Aku hampir menjatuhkan surat itu ketika mengenali tanda tangan di bagian bawahnya.
Melati Prameswari.
Kakak sepupuku sendiri.
Perempuan yang delapan tahun lalu membantuku menulis pesan pengakuan cinta kepada Arga. Perempuan yang memelukku ketika Arga menolak perasaanku. Dan perempuan yang selama ini masih rutin menghubungiku setiap Lebaran.
“Melati?” bisikku.
Arga mengangguk perlahan.
“Dia yang datang menemuiku setelah kecelakaan keluargamu.”
Aku memandang surat itu lagi. Tulisan tangannya begitu familier sampai aku tidak mungkin keliru.
Di dalam surat tersebut tertulis bahwa aku meninggal akibat komplikasi setelah kecelakaan. Melati juga meminta Arga berhenti menghubungi keluargaku karena orang tuaku membutuhkan ketenangan.
Namun, ada satu kalimat yang membuat dadaku sesak.

Sebelum meninggal, Kirana sempat berpesan bahwa dia tidak ingin Arga menyalahkan dirinya sendiri karena pernah menolak perasaannya.
“Aku nggak pernah mengatakan itu,” kataku.
“Aku tahu sekarang.”
Arga mengusap wajahnya.
“Delapan tahun lalu, aku percaya karena Melati datang membawa foto kecelakaan dan salinan pemberitahuan rumah sakit. Aku bahkan pernah mengunjungi tempat yang katanya menjadi lokasi pemakamanmu.”
Aku menatapnya tidak percaya.
“Pemakaman?”
“Melati mengatakan abu jenazahmu sudah dibawa keluarga ke Bandung. Dia menunjukkan sebuah taman kenangan.”
Aku merasa mual.
Seseorang telah membuat cerita kematianku dengan begitu rapi sampai Arga tidak pernah berpikir untuk mempertanyakannya.
Namun, sebelum aku melanjutkan pertanyaan, Nadia tiba-tiba berbicara.
“Mbak Kirana, saya harus meminta maaf karena tadi mengaku sebagai istri pemilik ponsel.”
Aku menoleh kepadanya.
“Jadi sebenarnya kamu siapa?”
“Saya Nadia Putri, asisten eksekutif Pak Arga. Saya sudah bekerja untuk beliau selama empat tahun.”
Aku memandangnya bergantian dengan Arga.
“Lalu kenapa kamu berbohong?”
Nadia menggenggam ponsel itu.
“Ponsel ini memang milik Pak Arga. Tadi pagi beliau meminjamkannya kepada saya untuk memeriksa dokumen presentasi karena laptop saya bermasalah. Setelah menyerahkan berkas ke ruang rapat, saya tidak sadar ponselnya tertinggal di sofa.”
Dia menarik napas.
“Ketika saya menelepon dan mendengar suara perempuan yang menemukannya, saya panik. Saya takut kalau mengatakan ponsel itu milik CEO Mahendra Digital, orang yang menemukannya akan meminta imbalan atau menyebarkan informasi pribadi beliau.”
“Jadi kamu mengaku sebagai istrinya?”
Nadia menunduk malu.
“Iya. Itu keputusan bodoh. Saya pikir akan lebih mudah menjelaskan bahwa saya sedang mengambilkan ponsel suami sendiri.”
Aku terdiam.
“Lalu cerita tentang perempuan yang sudah meninggal?”
“Itu cerita yang memang pernah saya dengar dari Pak Arga. Saya hanya tahu beliau menyimpan foto seseorang yang sangat berarti baginya dan percaya perempuan itu telah meninggal.”
Aku mengerutkan kening.
“Tapi tadi kamu langsung mengenal namaku.”
Nadia mengangguk.
“Setelah melihat kartu identitas yang tergantung di leher Mbak ketika kita bertemu di lobi, saya mulai curiga. Saya kemudian memeriksa daftar pembicara dan menemukan nama Kirana Prameswari.”
“Kenapa tidak langsung bilang?”
“Saya belum yakin. Saya juga takut membicarakan masa lalu Pak Arga tanpa izinnya.”
Arga akhirnya mengambil ponsel tersebut.
“Nadia memang salah karena berbohong. Tapi dia tidak terlibat dalam cerita delapan tahun lalu.”
Nadia mengangguk.
“Saya juga sudah menikah, Mbak. Suami saya bernama Dito. Dia bekerja sebagai arsitek di Surabaya dan tidak memiliki hubungan apa pun dengan Pak Arga.”
Penjelasan itu akhirnya membuat semuanya lebih masuk akal.
Namun, pertanyaan terbesar masih belum terjawab.
Mengapa Melati sengaja membuat Arga percaya bahwa aku telah meninggal?
Kami memutuskan berbicara di ruang pertemuan kecil yang disediakan hotel.
Nadia kembali bekerja setelah meminta maaf sekali lagi, sementara Arga duduk di hadapanku dengan amplop lama di atas meja.
“Ada sesuatu yang harus kamu tahu,” katanya.
Aku menatapnya.
“Apa?”
“Waktu kamu mengaku menyukaiku, sebenarnya aku juga punya perasaan yang sama.”
Aku membeku.
“Tapi kamu menolakku.”
Arga mengangguk.
“Karena saat itu aku sedang mempersiapkan beasiswa ke luar negeri. Kondisi keluargaku juga tidak baik. Aku takut memulai hubungan yang belum tentu bisa kujaga.”
Aku menelan ludah.
“Lalu kenapa kamu mau mencariku?”
“Karena setelah kamu pergi, aku sadar aku lebih takut kehilanganmu daripada menghadapi hubungan jarak jauh.”
Air mataku mulai menggenang.
“Aku datang ke rumahmu membawa surat. Aku ingin mengatakan bahwa aku menyukaimu.”
“Tapi kamu bertemu Melati.”
“Iya.”
Arga menatap surat di tanganku.
“Dia bilang kamu mengalami kecelakaan dan meninggal beberapa hari sebelumnya.”
Aku memejamkan mata.
Delapan tahun.
Selama delapan tahun, kami menjalani kehidupan masing-masing karena kebohongan seseorang.
Aku mengambil ponsel pribadi dan membuka percakapan dengan Melati.
Pesan terakhirnya dikirim dua minggu lalu.
Kirana, kapan pulang ke Semarang? Kakak kangen.
Aku merasakan kemarahan menjalar ke seluruh tubuh.
Bagaimana mungkin perempuan itu masih bisa berbicara seolah tidak pernah melakukan apa-apa?
Aku langsung meneleponnya.
Panggilan tersambung setelah dering ketiga.
“Halo, Kirana! Tumben menelepon siang-siang.”
“Kak, aku sedang di Surabaya.”
“Oh, ada pekerjaan?”
“Iya. Dan aku baru bertemu seseorang.”
“Siapa?”
“Arga Mahendra.”
Keheningan mendadak terdengar dari seberang.
“Kak Melati?”
Tidak ada jawaban.
“Aku sudah membaca surat yang Kakak berikan kepadanya delapan tahun lalu.”
Terdengar suara benda jatuh.
“Kirana, dengarkan Kakak…”
“Kenapa Kakak bilang aku meninggal?”
Melati mulai menangis.
“Aku bisa jelaskan.”
“Kalau begitu, jelaskan sekarang.”
Namun, dia justru memutus sambungan.
Aku menatap layar ponsel dengan napas tersengal.
Arga mengulurkan segelas air putih.
“Kita nggak harus menyelesaikan semuanya hari ini.”
Aku menggeleng.
“Aku harus tahu alasan dia melakukan itu.”
Sore harinya, sebuah pesan masuk dari Melati.
Aku akan datang ke Surabaya besok. Kita bicara langsung.
Keesokan paginya, Melati tiba di hotel.
Dia terlihat jauh lebih kurus daripada terakhir kali kami bertemu. Begitu melihat Arga duduk di sampingku, langkahnya langsung terhenti.
“Kirana…”
Aku menunjuk kursi di hadapan kami.
“Duduk, Kak.”
Melati menunduk.
Aku meletakkan surat lama itu di meja.
“Kakak yang menulis ini?”
Dia mengangguk.
“Kenapa?”
Melati menangis.
“Karena aku cemburu.”
Aku menatapnya tidak percaya.
“Cemburu?”
Dia mengusap air mata.
“Sejak SMA, aku menyukai Arga. Tapi dia selalu memperhatikanmu.”
Aku membeku.
Melati memang dua tahun lebih tua dariku, tetapi dia sering datang ke sekolahku untuk menjemputku dan mengenal teman-temanku.
Dia bahkan pernah membantuku memilih hadiah ulang tahun Arga.
“Aku pikir setelah Arga menolakmu, semuanya selesai,” lanjutnya. “Tapi beberapa hari kemudian, dia datang mencarimu.”
Arga menatapnya dingin.
“Dan kamu mengatakan Kirana meninggal.”
Melati menunduk.
“Aku panik. Aku takut dia akan kembali kepadamu.”
Aku menggeleng.
“Jadi Kakak membuat cerita kematianku?”
Melati menangis semakin keras.
“Awalnya aku cuma ingin dia berhenti mencarimu. Aku mengambil foto kecelakaan keluargamu dari ponsel bibimu. Lalu aku menggunakan dokumen rumah sakit yang pernah tertinggal di rumah untuk membuat cerita itu terlihat meyakinkan.”
“Dan tempat pemakaman itu?” tanya Arga.
“Aku menunjukkan taman kenangan milik keluarga temanku. Tidak ada makam Kirana di sana.”
Aku merasa seluruh tubuhku gemetar.
“Bagaimana Kakak bisa melakukan itu kepada kami?”
Melati menutup wajah.
“Aku tahu aku jahat. Aku tahu.”
“Kenapa Kakak nggak pernah mengaku setelah itu?”
“Karena kebohongannya semakin besar. Setiap tahun aku ingin mengatakan yang sebenarnya, tapi aku takut kehilangan kalian berdua.”
Aku tertawa pahit.
“Jadi supaya nggak kehilangan kami, Kakak justru mengambil delapan tahun kehidupan kami?”
Melati tidak menjawab.
Arga akhirnya berdiri.
“Aku pernah berduka karena orang yang kucintai. Aku bahkan menyalahkan diriku sendiri karena tidak sempat mengatakan perasaanku. Semua itu karena kebohonganmu.”
Melati menangis tanpa suara.
Aku menatap perempuan yang selama ini kuanggap seperti kakak kandung.
Ada begitu banyak kenangan baik di antara kami.
Namun, sekarang semuanya terasa berbeda.
“Aku nggak bisa memaafkan Kakak hari ini,” kataku pelan.
Melati mengangguk.
“Aku mengerti.”
“Aku juga butuh waktu sebelum bisa mempercayaimu lagi.”
Dia berdiri dengan wajah basah oleh air mata.
Sebelum pergi, dia menatap Arga.
“Maafkan aku.”
Arga tidak menjawab.
Setelah Melati meninggalkan ruangan, aku duduk lama sambil memandangi surat tua itu.
Delapan tahun lalu, aku mengira Arga menolakku karena tidak memiliki perasaan yang sama.
Sementara Arga mengira aku telah meninggal.
Kami sama-sama menjalani kehidupan berdasarkan kenyataan yang ternyata tidak benar.
“Rana,” panggil Arga tiba-tiba.
Aku menoleh.
Itu panggilan yang dulu hanya digunakan olehnya.
“Maaf karena aku terlalu mudah percaya.”
Aku menggeleng.
“Kamu juga dibohongi.”
“Tapi aku seharusnya mencari kebenarannya.”
Aku tersenyum sedih.
“Kita sama-sama masih anak sekolah waktu itu.”
Arga menatapku cukup lama.
“Kalau aku boleh bertanya, kamu pernah menikah?”
Aku tertawa kecil.
“Belum.”
“Sedang punya pasangan?”
Aku menggeleng.
“Kamu?”
“Belum pernah menikah.”
Aku memandangnya.
“Kenapa?”
Arga tersenyum pahit.
“Awalnya karena aku belum bisa melupakanmu. Setelah beberapa tahun, aku mulai menyibukkan diri membangun perusahaan.”
Aku terdiam.
“Dan sekarang?”
Dia menarik napas panjang.
“Sekarang aku ingin mengenal Kirana yang berdiri di hadapanku, bukan hanya gadis SMA dalam foto itu.”
Untuk pertama kalinya sejak menemukan ponsel tersebut, aku tersenyum tanpa rasa takut.
Namun, aku juga tahu kami tidak bisa langsung melanjutkan kisah yang terputus delapan tahun lalu.
Kami sudah berubah.
Kami memiliki kehidupan, pengalaman, dan luka masing-masing.
Karena itu, ketika Arga mengajakku makan malam, aku hanya menjawab, “Boleh. Tapi kita mulai dari awal, ya.”
Dia tersenyum.
“Setuju.”
Enam bulan kemudian, aku kembali ke Surabaya untuk menghadiri acara perusahaan.
Kali ini aku tidak menginap di hotel yang sama.
Arga menjemputku di bandara setelah menyelesaikan pekerjaannya.
Kami sudah beberapa kali bertemu sejak kejadian itu.
Hubungan kami berkembang perlahan, tanpa janji yang berlebihan.
Suatu sore, Arga mengajakku mengunjungi sebuah kafe kecil dekat sekolah lama kami di Semarang.
Di sana, dia mengeluarkan sebuah amplop baru.
Aku langsung tertawa.
“Jangan bilang ini surat kematian lagi.”
Arga ikut tertawa.
“Bukan. Kali ini surat yang seharusnya kuberikan delapan tahun lalu.”
Aku membuka amplop itu.
Di dalamnya terdapat kertas yang mulai menguning.
Tulisan tangan Arga terlihat sedikit berantakan.
Kirana, waktu kamu mengatakan menyukaiku, aku takut karena belum tahu bagaimana menjalani masa depan. Tapi setelah kamu pergi, aku sadar ada sesuatu yang lebih menakutkan daripada hubungan jarak jauh, yaitu kehilangan kesempatan untuk jujur kepada orang yang berarti bagiku.
Aku menutup mulut dengan tangan.
Air mataku mengalir.
Arga menggenggam jemariku.
“Aku nggak bisa mengembalikan delapan tahun yang hilang.”
Aku mengangguk.
“Tapi aku ingin menjalani hari-hari berikutnya tanpa kebohongan.”
Aku menatapnya.
“Dan tanpa menyimpan perasaan terlalu lama.”
Dia tertawa.
“Terutama itu.”
Setahun setelah pertemuan kami di Surabaya, Arga melamarku dalam acara sederhana bersama keluarga.
Tidak ada pesta mewah.
Tidak ada kejutan berlebihan.
Hanya orang-orang terdekat dan dua orang yang akhirnya berani mengatakan perasaan mereka dengan jujur.
Melati tidak hadir.
Aku masih membutuhkan waktu untuk memperbaiki hubungan dengannya.
Namun, beberapa minggu sebelum acara, dia mengirimkan surat permintaan maaf yang tidak berisi pembenaran ataupun permintaan agar segera dimaafkan.
Aku membacanya.
Lalu menyimpannya.
Mungkin suatu hari kami bisa berbicara kembali.
Mungkin juga hubungan kami tidak akan pernah sama.
Dan aku mulai menerima bahwa tidak semua luka harus segera sembuh hanya agar kehidupan terlihat baik-baik saja.
Pada malam sebelum pernikahan, Arga memperlihatkan ponselnya kepadaku.
Layar kuncinya sudah berubah.
Bukan lagi foto SMA-ku.
Melainkan foto kami berdua ketika sedang tertawa di sebuah warung bakso.
Aku tersenyum.
“Kenapa diganti?”
Arga menatapku.
“Karena aku nggak mau terus hidup bersama kenangan tentang seseorang yang kukira sudah hilang.”
Dia menggenggam tanganku.
“Aku ingin hidup bersama perempuan yang benar-benar ada di sampingku sekarang.”
Aku menyandarkan kepala di bahunya.
Delapan tahun lalu, sebuah kebohongan membuat kami kehilangan kesempatan untuk bersama.
Namun, pertemuan tak terduga di sebuah hotel akhirnya mengajarkan sesuatu yang jauh lebih penting.
Cinta bukan hanya tentang menunggu seseorang kembali.
Cinta juga tentang keberanian mencari kebenaran, mendengarkan penjelasan, dan memberi ruang bagi orang lain untuk berubah.
Dan ponsel yang kutemukan hari itu bukan sekadar benda yang tertinggal di sofa.
Benda kecil itu telah membuka kembali sebuah kisah yang selama delapan tahun dianggap selesai.
Kisah tentang dua orang yang pernah berpisah karena kebohongan.
Dan akhirnya bertemu kembali karena sebuah kebenaran yang tidak bisa lagi disembunyikan.
