kandidat tahap akhir. Aku tidak meminta HR meloloskanmu tanpa penilaian.”

Aku menatapnya.

“Kalau begitu, aku ingin wawancara tetap berjalan secara profesional.”

Adrian terdiam sejenak, lalu mengangguk.

“Baik.”

Selama empat puluh menit berikutnya, kami membahas strategi konten, analisis audiens, pengelolaan tim, dan pengukuran efektivitas kampanye.

Aku menjawab sebisaku, meskipun sesekali masih merasa gugup.

Ketika wawancara selesai, Adrian menutup laptop.

“Tim HR akan memberi keputusan berdasarkan hasil seluruh proses seleksi.”

Aku berdiri.

Namun, sebelum meninggalkan ruangan, aku menoleh.

“Adrian, soal sebelas tahun lalu…”

Dia mengangkat wajah.

“Aku benar-benar nggak pernah malu mengenalmu.”

Senyumnya perlahan menghilang.

“Aku tahu sekarang.”

“Aku pergi karena takut kamu membenciku.”

Adrian menatap buku catatan kecil di atas meja.

“Dan aku menghabiskan bertahun-tahun berpikir bahwa kamu menyesal pernah membantuku.”

Aku tersenyum pahit.

Ternyata kesalahpahaman yang tidak pernah dibicarakan bisa mengambil begitu banyak waktu dari kehidupan seseorang.

Ketika keluar dari gedung Arunika Digital, ponselku bergetar.

Sebuah pesan masuk dari nomor tidak dikenal.

“Selamat sudah bertemu Adrian lagi, Rani. Tapi jangan mengira dia bisa selalu menyelamatkanmu.”

Aku berhenti berjalan.

Beberapa detik kemudian, sebuah foto muncul.

Foto diriku ketika sedang duduk di lobi perusahaan pagi tadi.

Di bawahnya tertulis pesan lain.

“Sebelas tahun ternyata belum cukup membuatmu mengerti.”

Aku langsung mengetahui siapa pengirimnya.

Melisa.

Tanganku dingin.

Aku hampir menelepon Adrian, tetapi berhenti ketika mengingat sesuatu.

Selama bertahun-tahun, aku terbiasa menghindari konflik. Ketika Melisa menyuruhku menjauhi Adrian, aku pergi tanpa meminta penjelasan. Ketika perusahaan memberhentikanku, aku menerima semua alasan tanpa mempertanyakannya.

Aku tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama.

Kusimpan pesan tersebut, lalu menghubungi Dita, mantan rekanku di Cakrawala Media.

“Dita, aku mau tanya sesuatu. Setelah aku keluar, siapa yang mengambil alih proyek Arunika Retail?”

Dita terdiam.

“Kamu belum tahu?”

“Tahu apa?”

“Proyek itu diberikan kepada perusahaan konsultan milik kerabat Bu Melisa.”

Dadaku berdebar.

“Padahal tim kita sudah menyelesaikan seluruh strategi kampanyenya.”

“Itulah masalahnya, Ran. Mereka menggunakan presentasi yang kamu buat, tetapi nama penyusunnya diganti.”

Aku terduduk di bangku dekat halte.

“Apa kamu punya buktinya?”

“Aku menyimpan email pengalihan proyek dan versi presentasi sebelum direvisi. Tapi aku takut kalau ikut campur, pekerjaanku ikut terancam.”

Aku menarik napas.

“Aku nggak akan memaksamu. Kalau kamu bersedia membantu, kita bisa meminta nasihat hukum dulu.”

Dita terdiam beberapa detik.

“Aku sebenarnya sudah lama merasa bersalah karena diam saja.”

Malam itu, untuk pertama kalinya sejak kehilangan pekerjaan, aku tidak menangis karena takut kehabisan uang.

Aku justru membuka semua dokumen lamaku.

Ada salinan kontrak kerja, laporan penilaian kinerja, email persetujuan kampanye, dan bukti perubahan struktur organisasi.

Semakin banyak kubaca, semakin jelas bahwa alasan pemberhentianku perlu dipertanyakan.

Namun, ada satu hal yang tidak kupahami.

Mengapa Melisa begitu membenciku?

Sebelas tahun lalu, kami hanyalah dua mahasiswa yang menyukai lelaki sama.

Aku bahkan sudah pergi.

Mengapa dia masih merasa perlu menghancurkan karierku?

Jawabannya datang dua hari kemudian.

Dita mengirimkan rekaman rapat internal yang dibuat secara resmi untuk dokumentasi proyek.

