Di Hari Wisudaku, Tunanganku Memintaku Turun dari Panggung demi Putri Dekan, Lalu

Bel apartemen berbunyi untuk kelima kalinya ketika aku akhirnya membuka pintu. Fajar berdiri dengan wajah kesal, sementara Keisya di sampingnya menggenggam kantong belanja dari toko perhiasan terkenal.

“Kamu kenapa susah banget dihubungi?” tanya Fajar tanpa mengucapkan salam.

Aku bersandar pada kusen pintu.

“Gelangku mana?”

Keisya segera mengulurkan kantong belanja itu.

“Alya, aku benar-benar minta maaf. Aku sudah belikan penggantinya. Ini emas putih, harganya jauh lebih mahal daripada gelangmu.”

Aku tidak menyentuh kantong tersebut.

“Aku nggak tanya harga gelang penggantinya. Aku tanya gelang pemberian ayahku.”

Keisya menunduk.

“Liontinnya hilang. Aku sudah cari, tapi nggak ketemu.”

“Di mana kamu terakhir memakainya?”

“Waktu foto di taman fakultas.”

“Besok aku cari sendiri.”

Fajar langsung menyela.

“Besok? Bukannya besok kamu mau ikut makan siang sama keluargaku?”

Aku menatapnya.

“Kamu masih memikirkan makan siang?”

“Ya, karena semuanya sudah direncanakan. Mama bahkan sudah pesan restoran.”

Aku tertawa pelan.

Lima tahun bersama Fajar membuatku terbiasa mengalah. Namun, malam itu aku tidak lagi memiliki tenaga untuk menjelaskan mengapa kenangan terakhir dari ayahku lebih penting daripada sebuah makan siang.

“Pulanglah, Jar.”

“Alya, jangan kekanak-kanakan.”

Aku masuk ke kamar, mengambil kotak cincin dari tas, kemudian kembali ke pintu.

Fajar mengerutkan kening ketika melihat benda itu.

“Kamu mau apa?”

Aku membuka kotaknya.

Cincin pertunangan kami masih tersimpan rapi.

“Mulai malam ini, pertunangan kita selesai.”

Wajah Fajar langsung berubah.

“Apa?”

“Aku nggak mau menikah dengan seseorang yang menganggap perasaanku sebagai gangguan.”

“Kamu memutuskan hubungan lima tahun cuma gara-gara gelang?”

“Bukan karena gelangnya hilang, Fajar. Tapi karena kamu mengambilnya tanpa izinku. Kamu tahu betapa berharganya gelang itu, tetapi tetap memilih menyenangkan Keisya.”

Keisya mulai menangis.

“Alya, jangan salahkan Fajar. Aku yang ceroboh.”

Aku menoleh kepadanya.

“Kamu memang ceroboh. Tapi Fajar yang mengambilnya dari tanganku.”

Fajar meraih kotak cincin tersebut.

“Besok kalau kamu sudah tenang, kita bicara lagi.”

“Nggak perlu.”

Aku menutup pintu sebelum dia kembali berdebat.

Dari balik pintu, kudengar Fajar memanggil namaku beberapa kali. Kemudian suara langkah mereka menjauh.

Aku duduk di lantai dan menangis.

Bukan karena kehilangan tunangan.

Melainkan karena kehilangan gelang yang selama ini membuatku merasa ayahku masih dekat.

Ayah meninggal ketika aku duduk di semester dua. Sebelum pergi, beliau sempat dirawat hampir sebulan karena komplikasi penyakit jantung.

Pada hari ulang tahunku yang kedua puluh, Ayah memanggilku ke samping tempat tidurnya.

Tangannya gemetar ketika memasangkan gelang perak sederhana ke pergelangan tanganku.

“Ayah nggak punya hadiah mahal, Nak.”

Aku menangis sambil menggeleng.

“Ini sudah bagus banget, Yah.”

Ayah tersenyum.

“Kalau suatu hari kamu merasa sendirian, lihat gelang ini. Ingat, kamu selalu punya tempat untuk pulang.”

Tiga minggu kemudian, Ayah meninggal.

Sejak saat itu, gelang tersebut hampir tidak pernah kulepas.

Dan sekarang, liontin kecil dengan ukiran inisial namaku telah hilang.

Pukul sebelas malam, sepupuku, Dina, pulang dari tempat kerjanya.

Dia terkejut melihat koper-koperku masih berada di ruang tamu dan mataku membengkak.

“Ya ampun, Alya. Kamu kenapa?”

Aku menceritakan semuanya.

Dina mendengarkan tanpa memotong.

Ketika aku selesai, dia memelukku erat.

“Besok kamu tetap berangkat, kan?”

Aku mengangguk.

“Tapi sebelum ke bandara, aku mau cari liontin Ayah.”

Dina menatap jam.

“Penerbanganmu pukul sepuluh pagi. Kalau berangkat ke kampus subuh, kita masih punya waktu.”

Malam itu kami hanya tidur beberapa jam.

Pukul lima pagi, Dina mengantarku ke kampus menggunakan mobilnya.

Halaman auditorium masih sepi. Hanya beberapa petugas kebersihan yang sedang membereskan sisa dekorasi wisuda.

Aku menunjukkan foto gelang kepada seorang petugas.

“Pak, kemarin ada yang menemukan liontin perak kecil berbentuk daun?”

Petugas itu berpikir sejenak.

“Coba tanya Pak Bowo, petugas keamanan yang berjaga semalam. Katanya ada beberapa barang tertinggal.”

Kami bergegas menuju pos keamanan.

Pak Bowo membuka sebuah laci berisi barang-barang temuan.

Ada kunci motor, kartu mahasiswa, jepit rambut, dan sebuah anting.

Namun, tidak ada liontin milikku.

Aku berusaha menahan tangis.

“Kalau boleh tahu, Mbak kehilangan barangnya di mana?” tanya Pak Bowo.

“Katanya di taman fakultas, Pak.”

Pak Bowo mengernyit.

“Taman fakultas?”

“Iya.”

“Tapi kemarin saya lihat perempuan yang memakai gelang mirip foto ini masuk ke ruang ganti belakang auditorium.”

Aku langsung menegang.

“Perempuan berkebaya biru muda?”

“Iya. Dia bersama seorang laki-laki. Sepertinya mereka sedang bertengkar.”

Aku dan Dina saling berpandangan.

“Bapak ingat jam berapa?”

“Sekitar setengah lima sore.”

Padahal Keisya mengatakan liontinku jatuh ketika sesi foto di taman, sekitar pukul tiga.

Pak Bowo kemudian menambahkan sesuatu yang membuat jantungku berdegup lebih cepat.

“Setelah mereka keluar, saya menemukan serpihan logam kecil dekat pintu. Saya pikir bagian dari aksesori dekorasi.”

“Bapak simpan?”

“Sebentar.”

Dia membuka kotak perkakas di bawah meja.

Beberapa detik kemudian, Pak Bowo mengeluarkan sebuah benda kecil yang dibungkus tisu.

Tanganku langsung gemetar.

Itu liontin berbentuk daun milik Ayah.

Namun, bagian pengaitnya patah.

Aku menerima benda itu dengan kedua tangan.

Di belakangnya masih terlihat ukiran huruf A yang dibuat Ayah.

Air mataku langsung jatuh.

“Terima kasih banyak, Pak.”

Aku menggenggam liontin itu erat, seolah takut kehilangannya lagi.

Namun, sebelum kami pergi, Pak Bowo berkata, “Mbak, kalau boleh saya bilang, kemarin perempuan itu sempat melempar sesuatu ke lantai.”

Langkahku terhenti.

“Bapak melihatnya?”

“Saya cuma lihat dari jauh. Saya nggak tahu apa yang mereka ributkan.”

Dina langsung menatapku.

“Alya, kamu harus minta penjelasan.”

Aku menggeleng.

“Bukan sekarang. Aku sudah dapat yang kucari.”

Kami langsung menuju bandara.

Sepanjang perjalanan, ponselku terus berdering.

Fajar menelepon berkali-kali.

Kemudian sebuah pesan masuk.

“Alya, Mama sudah menunggu di restoran. Kamu di mana?”

Aku tidak membalas.

Pesan berikutnya datang sepuluh menit kemudian.

“Kamu benar-benar mau mempermalukan keluargaku?”

Aku memandang layar dengan perasaan aneh.

Bahkan setelah semalam kami bertengkar, Fajar masih lebih memikirkan perasaan keluarganya daripada apa yang terjadi padaku.

Aku akhirnya membalas.

“Aku sedang menuju bandara. Pertunangan kita sudah selesai. Tolong jangan hubungi aku lagi kecuali untuk menyelesaikan barang-barang yang masih tertinggal.”

Tidak sampai satu menit, ponselku berdering.

Kali ini aku mengangkatnya.

“Bandara? Kamu mau ke mana?”

“Melbourne.”

“Untuk apa?”

“Aku diterima bekerja di sana.”

Fajar terdiam.

“Sejak kapan?”

“Tiga bulan lalu.”

“Kenapa kamu nggak bilang?”

“Aku pernah cerita soal lamarannya. Kamu bilang aku cuma membuang waktu karena setelah menikah seharusnya aku fokus mengurus rumah.”

“Alya, aku nggak pernah melarangmu bekerja.”

“Tapi kamu selalu membuat impianku terasa nggak penting.”

Suara Fajar meninggi.

“Jadi kamu memilih pekerjaan daripada hubungan kita?”

Aku memejamkan mata.

“Bukan. Aku memilih hidup yang tidak terus-menerus membuatku harus mengecilkan diri.”

Aku memutus sambungan.

Ketika sampai di Bandara Soekarno-Hatta, Dina membantuku menurunkan koper.

Dia memelukku erat.

“Jangan merasa bersalah karena akhirnya memilih dirimu sendiri.”

Aku mengangguk sambil menangis.

“Jaga Ibu, ya. Aku sudah bilang beliau soal pekerjaanku, tapi belum cerita soal Fajar.”

“Nanti kamu bisa cerita kalau sudah siap.”

Setelah melewati pemeriksaan keamanan, aku duduk di ruang tunggu sambil memandangi liontin kecil di telapak tanganku.

Barang itu rusak.

Tetapi masih ada.

Sama seperti diriku.

Aku belum tahu bagaimana kehidupanku di Australia nanti. Aku takut memulai pekerjaan baru, takut tinggal sendirian, dan takut tidak mampu memenuhi harapan perusahaan.

Namun, untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ketakutan itu terasa seperti sesuatu yang bisa kuhadapi.

Tiba-tiba sebuah pesan masuk dari nomor Keisya.

“Alya, aku harus jujur. Gelangmu bukan hilang karena kecelakaan.”

Aku menegakkan tubuh.

Pesan kedua langsung menyusul.

“Fajar yang memintaku melepasnya di ruang ganti. Dia marah karena aku bilang mau mengembalikannya langsung kepadamu.”

Dadaku terasa dingin.

Kemudian sebuah rekaman suara dikirimkan.

Aku memasang earphone dan menekan tombol putar.

Suara Fajar terdengar jelas.

“Kalau kamu mengembalikan gelang itu sekarang, Alya bakal merasa dia menang. Biar saja dulu. Dia harus belajar kalau nggak semua keinginannya bisa dituruti.”

Lalu suara Keisya terdengar.

“Tapi ini peninggalan ayahnya, Jar.”

“Justru itu. Dia terlalu bergantung sama kenangan. Nanti kalau sudah menikah, semua harus diatur bersama. Aku nggak mau dia terus membantah.”

Aku membeku.

Ternyata bukan sekadar Fajar ingin menyenangkan Keisya.

Dia sengaja menggunakan barang yang paling berharga bagiku untuk mengajarkanku agar tidak berani menolak keinginannya.

Rekaman berakhir dengan suara benda jatuh.

Aku menutup mata.

Sekarang aku memahami mengapa liontin itu ditemukan dalam keadaan patah di belakang auditorium.

Keisya mengirim pesan terakhir.

“Aku minta maaf sudah ikut memperlakukanmu seperti itu. Setelah Fajar marah, aku melepas gelangnya dengan tergesa-gesa sampai pengaitnya rusak. Aku takut mengaku. Aku tahu permintaan maaf nggak bisa menghapus kesalahanku.”

Aku membaca pesan tersebut cukup lama.

Kemudian membalas singkat.

“Aku sudah menemukan liontinnya. Terima kasih sudah jujur, meskipun terlambat.”

Aku menyimpan rekaman itu, lalu mematikan layar ponsel.

Tidak ada lagi yang perlu kuperdebatkan.

Tiga bulan kemudian, kehidupanku di Melbourne mulai menemukan ritmenya.

Aku bekerja di sebuah studio arsitektur yang menangani proyek hunian ramah lingkungan. Pekerjaannya menantang, tetapi atasanku menghargai ide-ide yang kusampaikan.

Aku tinggal di apartemen kecil bersama seorang rekan kerja asal Indonesia bernama Nabila.

Setiap akhir pekan, aku menelepon Ibu.

Suatu sore, Ibu menunjukkan foto gelangku yang sudah diperbaiki oleh pengrajin perak langganan Ayah.

Sebelum berangkat, aku memang menitipkannya kepada Ibu agar diperbaiki dengan hati-hati.

“Sudah bagus lagi, Nak,” kata Ibu melalui panggilan video.

Aku tersenyum haru.

“Ukirannya masih ada, Bu?”

“Masih. Ibu pesan supaya jangan sampai bagian itu diganti.”

Beberapa minggu kemudian, gelang tersebut dikirimkan kepadaku.

Ketika membukanya, aku menemukan secarik kertas kecil dari Ibu.

“Ayahmu memberimu gelang ini bukan supaya kamu terus hidup dalam kenangan. Ayah ingin kamu punya keberanian untuk melangkah, bahkan ketika kami tidak bisa berjalan di sampingmu.”

Aku menangis membaca surat itu.

Namun, kejutan yang paling tidak kusangka justru terjadi enam bulan setelah kepergianku.

Fajar mengirim sebuah email panjang.

Dia mengatakan hubungan dekatnya dengan Keisya telah berakhir. Rekomendasi pekerjaan yang selama ini dikejarnya pun tidak membawanya ke posisi yang diharapkan.

Namun, bagian yang membuatku terdiam bukanlah kabar tersebut.

Fajar mengaku telah memulai konseling setelah menyadari dirinya selalu menganggap penolakan orang lain sebagai penghinaan.

“Aku dulu mengira menjadi calon suami berarti punya hak mengatur keputusanmu. Sekarang aku tahu itu bukan cinta. Aku menyakitimu karena aku takut kehilangan kendali.”

Aku membaca email itu sampai selesai.

Untuk pertama kalinya, aku tidak merasa marah.

Aku juga tidak merasa ingin kembali.

Aku hanya berharap dia benar-benar berubah, bukan untuk mendapatkan kembali hubungan kami, tetapi agar tidak mengulangi kesalahan yang sama kepada orang lain.

Aku membalas dengan satu kalimat.

“Aku menerima permintaan maafmu. Semoga kamu belajar menghargai batasan orang lain.”

Setelah itu, aku mengarsipkan email tersebut.

Setahun kemudian, aku mendapat kesempatan mempresentasikan rancangan proyek di sebuah konferensi arsitektur internasional.

Saat namaku dipanggil, aku berjalan menuju panggung dengan jantung berdebar.

Di pergelangan tangan kiriku, gelang perak pemberian Ayah berkilau terkena cahaya lampu auditorium.

Aku berdiri di depan layar besar, memandang para peserta yang berasal dari berbagai negara.

Untuk sesaat, ingatanku kembali pada hari wisuda.

Hari ketika aku diminta mundur dari panggung demi seseorang yang dianggap lebih penting.

Hari ketika gelang Ayah dilepaskan dari tanganku tanpa izin.

Hari ketika aku hampir percaya bahwa mempertahankan sesuatu yang berharga bagi diriku adalah tindakan egois.

Namun, kali ini berbeda.

Aku berada di panggung karena kerja kerasku sendiri.

Tidak ada yang memintaku bergeser.

Tidak ada yang menyuruhku mengecilkan suara.

Dan tidak ada yang merasa berhak mengambil sesuatu dari tanganku hanya karena aku mencintainya.

Presentasiku berlangsung lancar.

Setelah sesi selesai, seorang peserta perempuan menghampiriku.

“Your bracelet is beautiful,” katanya sambil menunjuk pergelangan tanganku.

Aku tersenyum.

“Thank you. It was a gift from my father.”

Perempuan itu mengangguk kagum.

Aku mengusap liontin berbentuk daun tersebut dengan ibu jari.

Dulu, aku mengira gelang itu adalah satu-satunya benda yang bisa membuatku tetap dekat dengan Ayah.

Sekarang aku memahami bahwa warisan paling besar yang ditinggalkannya bukanlah sepotong perak.

Melainkan keyakinan bahwa aku layak dihargai, bahkan ketika orang yang kucintai tidak mampu melihat nilainya.

Malam harinya, aku menelepon Ibu dari balkon apartemen.

“Bu, presentasiku berhasil.”

Ibu langsung tersenyum lebar.

“Alhamdulillah. Ayahmu pasti bangga sekali.”

Aku memandang cahaya kota Melbourne di kejauhan.

“Bu, dulu waktu Ayah memberiku gelang ini, beliau bilang aku selalu punya tempat untuk pulang.”

“Iya, Nak.”

“Sekarang aku baru paham maksudnya.”

“Apa?”

“Tempat pulang itu bukan cuma rumah atau seseorang yang menunggu kita. Kadang tempat pulang adalah saat kita bisa menerima diri sendiri tanpa harus meminta izin siapa pun.”

Ibu terdiam sejenak.

Kemudian beliau tersenyum dengan mata berkaca-kaca.

“Kamu sudah tumbuh menjadi perempuan yang kuat, Alya.”

Aku menggeleng pelan.

“Aku masih sering takut, Bu.”

“Nggak apa-apa. Berani bukan berarti nggak pernah takut.”

Setelah panggilan berakhir, aku berdiri cukup lama menikmati udara malam.

Aku teringat dua koper yang dahulu kubawa meninggalkan Jakarta.

Saat itu, aku merasa kehilangan begitu banyak hal.

Tunanganku.

Rencana pernikahan.

Masa depan yang sudah kususun selama lima tahun.

Bahkan gelang terakhir pemberian Ayah hampir tidak kembali kepadaku.

Namun, ternyata hidup tidak berhenti hanya karena seseorang memilih pergi.

Beberapa kehilangan justru membuka jalan menuju kehidupan yang tidak pernah berani kita bayangkan sebelumnya.

Aku menatap gelang perak di tanganku.

Pengaitnya memang sudah diganti.

Jika diperhatikan dengan saksama, masih ada bekas perbaikan kecil pada bagian sambungannya.

Aku tidak pernah meminta pengrajin menghilangkan bekas itu.

Karena bagiku, bekas tersebut bukan tanda bahwa gelang itu sudah tidak sempurna.

Melainkan bukti bahwa sesuatu yang pernah rusak masih bisa diperbaiki tanpa kehilangan maknanya.

Dan sama seperti gelang itu, aku tidak harus kembali menjadi Alya yang dahulu agar bisa merasa utuh.

Aku hanya perlu menjadi diriku sendiri.

Perempuan yang akhirnya berani turun dari panggung yang salah, meninggalkan orang yang tidak menghargainya, lalu membangun jalan menuju panggung tempat dirinya benar-benar pantas berdiri.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang