Di Hari Pertunanganku, Calon Suamiku Pergi Setelah Menerima Satu Panggilan Telepon.

“Kalau kamu datang menemui Dinda besok, semuanya akan hancur, Nadira.”

Aku menatap Arga yang berdiri di depan pintu apartemen. Wajahnya pucat, sementara tangannya masih menggenggam ponsel yang sejak tadi terus menerima pesan.

“Apa yang akan hancur, Arga? Pernikahan kita sudah kubatalkan. Apa lagi yang kamu takutkan?”

Arga membuka mulut, tetapi tidak ada jawaban yang keluar.

Aku mengambil koper dan berjalan melewatinya.

“Mulai malam ini, jangan menghubungiku lagi kecuali untuk menyelesaikan urusan barang dan rumah.”

“Nadira, tunggu!”

Aku berhenti.

“Aku melakukan semuanya karena ingin melindungimu.”

Aku tertawa getir.

“Melindungiku dengan meninggalkanku sendirian di depan seratus tamu undangan?”

Arga menunduk.

“Suatu hari kamu akan mengerti.”

“Tidak, Arga. Aku sudah terlalu lama menerima kalimat itu sebagai pengganti kejujuran.”

Aku pergi tanpa menoleh lagi.

Keesokan paginya, aku mendatangi alamat yang dikirimkan nomor misterius tersebut. Lokasinya sebuah kedai kopi kecil di kawasan Ciumbuleuit, Bandung.

Aku sengaja mengajak Siska, sahabatku yang bekerja sebagai konsultan hukum perusahaan.

Ketika kami masuk, seorang perempuan berusia sekitar lima puluh tahun sudah menunggu di sudut ruangan.

Aku langsung mengenalinya.

Bu Ratih.

Mantan sekretaris pribadi ayahku.

Perempuan itu pernah bekerja hampir dua puluh tahun di perusahaan keluarga kami sebelum mengundurkan diri secara mendadak enam bulan lalu.

“Bu Ratih?”

Dia berdiri dengan wajah sedih.

“Maaf, Nadira. Ibu seharusnya bicara lebih cepat.”

Aku duduk di hadapannya.

“Ibu yang mengirim pesan tadi malam?”

Bu Ratih mengangguk.

Kemudian dia mengeluarkan sebuah amplop cokelat.

“Ini salinan surat yang seharusnya kamu terima tiga bulan lalu.”

Aku membuka amplop tersebut.

Di dalamnya terdapat beberapa dokumen notaris, laporan keuangan perusahaan, dan sepucuk surat tulisan tangan ayahku.

Aku membaca surat itu perlahan.

Nadira, jika suatu hari kamu membaca surat ini, Papa ingin kamu tahu bahwa keputusan mengenai masa depanmu harus tetap berada di tanganmu sendiri. Jangan biarkan siapa pun menggunakan rasa cintamu untuk mengambil sesuatu yang bukan haknya.

Tanganku mulai gemetar.

“Apa maksud surat ini?”

Bu Ratih menarik napas panjang.

“Tiga bulan lalu, ayahmu menyelesaikan proses pengalihan sebagian besar saham perusahaan kepadamu.”

Aku terdiam.

Ayahku memang memiliki perusahaan distribusi bahan bangunan yang cukup besar di Jawa Barat. Namun, selama ini beliau tidak pernah membicarakan pembagian kepemilikan secara terbuka.

“Kenapa Papa nggak bilang langsung?”

“Karena beliau ingin menyelesaikan seluruh dokumen terlebih dahulu. Sayangnya, sebelum sempat memberitahumu, kondisi kesehatannya menurun dan beliau harus menjalani perawatan.”

Aku menatap Siska.

Dia mulai membaca halaman lainnya.

“Nad, ada yang aneh.”

“Apa?”

Siska menunjukkan sebuah dokumen persetujuan pengelolaan aset.

Di sana tercantum nama Arga sebagai calon penerima kuasa untuk beberapa keputusan investasi setelah pernikahan.

Aku langsung mengerutkan kening.

“Aku nggak pernah menyetujui ini.”

Bu Ratih mengangguk.

“Itulah sebabnya saya menghubungimu.”

Menurutnya, Arga pernah mendatangi kantor notaris yang menangani dokumen perusahaan. Dia mengaku sedang menyiapkan pengelolaan aset bersama setelah menikah.

Namun, notaris menolak memproses beberapa dokumen karena belum ada persetujuan langsung dariku.

“Lalu kenapa Dinda terlibat?” tanyaku.

Bu Ratih menatapku dengan ragu.

“Karena Dinda bekerja di perusahaan konsultan yang sedang menangani proyek investasi Arga. Dia mengetahui ada masalah dalam pengajuan pembiayaannya.”

Aku mulai memahami bahwa ada sesuatu yang jauh lebih besar daripada pertengkaran mengenai hubungan mereka.

“Proyek apa?”

“Pembangunan kawasan pergudangan baru di luar Bandung. Nilainya puluhan miliar rupiah.”

Aku terdiam.

Bu Ratih melanjutkan.

“Arga membutuhkan jaminan tambahan untuk memperoleh pembiayaan. Dia berharap setelah menikah, kamu bersedia mengizinkan penggunaan sebagian aset perusahaan keluargamu.”

Aku merasakan dada sesak.

“Jadi dia ingin menikahiku supaya bisa mendapatkan jaminan kredit?”

“Setidaknya, dari dokumen yang saya lihat, rencana pembiayaan itu bergantung pada persetujuanmu.”

Aku menutup mata.

Selama empat tahun, aku mengira Arga sedang bekerja keras membangun masa depan kami.

Ternyata mungkin dia sedang menghitung berapa besar manfaat yang bisa diperoleh dari pernikahan tersebut.

Namun, masih ada satu hal yang membuatku bingung.

“Kalau Arga memang ingin menikahiku demi proyek itu, kenapa dia justru pergi menemui Dinda pada hari pertunangan?”

Bu Ratih terdiam.

Kemudian dia mengeluarkan ponsel dan menunjukkan sebuah pesan.

Dinda menulis bahwa ia menemukan ketidaksesuaian pada dokumen proyek dan meminta Arga segera datang untuk membicarakannya.

Pesan itu dikirim satu jam sebelum acara pertunangan.

“Ada dugaan penggunaan dokumen yang belum memperoleh persetujuan resmi,” kata Bu Ratih. “Dinda meminta penjelasan karena namanya ikut tercantum sebagai koordinator administrasi.”

Aku menatap layar.

“Jadi kecelakaannya?”

“Dari yang saya ketahui, Dinda memang mengalami benturan ringan dalam perjalanan. Tetapi dia juga menggunakan pertemuan itu untuk menanyakan dokumen proyek.”

Aku menghela napas panjang.

Tidak berarti Dinda tidak bersalah.

Dia tetap mengetahui bahwa Arga meninggalkanku pada hari penting, lalu mengunggah foto yang mempermalukanku.

Namun, setidaknya sekarang aku memahami bahwa masalah ini memiliki banyak sisi.

Siang itu, aku menghubungi ayahku.

Beliau masih menjalani pemulihan di rumah setelah beberapa minggu dirawat.

“Pa, kenapa Papa nggak bilang soal saham perusahaan?”

Ayah terdiam.

“Kamu sudah bertemu Ratih?”

“Iya.”

Beliau menghela napas.

“Papa ingin memberitahumu setelah kondisiku membaik.”

“Papa tahu Arga mencoba menggunakan namaku dalam dokumen pembiayaan?”

“Aku baru tahu sebagian dua minggu lalu. Itulah sebabnya aku meminta Ratih menyimpan semua dokumen dan mencari tahu apakah ada persetujuan yang dibuat tanpa sepengetahuanmu.”

Aku menggenggam ponsel semakin erat.

“Kenapa Papa nggak langsung memberitahuku?”

“Papa takut kamu mengira aku sedang berusaha memisahkan kalian.”

Air mataku jatuh.

“Pa, aku lebih takut kalau orang-orang yang kusayangi terus menyembunyikan kebenaran demi melindungi perasaanku.”

Ayah terdiam.

Kemudian beliau berkata pelan.

“Kamu benar, Nak. Papa juga salah karena tidak terbuka.”

Sore harinya, aku menemui Dinda di sebuah kantor konsultan hukum bersama Siska.

Perempuan itu datang tanpa riasan mencolok seperti biasanya. Wajahnya terlihat lelah.

Begitu melihatku, dia langsung menunduk.

“Nadira, aku benar-benar minta maaf.”

Aku duduk.

“Untuk foto itu atau untuk semua yang kamu sembunyikan?”

Dinda mengusap matanya.

“Dua-duanya.”

Aku memintanya menjelaskan semuanya tanpa memotong.

Dinda mengaku bahwa hubungannya dengan Arga memang terlalu dekat. Selama beberapa tahun, Arga selalu menjadi orang pertama yang dihubunginya ketika menghadapi masalah.

“Aku tahu kamu nggak nyaman,” katanya. “Tapi aku terus meyakinkan diriku bahwa kami cuma sahabat.”

“Dan foto di restoran?”

Dinda menunduk.

“Aku sengaja mengunggahnya karena kesal. Waktu itu Arga bilang setelah mengantarku pulang, dia akan tetap kembali ke acara pertunangan. Aku marah karena merasa dia lebih memilihmu.”

Aku menatapnya tidak percaya.

“Padahal aku calon istrinya.”

Dinda menangis.

“Iya. Aku salah.”

Kemudian dia mengeluarkan sebuah map dari tasnya.

“Aku menemukan bahwa sebagian dokumen proyek menggunakan salinan tanda tangan Nadira yang tidak sesuai dengan dokumen asli.”

Siska segera memeriksanya.

Di dalam map terdapat rancangan perjanjian, catatan perubahan dokumen, serta korespondensi antara perusahaan Arga dan pihak pembiayaan.

Namun, semua itu masih memerlukan verifikasi.

“Kamu sudah menyerahkan ini kepada pihak yang berwenang?” tanya Siska.

Dinda mengangguk.

“Aku sudah melaporkannya kepada bagian kepatuhan perusahaan dan meminta agar proses pembiayaan dihentikan sementara sampai pemeriksaan selesai.”

Aku memandangnya.

“Lalu kenapa kamu mengirim pesan seolah-olah Arga menyembunyikan surat dariku?”

“Karena memang ada surat yang dia simpan.”

Dinda mengeluarkan sebuah amplop kecil.

Di dalamnya terdapat surat yang ditulis Arga beberapa minggu sebelum acara pertunangan.

Aku mengenali tulisan tangannya.

Nadira, aku tahu aku telah membuat banyak keputusan tanpa melibatkanmu. Aku ingin mengatakan bahwa proyekku sedang mengalami masalah dan aku membutuhkan bantuan. Tetapi setiap kali melihatmu begitu percaya kepadaku, aku takut kamu akan meninggalkanku jika mengetahui keadaanku yang sebenarnya.

Aku berhenti membaca.

Bagian berikutnya membuat mataku berkaca-kaca.

Aku juga harus jujur bahwa kedekatanku dengan Dinda telah melewati batas yang seharusnya kujaga. Aku tidak pernah tahu bagaimana menghentikannya tanpa menyakiti salah satu dari kalian.

Aku menutup surat itu.

Untuk pertama kalinya, aku tidak lagi bertanya apakah Arga benar-benar mencintaiku.

Mungkin dia pernah mencintaiku.

Namun, cinta yang tidak disertai kejujuran dan tanggung jawab ternyata tetap bisa menyakiti.

Dua hari kemudian, Arga akhirnya datang menemui ayahku.

Aku hadir bersama Siska dan penasihat hukum perusahaan keluarga.

Arga terlihat jauh lebih kurus.

Ketika melihatku, matanya langsung berkaca-kaca.

“Nadira, aku tahu kamu nggak mau mendengar penjelasanku.”

“Kalau kamu datang untuk menjelaskan persoalan proyek, silakan.”

Dia menunduk.

Arga kemudian mengakui bahwa perusahaannya mengalami kesulitan keuangan. Dia berharap proyek pergudangan tersebut dapat menyelamatkan bisnisnya.