Dalam rekaman itu, suara Melisa terdengar jelas.

“Saya tidak mau Rani memegang proyek ini.”

Seseorang bertanya mengapa.

Melisa menjawab, “Dia punya hubungan pribadi dengan Adrian Mahendra. Kita nggak bisa membiarkan orang seperti itu mengakses strategi klien.”

Aku memutar rekaman tersebut berulang kali.

Ternyata Melisa bukan sekadar cemburu.

Dia menganggap kedekatanku dengan Adrian sebagai ancaman bisnis.

Cakrawala Media sedang berusaha mendapatkan kontrak besar dari perusahaan yang menjadi pesaing Arunika Digital. Melisa khawatir aku akan membocorkan informasi, meskipun selama enam tahun aku tidak pernah menghubungi Adrian.

Dia menuduhku berdasarkan hubungan masa lalu yang bahkan tidak pernah benar-benar terjadi.

Aku segera membuat janji dengan seorang pengacara ketenagakerjaan.

Setelah memeriksa dokumen, pengacara itu mengatakan terdapat sejumlah hal yang layak dimintakan klarifikasi, termasuk dasar PHK dan pemenuhan hak-hakku.

Aku memilih menempuh jalur resmi.

Bukan untuk membalas dendam.

Melainkan karena aku tidak ingin membiarkan kebohongan menentukan hidupku sekali lagi.

Seminggu kemudian, Arunika Digital mengirimkan email.

Aku diterima sebagai Senior Content Strategist.

Aku membaca surat penawaran itu sampai tiga kali.

Gajinya cukup untuk melunasi tunggakan kos, membangun kembali tabungan, dan berhenti merasa takut setiap kali membuka aplikasi perbankan.

Namun, sebelum menandatanganinya, aku meminta satu hal kepada HR.

Aku ingin memastikan keputusan penerimaanku didasarkan pada hasil seleksi, bukan hubungan pribadiku dengan Adrian.

Manajer HR menjelaskan bahwa penilaian dilakukan oleh panel dan menunjukkan hasil evaluasi kompetensiku.

Nilai strategiku termasuk yang tertinggi.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku merasa dihargai karena kemampuanku sendiri.

Pada hari pertama bekerja, aku bertemu Adrian di kantin perusahaan.

Dia sedang mengantre membeli makan siang.

Aku tertawa kecil.

“Aneh juga melihat kamu masih antre sendiri.”

Adrian menoleh dan tersenyum.

“Memangnya CEO nggak boleh makan di kantin?”

“Boleh. Cuma dulu kamu selalu beli teh tawar.”

Dia terdiam sesaat.

Kemudian berkata, “Sekarang aku bisa membeli nasi sendiri.”

Kami tertawa bersama.

Namun, ketika hendak membayar, Adrian mengambil dua nampan.

“Satu buat kamu.”

Aku mengangkat alis.

“Kenapa?”

Dia tersenyum.

“Anggap saja gantian.”

Aku menggeleng sambil tertawa.

“Kalau menghitung semua makan siang sebelas tahun lalu, mungkin kamu masih berutang banyak.”

“Kalau begitu, aku punya alasan untuk terus mengajakmu makan.”

Wajahku memanas.

Untuk sesaat, kami kembali menjadi dua mahasiswa yang duduk di kantin kampus.

Namun, kali ini tidak ada rahasia yang perlu disembunyikan.

Beberapa minggu kemudian, proses perselisihanku dengan Cakrawala Media memasuki tahap perundingan.

Perusahaan akhirnya bersedia menyelesaikan persoalan hak ketenagakerjaanku melalui kesepakatan tertulis setelah kedua pihak memeriksa dokumen.

Aku juga mendapat konfirmasi bahwa hasil pekerjaanku telah digunakan dalam proyek yang dialihkan tanpa pencantuman kontribusiku secara layak.

Masalah itu diselesaikan melalui mekanisme terpisah.

Melisa tidak pernah menghubungiku secara langsung lagi.

Namun, suatu sore, seorang perempuan datang menungguku di lobi Arunika Digital.

Aku langsung mengenalinya.

Melisa.

Penampilannya masih rapi dan mahal seperti dahulu, tetapi wajahnya terlihat lelah.

“Rani, kita bisa bicara?”

Aku mempertimbangkan beberapa detik sebelum mengangguk.

Kami duduk di sebuah kafe dekat kantor.

Melisa memandangi cangkir kopinya.

“Aku dengar kamu sudah bekerja di sini.”

“Iya.”

“Dan kamu masih dekat dengan Adrian.”

Aku meletakkan cangkir.

“Melisa, kalau kamu datang hanya untuk membicarakan Adrian, sebaiknya kita akhiri.”

Dia menggeleng.

“Aku datang untuk menjelaskan sesuatu.”

Aku diam.

Melisa menarik napas panjang.

“Dulu aku benar-benar menyukai Adrian. Tapi dia selalu memperhatikanmu.”

Aku menatapnya.

“Adrian tidak pernah mengatakan dia menyukaiku.”

“Justru itu. Dia nggak pernah mengatakannya, tetapi aku bisa melihatnya.”

Matanya mulai berkaca-kaca.

“Aku punya uang, koneksi, dan keluarga yang bisa membantunya. Tapi dia selalu memilih duduk bersamamu di perpustakaan.”

Aku menghela napas.

“Jadi kamu berbohong kepada kami berdua?”

Melisa mengangguk.

“Aku pikir kalau kalian berpisah, aku punya kesempatan.”

“Lalu kenapa setelah sebelas tahun kamu masih mencampuri hidupku?”

Melisa menunduk lama.

“Karena ketika mengetahui kamu bekerja di perusahaanku, aku takut Adrian akan muncul lagi. Aku takut semua yang kulakukan dulu terbongkar.”

Aku menatapnya tidak percaya.

“Kamu membuatku kehilangan pekerjaan karena takut kebohonganmu sendiri diketahui?”

Air mata Melisa jatuh.

“Aku salah.”

Aku terdiam cukup lama.

Dulu aku sering membayangkan bagaimana rasanya membuat Melisa mengakui perbuatannya.

Namun, ketika saat itu benar-benar datang, aku tidak merasakan kemenangan.

Hanya kesedihan melihat betapa banyak kehidupan yang rusak karena rasa iri dan ketakutan.

“Aku menerima permintaan maafmu,” kataku akhirnya. “Tapi itu tidak menghapus apa yang kamu lakukan. Aku berharap kamu benar-benar berubah, bukan cuma menyesal karena semuanya terungkap.”

Melisa mengangguk sambil menangis.

Kami berpisah di depan kafe.

Aku tidak memeluknya.

Tidak pula menjanjikan bahwa kami akan menjadi teman.

Ada hubungan yang memang tidak perlu dipulihkan hanya karena seseorang akhirnya meminta maaf.

Enam bulan kemudian, kehidupanku berubah jauh lebih baik.

Aku menikmati pekerjaan baru, memiliki tim yang menghargai pendapatku, dan mulai membangun tabungan kembali.

Adrian tetap menjaga hubungan profesional selama jam kerja. Dia tidak mencampuri penilaian kinerjaku, dan kami sepakat tidak menjadikan hubungan masa lalu sebagai alasan untuk memperoleh perlakuan khusus.

Namun, di luar kantor, kami mulai menghabiskan waktu bersama.

Kami berjalan-jalan di Bandung, mengunjungi kampus lama, dan suatu sore kembali mendatangi kantin tempat Bu Mira dahulu berjualan.

Warungnya masih ada.

Bu Mira langsung mengenali Adrian.

“Ya ampun! Anak yang dulu selalu beli nasi promo!”

Aku tertawa.

Adrian menatap Bu Mira dengan wajah pura-pura kesal.

“Bu, rahasianya sudah terbongkar sebelas tahun lalu.”

Bu Mira tertawa keras.

Kemudian dia memandangku.

“Rani, kamu tahu nggak, dulu Adrian pernah datang membawa uang satu bulan penuh untuk membayar makanannya sendiri?”

Aku menoleh kepada Adrian.

“Serius?”

Bu Mira mengangguk.

“Tapi Ibu nggak mau menerima. Ibu bilang uang itu sudah dibayar seseorang.”

Adrian tersenyum malu.

“Lalu aku titip uangnya kembali buat Rani.”

Aku terdiam.

“Apa?”

Bu Mira berjalan ke belakang warung dan mengambil sebuah buku catatan lama.

“Rani, dulu kamu sering membeli makan siang di sini dengan harga lebih murah beberapa bulan menjelang wisuda, kan?”

Aku mengangguk bingung.

“Itu bukan promo dari Ibu.”

Bu Mira tersenyum.

“Adrian yang membayar selisihnya.”

Aku menatap Adrian.

Dia hanya menggaruk belakang kepala.

“Waktu itu kamu mulai sering menghemat makan. Aku nggak suka melihatmu melakukan hal yang sama sepertiku.”

Air mataku langsung menggenang.

“Kenapa kamu nggak pernah bilang?”

Adrian menatapku lembut.

“Karena aku tahu kamu akan malu kalau ketahuan.”

Aku tertawa sambil menangis.

Ternyata selama ini kami sama-sama menyembunyikan kebaikan kecil agar orang lain tidak merasa berutang.

Bu Mira menggeleng sambil tersenyum.

“Kalian berdua ini dari dulu keras kepala sekali.”

Setelah makan, Adrian mengajakku berjalan melewati halaman kampus.

Langit Bandung mulai berubah jingga.

Kami berhenti di depan bangku panjang dekat perpustakaan.

Tempat yang dahulu sering kami gunakan untuk mengerjakan tugas kelompok.

Adrian duduk di sebelahku.

“Rani, ada sesuatu yang ingin kutanyakan.”

Aku menoleh.

“Apa?”

Dia menarik napas.

“Sebelas tahun lalu, kamu meninggalkan buku catatan dengan satu kalimat yang tidak pernah sempat kujawab.”

Aku tersenyum kecil.

“Aku ingat.”

Adrian mengeluarkan buku lusuh itu dari tasnya.

Dia membuka halaman terakhir.

Di bawah tulisan tanganku yang sudah memudar, terdapat kalimat yang dahulu baru kubaca ketika wawancara.

Namun, kali ini ada kalimat tambahan.

Aku mencintaimu bukan karena kamu pernah memberiku makan. Aku mencintaimu karena kamu melihatku sebagai manusia ketika aku sendiri hampir lupa bagaimana rasanya dihargai.

Aku menutup mulut dengan tangan.

Adrian menggenggam jemariku.

“Rani, aku nggak ingin kita menghabiskan sebelas tahun lagi karena takut mengatakan apa yang sebenarnya kita rasakan.”

Air mataku jatuh.

“Aku juga nggak mau.”

Dia tersenyum.

“Kalau begitu, maukah kamu memberiku kesempatan mengenalmu lagi, bukan sebagai mahasiswa yang dulu kamu bantu, atau CEO tempatmu bekerja, tetapi sebagai Adrian?”

Aku mengangguk sambil menangis.

“Mau.”

Kami tidak langsung membuat janji tentang pernikahan atau masa depan yang sempurna.

Kami hanya sepakat untuk saling mengenal kembali, berbicara jujur, dan tidak membiarkan orang lain menentukan hubungan kami.

Malam itu, sebelum pulang, aku membuka ponsel.

Ada pesan dari ibu kos lamaku yang menanyakan kabar.

Aku membalas bahwa semuanya baik-baik saja.

Kemudian aku teringat saldo rekeningku ketika pertama kali datang melamar pekerjaan.

Rp427.600.

Waktu itu aku mengira hidupku berada di titik paling rendah.

Namun, sekarang aku memahami sesuatu.

Sebelas tahun lalu, aku membantu seorang mahasiswa yang kelaparan bukan karena berharap dia kelak menjadi orang sukses.

Aku melakukannya karena tidak tega melihat seseorang harus memilih antara makan dan mempertahankan pendidikannya.

Dan sebelas tahun kemudian, ketika kami bertemu kembali, hadiah terbesar yang kuterima bukanlah pekerjaan atau kesempatan dekat dengan seorang CEO.

Melainkan kesempatan memperbaiki kesalahpahaman yang selama ini membuat kami kehilangan begitu banyak waktu.

Aku menatap Adrian yang sedang membeli dua botol air mineral di minimarket depan kampus.

Dia kembali sambil menyerahkan satu botol kepadaku.

“Kenapa senyum-senyum?”

Aku menggeleng.

“Nggak apa-apa. Cuma sedang berpikir.”

“Tentang apa?”

Aku menerima botol itu.

“Ternyata kebaikan kecil bisa punya perjalanan panjang, ya.”

Adrian tersenyum.

“Kadang lebih panjang daripada yang kita bayangkan.”

Kami berjalan berdampingan menuju tempat parkir.

Untuk pertama kalinya, aku tidak lagi merasa harus mengejar masa lalu atau membayar sesuatu yang tertunda.

Aku hanya ingin menjalani hari berikutnya dengan lebih berani.

Karena akhirnya aku belajar bahwa kebaikan yang tulus tidak selalu kembali dalam bentuk yang sama.

Terkadang, kebaikan itu kembali sebagai keberanian untuk mempercayai seseorang lagi.

Dan kali ini, aku tidak akan pergi sebelum mendengar jawabannya.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang