
“Siapa Pak Hendra sebenarnya?”
Pertanyaanku membuat Citra mundur hingga punggungnya membentur meja resepsionis. Arga berdiri di sampingnya dengan wajah pucat, sementara Siska dan dua petugas keamanan klinik memperhatikan kami dengan tegang.
“Rania, jangan membahas urusan perusahaan di sini,” kata Arga.
Aku menatapnya dingin.
“Urusan perusahaanmu tidak akan menjadi urusanku kalau kamu tidak menggunakan identitas dan penghasilanku untuk mengajukan pinjaman miliaran rupiah.”
Citra tiba-tiba menangis.
“Mbak, aku nggak tahu semuanya akan jadi seperti ini.”
Aku menoleh kepadanya.
“Kalau begitu, ceritakan apa yang kamu tahu.”
Arga langsung menyela.
“Citra, jangan bicara macam-macam!”
Namun, perempuan itu justru mengeluarkan ponsel dan menunjukkan beberapa percakapan.
Pak Hendra ternyata bukan sekadar pegawai bank. Dia adalah konsultan pembiayaan yang membantu perusahaan Arga mengajukan kredit investasi.
Selama tiga bulan terakhir, mereka sudah beberapa kali bertemu untuk menyusun dokumen.
Yang membuatku semakin terkejut, Citra mengaku bahwa rencana menggunakan namaku sebagai penjamin sudah dibicarakan sejak awal.
“Mas Arga bilang Mbak pasti setuju setelah menikah,” ucap Citra.
Aku menoleh kepada Arga.
“Jadi kamu sengaja menunggu sampai kami resmi menjadi suami istri?”
Arga mengusap wajahnya.
“Bisnisku sedang kesulitan, Ran. Ada proyek besar yang bisa menyelamatkan perusahaan. Aku cuma butuh tambahan modal.”
“Kenapa nggak bilang terus terang?”
“Karena aku tahu kamu akan menolak.”
Jawaban itu membuatku terdiam.
Selama enam tahun, aku membantu Arga melewati berbagai kesulitan. Ketika perusahaannya hampir bangkrut, aku memberikan sebagian tabunganku. Aku bahkan pernah menjual perhiasan peninggalan nenek untuk membantunya membayar gaji karyawan.
Namun, ternyata semua itu belum cukup.
Dia masih ingin menggunakan namaku tanpa izin.
“Aku memang akan menolak,” jawabku akhirnya. “Bukan karena aku nggak mau membantumu, tetapi karena kamu tidak pernah terbuka soal kondisi keuangan perusahaan.”
Arga menatapku dengan mata merah.
“Kalau kredit ini gagal, aku bisa kehilangan semuanya.”
Aku mengangguk pelan.
“Dan kamu rela mempertaruhkan masa depanku agar kamu tidak kehilangan milikmu?”
Dia tidak menjawab.
Aku meminta petugas keamanan mendampingi sampai Arga dan Citra meninggalkan klinik. Dokumen yang sempat kutemukan diserahkan untuk dicatat sebagai barang yang perlu diperiksa, sementara foto-fotonya kusimpan sebagai bukti awal.
Malam itu aku tidak kembali ke apartemen.
Aku menginap di rumah Siska.
Ketika akhirnya berbaring menjelang pukul tiga pagi, ponselku kembali berdering.
Kali ini dari nomor ibuku.
“Rania, kamu di mana, Nak?”
Aku terkejut.
“Di rumah Siska, Bu. Kenapa?”
“Arga barusan datang ke rumah. Dia bilang kamu membatalkan pernikahan karena salah paham.”
Aku memejamkan mata.
“Bu, aku memang membatalkan pernikahan.”
Ibuku terdiam cukup lama.
“Undangan sudah tersebar, Nak.”
“Aku tahu.”
“Keluarga besar sudah memesan tiket ke Bandung.”
“Aku tahu, Bu.”
“Tapi kalau keputusanmu sudah dipikirkan baik-baik, Ibu ingin dengar alasannya langsung darimu.”
Air mataku mulai mengalir.
Aku menceritakan semuanya, dari kejadian di mobil hingga dokumen pinjaman yang menggunakan data pribadiku.
Setelah mendengarkan, Ibu hanya mengucapkan satu kalimat.
“Kalau begitu, jangan menikah hanya karena takut mengecewakan tamu undangan.”
Tangisku langsung pecah.
Keesokan paginya, aku mendatangi kantor wedding organizer bersama Siska. Kami membicarakan pembatalan acara, kewajiban pembayaran yang masih tersisa, serta pemberitahuan kepada keluarga dan tamu.
Aku kehilangan cukup banyak uang dari biaya yang tidak bisa dikembalikan.
Namun, aku tidak menyesal.
Siang harinya, aku menghubungi seorang pengacara bernama Bu Ratna.
Beliau memeriksa salinan dokumen yang kubawa dengan saksama.
“Rania, ada beberapa hal yang harus kita pastikan,” katanya.
Aku mengangguk.
“Pertama, apakah pengajuan kredit ini benar-benar sudah masuk ke lembaga pembiayaan. Kedua, siapa yang memberikan data pribadimu. Ketiga, apakah ada tanda tangan atau persetujuan yang dibuat tanpa sepengetahuanmu.”
Aku menunjukkan alamat apartemenku yang tercantum pada daftar jaminan.
“Kalau ini bagaimana, Bu?”
Bu Ratna mengernyit.
“Statusmu hanya penyewa, benar?”
“Iya. Kontraknya atas namaku.”
“Kalau begitu, apartemen itu bukan aset milikmu yang bisa begitu saja dijaminkan. Kita perlu memeriksa apakah alamat tersebut dicantumkan sebagai domisili, atau ada dokumen lain yang dibuat secara tidak benar.”
Aku menghela napas lega.
Setidaknya ada satu hal yang mulai jelas.
Bu Ratna kemudian menyarankan agar aku menghubungi bank melalui saluran resminya, bukan melalui nomor yang diberikan Arga atau Citra.
Kami juga mengirimkan permintaan klarifikasi terkait penggunaan data pribadiku.
Tiga hari kemudian, sebuah jawaban tertulis datang.
Bank menyatakan belum ada fasilitas kredit yang dicairkan berdasarkan berkas tersebut. Pengajuan yang menggunakan namaku masih berada pada tahap pemeriksaan dan belum memperoleh persetujuan.
Namun, ada catatan yang membuatku kembali gelisah.
Berkas itu pernah dikembalikan karena adanya ketidaksesuaian data penghasilan dan dokumen penjamin.
Artinya, seseorang telah mencoba mengajukan dokumen tersebut sebelumnya.
Aku segera menelepon Citra.
“Kapan pertama kali berkas atas namaku diajukan?”
Citra terdengar gugup.
“Sekitar dua bulan lalu, Mbak.”
“Dua bulan?”
“Iya. Tapi dikembalikan karena ada dokumen yang kurang.”
Aku terdiam.
Dua bulan lalu, Arga pernah memintaku menandatangani sebuah formulir yang katanya diperlukan untuk memperbarui data administrasi calon pasangan di kantor wedding organizer.
Saat itu aku menolak karena beberapa kolomnya masih kosong.
Arga sempat kesal.
Sekarang aku memahami alasannya.
“Citra, ada yang ingin kutanyakan.”
“Iya, Mbak?”
“Kamu tahu siapa yang pertama kali menyarankan agar namaku digunakan sebagai penjamin?”
Citra tidak langsung menjawab.
Kemudian suaranya terdengar sangat pelan.
“Bukan Mas Arga.”
Aku menegakkan tubuh.
“Lalu siapa?”
“Pak Hendra.”
Aku terdiam.
“Kenapa dia memilihku?”
Citra menarik napas panjang.
“Karena dia sudah tahu riwayat keuangan Mbak sebelum kami membicarakan kredit itu.”
Dadaku langsung terasa dingin.
“Dari mana dia dapat dataku?”
“Aku nggak tahu pasti. Tapi dia pernah menunjukkan laporan penghasilan Mbak dari klinik.”
Aku menutup telepon setelah meminta Citra menyimpan seluruh percakapan dan dokumen yang dimilikinya.
Keesokan harinya, aku meminta kepala administrasi klinik memeriksa siapa saja yang memiliki kewenangan mengakses dokumen penghasilanku.
Hasil pemeriksaan internal awal menunjukkan sesuatu yang mengejutkan.
Ada permintaan salinan surat keterangan penghasilan atas namaku sekitar dua bulan sebelumnya.
Permintaan itu bukan berasal dariku.
Formulirnya disampaikan melalui email dengan nama pengirim yang menyerupai alamat surel pribadiku.
Namun, ketika diperiksa lebih lanjut, alamatnya berbeda satu huruf.
Seseorang telah menggunakan identitas yang mirip dengan milikku.
Aku segera menyerahkan temuan itu kepada Bu Ratna.
Dua hari kemudian, kami membuat laporan resmi atas dugaan penyalahgunaan data pribadi dan pemalsuan dokumen.
Sementara itu, Arga terus berusaha menghubungiku.
Dia mengirim bunga ke klinik, menulis pesan panjang, bahkan meminta keluarganya membujukku agar mau bertemu.
Aku menolak semuanya.
Sampai suatu sore, Pak Hendra sendiri datang ke klinik.
Pria berusia sekitar lima puluh tahun itu mengenakan kemeja rapi dan membawa tas kerja kulit.
“Bu Rania, saya ingin menjelaskan bahwa semua ini hanya kesalahpahaman administratif.”
Aku tidak mempersilakannya berbicara sendirian denganku.
Aku meminta Siska tetap berada di dekat ruang konsultasi dan menghubungi Bu Ratna.
Pak Hendra terlihat tidak senang.
“Ini sebenarnya bisa diselesaikan baik-baik tanpa pengacara.”
Aku menatapnya.
“Kalau memang semuanya benar, Bapak tidak perlu keberatan ketika saya meminta pendampingan hukum.”
Dia terdiam.
Setelah Bu Ratna hadir, Pak Hendra mulai menjelaskan bahwa dirinya hanya membantu perusahaan Arga menyiapkan dokumen awal.
Namun, ketika ditanya mengapa salinan penghasilanku sudah tersedia sebelum aku memberikan persetujuan, jawabannya berubah-ubah.
Akhirnya Bu Ratna meminta agar semua penjelasan disampaikan secara tertulis kepada pihak yang menangani pemeriksaan.
Pak Hendra pergi dengan wajah tegang.
Sebelum keluar, dia menoleh kepadaku.
“Bu Rania, kadang urusan bisnis tidak sesederhana yang Ibu bayangkan.”
Aku menjawab tenang.
“Dan persetujuan seseorang bukan sesuatu yang boleh Bapak anggap otomatis hanya karena dia akan menikah.”
Minggu berikutnya, aku mendapat kabar bahwa Arga telah menghentikan pengajuan kredit tersebut.
Namun, itu tidak berarti persoalan selesai.
Proses pemeriksaan terhadap dugaan penggunaan dokumen tanpa izin tetap berjalan.
Aku sendiri mulai menyadari betapa banyak hal tentang Arga yang selama ini tidak kuketahui.
Dia pernah mengatakan omzet perusahaannya terus meningkat.
Padahal, beberapa proyek justru mengalami kerugian.
Dia pernah membanggakan kontrak baru bernilai miliaran rupiah.
Namun, sebagian besar pembayaran dari klien tertunda, sementara kewajiban kepada pemasok terus menumpuk.
Aku selama ini melihat keberhasilannya dari mobil, kantor, dan cara hidupnya.
Aku tidak pernah melihat laporan keuangannya.
Dan Arga memang tidak pernah mengizinkanku bertanya terlalu jauh.
Sebulan setelah pernikahan kami dibatalkan, Citra menghubungiku lagi.
Kali ini dia meminta bertemu di sebuah kafe dekat klinik.
Aku sempat ragu, tetapi akhirnya setuju dengan syarat pertemuan berlangsung di tempat umum.
Citra datang tanpa cardigan abu-abu yang dulu membuatku begitu marah.
Wajahnya terlihat lelah.
“Aku sudah mengundurkan diri dari perusahaan Mas Arga,” katanya.
Aku mengangguk.
“Kenapa?”
“Karena aku akhirnya tahu apa yang sebenarnya dia rencanakan.”
Aku menatapnya.
Citra mengeluarkan sebuah amplop.
Di dalamnya terdapat salinan percakapan antara Arga dan Pak Hendra.
Salah satu pesan membuat tanganku gemetar.
“Setelah menikah, Rania pasti mengikuti keputusan suaminya. Dia terlalu takut mempermalukan keluarga untuk menolak.”
Aku membaca kalimat itu berkali-kali.
Arga mengenalku selama enam tahun.
Dia tahu aku sangat menyayangi orang tuaku.
Dia tahu aku selalu berusaha menjaga hubungan baik dengan keluarganya.
Dan ternyata, semua itu justru dianggap kelemahan yang bisa dimanfaatkan.
Namun, pesan berikutnya jauh lebih menyakitkan.
“Kalau Rania tetap menolak menjadi penjamin, kita bisa gunakan dana tabungan pernikahan yang dia simpan.”
Aku langsung mengangkat kepala.
“Tabungan pernikahan?”
Citra mengangguk.
“Mas Arga pernah bilang kalian punya rekening khusus untuk biaya setelah menikah.”
Aku merasa napasku tercekat.
Rekening itu memang ada.
Selama tiga tahun terakhir, aku menyisihkan sebagian gajiku setiap bulan untuk menabung bersama Arga.
Namun, rekening tersebut terdaftar atas namanya, meskipun setoran dariku tercatat melalui transfer.
Aku segera membuka aplikasi perbankan dan memeriksa transaksi terakhir yang masih bisa kulihat dari rekening pribadiku.
Setoran bulan lalu sudah masuk.
Namun, ketika kuminta Arga menunjukkan saldo rekening bersama, dia selalu mengatakan uangnya sedang ditempatkan dalam deposito.
Aku tiba-tiba merasa takut.
Dengan bantuan Bu Ratna, aku mengumpulkan bukti seluruh transfer yang pernah kukirim kepada Arga.
Jumlahnya mencapai ratusan juta rupiah.
Kami kemudian meminta penjelasan tertulis mengenai penggunaan dana tersebut.
Beberapa hari kemudian, Arga akhirnya setuju bertemu di kantor pengacaranya.
Dia terlihat jauh lebih kurus.
Begitu melihatku, matanya langsung berkaca-kaca.
“Rania, aku kangen kamu.”
Aku duduk tanpa menjawab.
Bu Ratna membuka pembicaraan.
“Kami ingin mengetahui posisi dana yang disetorkan klien kami untuk tabungan pernikahan.”
Arga menunduk.
Untuk beberapa saat, tidak ada suara.
Kemudian dia mengaku.
“Sebagian uangnya sudah kupakai.”
Aku menutup mata.
“Berapa, Mas?”
Dia menyebut angka yang membuat dadaku terasa sesak.
Hampir seluruhnya.
Arga menggunakan tabungan itu untuk membayar utang perusahaan dan menutup biaya operasional.
“Aku berniat mengembalikannya setelah proyek baru berjalan,” katanya.
Aku menatapnya dengan mata basah.
“Mas, kenapa setiap kali kamu mengambil sesuatu dariku, alasannya selalu karena kamu berniat mengembalikannya nanti?”
Arga menangis.
“Aku takut kamu meninggalkanku kalau tahu perusahaanku hampir bangkrut.”
“Dan sekarang?”
Dia tidak menjawab.
Aku menggeleng pelan.
“Kalau kamu jujur sejak awal, mungkin aku akan kecewa. Mungkin kita akan bertengkar. Tapi kamu memilih berbohong sampai aku tidak bisa lagi mempercayaimu.”
Arga menatapku.
“Masih adakah kesempatan buat kita?”
Aku mengusap air mata.
“Nggak, Mas.”
Dia menunduk.
“Aku pernah ingin membangun hidup bersamamu. Tapi aku nggak bisa menikah dengan seseorang yang menganggap kepercayaanku sebagai izin untuk mengambil apa pun yang dia butuhkan.”
Pertemuan itu berakhir dengan kesepakatan awal untuk mendata seluruh dana yang harus dipertanggungjawabkan. Pengembaliannya kemudian diurus melalui jalur hukum dan perjanjian yang sesuai.
Aku tidak mendapatkan semuanya kembali dengan cepat.
Ada proses panjang, dokumen yang harus diperiksa, dan beberapa kewajiban yang masih diperselisihkan.
Namun, setidaknya aku berhenti hidup dalam ketidakjelasan.
Enam bulan kemudian, kehidupanku mulai kembali tenang.
Aku tetap bekerja di klinik dan mengambil cuti beberapa hari untuk pulang menemui orang tuaku.
Pada malam pertama di rumah, Ibu mengajakku duduk di teras.
“Rania, kamu masih sedih?”
Aku tersenyum kecil.
“Kadang masih, Bu.”
Ibu mengangguk.
“Wajar. Enam tahun bukan waktu sebentar.”
Aku memandang halaman rumah yang basah setelah hujan.
“Dulu aku takut membatalkan pernikahan karena merasa semua orang akan kecewa.”
“Sekarang?”
“Sekarang aku bersyukur berani berhenti sebelum semuanya terlambat.”
Ibu menggenggam tanganku.
“Menikah itu bukan sekadar supaya undangan nggak terbuang. Kamu akan menjalani hidup dengan orang itu setiap hari.”
Aku mengangguk sambil menangis.
Setahun kemudian, aku mengikuti pelatihan lanjutan di bidang kesehatan yang sejak lama ingin kuambil.
Selama berhubungan dengan Arga, aku beberapa kali menundanya karena dia selalu mengatakan kami harus fokus pada rencana pernikahan dan bisnisnya.
Kini aku memiliki kesempatan untuk mengembangkan karierku sendiri.
Suatu sore, ketika sedang membereskan loker di klinik, aku menemukan kotak makan stainless steel yang dulu pernah kubuat untuk Arga.
Ternyata Siska menyimpannya setelah kejadian malam itu. Citra sempat meninggalkannya di ruang tunggu ketika suasana menjadi kacau.
Siska menyerahkannya kepadaku sambil tersenyum.
“Ran, ini masih mau disimpan?”
Aku menerima kotak tersebut.
Di bagian tutupnya, stiker berbentuk rumah sudah mulai mengelupas.
Aku membukanya.
Tulisan kecil di bagian dalam masih terlihat.
Pulanglah sebelum makananmu dingin.
Untuk beberapa saat, aku hanya memandang kalimat itu.
Dulu aku membuatnya karena ingin Arga ingat bahwa ada seseorang yang selalu menunggunya pulang.
Aku bahkan pernah membayangkan suatu hari kami akan menggunakan kotak makan itu untuk membawa bekal anak-anak kami.
Namun, sekarang benda itu hanya menjadi pengingat tentang kehidupan yang hampir kujalani.
Siska duduk di sampingku.
“Kamu menyesal pernah mencintainya?”
Aku menggeleng.
“Nggak. Waktu itu aku mencintainya dengan tulus.”
“Terus kamu menyesal apa?”
Aku tersenyum sedih.
“Aku menyesal terlalu sering mengabaikan perasaanku sendiri demi mempertahankan hubungan yang terlihat baik di mata orang lain.”
Siska mengangguk.
Aku kemudian mencuci kotak makan tersebut dan membawanya pulang.
Bukan untuk menyimpannya sebagai kenangan romantis.
Melainkan karena aku ingin menggunakannya kembali.
Keesokan paginya, aku memasukkan nasi, telur dadar, dan tumis sayuran ke dalam kotak itu.
Untuk pertama kalinya, makanan di dalamnya bukan kubuat untuk Arga.
Melainkan untuk diriku sendiri.
Ketika duduk di ruang istirahat klinik dan membuka bekal, aku tersenyum melihat tulisan kecil pada tutupnya.
Pulanglah sebelum makananmu dingin.
Kini kalimat itu terasa memiliki arti baru.
Aku tidak harus terus menunggu seseorang yang tidak menghargai rumah yang ingin kubangun bersamanya.
Aku juga tidak harus mengorbankan masa depan demi membuktikan bahwa cintaku cukup besar untuk menyelamatkan orang lain.
Terkadang, orang yang paling perlu kita ajak pulang adalah diri kita sendiri.
Aku menutup kotak makan setelah selesai.
Di luar jendela, hujan Bandung mulai turun lagi.
Ponselku bergetar.
Sebuah pesan masuk dari Arga.
“Rania, hari ini genap setahun sejak tanggal pernikahan kita yang seharusnya. Aku masih sering memikirkan malam itu.”
Aku membacanya sekali.
Kemudian membalas dengan tenang.
“Aku juga mengingat malam itu, Mas. Tapi sekarang bukan dengan penyesalan.”
Beberapa detik kemudian, Arga mengetik balasan.
“Kalau bisa mengulang waktu, aku akan memilihmu.”
Aku memandang layar cukup lama.
Lalu menulis kalimat terakhir.
“Masalahnya bukan kamu salah memilih siapa yang duduk di kursi depan mobilmu. Masalahnya, kamu sudah lama menempatkan kepercayaan dan masa depanku di urutan paling belakang.”
Setelah mengirim pesan itu, aku meletakkan ponsel di meja.
Aku tidak lagi menunggu balasannya.
Di luar, hujan mulai reda dan cahaya matahari sore menembus jendela ruang istirahat.
Aku menarik napas panjang, mengambil jas kerja, lalu kembali menuju ruang pemeriksaan.
Tujuh hari sebelum pernikahan, aku mengira hidupku hancur karena tunanganku menjemputku bersama perempuan lain.
Namun, sekarang aku tahu bahwa kejadian malam itu justru membuatku melihat sesuatu yang selama enam tahun tidak pernah berani kupertanyakan.
Cinta tidak seharusnya membuat seseorang kehilangan hak untuk berkata tidak.
Pernikahan bukan jalan pintas untuk mendapatkan kendali atas harta atau masa depan pasangan.
Dan kesetiaan bukan berarti kita harus terus berkorban meskipun kepercayaan telah dikhianati.
Malam itu, aku memang kehilangan calon suami.
Aku kehilangan uang, rencana pernikahan, dan masa depan yang pernah kubayangkan.
Namun, ada satu hal yang berhasil kuselamatkan sebelum semuanya terlambat.
Diriku sendiri.
Dan kali ini, aku tidak akan menyerahkannya kepada siapa pun yang menganggap cintaku sebagai sesuatu yang bisa dimanfaatkan.