“Aku berniat meminta persetujuanmu setelah kita menikah,” katanya.

Aku menggeleng.

“Kenapa harus menunggu sampai menikah?”

“Karena aku takut kamu menolak.”

“Jadi kamu ingin membuatku merasa berkewajiban membantu karena sudah menjadi istrimu?”

Arga terdiam.

Aku menatapnya lama.

“Kalau kamu datang dan mengatakan bahwa perusahaanmu sedang kesulitan, mungkin aku akan membantu mencari solusi. Tapi kamu memilih menyusun rencana sendiri menggunakan namaku.”

Arga menangis.

“Aku tahu aku salah.”

Ayahku akhirnya berbicara.

“Arga, persoalan bisnis ini akan diselesaikan melalui jalur yang benar. Jangan melibatkan Nadira dalam kewajiban yang belum pernah dia setujui.”

Arga mengangguk.

Setelah pertemuan itu, aku meminta agar semua komunikasi terkait proyek dilakukan secara resmi.

Aku tidak lagi ingin menjadi bagian dari pertengkaran yang terus berulang tanpa penyelesaian.

Beberapa minggu kemudian, pemeriksaan internal menemukan bahwa beberapa dokumen memang disiapkan menggunakan data pribadiku tanpa persetujuan langsung.

Perusahaan Arga harus memperbaiki proses administrasi dan memberikan klarifikasi kepada pihak pembiayaan.

Permohonan kredit yang terkait dengan dokumen bermasalah tidak dilanjutkan.

Untuk dugaan pemalsuan, pemeriksaan dilakukan melalui prosedur hukum yang sesuai.

Aku tidak mengikuti setiap perkembangannya.

Aku hanya memastikan namaku tidak lagi digunakan tanpa izin.

Tiga bulan setelah pertunangan kami batal, aku kembali bekerja penuh waktu di perusahaan keluarga.

Ayah mulai menyerahkan beberapa tanggung jawab strategis kepadaku.

Aku memimpin proyek modernisasi gudang dan memperbaiki sistem pengawasan dokumen.

Pekerjaan itu tidak mudah.

Namun, untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, aku merasa sedang membangun sesuatu yang benar-benar kupilih sendiri.

Suatu sore, ketika sedang memeriksa laporan, ibuku datang membawa kotak kecil.

“Ini cincin yang dulu kamu tinggalkan di hotel.”

Aku menerima kotak itu.

Cincin pertunangan kami masih tersimpan rapi.

Aku memandangnya beberapa saat.

“Bu, boleh aku menyimpannya dulu?”

Ibu mengangguk.

“Tentu. Itu keputusanmu.”

Aku tersenyum.

Dulu, aku mengira cincin itu adalah janji bahwa seseorang akan selalu memilihku.

Namun, ternyata tidak ada benda yang bisa menjamin seseorang akan hadir ketika dibutuhkan.

Beberapa bulan kemudian, aku menerima pesan panjang dari Arga.

Dia mengatakan sedang menjalani konseling dan berusaha memperbaiki hubungan dengan keluarganya.

Bisnisnya masih menghadapi kesulitan, tetapi dia mulai menyelesaikan kewajiban secara bertahap.

Di akhir pesan, dia menulis satu pertanyaan.

“Kalau aku benar-benar berubah, apakah suatu hari kita bisa mulai lagi?”

Aku membaca pertanyaan itu cukup lama.

Kemudian membalas.

“Aku berharap kamu berubah, Arga. Tapi perubahanmu bukan alasan bagiku untuk kembali. Itu tanggung jawabmu terhadap dirimu sendiri dan orang-orang yang pernah kamu sakiti.”

Setelah mengirim pesan tersebut, aku merasa lebih tenang.

Aku tidak lagi membutuhkan permintaan maaf yang diulang berkali-kali.

Aku hanya ingin melanjutkan hidup.

Setahun kemudian, keluargaku mengadakan makan malam sederhana untuk merayakan keberhasilan proyek baru perusahaan.

Tidak ada dekorasi mewah.

Tidak ada fotografer.

Hanya keluarga dekat dan beberapa rekan kerja yang telah membantu selama proses panjang tersebut.

Ayah mengangkat gelasnya.

“Papa ingin mengucapkan terima kasih kepada Nadira.”

Aku tersenyum malu.

“Yah, jangan mulai pidato.”

Semua orang tertawa.

Namun, Ayah melanjutkan.

“Setahun lalu, Papa melihat putriku berdiri sendirian di depan seratus tamu undangan. Papa kira hari itu akan menjadi salah satu kenangan paling menyakitkan dalam hidupnya.”

Aku menunduk.

“Tapi ternyata hari itu juga menjadi awal dari keberaniannya menentukan masa depan sendiri.”

Mataku berkaca-kaca.

Ayah tersenyum.

“Papa bangga bukan karena kamu berhasil menyelamatkan proyek. Papa bangga karena kamu berani mengatakan tidak ketika sesuatu bertentangan dengan prinsipmu.”

Aku berdiri dan memeluk beliau.

Malam itu, untuk pertama kalinya, aku kembali mengingat hari pertunanganku tanpa merasa malu.

Aku teringat kursi kosong di sebelahku.

Tatapan para tamu.

Bisik-bisik keluarga.

Dan foto Dinda bersama Arga di restoran.

Namun, kini semua itu terasa jauh.

Bukan karena aku melupakan apa yang terjadi.

Melainkan karena aku sudah memahami bahwa kejadian tersebut tidak menentukan nilai diriku.

Sebelum tidur, aku membuka laci dan mengambil kotak cincin.

Aku memandang cincin itu sekali lagi.

Kemudian aku meletakkannya ke dalam kotak kenangan bersama undangan pertunangan yang tidak pernah menjadi pernikahan.

Aku tidak membuangnya.

Karena aku tidak ingin berpura-pura bahwa empat tahun hubungan kami tidak pernah berarti.

Aku pernah bahagia bersama Arga.

Aku pernah merencanakan rumah, anak-anak, dan kehidupan tua bersamanya.

Semua itu nyata.

Tetapi kebahagiaan masa lalu tidak cukup untuk membenarkan pengkhianatan di masa sekarang.

Aku menutup laci.

Di luar jendela, hujan turun perlahan membasahi halaman rumah.

Aku tersenyum kecil.

Setahun lalu, aku mengira kehidupanku berakhir ketika calon suamiku pergi dari acara pertunangan demi perempuan lain.

Ternyata, yang berakhir hanyalah rencana yang sudah tidak lagi sehat untuk kupertahankan.

Aku memang kehilangan cincin.

Kehilangan calon suami.

Dan kehilangan masa depan yang dulu kubayangkan.

Namun, aku mendapatkan kembali sesuatu yang jauh lebih penting.

Kepercayaan terhadap penilaianku sendiri.

Sejak saat itu, aku tidak lagi bertanya mengapa Arga tidak memilihku pada hari pertunangan.

Karena kini aku sudah tahu jawabannya.

Masalahnya bukan karena aku kurang cantik, kurang sabar, atau kurang memahami kebutuhannya.

Masalahnya adalah dia belum mampu menjaga komitmen yang sudah dibuatnya.

Dan aku tidak harus terus menunggu sampai seseorang belajar menghargai apa yang selama ini kusediakan dengan tulus.

Aku mematikan lampu kamar dan berbaring dengan perasaan ringan.

Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, aku tidak lagi menunggu pesan dari Arga.

Tidak lagi menebak-nebak kapan dia akan datang.

Tidak lagi berusaha memahami setiap alasan yang membuatnya pergi.

Aku hanya memikirkan apa yang ingin kulakukan esok hari.

Dan ternyata, kebebasan sesederhana itu sudah cukup membuatku bahagia.

Karena pada akhirnya, cinta bukan tentang siapa yang paling lama kita tunggu.

Melainkan tentang siapa yang benar-benar bersedia hadir, jujur, dan menjaga kepercayaan yang telah diberikan.

Dan sebelum menemukan orang seperti itu, aku akhirnya belajar menjadi seseorang yang selalu hadir untuk diriku sendiri.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang